
Brak
Sanaya memukul stir mobilnya untuk melupakan rasa kesalnya.
Setelah selesai makan malam Sanaya langsung pergi karena tidak mau hatinya semakin panas jika melihat Renata.
"Bang sat! Bagaimana bisa Renata tahu tentang foto-foto yang ingin aku berikan pada Zayn?"
Ya, ini sangat aneh. Bahkan Aslan pun tidak tahu tentang foto-foto itu. Hanya dirinya saja yang tahu.
Dengan perasaan kesal yang tidak bisa tertampung lagi Sanaya menancap mobil yang dikendarainya dengan kecepatan maksimal, beruntung kondisi jalan malam ini cukup sepi.
Namun, tanpa disadarinya ada sebuah mobil hitam yang mengikutinya dari belakang.
Sanaya terus melakukan mobilnya sampai mobil yang mengikutinya dapat menyusulkan dan menghadangnya.
Ckitt
Sanaya langsung menginjak rem. Napasnya memburu saat mobil yang dikendarainya hampir saja manabrak mobil hitam yang menghadangnya.
Tin!
Ditekannya klakson mobil hingga berkali-kali. Sanaya yang memang sudah kesal menjadi semakin kesal. Lalu Sanaya keluar dari mobilnya karena sudah terlalu dongkol, dia ingin menegur dan memaki si pemilik mobil hitam itu. Awalnya, tidak ada pikiran buruk yang terlintas di benaknya, sampai akhirnya empat orang pria bertubuh besar dengan stelan jas hitam terlihat turun dari mobil hitam itu dan mendekat padanya.
Sanaya seketika mundur, rasa takut mulai dirasakannya. Namun sayang, ketika ingin lari gerakan Sanaya kurang cepat dengan pria yang menangkapnya, bahkan mulutnya langsung dibungkam dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Secara instan pandangan Sanaya mulai kabur, pernapasan dan detak jantungnya juga jadi lebih lambat. Sehingga wanita itu tidak sadarkan diri karena menerima efek obat bius.
Kemudian Sanaya langsung dibawa masuk ke dalam mobil hitam oleh empat orang pria berstelan jas hitam itu.
"Kami sudah berhasil menangkapnya."
Terdengar suara salah satu pria yang sedang berbicara pada seseorang di ujung sana, dengan menggenggam ponsel yang tertempel di telinga.
[ Lakukan apa yang aku perintahkan. ]
"Baik, Tuan J."
Ya, empat orang pria itu adalah suruhan Tuan J.
Tentu saja pria itu tidak mungkin melepaskan Sanaya begitu saja, terlebih dia sudah mengatakan akan mengurus masalah calon istrinya ini.
Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Itulah moto hidup Jefra Tjong. Sanaya akan mendapatkan balasan yang setimpal untuk perbuatannya.
__ADS_1
**
Sanaya tersadar dari tidur setelah efek obat biusnya habis, kini dia berada disebuah kamar bernuansa monokrom yang begitu asing.
Cklek
Sanaya mengalihkan tatapannya ketika mendengar suara pintu terbuka. Dan betapa terkejutnya ketika melihat seorang pria paruh baya berkepala plontos dan berbadan gempal muncul dari balik pintu, pria itu tersenyum nakal padanya.
"Si-siapa kamu?" tanya Sanaya panik dan wajahnya berubah pucat. Terlebih tubuhnya tidak bisa digerakkan karena terasa lemas dan panas.
Pria paruh baya itu menjilat bibir ketika melihat tubuh Sanaya yang tidak berdaya di atas ranjang, "Jangan takut, Sayang. Aku hanya akan memberimu kenikmatan malam ini."
Bola mata Sanaya bergetar karena merasa takut ketika melihat pria paruh baya itu melepas baju dan celana tepat di depan matanya. Ingin lari tapi tubuhnya tidak sinkron dengan perintah otaknya, justru tubuhnya menggeliat bagai cacing karena merasa begitu panas dan ingin sekali disentuh.
Kenyataannya, Sanaya tidak hanya diberi obat bius tetapi juga diberi obat perang sang.
Lambat laun nafsu sudah menguasai Sanaya, dia tidak perduli apapun selain sebuah kenikmatan bercinta dengan pria paruh baya itu, tanpa tahu jika aktivitas panas keduanya telah diabadikan oleh sebuah kamera yang menjadi saksi.
**
Tok... Tok...
Renata mengetuk jendela pada pintu sebuah mobil Range Rover Sport yang terparkir di depan gerbang rumah. Kemudian kaca jendela mobil turun secara perlahan, menampakan pria bermata kelam yang begitu tampan malam ini, terlebih memakai pakaian kasual, celana jeans hitam dan t-shirt hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih.
"Apa kamu kangen denganku?"
Renata langsung menodong Tuan J dengan pertanyaan yang membuat pria itu memutar bola mata jengah.
"Masuk," ujar Tuan J tanpa menjawab pertanyaan Renata.
Si gadis mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Tuan J yang berada di jok pengemudi.
"Kamu sendiri? Ke mana Arvin dan Bodyguard yang selalu menjagamu?"
"Ck," Tuan J hanya berdecak. Renata bertanya seolah-olah kalau dirinya anak kecil yang tidak bisa kemana-mana sendiri.
"Ish, ditanya tapi tidak dijawab," cibir Renata dengan merengut.
"Karena pertanyaan kamu tidak penting untuk dijawab."
"Menyebalkan," gerutu Renata dengan bibir yang mengerucut lucu, "Padahal aku benar-benar mengira kalau kamu sedang kangen denganku."
Tuan J memicingkan mata, "Aku bukanlah tipe orang yang sangat mudah mengatakan kangen sebagai candaan semata."
__ADS_1
Oh, sepertinya pria itu sedang menyindir.
Renata membenarkan posisi duduknya menyamping, supaya bisa lebih mudah melihat pria tampan yang duduk di sebelahnya itu.
"Habis kamu tahu-tahu datang tanpa tahu waktu seperti ini. Kalau bukan kangen, terus apa?"
Entah ada angin dari mana, Tuan J tiba-tiba menghubungi Renata dan mengatakan jika sudah berada di depan kediaman keluarga Tan, padahal saat ini sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Aku melihat jika lampu kamarmu belum padam."
Renata berkedip beberapa kali untuk memahami maksud Tuan J. Kemudian tatapannya teralih ke luar jendela.
Kediaman keluarga Tan adalah rumah mewah dengan desain Eropa yang tampak megah dan terlihat tinggi. Kamar Renata berada di lantai dua dengan balkon yang mengarah ke pemandangan depan rumah, karena itu lampu kamar Renata yang masih menyala dapat terlihat jelas.
Lalu tatapan Renata dialihkan kembali pada Tuan J, "Hanya karena lampu kamarku masih menyala?" tanyanya tidak percaya.
Benar-benar alasan yang lebih mengejutkan daripada kangen.
"Ya. Aku juga hanya kebetulan lewat."
Sebenarnya, Tuan J sendiri tidak mengerti kenapa mobilnya bisa berhenti di depan pagar rumah gadis itu. Hal itu membuktikan jika alasan kebetulan lewat itu tidak benar. Apalagi arah ke apartemen miliknya dan kediaman keluarga Tan berlawanan, padahal tadi Tuan J berniat pulang setelah mengurus sesuatu.
"Oh, karena itu," karena tidak ingin mengambil pusing Renata lebih memilih percaya saja.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Tuan J kemudian.
"Aku hanya tidak bisa tidur karena memikirkan foto-foto yang kamu ambil."
Tuan J menatap tajam Renata, "Sudah aku bilang tidak usah dipikirin."
"Tapi tetap saja kepikiran, terlebih itu adalah masalahku sendiri," Renata merengut.
"Kenapa harus dipikirkan? Lagi pula orang yang mencari masalah denganmu sudah mendapatkan balasan."
"Balasan?" beo Renata.
"Tunggulah besok, kamu akan mendapatkan kejutan."
Renata terkesiap sesaat.
Kejutan apa yang dimaksud Jefra Tjong?
_To Be Continued_
__ADS_1