
Setelah menanyakan sesuatu yang ingin diketahuinya. Kini Renata sudah tahu bagaimana bisa Tuan J membawa Anya saat itu.
Berawal dari menyuruh Bodyguard menyelidiki restauran yang membuat Renata mengalami reaksi alergi, berakhir mencari si pelayan, dan jangan sebut 'Jefra Tjong' jika tidak bisa menemukannya.
Anya. Satu nama yang disebutkan pelayan itu. Anya membuka mulut setelah mendapatkan sedikit pemaksaan. Kejahatan Anya dan Sanaya pun terbongkar.
Untuk keadaan Anya sekarang, gadis itu sudah mendapat hukuman. Hanya Tuan J yang tahu hukuman apa itu, yang pastinya Anya tidak mungkin baik-baik saja seperti Sanaya.
Pertanyaannya. Kenapa Jefra Tjong sampai berbuat seperti itu? Apa di dalam hati pria itu masih tersisa sedikit benih-benih cinta terhadapnya? Hingga sampai repot-repot membantunya. Renata sungguh berharap jika itu benar.
Ingin sekali Renata menanyakan itu, tapi apa Tuan J akan menjawabnya? Untuk menjawab di mana pernikahan mereka akan dilaksanakan saja, hanya jawaban nyeleneh yang Renata dapatkan.
Nikah di hutan? Yang benar saja. Apa Tuan J sedang mengajaknya bercanda? Benar-benar selera humor yang buruk.
"Terima kasih karena sudah membantuku."
Pada akhirnya hanya kalimat itulah yang diucapkan Renata sebelum meninggalkan ruangan sang CEO.
**
Di gedung parkir yang terlihat sepi karena jam makan siang sudah berakhir.
Renata melangkah menghampiri mobilnya. Sejujurnya dia masih ingin berlama-lama bersama Tuan J, tapi itu akan menganggu pekerjaan pria itu, apalagi Tuan J juga mengatakan jika sedang sibuk. Sibuk memikirkan pundi-pundi kekayaan.
Ya, setidaknya profesi Jefra yang sebagai CEO Tj Corp tidak mengharuskan pria itu membohonginya seperti di masa lalu.
Ketika langkah Renata tinggal sedikit lagi sampai ke mobilnya berada, tiba-tiba perasaannya tidak enak karena merasa tengah diikuti dari belakang.
Dihentikan langkahnya dan menengok kebelakang.
Kosong. Tidak ada siapapun.
Renata menganggap kalau itu perasaan saja. Lalu kembali melangkah.
Tak
Tuk
Tap
Seketika raut wajah Renata berubah menjadi waspada. Salah. Itu bukan perasaannya saja. Sangat jelas kalau dia mendengar langkah kaki yang berbarengan dengan bunyi high heels miliknya yang bergesekan dengan aspal.
Renata menghentikan langkah lagi.
"Siapa?" Renata bertanya tanpa melihat ke belakang.
Tidak ada jawaban.
"Jangan ikuti aku jika kamu tidak ingin──"
"Ingin apa, Sweety?"
Deg
Jantung Renata seakan berhenti berdetak.
Renata langsung berbalik untuk melihat rupa orang yang mengikutinya. Seorang pria yang memiliki bola mata berwarna abu-abu dan berambut golden brown.
__ADS_1
"Siapa kamu? Kenapa mengikuti aku?" tanya Renata dengan nada yang terdengar bergetar.
Apa pria itu si pemilik nomor asing yang menghubungi Renata sebelumnya?
"Kamu tidak ingat aku, hmm?"
Tanpa sadar Renata berjalan mundur ketika pria itu mendekat.
"Kamu takut padaku? Padahal kita sudah lama tidak bertemu. Terakhir... " pria itu sengaja menggantung perkataannya, "...Saat di kamar hotel."
Dugh
Tubuh Renata menabrak mobil yang terparkir di belakangnya, karena semakin berjalan mundur. Renata sungguh tidak menyukai respon tubuhnya yang ketakutan seperti ini.
Memangnya apa yang ditakuti dari pria itu? Apa ini berhubungan dengan masa lalu Angel? Kamar hotel katanya?
Jangan-jangan...
Kini pria itu telah memojokkan Renata. Lalu diperhatikannya wajah Renata dengan intens.
"Kamu semakin cantik saja, Sweety."
Renata mencoba mencubit kulit pahanya sendiri untuk menghilangkan rasa takut yang dirasa. Lalu menghembuskan napas panjang seraya mengepalkan tangan dengan kuat.
Satu, dua...
Dan berhitung di dalam hati.
Renata harus melawan rasa takutnya. Dia bukanlah wanita lemah yang mudah terintimidasi!
Tiga!
Renata menendang pria itu tepat pada tubuh bagian bawah.
"Ugh!" rintih pria itu refleks memegang titik sensitifnya.
"Rasakan ini!"
Kemudian Renata memegang kunci mobil miliknya dengan erat seperti sedang memegang palu, dan mengarahkannya menuju pundak belakang si pria yang sedang menunduk kesakitan itu dengan sekencang mungkin.
Buak
"Akh!"
Tanpa mengatakan apapun lagi Renata langsung beranjak menuju mobilnya, meninggalkan si pria yang terkapar tidak berdaya, meski masih sadarkan diri.
"Angel... Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?" kata si pria dengan masih merintih kesakitan.
Namanya Aslan Allansky. Seorang pria yang turut andil dalam penjebakan Angel di Club malam.
**
Knock... Knock...
"Hmm."
Nampak Arvin yang muncul dari balik pintu. Arvin sudah kembali bekerja meski cuti panjangnya belum usai.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mengurus proyek yang dirombak itu?" tanya Tuan J saat Arvin sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Ya, Tuan. Ini proposalnya."
Arvin meletakan sebuah proposal di atas meja. Kemudian tatapan Arvin tertuju pada paper bag yang berada di sofa.
"Apa Nona Angel membawa oleh-oleh untukmu?" tanya Arvin disertai senyum.
Tuan J ikut melihat paper bag dari ekor matanya, "Dia membawakan makan siang."
Jari-jari panjang milik Tuan J tidak berhenti menari di papan keyboard.
"Kenapa kamu tidak memakannya?" tanya Arvin lagi.
"Tidak, aku akan membuangnya."
"Sayang dong kalau dibuang. Bagaimana kalau untukku saja? Aku belum makan siang karena pekerjaanku bertambah akibat kamu membatalkan sebuah meeting penting."
Seketika jari yang sedang mengetik itu berhenti.
"Tidak, makanan itu akan aku buang. Apa kamu terlalu miskin untuk membeli makan sendiri?"
Beruntung Arvin sudah terbiasa dengan kata-kata sadis yang dilontarkan Tuan J. Sebenarnya Arvin adalah teman semasa kuliah Tuan J, itulah mengapa Arvin bersikap sedikit santai dengan atasannya itu.
"Kembalilah ke tempatmu, Arvin," usir Tuan J.
"Ya, Tuan," jawab Arvin.
Namun, Arvin justru bergeming.
"Kenapa masih di sini?" tanya Tuan J heran.
Arvin mencoba menyusun kalimat yang pas untuk sesuatu yang terpampang jelas di leher Tuan J, "Apa kamu akan bekerja dengan leher bekas gigitan yang terlihat jelas itu?"
Tuan J langsung mengusap leher dengan kasar. Apa jejak gigitan Renata begitu jelas? Dia tidak menyadari itu. Lalu bergegas meraih ponsel dan mengaktifkan kamera depan untuk melihat lehernya. Benar saja, terdapat jejak gigi dengan ranum merah keunguan.
Sungguh. Tuan J sangat malu saat ini, terlebih melihat Arvin yang tersenyum aneh.
"Apa aku harus membatalkan pertemuan dengan klien karena kondisi lehermu yang seperti itu?"
Tuan J menatap sengit Arvin, "Kalau sudah tahu tidak usah bertanya lagi."
Setelahnya Arvin pamit keluar.
"Bisa-bisanya gadis itu meninggalkan jejak seperti ini," gerutu Tuan J.
Kemudian bangkit menghampiri sofa. Diperhatikannya papar bag pemberian Renata selama beberapa detik.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Tuan J memakan sesuatu yang ada di dalam paper bag itu.
Katanya ingin dibuang, tapi justru dimakan. Perkataan dan perbuatannya yang tidak sinkron.
Jika menyangkut dengan seorang gadis yang bernama Angelica Renata Tan memang Tuan J merasa aneh pada dirinya.
Bahkan sampai ikut campur dengan masalah yang seharusnya bukan urusannya. Dan tadi juga dia membatalkan sebuah meeting penting hanya karena kedatangan Renata.
"Apa sekarang dia sedang menemui Alvaro?"
__ADS_1
_To Be Continued_