Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Berbalik Terjadi Pada Dirinya Sendiri


__ADS_3

Dor! Dor!


Suara tembakan menggema di setiap langkah Santy dan Sanaya yang berlari menjauh. Mereka sangat ketakutan, yang bisa mereka lakukan saat ini adalah lari dengan kecepatan penuh.


"Berhenti kalian!"


"Cepat, Ibu!" seru Sanaya begitu panik, lari dengan wanita paruh baya seperti Ibunya memang sulit.


"Mau sampai kapan kita lari, Sanaya? Ibu tidak kuat," ucap Santy yang sudah mulai kelelahan.


Dor!


"Akh!"


Bruk


Santy tersungkur tatkala betisnya terkena tembakkan.


"Ibu!"


"Sanaya, kamu pergilah," ucap Santy sudah diiringi rintihan kesakitan.


"Mana mungkin aku meninggalkan Ibu," Sanaya menggeleng, lalu dia memapah sang Ibu untuk melanjutkan pelarian mereka.


Udara malam semakin dingin menyengat kulit mereka. Mereka pontang panting untuk menghindari pengejaran itu. Sampai akhirnya memutuskan bersembunyi.


Sanaya meringis jijik, dia menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol. Bau tong sampah yang berada di sebelahnya terasa sangat menyengat.


Tap


Tap


Suara langkah kaki mendekat terdengar. Sanaya gelisah, lalu melirik Ibunya yang terlihat menahan rasa sakit di betis yang tertembak.


Tidak selang lama, suara langkah kaki tidak terdengar lagi. Sanaya segera berdiri, dan dengan mengendap memunculkan kepalanya ke balik dinding yang menjadi tempat persembunyian. Dia tidak melihat siapapun di sana. Sanaya menghembuskan napas lega.


"Mereka sudah tidak ada," lirih Sanaya kembali menyembunyikan kepala.


"Oh, syu-syukurlah... Ibu kira kita berdua akan mati," Santy berbicara dengan wajah pucat dan napas satu-satu, dia sudah kehabisan tenaga.


"Lalu bagaimana sekarang? Ibu harus ke rumah sakit," ujar Sanaya masih terlihat gelisah.


"Tidak perlu ke rumah sakit. Kamu membawa ponsel, kan?"


"Ya," Sanaya mengangguk seraya mengambil ponsel yang dikantonginya.

__ADS_1


"Hubungi Nikolas. Dia pasti akan menyelamatkan kita, hanya dia yang bisa menolong kita."


Ya, kini memang hanya Nikolas yang bisa menyelamatkan mereka. Santy yakin jika sang selingkuhan akan datang menolong. Nikolas mencintainya, tentu saja tidak mungkin membiarkannya kenapa-kenapa.


Sanaya menurut dan mencoba menghubungi Nikolas. Nada sambung terdengar sesaat sebelum diangkat seseorang diujung sana.


[ Ada apa, Sanaya? ]


"Berikan pada Ibu," Santy menyambar ponsel yang dipegang Sanaya.


"Nikolas, tolonglah aku dan juga Sanaya."


[ Ada apa dengan kalian? Bukankah kalian sedang berpesta malam ini? ]


"Kedua anak Rendra membongkar perselingkuhan kita, dan perbuatan jahat yang telah kulakukan di tengah-tengah pesta. Sekarang aku dan Sanaya sedang dalam pengejaran para Bodyguard Jefra Tjong. Kami akan dipenjarakan... Tidak, mungkin bisa saja mati."


Tidak ada sahutan dari Nikolas. Pria itu diam. Mungkin dia sedang terkejut dengan apa yang dikatakan Santy.


"Kenapa diam saja, Nikolas? Cepatlah datang ke sini dan selamatkan kita," Santy sedikit meninggikan nada suaranya, dia sungguh tidak sabaran. Tentu saja, karena nyawanya dan Sanaya sedang terancam saat ini.


[ Apa kamu gila? Jika aku datang ke sana, itu sama saja aku mengantarkan nyawaku sendiri. ]


Santy mendelik. Apa yang dikatakan Nikolas? Kenapa mengatainya gila?


[ Aku tidak akan datang menyelamatkan kalian. ]


"Kamu ini kenapa, Nikolas? Kenapa kamu berkata seperti itu? Oke, aku paham jika kamu dan Sanaya tidak akur. Tapi bukankah kamu mencintaiku? Kenapa tidak ingin datang menyelamatkanku? Ingatlah, aku sudah berkorban banyak untuk menyenangkan hidupmu selama ini!"


Terdengar suara tawa dari ujung sana, Nikolas tertawa dengan kencang seolah-olah yang dikatakan Santy adalah lucu.


[ Come on, Sayang. Aku memang mencintaimu. Tapi hanya uangmu saja. Sekarang kamu sudah tidak memiliki apa-apa, aku tidak sudi berhubungan denganmu lagi. ]


"Brengsek!" maki Sanaya yang bisa mendengar suara Nikolas dari ponselnya. Dia meledak dengan amarah.


Lalu, bagaimana dengan Santy? Wanita paruh baya itu berhenti bernapas sepertinya. Matanya mendelik semakin maksimal. Lidahnya mendadak keluh.


Ternyata, Nikolas selama ini hanya mencintai uangnya saja.


[ Oh, lihatlah. Si wanita gila satu lagi masih sempat-sempatnya memaki. ]


"Setelah apa yang Ibuku berikan padamu, kenapa kamu berkata seperti itu, ha! Dasar kurang ajar kamu, Nikolas! Setidaknya berterima kasihlah!"


[ Oh, baiklah, terima kasih atas segalanya. Aku pasti tidak akan melupakanmu sebagai mesin uangku, Santy sayang. Satu lagi, selama kita bercinta, sebenarnya aku sangat jijik dengan tubuh keriput kamu itu, benar-benar membuatku muak, tapi karena uangmu banyak mau bagaimana lagi. ]


Perkataan Nikolas menghentak hati Santy, dia benar-benar merasa terhina.

__ADS_1


"Nikolas!" teriak Santy histeris.


Namun, panggilan telepon itu sudah dimatikan sepihak. Lalu dengan amarah yang menggebu, Santy mencoba sekali lagi menghubungi Nikolas, tapi nomor pria itu tidak aktif.


Seperti tidak terima dengan apa yang Nikolas katakan tadi, Santy melempar ponsel milik Sanaya ke aspal jalan hingga remuk.


Ingatlah, bahwa ketidakbaikan, ketidakjujuran dan penipuan sama halnya dengan menunjukan diri sendiri di hadapan orang lain. Seharusnya, Santy jangan kaget jika saat ini tiba, saat di mana perbuatan buruknya akan berbalik terjadi pada dirinya sendiri.


Tap


Tap


Suara langkah kaki kembali terdengar, sepertinya aksi Santy yang melempar ponsel cukup menarik perhatian dari orang-orang yang mengejar mereka.


Keduanya langsung berekspresi ketakutan. Terlebih melihat sosok pria bermata kelam yang sudah berdiri di hadapan mereka.


Jefra Tjong dan para Bodyguard telah mengepung kedua wanita itu.


"Tu-Tuan J-J," gagap Sanaya.


**


Perlahan namun pasti Rendra membuka matanya, dan mengerjap untuk menyesuaikan lampu di dalam ruangan. Saat melihat ruangan yang serba putih dan peralatan medis, pria paruh baya itu bisa menebak jika dirinya sedang berada di rumah sakit.


Rendra merasa ada yang berat di tangan kanannya. Terlihat Renata yang sedang menanti dirinya untuk membuka mata hingga tertidur.


Pikirannya kembali melayang pada perlakuan buruknya pada putrinya itu, seakan otaknya padat dan merambat pada perasaan yang sesak. Rendra menghembuskan napas berat, ia tersenyum kecut.


Tangan Rendra bergerak pelan berniat menyentuh kepala Renata yang ditumbuhi rambut hitam panjang. Namun, langsung terhenti karena merasa tidak pantas untuk mengelusnya.


Cklek


Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Rendra.


Zayn muncul dari balik daun pintu. Dia terkejut sesaat ketika melihat sang Ayah yang sudah bangun. Lalu melangkah cepat menghampiri brankar.


"Ayah sudah bangun? Apa masih merasa sakit?" tanya Zayn dengan ekspresi datar, namun nada suaranya terdengar khawatir.


Rendra mengangguk pelan, "Ayah sudah tidak apa-apa."


Zayn yang melihat Renata yang tertidur, berniat membangunkan. Namun, segera dihentikan Rendra.


"Biarkan dia tidur. Jika dia bangun, Ayah tidak sanggup melihat wajahnya. Ayah sangat merasa bersalah pada Adikmu, Zayn."


Rendra menutup mata, menghalau sesuatu yang ingin keluar dari pelupuk matanya. Dia semakin terdesak dengan buncahan rasa sesal di dalam dirinya.

__ADS_1


"Akan lebih baik jika Ayah mati karena penyakit jantung ini. Ayah sungguh malu dan menyesal."


_To Be Continued_


__ADS_2