Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Bioluminesensi


__ADS_3

Pukul delapan malam hujan baru berhenti.


"Akhirnya hujannya berhenti," ucap Renata seraya melihat pemandangan di luar jendela mobil.


Sejak tadi mereka memang hanya berkendara karena belum menemukan tempat makan yang cocok. Hal ini membuat Tuan J menjadi merasa malu, karena kencan ini tidak berjalan lancar pastinya membuat si calon istri kecewa. Padahal dia ingin membuat Renata menghabiskan waktu menyenangkan hari ini.


Kini Tuan J sedang sedang melakukan mobilnya di jalan yang melintasi pesisir pantai.


Sejauh mata memandang, dapat terlihat hamparan laut malam yang begitu memukau, dan deburan ombak di pinggir pantai yang mengeluarkan cahaya biru seperti bintang.


Renata takjub dibuatnya, "Kenapa lautnya bersinar?"


Tuan J milirik Renata dari ekor matanya sekilas, "Bioluminesensi."


"Apa itu?"


Tatapan Renata beralih pada Tuan J yang duduk santai dengan bersandar kursi dan tangan berada atas roda kemudi mobil. Terlihat sekali jika pria itu memiliki karakter dominan, karena dapat memegang kendali penuh atas kendaraan yang sedang dikendarainya.


"Laut yang dikelilingi cahaya biru terang itu diakibatkan fenomena biologis yang disebut bioluminesensi, di mana makhluk hidup tertentu bisa mengeluarkan cahaya. Bisa dibilang sebuah proses kimia yang terjadi pada jamur, flagellata, kunang-kunang, dan plankton jenis tertentu yang bisa membuat tubuh mereka bersinar," jelas Tuan J.


"Wow," Renata menyatukan kedua tangan di bawah dagu, matanya berbinar seolah-olah baru mengetahui sesuatu yang luar biasa, "Itu menakjubkan, aku baru tahu tentang itu."


"Memang kamu belum pernah melihat pemandangan laut malam?" tanya Tuan J yang merasa heran dengan reaksi berlebihan Renata.


Renata menggeleng, "Belum."


Ya, di dunia ini Renata memang belum pernah melihatnya. Dia tidak menyangka jika laut malam di dunia novel ini begitu indah.


Tuan J terdiam sejenak seraya menatap wajah Renata yang terlihat penasaran, seakan ingin melihat pemandangan laut malam yang bersinar kebiruan itu dari dekat.


"Kamu ingin turun dan melihatnya?" tanya Tuan J kemudian.


"Ya," jawab Renata antusias dengan mata yang memancar keseriusan.


Kemudian Tuan J memutar kemudi untuk mencari lokasi yang cocok untuk menepikan mobilnya, sehingga mereka bisa leluasa melihat pemandangan laut malam hari. Setelahnya, deru suara mobil Range Rover Sport miliknya berhenti pada pelataran pasir pantai. Pria itu membiarkan Renata membuka sendiri pintu mobil dan berlari kecil menjelajahi pasir pantai. Lalu dia juga beranjak keluar dari mobil, memperhatikan Renata dengan bersandar di atas kap mobil.


"Indah sekali!" seru Renata yang terlihat sangat gembira.


Renata melepas stiletto yang dikenakannya, lalu menentengnya di masing-masing tangan. Dengan blazer kedodoran gadis itu menghampiri gulungan ombak yang menyapu dan membentuk untaian lukisan yang terukir di pantai.


Tanpa sadar Jefra Tjong menarik sudut bibirnya, tersenyum melihat tingkah Renata yang menggemaskan di matanya. Bahkan pria itu sampai memotret Renata dengan kamera ponsel.


"Cantik," ucap Tuan J tatkala melihat hasil bidikannya.


Pada akhirnya mereka berdua pergi ke pantai meskipun tidak seperti rencana awal. Walaupun udara begitu dingin karena sehabis hujan, tapi Tuan J merasa lega karena bisa melihat raut kegembiraan calon istrinya.

__ADS_1


Sepertinya kencan hari ini tidak sepenuhnya kacau.


"Kenapa diam saja? Ayo ikut aku!" Renata datang menghampiri Tuan J.


"Tidak."


Renata langsung menarik lengan Tuan J tanpa memperdulikan penolakan itu. Meski begitu Tuan J pasrah saat lengannya ditarik.


"Lepas sepatumu!" perintah Renata.


Tuan J mendelik, bisa-bisanya gadis itu memerintahnya. Sungguh berani sekali.


"Apa Tuan J tidak bisa melepas sepatu sendiri? Apa perlu bantuanku?" seloroh Renata.


"Aku bisa sendiri," sengit Tuan J.


Kemudian keduanya mulai melangkah beriringan di antara pasir dan laut, meninggalkan deretan jejak kaki yang berwarna biru menyala.


Sett


Tuan J terkejut ketika Renata menggenggam tangannya tanpa permisi. Lalu ditatapnya wajah Renata yang tersenyum manis dan menatapnya dan tatapan penuh arti.


Hei, Jef. Kita pernah tertawa bersama, di hujan yang berbeda, di pantai yang berbeda, dan kencan pertama yang berbeda. Apa kamu ingat itu?


Deg


Sebuah makan malam dengan pemandangan pinggir pantai dan background langit malam bertabur bintang berkelap-kelip. Seorang gadis bergaun putih dengan senyum yang begitu manis. Hujan yang menghancurkan segalanya. Kedua orang yang berlari menerobos hujan dengan berpayung sebuah jaket. Dan...


"Akh!"


"Kamu kenapa?" tanya Renata khawatir tatkala Tuan J merintih sembari memegang kepala.


Pria itu menggeleng namun kepalanya masih terasa sakit. Dia sendiri tidak tahu kenapa kepalanya mendadak sakit seperti dihantam sesuatu, dan apa ingatan-ingatan tadi.


**


"Kamu benaran tidak apa-apa?" tanya Renata pada Tuan J yang duduk di sampingnya.


Kini keduanya duduk beralasan tikar di atas pasir pantai. Renata sendiri yang berinisiatif mengajak Tuan J untuk sekedar mengistirahatkan diri sekaligus makan di kuliner kaki lima di pinggir pantai. Renata berpikir pria itu sakit kepala karena belum makan.


"Aku tidak apa-apa," jawab Tuan J, sakit kepalanya memang sudah membaik.


"Kamu mau makan sate?" Renata menawarkan sate ayam yang tadi dipesannya.


Kening Tuan J berkerut. Kenapa mereka justru makan di tempat berdebu seperti ini?

__ADS_1


Tidak, aku harus mencari tempat makan yang lebih layak daripada ini. Aku tidak mungkin membiarkannya sakit perut karena makan makanan yang tidak higienis.


Karena saking asyiknya bermonolog di dalam hati, Tuan J tidak menyadari jika Renata sudah menyodorkan satu tusuk sate ke arah mulutnya, berniat menyuapinya.


"Kamu harus mencobanya. Aaa..."


"Aaa?"


Srukk


Tuan J mematung tatkala sate itu berhasil masuk ke dalam mulutnya.


Renata tersenyum sumringah, "Bagaimana? Enak, kan? Pasti kamu belum pernah makan sate di pinggir pantai. Sekali-kali cobalah merakyat."


Tuan J mengunyah sate itu dengan kaku, ternyata rasanya tidak seburuk yang dia kira.


"Ya... Ini enak."


"Kalau begitu coba minum ini."


Keduanya pun mulai makan dengan disuguhkan pemandangan laut bercahaya biru yang sangat memukau dan cantik, bahkan ikan-ikan berenang di sana meninggalkan jejak cahaya biru. Sungguh menakjubkan mata.


Tuan J tersentak tatkala merasakan kepala Renata bersandar di bahunya, tapi dia membiarkan itu. Dia juga membiarkan Renata menggulung lengan bajunya untuk melihat perban yang membalut pergelangan tangannya.


Renata menyentuh pergelangan tangan Tuan J dengan lembut, "Apa kamu masih menyakiti diri sendiri?"


Si empunya tangan diam, tidak menjawab.


Semilir angin berhembus membawa hawa dingin. Renata memberanikan diri untuk semakin merapatkan diri pada Tuan J, lalu tangannya bergerak untuk memeluk pria itu.


"Berani sekali kamu memelukku. Sana jauh-jauh," meskipun berkata seperti itu tapi Tuan J hanya bergeming saat Renata memeluknya, karena pelukan itu terasa hangat.


"Aku begitu senang hari ini. Baik saat nonton, menunggu hujan, saat jalan-jalan, saat makan, aku sangat menikmatinya. Jangan kapok mengajakku kencan, ya."


Tuan J tidak menyangka jika Renata justru menikmati kencan yang menurutnya buruk.


"Aku kira kamu kecewa."


Renata menggeleng. Tiba-tiba kantuk dirasakannya. Renata tertidur dengan masih memeluk Jefra Tjong. Sepertinya gadis itu lelah.


Hari ini Renata senang sekali karena bersama dengan Jefra bukan orang lain. Memang jika dengan siapa kita mengalaminya, itu lebih berarti dari pengalaman itu sendiri.


Setelah ini, Renata berharap hubungannya dengan Jefra menjadi lebih baik.


_To Be Continued_

__ADS_1


Bioluminesensi kayak gini, yaaa~



__ADS_2