Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Ngidam


__ADS_3

Arvin datang saat Renata sedang terlelap setelah makan siang.


"Tuan, belum ada pergerakan apapun dari Tuan Alvaro. Bahkan dia pergi ke kantor, dan bekerja menjadi Kepala Manager seperti biasa," lapor Arvin.


Tuan J diam, memikirkan hal terselubung dari Alvaro yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Padahal dia sedang menunggu sang Adik melakukan perlawanan, karena membalas kematian Sienna yang dibakar hidup-hidup.


Tidak mungkin jika Alvaro mengabaikan perbuatannya Jefra Tjong begitu saja.


Apa yang sedang direncanakan pria bermata hijau itu?


"Bukankah ini aneh?" tanya Arvin membuyarkan pemikiran Tuan J.


Tuan J mengangguk setuju, "Hmm, memang aneh. Suruh orang selalu awasi Alvaro."


Mau bagaimanapun Jefra Tjong tidak boleh lengah.


"Bagaimana dengan Nyonya?" tanya Arvin melirik pada Renata. Meraka berbicara dengan sedikit berbisik karena sang Nyonya sedang tidur.


Kedua lelaki itu berada di ruang tamu kamar VIP Renata karena Tuan J sama sekali tidak ingin pergi dari sisi sang istri. Takut wanitanya kenapa-kenapa lagi.


"Sudah membaik. Kata Dokter, besok pagi sudah boleh pulang."


Untungnya kediaman keluarga Tjong sudah kembali dibangun. Kakek Ashton juga sudah menempati rumah itu lagi. Namun, penjagaan lebih diperketat dari sebelumnya.


**


Renata dan Jefra telah kembali ke kediaman keluarga Tjong. Tuan J menjadi semakin berkali-kali lipat protektif pada istrinya. Selama itu pula, keduanya selalu menggunakan waktu untuk bermesraan. Ribuan kecupan dan dekapan mesra tidak luput mengisi hari-hari mereka.


Keduanya tidak segan lagi menunjukan perasaan masing-masing. Sungguh pasangan suami istri yang penuh dengan cinta.


Setelah sekian waktu berlalu, Renata sudah kembali fit seperti biasanya. Saat ini, kandungan Renata sudah memasuki trimester kedua, saat-saat di mana Ibu hamil merasakan...


Ngidam.


Ya, ngidam! Ada saja hal aneh yang Renata minta dari sang suami. Jefra sampai pusing dibuatnya. Apalagi, Renata akan menangis jika tidak segera dituruti.


Semenjak hamil, perasaan Nyonya Tjong memang sangat sensitif.


"Kamu ini benar-benar sedang mengandung Radion, ya? Bocah itu memang seperti bayi setan," celetuk Jefra, mengingat ngidam sang istri yang aneh-aneh sama seperti dulu.


Renata langsung mencubit bibir suaminya kuat-kuat, bisa-bisanya anaknya sendiri dibilang bayi setan.

__ADS_1


Waktu pertama kali Renata ngidam, dia meminta bolu susu, simpel memang permintaannya, yang membuat pusing adalah Renata yang memintanya pada tengah malam, terlebih bolu susu itu harus dalam keadaan hangat.


Dengan catatan harus dibeli oleh Jefra sendiri!


Demi sang istri tercinta pria itu sampai mencari keliling kota. Bahkan saking takutnya dibohongi, sepanjang perjalanan Renata melakukan video call untuk memastikan.


Baru juga kemarin, Ranata ngidam martabak pisang cokelat keju. Namun, Jefra justru membelikannya martabak cokelat kacang keju. Seketika itu juga, Renata nangis dan meminta suaminya untuk mengembalikan martabak itu ke penjualnya.


Dan dua jam yang lalu, Renata mendadak ingin makan mangga muda, tapi dengan cara disuapi Arvin. Hal itu sontak membuat Jefra uring-uringan saat menyaksikan sang istri disuapi sang Asisten.


Sedangkan Arvin, hanya pasrah melakukan tugasnya menyuapi sang Nyonya dengan wajah yang pucat. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Apa mungkin hanya tinggal nama?


Haduh, bisa-bisanya si baby menyiksa sang Ayah dengan meminta sang Ibu selingkuh terang-terangan. Masih berada di dalam kandungan saja sudah membuat Jefra Tjong mengelus dada.


Renata tertawa kecil melihat ekspresi Jefra yang menahan rasa cemburu. Ayolah, dia sangat tahu jika suaminya adalah si paling posesif sedunia. Namun, demi sang anak rela menahan perasaannya.


Dengan cepat dikecupnya bibir Jefra yang sedang cemberut.


Niat ingin mencium sekilas, Jefra justru malah menahan tengkuk Renata agar memperdalam ciuman mereka.


Renata yang sempat terkejut, segera membalas ciuman Jefra dengan lembut namun sang suami sudah dikuasai oleh gairah. Renata membiarkan Jefra mengeksplor mulutnya, sengaja membuka bibirnya untuk menikmati gerakan bibir dan lidah sang suami yang menari-nari di dalam mulutnya.


Renata meremang, merasakan Jefra menjilat dan merasai seluruh rasa di dalam sana.


Tiba-tiba Jefra melepas ciuman panas mereka dengan napas yang terengah-engah, senyuman manis sambil sesekali mengecup bibir Renata yang membengkak dibuatnya. Sang istri juga tersenyum.


"Selalu ada rasa buah persik manis setiap aku mencium bibirmu. Menyenangkan sekali," bisik Jefra dengan semu tipis kemerahan di kedua pipinya.


"Hanya suka rasa buah persik-nya saja? Dengan orangnya tidak?" rajuk Renata menggoda.


"Suka sekali. Dari dulu aku selalu menyukai orangnya," jawab Jefra tersenyum hangat.


Renata tertawa senang. Jefra-nya memang mudah sekali membuatnya senang.


"Apa yang ingin Renata Sayang makan hari ini?" tanya Jefra sambil menangkup kedua pipi sang istri.


Eh? Apakah ini sebuah kompensasi karena sudah membuat bibir Renata bengkak?


Oh, jika begitu, Renata akan menerimanya dengan senang hati.


"Aku ingin mencoba masakan seorang Jefra Tjong!" jawab Renata dengan semangat.

__ADS_1


"Tentu," Jefra kembali tersenyum hangat. Hanya pada Renata dia menjual murah senyumnya, bahkan gratis.


"K-kamu benar-benar akan memasak?"


Kedua mata Renata mengerjap bulat mendengar nada keseriusan sang suami. Padahal dia hanya bercanda.


Jefra memang bisa memasak, tapi...


Ah, sudahlah.


"Bukankah Renata Sayang tahu betul kemampuanku?" Jefra mengedipkan salah satu matanya.


"I-itu, itu..." Renata tidak mampu meneruskan perkataannya.


"Aku akan ke dapur, Nyonya Besar Tjong tunggu saja di sini," ujar Jefra sambil melangkah keluar kamar.


Renata menatap pintu kamar yang tertutup dengan penuh arti. Tidak, dia tidak bisa menunggu di sini. Dia ingin melihat kesayangannya yang sedang memasak.


**


"Gosong," lirih Renata sambil menatap permukaan omelet yang baru saja dibalik Jefra.


"I-ini... karena kecap. Ya! Karena kecap, jadinya berwarna hitam!" seru Jefra dengan gelagapan.


"Tapi aku tidak mau memakan omelet gosong seperti itu, rasanya pasti pahit," protes Renata, tidak acuh dengan sang suami yang menyangkal jika telur itu gosong.


"Salahmu sendiri, padahal tadi aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di kamar. Aku menjadi tidak konsentrasi karena ditatap kamu terus-menerus!" ucap Jefra jengkel, gagal sudah usahanya untuk bersikap romantis.


Renata memeluk Jefra dari belakang, dan menempelkan pipinya di punggung sang suami dengan manja, "Aku hanya ingin menatap pinggulmu yang seksi saat memakai celemek. Jefra-ku benar-benar menawan."


Seketika itu juga wajah Jefra Tjong merona matang. Aish, untuk urusan goda-menggoda Renata memang jagonya.


"Ah! Cepat balik! Jangan sampai gosong lagi!" seru Renata mengingatkan Jefra yang justru diam bagai patung.


"Hmm."


"Tuan, Nyonya... ada tamu yang datang berkunjung," ujar Sir. Matthew yang menghampiri pasangan suami istri itu.


"Siapa?" tanya Jefra dengan serius.


"Tuan Alvaro," jawab Sir. Matthew ragu.

__ADS_1


Renata mematung, Alvaro datang berkunjung? Apa konflik yang Elmeyra tulis sudah mulai? Dia terlalu hanyut dalam kesenangan sampai melupakan hal terpenting.


_To Be Continued_


__ADS_2