Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Candle Light Dinner


__ADS_3

Seperti ucapan Tuan J tadi, saat ini mereka sedang melakukan candle light dinner romantis bersama. Makan malam yang begitu romantis, dengan cahaya lampu lilin dan deburan ombak.


Benar-benar pengalaman yang mengesankan.


Suasananya semakin romantis tatkala lagu-lagu jazz mengiringi.


Renata dan Tuan J tampil berkelas dari ujung kaki hingga ke ujung kepala saat mengenakan pakaian dengan sama-sama berwarna putih.


"Terima kasih untuk hari ini, Sayang. Aku senang sekali," ucap Renata tiba-tiba.


Tuan J menoleh kali ini, menatap Renata yang sedang menatapnya, "Simpan kata terima kasihmu itu, karena bulan madu kita masih ada empat hari lagi."


Seketika mata Renata berbinar, "Apa empat hari itu kita akan bersenang-senang lagi?" tanyanya penuh harap.


Renata berharap bulan madu itu akan membawanya lebih dekat dengan pria tercintanya. Dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama Tuan J yang kini sudah resmi menjadi suaminya, ke tempat-tempat yang menyenangkan, seperti tempat wisata.


Kali ini Tuan J mendongak untuk menatap Renata, "Apa maksudmu bersenang-senang seperti kegiatan kita di dalam bathtub?"


Lain halnya dengan isi pikiran Renata. Sang suami justru ingin mempercepat proses pembuatan pewaris keluarga Tjong.


Memang dasar isi pikiran seorang pria yang baru saja mengenal kenikmatan menembus cakrawala.


Mendengar hal itu Renata mendadak gugup. Air muka Renata kembali berubah. Wajahnya sudah memerah matang. Ayolah, kenapa sang suami jadi sangat mesum seperti ini?


"Bu-bukan! Maksudku jalan-jalan di negara B!" bantah Renata terbata.


"Hmm," Tuan J berdeham, dia benar-benar salah sangka.


Setelahnya mereka diam dalam suasana yang syahdu itu. Menyantap makanan dengan tenang.


Namun, Renata menyempatkan diri untuk curi-curi pandang pada sang suami. Melihat jakun yang bergerak naik turun, setelah meneguk kecil anggur merah, kemudian Tuan J meletakan kembali gelas anggur di atas meja dengan begitu elegan.


Ternyata ada sisi lain yang berbeda dari Jefra, pikir Renata.


Dulu Jefra-nya memang tidak se-elegan itu. Tapi hal itu justru membuat sang suami semakin berkarisma.


Renata menjadi semakin mencintai suaminya itu. Ingin sekali setiap detail menggenggam sampai mati.


Apa ini konyol karena Renata memiliki cinta begitu mendalam pada Jefra?


Tatapan Renata beralih pada bibir tipis berwarna merah jambu yang entah sudah berapa kali menciumnya. Oh, jangan lupakan jika suaminya adalah good kisser.


Renata segera menggeleng karena pikirannya mulai tidak benar. Jika seperti ini, bukankah dia tidak kalah mesumnya dengan Tuan J?


Kemudian Renata beralih pada alis tebal yang terguncang ke atas, lalu pada bola mata hitam yang ternyata sedang menatapnya.


"Ada apa? Kenapa memandangiku seperti itu?"


Sial! Dia ketahuan sedang curi-curi pandang!

__ADS_1


Bola mata Renata sontak bergerak turun ke bawah, menunduk. Wajahnya kian memerah matang. Kemudian menjejali mulutnya dengan sepotong daging. Dan mengunyah dengan kikuk.


"Kamu jatuh cinta padaku?" tanya Tuan J dengan suara berat magnetiknya, pria itu tersenyum sinis.


Ini sangat memalukan! jerit Renata dalam hati.


"Aku tahu aku tampan. Jadi tidak heran jika kamu jatuh cinta padaku."


Kepala Renata menggeleng cepat meski perkataan Tuan J adalah benar.


Diam-diam Tuan J tersenyum tipis.


"Lihat aku, Dear," ujar Tuan J.


Detik kemudian Renata mendongak, bola mata cokelat miliknya terlihat begitu menggemaskan.


Tuan J menggigit pipi bagian dalamnya. Menahan gemas melihat ekspresi manis Renata. Bola mata cokelat yang membulat dan bibir yang sedikit mengerut. Seperti seekor kucing yang kepergok mencuri ikan segar.


"Hati-hati, Dear. Jangan sampai mencintaiku."


Renata tercengang, ucapan sang suami menciptakan kebingungan besar di kepalanya.


"Memang kenapa?" rasa penasaran di hati membuat Renata tidak tahan untuk bertanya.


Tuan J kembali tersenyum sinis, tapi tidak menjawab pertanyaan dari sang istri.


Drett... Drett...


"Tidak usah banyak bertanya. Aku ingin angkat telepon dulu."


Tuan J bangkit meninggalkan Renata yang terheran-heran.


Renata menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh.


Ada apa, sih? Kenapa Tuan J tidak menjawab pertanyaannya?


"Tapi aku kan sudah jatuh cinta padanya," gerutu Renata.


Di sisi lain.


"Berani-beraninya kalian menghalangiku? Aku hanya ingin menyapa Tuan J!" seru Elsa marah.


Saat ini, Elsa tengah dihalangi para Bodyguard agar tidak menganggu acara candle light dinner Jefra Tjong bersama dengan sang istri.


"Maaf, Nona. Tuan J tidak ingin ada seseorang yang menganggu, termasuk anda," ucap salah satu Bodyguard.


"Kalian mau di pecat, hah! Aku akan mengadukan kalian pada Nyonya Sienna! Asal kalian tahu, aku ini calon istri dari Tuan J!" sentak Elsa dengan tajam, sorot amarah memenuhi netra matanya.


Mendengar ucapan itu, para Bodyguard tertawa. Mereka menggelengkan kepala. Menganggap jika Elsa adalah wanita gila.

__ADS_1


"Apanya yang calon istri? Tuan kami sudah memiliki istri."


"Ya, bahkan Nona sangat jauh di bawah kecantikan istri Tuan kami. Berhentilah untuk bermimpi, Nona."


"Sebaiknya, Nona pergi saja."


"Jika Nona tidak pergi juga. Jangan salahkan kami untuk berbuat kasar."


Para Bodyguard masih berupaya agar wanita itu pergi.


"Akan aku jamin jika kalian akan menyesal!" raung Elsa yang merasa terhina.


"Kami justru akan menyesal jika tidak berhasil menghalangi wanita gila seperti Nona," celetuk salah satu Bodyguard dengan menohok.


"Kau!"


Bagaimana bisa seorang Elsa Arca direndahkan oleh Bodyguard rendahan?


Elsa benar-benar geram.


Namun, Elsa masih keras kepala untuk bisa bertemu dengan Jefra Tjong. Dia mencoba menerobos dengan kasar pada Bodyguard.


Bruk


"Aduh!"


Seketika itu juga, Elsa tersungkur karena didorong oleh salah satu Bodyguard.


"Sudah kami bilang. Kami akan bertindak kasar jika Nona masih tidak mau pergi," ucap Bodyguard yang telah mendorong Elsa dengan begitu dingin dan menakutkan.


Ada rasa takut pada diri Elsa. Karena tidak ingin jika ucapan si Bodyguard menjadi kenyataan, dia segera bangkit dan berbalik pergi.


Kedua tangannya terkepal kuat hingga kuku-kuku jari memutih, rahang mengeras dan tertutup dengan rapat.


"Brengsek!" umpat Elsa kesal, yang sulit mengendalikan diri.


Dia sungguh tidak terima dengan apa yang telah dialaminya ini.


"Apa wanita sund*l itu yang meminta Tuan J untuk menyuruh para Bodyguard itu menghalangiku?"


Kaki Elsa melangkah ke tempat di mana toilet berada. Dia berniat merapihkan penampilannya.


"Sialan! Wanita sund*l itulah yang sangat jauh di bawah kecantikan aku. Aku sudah melakukan banyak perawatan, tidak mungkin jika aku kalah cantik!"


Dia tidak ingin mengakui, jika Renata memang jauh lebih cantik dibandingkan dirinya.


Langkah Elsa seketika melambat tatkala melihat sosok wanita bertubuh ramping yang memasuki toilet, tempat yang dia tuju.


Itu Renata.

__ADS_1


Seketika bibir pink Elsa menyeringai seram. Dia berpikir untuk melampiaskan kemarahannya pada Renata. Rasanya dia ingin marah sepuasnya, memaki, mengumpat, dan menghajar Renata.


_To Be Continued_


__ADS_2