
"A-apa?"
Sebuah fakta baru yang membuat Renata terkejut. Ingatan sang suami telah kembali.
"Aku merasa seperti kehilangan banyak waktu bersamamu. Apa kamu membenciku karena melupakanmu?" Jefra bertanya dengan tatapan intens pada wajah Renata. Masih saja tersenyum, menikmati wajah cantik sang istri.
Sebelumnya, tidak ada pemikiran sama sekali jika dirinya dan Renata pernah menjalani kehidupan pertama mereka bersama. Namun siapa yang menyangka, jika keduanya sama-sama diberi kesempatan kedua oleh sang pencipta.
Jefra merangkum wajah Ranata dengan kedua telapak tangannya, melihat dengan jelas air mata yang mulai kembali membasahi wajah cantik itu. Wanita yang selama ini menjadi kepingin terpenting dalam memori ingatannya.
"Ka-kamu mengingatku?" tanya Renata di sela tangisan senang.
Menghela napas panjang, Jefra mengakui di dalam hati kalau dia memang bersalah karena telah melupakan cintanya.
"Maafkan aku, Renata. Maafkan aku. Aku tahu dan aku bisa merasakan bahwa aku sangat mencintaimu. Bahkan, saat aku tidak mengingat siapa dirimu pun aku tetap mencintaimu. Kamu telah mampu membuatku jatuh cinta padamu berkali-kali."
Pesona Renata memang mampu membuat Jefra jatuh berkali-kali. Mau sebagai Jefra Tjong ataupun Jefra Annefall, keduanya telah jatuh cinta pada wanita yang sama.
Dan perkataan Jefra telah mampu menimbulkan debaran kencang di dalam dada Renata, "Aku tahu, Jefra. Kamu sudah membuktikan ucapan kamu itu."
Renata mengambil tangan Jefra yang menangkup wajahnya, membawa tangan itu ke depan bibirnya, lalu mengecupnya lama. Kemudian melepaskan kecupan itu dengan tersenyum.
"Terima kasih karena kamu terus menantiku, Ranata," ucap Jefra.
"Ya," Renata mengangguk, lalu dipeluknya kembali tubuh tegap sang suami, "Terima kasih juga karena sudah mengingatku. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini sejak lama, saat di mana kamu mengingatku sebagai Renata Carissa."
Jefra membiarkan Renata membenamkan kepala di dadanya. Dia rengkuh kepala istrinya itu dan mengecupnya berkali-kali.
"Jangan tidur terlalu lama lagi. Asal kamu tahu saja, aku hampir benar-benar gila. Mungkin aku tidak sanggup bertahan jika kamu benar-benar meninggalkan aku."
"Tidak akan pernah, Jefra Sayangku. Tidak akan pernah."
Kepala Renata mendongak, lalu Jefra memberikan kecupan di setiap inci wajahnya.
"Ceritakan semua padaku, Dear. Semua derita dan sakit yang kamu rasakan saat aku lupa padamu."
Renata tersenyum mendengar permintaan sang suami, yang ingin agar dia membagi perasaan tidak mengenakan itu.
__ADS_1
"Seberapa banyak kamu mengingatku?" Renata justru melontarkan pertanyaan pada Jefra.
Jefra berpikir sejenak, lalu memberikan jawaban sesuai dengan ingatannya. Namun, seringai jahil tercipta di bibirnya, berniat menggoda Renata.
"Aku sudah mengingat semuanya. Termasuk dirimu yang sangat senang dicium olehku, dan segala kontak tubuh yang dulu sering kita lakukan," Jefra berkata sambil mengecup sekilas bibir Renata, lalu mengecupi pipi yang telah tersipu malu karena ucapannya.
Banyak sekali kecupan yang diterima Renata. Kecupan rindu dari suami tercinta. Meskipun Jefra masih terlihat kurang sehat, tapi pancaran wajahnya sudah tidak muram lagi, bahkan bisa menggoda Renata.
Renata mengigit bibir bawahnya supaya tidak melebarkan senyum. Namun, rona merah di wajah tidak bisa disembunyikan, "Dasar mesum!"
Keduanya tertawa lepas. Setelah menangis ria bersama, kini mereka tertawa bersama. Mereka begitu larut dalam detik-detik ini.
"Habis mau bagaimana, semua telah aku ingat. Itu yang membuatku yakin bahwa kamu memang milikku, sampai kapanpun," sorot mata Jefra terlihat tajam namun tersirat sebuah cinta di sana.
"Aku tahu, kamu juga milikku, setiap inci dari tubuhmu milikku, hatimu dan cintamu juga milikku seutuhnya sampai kapanpun. Walaupun maut telah memisahkan, kita telah terlahir kembali, dan kamu menjadi milikku lagi."
Renata berucap dengan sorot mata yang lembut dan teduh, mampu menyejukkan hati Jefra.
"Dear, kenapa kamu tidak bilang jika sedang mengandung?" tanya Jefra lirih, mengakhiri sunyi yang hendak merambat, menatap sendu.
"Ya, aku juga ingin membuat kejutan untukmu, Dear. Tapi──"
Renata menggerakkan jari telunjuknya untuk menutup bibir Jefra, menghentikan perkataan suaminya itu, "Sudah jangan mengingatnya lagi, biarkan kejadian itu berlalu. Yang terpenting, saat ini kita sudah bersama kembali, serta akan ada Radion yang muncul di tengah-tengah kita."
"Apa putra kita juga akan reinkarnasi?"
Renata diam, membayangkan jika Radion yang sedang memakai jas pernikahan. Ya, putranya sudah hidup bahagia bersama Elmeyra.
"Sepertinya tidak. Terlebih kita bukan mengalami reinkarnasi. Hal yang kita alami ini berbeda, bisa di sebut transmigrasi," jawab Renata.
Jefra tersenyum, "Apapun itu, aku sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan kedua untuk bertemu denganmu lagi di dunia ini, Dear."
"Ya, aku juga sangat bersyukur."
Mereka semakin mempererat pelukan, seolah-olah tidak ingin melepaskan satu sama lain. Hingga suara pintu terbuka mengalihkan perhatian keduanya.
Cklek
__ADS_1
"J, kau masih mogok makan, ya? Ini aku bawakan makanan untukm──"
Brak
Zayn muncul dari balik pintu yang terbuka. Seketika dia terkejut, sampai-sampai menjatuhkan bungkus makanan yang ia belikan untuk Jefra. Kedua matanya terbelalak saat mengetahui Adik perempuannya telah sadar dari koma.
"Re-Renata kamu sudah sadar...?"
"Hei, Kak Zayn," Renata tersenyum menyambut kedatangan sang Kakak.
Zayn langsung menghampiri Renata dan memeluknya, dia benar-benar bahagia, "Oh, syukurlah, akhirnya kamu sadar. Kakak kangen sekali padamu."
Sedangkan Jefra, masih terduduk di tempatnya. Memperhatikan interaksi kedua Kakak beradik itu. Meski ada perasaan tidak suka di dalam hati. Ayolah, sebenarnya Renata bukanlah Adik Zayn!
Zayn mengurai pelukannya, lalu menatap wajah Renata yang memerah di bagian mata dan hidung, "Kenapa wajahmu menjadi sembab seperti ini? Kamu baik-baik saja, kan? Apa masih sakit? Kak Zayn akan panggilkan Dokter."
Masih terlihat jelas kecemasan di wajah Zayn. Meski sudah perlahan menghilang, sedikit demi sedikit.
Renata mengedipkan bola matanya dengan perlahan, "Aku sudah baik-baik saja, Kak Zayan."
"Oh, Kakak senang sekali, terima kasih karena sudah bertahan."
Zayn kembali ingin memeluk Renata. Namun, pundaknya ditarik kebelakang oleh Jefra, mencegahnya untuk melakukan aksi peluk lagi.
"Apa-apaan kau, J!" Zayn merasa kesal, padahal dia masih ingin melepas rindu pada Adik perempuannya.
"Berhentilah memeluknya, dia akan sesak. Dia baru saja siuman. Aku tidak mau jika terjadi hal buruk lagi pada istriku."
Padahal Jefra hanya ingin menghalangi Zayn memeluk Renata-nya. Benar-benar posesif.
Zayn mengurungkan protes yang hendak dia ucapkan saat melihat wajah pucat Jefra, lalu menarik napas berat.
"Sepertinya aku memang harus memanggil Dokter."
Kenapa justru keadaan Jefra Tjong yang terlihat lebih mengkhawatirkan?
_To Be Continued_
__ADS_1