Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Amit-amit Jabang Bayi


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul tiga siang, terlihat Renata yang keluar dari ruang CEO. Berniat pulang karena sang suami harus mengadakan pertemuan penting dengan klien.


"Nyonya, Tuan J menyuruhku untuk mengantarmu," ucap Arvin tepat ketika Renata berbalik dari menutup pintu.


"Loh? Kalau Asisten Arvin yang mengantarku, lalu siapa yang menemani Tuan J bertemu dengan klien?" ujar Renata heran. Padahal dia sedang ingin pulang sendiri, karena ada sesuatu yang ingin dilakukan.


"Tuan akan pergi bersama Bodyguard, aku diperintahkan untuk memastikan Nyonya pulang tanpa lecet sedikit pun," ucap Arvin menyampaikan apa yang ditugaskan sang CEO padanya.


Renata terkekeh sambil menggelengkan kepala, memang dia anak kecil, "Sudahlah, aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mungkin lecet. Asisten Arvin jaga Tuan J saja supaya tidak dilirik wanita lain."


"Tuan J tidak mungkin dekat dengan wanita lain, Nyonya percayalah padanya," ujar Arvin.


Ayolah, seorang Jefra Tjong yang sedingin Kutub hanya bisa mencair jika bersama sang istri, tidak mungkin berpaling dengan wanita lain. Jangankan berpaling, untuk sedikit melirik pun pasti tidak. Arvin percaya jika Tuan J akan setia pada istrinya.


Renata tersenyum, "Aku percaya kok dengan suamiku, aku hanya tidak ingin wanita lain memiliki kesempatan untuk mendekatinya."


Oh, sungguh pasangan suami istri yang sama-sama memiliki keposesifan pada pasangannya.


"Baiklah, Nyonya. Aku akan menjaga Tuan J dari wanita lain," patuh Arvin pada akhirnya.


Renata mengangguk senang, tidak menyangka jika Arvin──orang kepercayaan Tuan J bisa patuh padanya. Sepertinya, Renata melupakan jika dia adalah istri dari Jefra Tjong, tentu saja Arvin akan mematuhinya.


"Kalau begitu aku pulang dulu," ucap Renata melangkah pergi.


Sebenarnya, dia tidak ingin langsung pulang. Renata ingin mampir ke mall untuk membeli hadiah dan bahan membuat kue ulang tahun.


Jika ditanya siapa yang ulang tahun, jawabnya adalah Jefra!


Sang suami akan berulang tahun dua hari lagi. Anehnya, tanggalnya sama persis dengan ulang tahun Jefra sebelum masuk ke dunia novel. Renata mengetahui itu ketika bertanya pada Kakek Ashton beberapa hari yang lalu.


Itulah yang membuat Renata menolak untuk diantar pulang, tadi Jefra juga sempat menawarkan diri untuk mengantarnya terlebih dahulu sebelum bertemu klain.


Renata berniat membuat sebuah kejutan untuk sang suami. Pada akhirnya, dia memiliki kesempatan untuk mempersiapkan segalanya.


Langkah Renata berhenti di depan lift, lalu segera menekan tombol lift.


Namun, tiba-tiba seseorang lebih dahulu menekannya, sehingga membuat gerakan Renata berhenti.


Dia menolah ke samping.


Salvina, dengan tatapan tajam menatap Renata. Benar-benar tidak sopan sekali, mengingat Renata ada istri dari pemilik perusahaan.

__ADS_1


Menyadari siapa yang berdiri di sebelahnya, Renata tersenyum kecil. Dia mencoba bersikap ramah, meski tahu jika Salvina sedang ingin mencari gara-gara. Entah apa yang ingin wanita itu lakukan.


"Halo, Nona Salvina. Kamu mau ke mana?"


Salvina diam sejenak, karena sekarang dia sedang memikirkan sebuah rencana. Bagaimana jika dia memberi Renata pelajaran di dalam lift? Pasti tidak ada yang tahu.


"Ingin membelikan kekasihku makanan ringan," jawab Salvina dengan menekan kata 'kekasihku'.


"Kekasih? A──"


Perkataan Renata terhenti karena Salvina menyela dengan cepat, "Alvaro kekasihku."


Salvina ingin membuat Renata cemburu dengan menyebut Alvaro sebagi kekasih, meski dia hanya mengaku-ngaku saja.


"Oh, kalian berpacaran? Selamat kalau begitu," Renata mengucapkan selamat sambil tersenyum.


Tidak sesuai dengan yang diharapkan Salvina. Padahal dia berpikir jika Renata masih memiliki perasaan pada Alvaro.


Tapi kenapa Renata terlihat biasa saja?


Ting!


"Silahkan duluan," Renata mempersilahkan Salvina.


Dengan tanpa mengucapkan terima kasih, Salvina masuk terlebih dahulu, disusul oleh Renata.


Pintu lift tertutup, setelah Renata menekan tombol lantai di mana lobi kantor berada.


"He! Wanita sialan! Dengar, ya. Alvaro itu hanya milikku! Padahal sudah berhasil menggoda CEO dengan tubuhmu itu, tapi masih saja berusaha menarik perhatian Alvaro!"


Renata mengangkat salah satu alisnya. Heran saja, bisa-bisanya Salvina berkata yang tidak-tidak dan menuduhnya sembarangan. Siapa juga yang menarik prihatin Alvaro?


Dugaannya benar, Salvina sedang mencari gara-gara padanya.


Renata menatap wajah Salvina yang merah padam. Seolah-olah sedang menatap orang sakit jiwa, "Apa kamu sakit?"


Level kemarahan Salvina bertambah, "Kurang ajar! Kamu sedang menghinaku!"


"Sepertinya kamu memang benar-benar sedang sakit, ya? Apa perlu aku antar ke rumah sakit jiwa?"


Mendengar Renata yang justru mengatainya gila, Salvina hendak melayangkan tangan untuk memberikan tamparan.

__ADS_1


"Akh!" Salvina memekik kesakitan, dan menyadari jika tangganya tengah dicengkeram Renata.


Renata yang tidak tahan dengan sikap Salvina. Kini sudah habis kesabaran. Dia semakin menekan cengkeramannya di lengan Salvina, dengan rahang mengatup rapat.


"Aku sudah cukup bersabar. Jika kamu masih tidak menjaga mulut dan sikapmu, jangan salahkan aku untuk mematahkan tanganmu," ucap Renata dengan nada rendah, penuh ancaman. Dia sudah tidak ingin beramah-tamah lagi.


Jangan dikira Renata akan diam saja.


"Le-lepas! Ini sakit!" Salvina meronta meminta dilepaskan.


Wajahnya terlihat memerah. Salvina panik, takut, dan juga merasa sakit yang luar biasa di tangannya. Tidak menyangka, jika Renata yang bertubuh mungil dengan perut hamilnya memiliki tenaga seperti seorang pemain sumo.


"Memangnya kamu siapa? Berani sekali berkata kasar dan ingin menamparku?" Renata semakin menambah kekuatan pada cengramannya.


"Akh! A-ampun, maafkan aku!" jerit Salvina semakin kesakitan.


"Dengar, aku tidak perduli tentang hubunganmu dengan Alvaro. Ambil saja pria yang tidak seberapa itu!"


Renata melepas cengraman dari tangan Salvina. Sedikit mendorongnya ke belakang, hingga tubuh wanita itu menubruk pintu lift yang masih tertutup, supaya tidak berdekatan dengannya.


Salvina kembali menjerit, dia memijit lengannya yang sepertinya sudah memar. Lalu menatap Renata dengan takut-takut.


Oh, niat awal ingin memberi Renata pelajaran di dalam lift, tapi justru berakhir sebaliknya.


Renata mendekatkan wajahnya di telinga Salvina. Lalu berbisik dengan tegas, "Jangan mencoba menyentuhku lagi, Nona Salvina. Karena bukan aku lagi yang akan membalasnya nanti, tapi suamiku. Jefra Tjong."


Ting!


Pintu lift terbuka, bersama dengan Renata yang menarik wajahnya, dan tersenyum miring pada Salvina.


Kemudian Renata melangkah keluar lift dengan sengaja menubruk bahu Salvina.


"Huft, padahal aku sudah mencoba bersabar karena tidak baik bagi Ibu hamil marah-marah, tapi selalu saja ada orang yang mengusikku," gerutu Renata dengan menghela napas panjang.


Kemudian mengelus perut buncitnya, sambil bergumam.


"Hih! Amit-amit jabang bayi, ya Allah. Jangan sampai bayiku seperti wanita menyebalkan tadi."


Untungnya Renata sudah yakin jika bayinya laki-laki, yang akan diberi nama Radion Tjong. Jadi tidak mungkin mirip dengan Salvina.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2