
[ Halo, Angel. Apa kabarmu? ]
Deg
Loh? Kenapa Renata merasa ketakutan seperti ini? Bahkan tanpa sadar menjatuhkan ponselnya.
"Kenapa, Nona?" tanya Maria, "Wajah Nona pucat. Apa sedang sakit?"
"A-ah, tidak," jawab Renata setelah tersadar dengan perasan anehnya.
Renata kembali kembali ponsel miliknya yang terjatuh, tapi panggilan itu sudah berakhir.
Sebenarnya siapa pemilik suara yang terdengar seperti laki-laki tadi? Apa itu teman Angel? Setahunya Angel tidak memiliki teman selain Anya terlebih itu adalah laki-laki.
Drett... Drett...
Lamunan Renata buyar tatkala ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk. Segera dibukanya pesan yang ternyata dari si penelepon tadi.
[ */ * 08.52] 408-123-xxxx : Aku akan kembali. Apa kamu merindukanku, Sweety?
Perasaan Renata menjadi kacau karena panggilan 'Sweety' yang didapatkannya. Lalu langsung diblokirnya nomor tidak dikenal itu. Perasaannya mengatakan jika dia tidak boleh menghiraukan orang itu.
"...Na."
"Nona."
Renata bahkan sampai tidak mendengar Maria yang sejak tadi memanggilnya untuk menanyakan desain gaun seperti apa yang dipilih.
"Y-ya."
"Jadi Nona memilih yang mana?"
"Aku pilih yang ini."
Oh, Renata bahan sampai asal menunjuk desain gaun pernikahannya.
Maria terlihat terkejut dengan desain yang Renata pilih, "Nona serius? Bukankah itu terlalu..." perkataannya menggantung karena mencoba memilih kata-kata yang tepat, "....Terbuka?"
Dahi paripurna Renata mengeryit. Lalu kembali melihat dengan seksama desain yang dipilihnya. Ketika tatapannya masih di bagian atas, dia kira gaun ini akan terlihat cantik. Lalu Renata melihat bawahnya, betapa terkejutnya dia.
"Lingerie untuk bulan madu? Ini tidak mungkin gaun yang sudah jadi?" tanya Renata dengan polosnya.
Desain gaun pengantin yang mirip seperti lingerie, bagian pinggang hingga ke bawah terlihat transparan. Desain gaun itu memungkinkan pengantin wanita tampil seksi seolah hanya ditutupi hiasan bordir pada gaun.
"Ini adalah koleksi yang menyihir, yang dirancang untuk membuat kagum begitu Nona memakainya. Koleksi baru ini bisa membawa Nona ke level yang baru. Penuh kekaguman, imajinasi, dan romansa," jelas Maria.
"Ya, aku mungkin akan tampak cantik ketika memakainya, tapi harus ada lapisan tambahan di bagian bawah, harus ada bagian yang bisa dipasang atau sebagainya. Aku tidak percaya gaunnya seperti ini," ungkap Renata merasa menyesal dengan pilihannya.
Maria mengangguk paham, "Aku bisa memperbaikinya. Desain gaun seperti ini memang tidak cocok jika dipakai di sebuah pernikahan yang diadakan di dalam gedung. Kecuali jika pernikahannya diadakan di pinggir pantai."
Tunggu.
__ADS_1
Renata baru teringat tentang sesuatu yang lebih penting dibandingkan sebuah gaun pernikahan. Dirinya belum tahu di mana pernikahannya diadakan.
Oh, bukankah Renata harus membicarakan hal ini dengan Jefra Tjong?
Sepertinya Renata bisa memakai alasan ini untuk mendatangi Tuan J di kantor. Pada dasarnya Renata memang ingin sekali bertemu dengan pria itu.
**
Dan kini, di sinilah Renata berada, di lobi utama perusahaan Tj Corp.
Suasana benar-benar terasa berbeda ketika Renata menginjakkan kaki untuk masuki lobi lebih dalam lagi. Sikap para karyawan benar-benar terlihat berbeda pada dirinya, bahkan membungkuk sopan ketika berpapasan dengannya. Tidak ada lagi tatapan merendahkan dan cemoohan yang terdengar.
"Apa Tuan J ada di ruangannya?" tanya Renata pada resepsionis.
"A-ada, Nona Angel."
Setelahnya, Renata melangkah ke arah lift. Para Karyawan yang sedang menunggu di depan pintu lift seketika langsung menyingkir memberinya jalan.
Kenapa sih mereka?
Sungguh. Renata sangat terheran-heran.
Ting!
Tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Renata langsung melangkah memasuki lift. Namun, para Karyawan yang tadi ingin memakai lift tidak ada yang ikut masuk.
Kemudian Renata menahan pintu lift agar tidak tertutup.
"Ti-tidak, Nona Angel," jawab salah satu Karyawan dengan gugup.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, kami hanya tidak ingin mengganggu kenyamanan Nona Angel. Kami akan menaiki lift yang lainnya."
Lift perusahaan memang tidak hanya satu, bahkan ada lift khusus untuk sang CEO.
Renata speechless sejenak. Kenapa dia merasa sedang diperlakukan spesial? Bukankah dia dibenci?
Renata tidak tahu saja, jika gosip tentang dirinya yang ingin menikah dengan sang CEO sudah tersebar seantero Tj Corp. Bahkan karyawan yang dulu telah terang-terangan menghinanya sedang berkeringat dingin karena takut jika Renata akan mengungkit itu.
Siapa yang menyangka, gadis yang dulu paling dibenci akan menjadi istri pemilik perusahaan.
Renata berhenti menahan pintu lift karena tidak ingin ambil pusing. Lalu menekan nomor lantai yang ingin ditujunya. Namun, sebelum pintu lift benar-benar tertutup sebuah tangan menahannya, yang membuat pintu lift kembali terbuka.
Alvaro, si pemilik tangan.
Renata agak terkejut dengan kemunculan Alvaro yang tiba-tiba. Padahal Renata tidak melihat keberadaan pria itu ketika memasuki lobi tadi. Lagi pula, bukankah ini jam makan siang? Apa Alvaro tidak makan siang bersama Sanaya seperti biasanya?
Sudahlah, apapun yang dilakukan Alvaro bukan urusan Renata. Dia benar-benar tidak perduli.
Alvaro masuk ke dalam lift, bergabung dengan Renata. Dan itu cukup membuat para Karyawan mulai berspekulasi aneh.
__ADS_1
Semoga saja tidak ada gosip yang tidak-tidak tentang Renata dan Alvaro.
Setelah pintu lift tertutup, hanya ada keheningan di dalam lift. Renata mengambil ponsel miliknya untuk sekedar mengirim pesan pada Tuan J jika dia sudah berada di kantor, setidaknya Renata sudah memberitahu sang calon suami tentang kunjungannya. Sebenarnya Renata sangat kesal karena semua pesannya selalu diabaikan Jefra Tjong.
Aku akan menuntut ini. Bagaimana bisa dia mengabaikan aku yang calon istrinya?
Tidak tahukah kalau Renata kangen pada pria itu?
"Renata," Alvaro membuka suara memecahkan keheningan.
"Hmm," Renata hanya merespon dengan bergumam, jari-jarinya sedang menari di layar ponsel untuk mengetik pesan yang ingin dikirimnya pada Tuan J.
Tatapan Alvaro teralih pada sebuah paper bag yang digenggam gadis itu. Dia dalam melihat isi paper bag berkat tinggi badannya yang menjulang. Sebuah tempat makan.
"Kamu... Sengaja membawa makan siang untuk J?"
Hati Alvaro terasa tercubit ketika menanyakannya.
"Ya," jawab Renata tepat ketika pesannya berhasil dikirim pada Tuan J. Lalu tatapannya beralih pada Alvaro, "Memang siapa lagi?" tanyanya.
"Mungkin... Aku?" kata Alvaro terdengar gamang.
Renata mengangkat salah satu alis, "Memangnya siapa dirimu?" ucapnya bernada ketus.
Alvaro tidak dapat membalas ucapan Renata. Lagi pula, memang siapa dirinya yang mengharapkan Renata membawa makan siang untuknya?
Lalu Alvaro menghela napas berat, mencoba mengenyahkan perasaan sesak di dada, meskipun percuma.
"Aku ingin bicara padamu," tukas Alvaro.
"Ini kita sedang bicara, Alvaro," kilah Renata.
"Tidak di dalam lift seperti ini, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan."
"Aku tidak memiliki waktu untuk itu, aku sedang sibuk," tolak Renata dengan menekan kata sibuk.
Ting!
Suara pintu lift yang terbuka menyela Alvaro yang ingin membuka mulut.
Renata segera keluar dari lift, tapi lengannya dicekal oleh Alvaro.
"Tunggu, Renata!" cegah Alvaro.
"Lepas!" Renata mencoba memberontak.
"Aku hanya ingin mengajakmu bicara," Alvaro masih bersikeras dengan keinginannya.
"Lepaskan dia, Alvaro."
_To Be Continued_
__ADS_1