Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kejadian Semalam


__ADS_3

Terlihat Renata yang termangu dalam diam. Niat awal ingin membaca buku di gazebo, tapi pikirannya melayang pada kejadian semalam.


"Itu hanya mimpi, bukan? Tapi kenapa seperti nyata?" Renata bertanya pelan pada dirinya sendiri seraya memegang bibirnya.


Renata memegang kedua pipinya yang sudah seperti udah rebus.


"Ya, itu pasti mimpi. Kalau bukan mimpi tidak mungkin Jefra Tjong membalas ciumanku."


Blush


Semakin merah lah wajah Renata.


**


Kembali ke kejadian semalam.


"Aku kira kamu kecewa."


Renata menggeleng. Tiba-tiba kantuk dirasakannya. Renata tertidur dengan masih memeluk Jefra Tjong. Sepertinya gadis itu lelah.


Tuan J sendiri membiarkan Renata tidur dengan memeluknya. Digerakkan tangannya untuk mengelus kepala Renata dan sesekali memainkan helaian rambut yang terasa halus.


Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu.


Setelahnya, Tuan J menggendong Renata ala bridal untuk memindahkannya ke mobil. Sesuai dengan yang dipesankan Zayn, Renata harus pulang sebelum pukul sepuluh malam.


Sepanjang perjalanan Tuan J sesekali memperhatikan wajah damai milik si putri tidur di kursi sebelah. Hanya membutuhkan waktu setengah jam mobil Range Rover Sport milik Tuan J sampai di depan kediaman keluarga Tan.


Renata masih tidur nyenyak, terbesit rasa tidak tega pada hati Tuan J untuk membangunkan Renata. Calon istrinya itu pasti sangat kelelahan karena hari ini banyak hal yang tidak sesuai rencana, tapi anehnya Renata berkata senang. Sebenarnya apa yang membuatnya bahagia, apa yang bisa membuatnya sakit hati, dan seterusnya.


"Benar, seorang perempuan memang sulit dimengerti," Tuan J berkata lirih.


Pada akhirnya, Tuan J tidak membangunkan Renata dan kembali menggendong Renata masuk ke dalam rumah.


"Dia kenapa?"


Tanya Zayn menatap Tuan J menyelidik dan beralih menatap Renata khawatir. Sesuai dugaan, Zayn sudah menunggu di depan pintu masuk, benar-benar Kakak laki-laki yang over protective.


"Dia hanya tidur," jawab Tuan J.


"Kau tidak habis membiusnya, bukan?" Zayn masih kembali menatap Tuan J menyelidik.


Tuan J mendengus, "Tidak ada gunanya aku membiusnya."


"Awas kau kalau sampai ketahuan macam-macam," ancam Zayn.


Tuan J memutar bola mata jengah.


"Bawa Renata ke kamarnya, setelah itu kau cepatlah pergi," sambung Zayn kemudian.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun lagi, Tuan J berlalu menuju kamar Renata yang berada di lantai dua. Dia sudah cukup hafal di mana letak kamar calon istrinya itu.


Sesampainya di kamar, Renata langsung dibaringkan di atas ranjang. Namun, ketika Tuan J ingin beranjak tangannya ditarik hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


Bruk


Betapa terkejutnya Tuan J ketika tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Renata.


Manik mata mereka beradu.


"Jefra..."


Bulu kuduk Tuan J meremang karena Renata memanggilnya dengan suara serak yang terdengar seksi. Terlebih, gadis yang sudah membuka mata itu sedang menatapnya sayu.


Tuan J dapat melihat jelas wajah sempurna milik Renata. Kulit wajah yang mulus tanpa noda, putih namun tidak pucat. Ya, dia akui kalau calon istrinya benar-benar cantik.


Kemudian mata Jefra beralih menatap bibir bagai kulit buah persik milik Renata. Bibir yang sebelumnya pernah bersentuhan dengan bibir miliknya namun hanya ketidaksengajaan. Dia jadi penasaran bagaimana rasanya jika...


Tuan J segera mengenyahkan pikirannya. Ini buruk, dia tidak boleh terus berlama-lama di sini.


Namun, akal sehatnya runtuh tatkala Renata menarik wajahnya.


Lembut.


Kesan pertama saat bibir mereka menempel.


Renata menegang pipi Tuan J agar tidak menjauh, perlahan namun pasti bibirnya bergerak untuk menyesap.


Pria itu membalas gerakan benda kenyal yang berada di bibirnya. Hal itu tidak disia-siakan olehnya untuk menyesap lebih dalam.


Kenapa dia baru tahu jika ciuman akan teras manis dan memabukkan seperti ini?


"Ugh," erang Renata saat mendapatkan gigitan pada bibir bawahnya.


Bibir Renata yang terbuka justru membuat akses lidah Tuan J mengeksplorasi rongga mulutnya. Sebuah insting yang mengatakan jika pria itu ada seorang profesional. Padahal baru kali ini dia berciuman seintens ini.


Tuan J terus menyerang mulut Renata, memberikan ciuman yang semakin dalam dan liar. Tubuh yang semakin merapat membuat dada miliknya dan Renata menempel, membuat sensasi tersendiri.


Wajah Tuan J menjauh karena membutuhkan pasokan oksigen. Ditatapnya wajah Renata yang memerah dengan bibir yang berkilat basah. Dia masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilakukannya.


Renata tersenyum seraya mengelus rahang tegas milik Tuan J.


"Seperti biasa... Ciuman kamu memang hebat."


Bola mata Tuan J terbelalak lebar karena perkataan Renata.


Seperti biasa? Bukankah mereka berdua baru berciuman? Atau Renata menganggapnya Alvaro?


Ingin bertanya tapi Renata sudah kembali tidur.

__ADS_1


Seketika rahang Tuan J mengeras.


**


Kembali ke saat ini.


Wajah Renata masih merona matang. Kejadian semalam terus saja terngiang. Dia meyakinkan jika itu adalah mimpi, tapi entah kenapa rasanya benar-benar nyata sekali.


"Apa aku harus bertanya langsung padanya?"


Renata langsung menggeleng cepat. Akan memalukan jika dia bertanya langsung. Bukankah itu akan terkesan jika dirinya gadis mesum?


"Tapi aku berharap itu nyata," gumam Renata dengan memegang bibir kembali, lalu berteriak tertahan.


Jika itu nyata, hubungannya dan Jefra Tjong sudah maju beberapa langkah, perlahan-lahan akan membaik, dan kemungkinan besar ingatan pria itu akan pulih.


Kemudian Renata menghitung berapa lama lagi pernikahan mereka akan diadakan.


"Sepuluh hari lagi!"


Oh, ternyata waktu berjalan begitu cepat. Renata jadi deg-degan dibuatnya. Beruntung persiapan pernikahan mereka sudah hampir mendekati seratus persen.


"Nona!"


Tiba-tiba ada seorang pelayan memanggil Renata dengan berlari tergesa-gesa.


"Apa ada?" tanya Renata heran.


"Nona Sanaya kecelakaan."


Renata terkejut seketika. Hal yang membuat pelayan mengatakan itu padanya mungkin karena memang hanya Renata yang saat ini ada di rumah.


**


Sanaya terbangun dengan merasa sakit di sekujur tubuhnya. Seketika teringat jika dirinya habis tertabrak sebuah mobil.


"Apa aku sedang di rumah sakit?" lirihnya setelah melihat ruangan putih di mana dia berapa sekarang.


"Sudah sadar?"


Sanaya menengok ke arah samping, terlihat Alvaro yang menatapnya datar.


"Alvaro..." ucapnya dengan lemah.


Tatapan Alvaro masih datar, dan itu cukup membuat hati Sanaya terluka. Apa suaminya itu tidak khawatir padanya? Meskipun hubungan mereka memburuk tapi mereka masih berstatus suami-istri.


"Lihat betapa menyedihkannya dirimu sekarang, Sanaya," Alvaro berkata dengan mengeraskan wajah.


Mata Sanaya berkaca-kaca, "Kenapa kamu berkata seperti itu, Alvaro? Apakah ini sikap seorang suami ketika istrinya habis mengalami kecelakaan? Tidak apa-apa kalau kamu membenciku karena apa yang telah aku lakukan, tapi setidaknya jangan membenci anak yang sedang aku kandung. Apa kamu tidak khawatir dengan anak kita?"

__ADS_1


"Anak kamu bilang? Kamu bahkan tidak sedang mengandung, sialan!"


_To Be Continued_


__ADS_2