
"Karena aku sudah menciummu, sekarang kamu harus menurut dengan apa yang aku katakan."
Kini keduanya sedang duduk berdua, berhadap-hadapan di atas pasir yang beralasan kain pantai dan di bawah payung besar yang menaungi mereka dari terik matahari. Dengan pemandangan laut biru dan angin sepoi-sepoi, serta kelapa muda, kacamata hitam, topi lebar yang dipakai Renata, hingga makanan kecil yang menemani sepasang pengantin baru itu.
"Ck, hanya cium sekali sudah banyak maunya," tukas Tuan J memicingkan mata dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung.
Pelan Renata mengelus pipi Tuan J. Di dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang pria bisa memiliki pipi semulus dan sebersih itu. Lalu diberikannya sang suami ciuman singkat di pipi.
"Sudah cium dua kali," Renata berkata dengan tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih.
"Hmm," Tuan J berdeham dua kali.
Apa dia menyukainya? Hahaha, imutnya, batin Renata tertawa.
Apakah kelemahan dari Jefra Tjong adalah sebuah ciuman?
Kemudian Renata meraih tangan Tuan J, mengecup pergelangan tangan yang terbalut plester sewarna kulit.
Tuan J tersentak dibuatnya, "Ka-kamu apa yang kamu lakukan?"
Yang Renata ketahui, Self Injury yang diderita Jefra Tjong sebenarnya bukan merupakan diagnosa klinis seperti depresi atau anxiety. Jadi pada prinsipnya ini bukan merupakan diagnosa. Tetapi ini merupakan perilaku berbahaya yang harus mendapatkan perhatian.
"Aku tidak akan mau dicium atau menciummu lagi jika kamu masih melukai diri sendiri, aku perduli dengan dirimu, dan aku merasa sedih melihatmu melakukan hal itu."
Mendengar perkataan itu, mata Tuan J melebar.
"Kamu perduli padaku? Dan akan merasa sedih jika aku melukai pergelangan tanganku lagi?"
"Ya," senyum lembut terbit di bibir pualam Renata.
Tuan J pun terdiam. Kaget. Tapi, sebetulnya lebih dari itu. Sesuatu dalam dirinya seakan meledak. Selama ini belum pernah seorangpun yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Renata beringsut ke depan untuk memeluk tubuh tegap suaminya, "Kini kita telah bersama, tenang saja karena aku tidak akan membiarkanmu kesepian lagi. Kamu bisa bercerita tentang apapun padaku. Aku ini orang yang dapat dipercaya."
Perlahan tapi pasti, rasa hangat yang membuncah menyelinap masuk pada relung hati Tuan J. Hanya tidak tahu bagaimana bisa Renata sangat perduli dengannya. Seketika itu juga, dia hanya ingin selalu dekat dengan Renata, karena hanya bau tubuhnya mampu memberikan kenyamanan, terlebih dengan kata-kata yang baru ia dengar. Dia memang sudah letih, lelah, dan capek... dengan semuanya.
"Kenapa..." perkataan yang keluar dari bibir Tuan J menggantung cukup lama. Kerongkongannya terasa tercekat.
__ADS_1
Renata mengeratkan pelukannya, memberi sebuah dorongan agar sang suami melanjutkan apa yang ingin dikatakan.
"Padahal aku hanya orang asing yang melakukan perjanjian pernikahan denganmu. Kenapa kamu begitu perduli padaku?"
"Karena kamu adalah suamiku. Orang spesial bagiku. Bukankah aku sudah bilang itu sebelumnya?"
Ada sedikit rasa tidak puasa di hati Tuan J mendengarnya.
"Jika aku bukan suamimu, kamu masih menganggapku orang spesial?" entah kenapa Tuan J menanyakan ini. Tatapannya sendu.
"Tergantung bagaimana perilaku kamu padaku," jawab Renata mengulum senyum.
"Apanya yang tergantung?" tanya Tuan J tidak mengerti.
"Kamu baik atau jahat kepadaku," Renata menatap dalam bola mata hitam milik suaminya itu.
"Memangnya selama ini aku jahat?" tanya Tuan J merinci.
"Ya, kamu jahat. Saat aku menjadi Asisten CEO kamu sangat seenaknya padaku. Suka berkata tajam dan menyuruh ini itu. Kamu bahkan suka menatapku tajam seperti ingin menguliti hidup-hidup dan suka membentak karena aku salah mengerjakan laporan."
Renata mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Mulutnya langsung membentuk O besar, Renata melongo mendengar penjelasan itu. Tidak lama wajahnya cemberut, lalu membantah cepat, "Aku bukan pelakor! Asal kamu tahu, bahkan aku menolak Alvaro yang meminta kembali padaku dan lebih memilih untuk menikah denganmu."
Tuan J menggaruk ujung hidung mancungnya yang mendadak gatal karena pengakuan Renata.
"Oh, begitu."
Sejatinya dia senang.
"Ya!" jawab Renata dengan menyentak, "Jadi jangan salah paham padaku lagi!"
"Hmm," Tuan J hanya bergumam dan mengangguk pelan.
Siang ini Renata bagai mentari yang bersinar di mata Tuan J. Semburat semua merah jambu di pipinya, dan rambut hitam berkilau yang membuat Renata cantik alami. Seketika itu juga pria itu berdebar.
Bagai tersihir, Tuan J memegang ke dua sisi topi lebar yang dipakai Renata, menariknya bersama dengan wajah sang istri supaya mendekat pada wajahnya. Namun, sebelum bibir mereka bertemu Renata sudah terlebih dahulu menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Akhu tidhak akhan mahu dichiwum athhau mencihwummwu lawghi jihkaw kawhmu mhasih melukaiw dhwiri shendiwrih ( Aku tidak akan mau dicium atau menciummu lagi jika kamu masih melukai diri sendiri )," tolak Renata dengan kalimat yang terendam telapak tangan.
Tuan J menghela napas panjang. Lalu meraih tangan Renata untuk melepaskannya dari mulut istrinya, direngkuh olehnya jemari Renata untuk dikecup mesra, "Ya, aku akan menuruti apa yang kamu katakan ini."
Mata Renata berbinar senang dibuatnya.
"Sungguh?" dia mencoba memastikan lagi.
"Hmm, lagi pula aku juga ingin sembuh."
"Itu bagus, karena tidak ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri, dan kamu layak sembuh," kedip mata Renata membulat, jari lentik dan halus miliknya membelai pipi Tuan J.
Kemudian Tuan J mengangkat tubuh Renata untuk duduk di pangkuannya. Setelahnya, mereka saling bertukar kecupan di bawah payung besar. Beruntung tempat mereka berada lumayan jauh dari keramaian.
Jefra Tjong berpikir jika pilihannya menikah dengan Renata tidaklah salah. Wanita itu telah membawa sebuah kehangatan di kala hatinya terasa dingin dan kosong.
Renata menarik wajahnya menjauh dari Tuan J, mengambil napas sebanyak mungkin untuk memenuhi rongga pernapasannya agar tidak kekurangan oksigen.
"Sayang, ingin bermain ombak?" tawar Renata setelah berhasil mengatur napas.
"Tidak, kamu pikir aku anak kecil," tolak Tuan J dingin namun tatapan tidak lepas dari pipi Renata yang merona seperti buah apel, ingin sekali dia mengigit itu. Padahal akan lebih baik jika mereka kembali ke penginapan dan... mandi bersama.
"Tapi aku ingin! Ayo!" Renata mengecup pipi Tuan J sekilas dan setelah itu berlari ke bibir pantai, bermain ombak seperti anak kecil.
Tuan J memperhatikan Renata seraya memegang pipinya dalam diam.
"Sayang, ayo sini!" teriak Renata.
Pada akhirnya, bergabung dengan Renata adalah langkah yang Tuan J ambil. Entahlah, dia hanya tidak ingin senyum kebahagiaan Renata memudar. Ia ingin melihat senyum semanis gulali itu terus terukir di sana.
Renata mendorong sang suami hingga jatuh terduduk hingga tenggelam. Sempat merasa panik karena Tuan J tidak muncul dari dalam air. Tapi tidak lama Renata merasa terkejut karena tangannya ditarik paksa hingga ikut terjatuh. Keduanya kini bermandikan air asin.
"Setelah ini kita mandi bersama," bisik Tuan J lebih mirip mendesis.
"Tidak ma──"
Penolakan Renata terhambat karena sebuah interupsi suara dari seorang wanita hadir.
__ADS_1
"Tuan J, kamu di sini juga?" tanya Elsa yang datang tiba-tiba.
_To Be Continued_