
Renata mematung, alvaro datang berkunjung? apa konflik yang Elmeyra tulis sudah mulai? dia terlalu hanyut dalam kesenangan sampai melupakan hal terpenting.
**
"Kakak, kau benar-benar ahli dalam hal merekrut petugas keamanan rumah. Mereka semua berwajah garang dan menyeramkan," ucap Alvaro tersenyum sinis, "Memang kau sedang berjaga-jaga dari siapa?"
"Kau kenapa ke sini? Sudah pernah aku bilang jangan menginjakkan kakimu lagi di kediaman keluarga Tjong," tukas Tuan J dingin, di sebelahnya ada Renata yang mengapit lengannya.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Mau bagaimanapun aku adalah putra keluarga Tjong, aku memiliki hak untuk tinggal di sini," sahut Alvaro tidak kalah dingin.
Tiba-tiba Kakek Alvaro muncul memasuki ruang tamu, "Siapa yang mengatakan jika kamu pantas tinggal di sini, Alvaro Tjong."
Kedua tangan Alvaro terkepal, selalu saja sang Kakek membela Jefra. Padahal dirinya juga cucu dari orang tua itu. Sungguh dia semakin muak dengan keluarga Tjong.
Renata mempererat pegangannya pada lengan Jefra, dia tahu apa yang akan selanjutnya Alvaro katakan. Kini, mantan tokoh utama pria dalam novel 'Suara Hati Sanaya' sudah di selimuti dendam atas kematian sang Ibu.
Seperti kata Elmeyra, sebuah novel tidak akan berjalan jika tidak ada konflik. Dari semua tokoh yang bersangkutan dengan novel tersebut, Alvaro lah yang sangat berpotensi menjadi penjahatnya.
Dialah si antagonis.
Renata menelan saliva dengan susah payah.
"Ibuku meninggal..." ucap Alvaro dengan raut wajah penuh amarah, lalu jarinya menunjuk Tuan J, "Dan kau yang telah membakarnya hidup-hidup di dalam rumah. Dasar kau iblis yang tidak punya hati. Bisa-bisanya kau membunuh ibuku dengan kejam!"
"Itu adalah balasan setimpal atas perbuatannya," tukas Tuan J dengan suara beratnya.
"Ibuku memang bersalah karena sudah membakar kediaman keluarga Tjong, tapi tidak harus membunuhnya!" sentak Alvaro.
"Jadi, saat Sienna membahayakan kami, kami hanya boleh menghindari dia dan membiarkan dia melakukan sesukanya? Atau kamu lebih senang melihat kami mati dari pada Ibumu?" ucap Tuan J tersenyum miring.
"Jefra Tjong, kau memang benar-benar brengsek."
Darah panas langsung naik ke ubun-ubun Alvaro. Kedua tangannya mengepal. Pandangan tajam pada Jefra. Pandangan menghabisi lawan. Dia mulai mendekat pada Jefra, ingin melayangkan tinjunya pada wajah datar yang tidak memiliki rasa bersalah.
Namun, baru saja Alvaro hendak mengangkat tinjunya, Renata berteriak menghentikannya.
"Berhenti, Alvaro!" seru Renata tegas, tubuhnya menghadang Alvaro agar tidak bisa memukul Jefra.
__ADS_1
"Minggir, Renata!" bentak Alvaro.
"Kau berani-beraninya membentak istriku!" Tuan J membalas bentakan Adik tirinya.
"Salahmu yang justru bersembunyi di ketiak istrimu," Alvaro berkata dengan tatapan penuh ejekan.
"Teruskan omong kosongmu dan akan aku lubangi kepalamu!" ancam Tuan J tersulit emosi.
"Kau pikir, aku takut?" tantang Alvaro.
"Cukup! Kalian seperti anak kecil saja!" lerai Renata pada pertengkaran kakak-beradik itu.
Dua pria itu seketika diam, menurut pada wanita yang sama-sama mereka cintai.
"Balas dendam bukan hanya menyakiti orang yang dibenci, tapi juga menyakiti semua orang, bahkan dirimu sendiri," ucap Renata sambil menatap Alvaro.
"Terkadang cara menyadarkan adalah dengan membalas," sahut Alvaro yang memiliki pemikiran berbeda.
Alvaro menatap wajah wanita yang masih dicintainya itu. Dia memang telah mengatakan jika berniat melupakan Renata, tapi sampai sekarang belum bisa melupakan cintanya itu. Sangat sulit sekali untuk melakukannya.
Lalu tatapan Alvaro turun ke perut Renata yang membuncit. Semakin geram karena wanita itu telah mengandung anak dari Jefra.
"Cuih! Kau telah mengandung anak yang pastinya akan memiliki sifat buruk dari Ayahnya!"
Plak!
Mendengar perkataan Alvaro yang mengandung penghinaan terhadap bayinya, Renata langsung menampar pipi pria itu dengan kencang. Tentu saja dia tidak terima.
"Kau jangan sembarangan bicara!"
Di saat yang sama, Jefra langsung memeluk Renata, menyembunyikan sang istri yang mulai menangis di pelukannya. Jangan lupakan, jika istrinya yang sedang hamil itu menjadi sangat sensitif. Gampang sekali menangis.
Sedangkan Alvaro yang baru saja mendapatkan tamparan, hanya diam menatap Renata yang terisak di pelukan Jefra. Wanita itu menangis karena dirinya. Ada rasa menyesal di hati, tapi dendam dan kemarahan lebih mendominasi.
"Untuk apa kau ke sini, Alvaro! Pergilah jika kamu hanya ingin mencari keributan!" sergah Kakek Ashton.
"Aku ke sini hanya ingin memberitahu kalian hal ini. Jangan pikir kalian bisa beristirahat tenang hanya karena Ibuku sudah mati."
__ADS_1
Alvaro berkata dengan suara pelan dan penuh amarah. Dia melihat satu-satu orang yang berada di ruang tamu, termasuk Renata yang sudah menghentikan tangis.
"Ini adalah permulaan atas segalanya! Bersiaplah kehilangan sesuatu yang paling berharga di hidupmu, Jefra Tjong!"
"Balas dendam padaku saja. Aku harap kau akan melakukan segalanya tanpa libatkan keluargaku," ujar Tuan J.
"Mana bisa seperti itu," Alvaro menerbitkan seringai, "Dengan cara apapun, aku akan menghancurkan kalian semua."
Tuan J langsung mengeluarkan pistol miliknya dan menodong Alvaro, "Urungkan niatmu, atau kepalamu akan meledak saat ini juga."
Ada sebuah moncong pistol yang mengarah padanya, Alvaro santai saja dan tertawa, "Apa kau pikir bisa membunuhku dengan mudah?"
Tuan J hendak menarik pelatuk pistolnya, "Aku tidak main-main, brengsek!"
"Hentikan, J! Turunkan pistolmu!"
Kakek Ashton melerai, mau bagaimanapun kedua lelaki yang sedang berseteru itu adalah Cucunya. Meski ada rasa tidak suka terhadap Alvaro, tapi dia tidak ingin sang Cucu mati di tangan Kakaknya sendiri.
"Tidak. Jika dibiarkan, dia akan membahayakan keluarga kita," Tuan J tidak menurut begitu saja.
"Mau bagaimanapun kalian berdua bersaudara, jangan ada pertumpahan darah," ujar Kakek Ashton.
Renata juga ikut melerai Jefra dengan memegang lengan suaminya itu, dan berbisik, "Saat ini, Alvaro hanya sedang diselimuti amarah. Dia tidak benar-benar akan membahayakan kita."
Kejahatan Alvaro memang tidak sekejam Sienna, pria itu hanya ingin merebut posisi Jefra di perusahaan TJ Crop. Itulah yang Renata tahu dari alur novelnya.
Tuan J menahan napas, sepertinya sedang menahan emosi di dalam dada. Pada akhirnya, pria bermata kelam itu menurut untuk menyimpan kembali pistonnya. Meski dengan setengah hati.
"Pergi dari sini!" usir Kakek Ashton pada Alvaro, "Jangan memancing amarah Kakakmu lagi, Alvaro."
Alvaro tersenyum dingin, "Kakek memang sangat suka mengusirku, ya. Baiklah aku akan pergi."
Setelah mengatakan itu, Alvaro melangkah keluar. Ketika pria itu sudah berada di pintu keluar. Dia balik badan dan kembali menatap tajam Jefra.
"Tunggulah apa yang akan kulakukan."
_To Be Continued_
__ADS_1