Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Harus Mengikuti Alur


__ADS_3

Setelah mengatakan itu, Alvaro melangkah keluar. Ketika pria itu sudah berada di pintu keluar. Dia balik badan dan kembali menatap tajam Jefra.


"Tunggulah apa yang akan kulakukan."


Jefra geram, tangannya meremas jemarinya sendiri, "Manusia brengsek! Memang apa yang bisa dia lakukan?"


"Sabar, J. Kamu jangan terpancing dengan perkataan Alvaro. Dia hanya sedang marah karena kematian Sienna," ujar Kakek Ashton.


Jefra menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Renata, "Kamu kenapa membela Alvaro?"


Renata bingung seketika, kenapa jadi dia dituduh membela Alvaro? Apa karena kata-katanya tadi?


"Siapa yang membelanya, aku tid──"


"Sudahlah, padahal aku hanya ingin melindungi kalian berdua. Tapi kalian justru membiarkan Alvaro begitu saja," ucap Jefra memotong perkataan Renata, ada nada kekecewaan di sana.


Kemudian pria bermata kelam itu berbalik meninggalkan ruang tamu.


"Jef!" panggil Renata pada suaminya.


**


Renata memasuki kamar, dia melihat sang suami yang sedang terduduk di sofa sambil memainkan ponsel. Ekspresi dari wajah tampan itu terlihat tidak baik-baik saja, terkesan dingin.


Apa Jefra sedang marah padanya?


"Kamu tidak jadi makan?" tanya Renata, mengingat omelet yang dibuat suaminya itu. Karena kedatangan Alvaro, mereka tidak sempat memakannya.


Jefra tidak menjawab, sekedar melirik Renata saja tidak.


Langkah Renata semakin mendekat ke tempat di mata sang suami duduk, dan berdiri tepat di depannya Jefra.


"Kok diam saja?" Renata berkata sambil mengerucutkan bibir.


Jefra masih diam, seolah-olah Renata adalah makhluk kasat mata yang tidak diacuhkan keberadaannya. Benar-benar mengesalkan!


Set


Dengan sekali tarikan ponsel Jefra direbut Renata. Lalu langsung disembunyikan di belakang tubuh.


"Kembalikan," ucap Jefra dingin.


Jefra Tjong yang dingin telah kembali. Sepertinya pria itu memang benar-benar sedang marah pada Renata.


Namun, Renata tidak takut dengan sang suami yang sedang ngambek itu, dia justru menganggapnya menggemaskan.


"Kamu menyebalkan! Kenapa mengabaikan aku? Kamu sedang marah?" sembur Renata dengan merajuk, tidak suka dengan sifat Jefra yang tidak manis lagi.


"Ck," Jefra hanya berdecak menanggapinya.

__ADS_1


Jefra hendak bangkit dari posisi duduknya. Namun, Renata mencegah dengan memegang kedua pundaknya hingga terdorong ke sandaran sofa.


Bahkan, Renata langsung duduk di pangkuan Jefra.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" tukas Renata meninggikan nada suaranya, dia membalas tatapan Jefra dengan tajam.


"Memang apa yang ingin kamu lakukan supaya aku tidak pergi, hmm?" Jefra meringsek, mendekati Renata.


Ketika mereka sudah saling berhadapan tanpa jarak, tangan Jefra menarik pinggang Renata.


"Jawab aku, Renata!" sentak Jefra pelan, "Kenapa aku tidak boleh menembak kepala Alvaro? Apa karena dia mantan kekasihmu?"


Renata terhenyak. Baiklah, pertanyaan sang suami memperjelas semuanya. Jefra sedang cemburu.


"Kamu ini, ya. Alvaro bukan mantan kekasihku, tapi Angel. Berhentilah cemburu, oke?" ucap Renata memicing mata.


Hembusan napa panas makin terasa, seiring dengan wajah Jefra yang semakin mendekat, "Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka saja kamu membelanya."


"Kamu..."


Renata kehabisan kata-kata, jelas-jelas suaminya itu sedang cemburu tapi masih saja menyangkal.


Kemudian tangan Renata melingkari punggung gagah sang suami.


"Aku hanya mencintaimu. Dan kamu tahu itu."


"Hmm," Jefra hanya bergumam.


"Aku bukan membela Alvaro, aku hanya tidak ingin alur novel yang sudah ditulis Elmeyra berantakan," jelas Renata.


"Apa maksudmu?" tanya Jefra tidak paham, dia juga tidak kenal dengan seseorang yang bernama Elmeyra.


"Saat aku koma, jiwaku kembali ke dunia asal kita. Aku bertemu dengan Radion dan Elmeyra si penulis novel──dunia yang kita tempati saat ini," beber Renata mengenai pengalamannya kala itu.


Jefra tercengang dan menatap tidak percaya. Namun, semenjak tahu jika mereka berdua kembali hidup setelah mengalami kematian, ini memang sudah tidak masuk akal, jadi tidak ada yang tidak mungkin lagi.


"Jadi itu adalah alasan kamu koma selama lima puluh tiga hari?" tanya Jefra.


"Ya, aku bisa kembali karena berkat Elmeyra yang telah menulis kelanjutan novel yang berakhir sad ending bagi kita. Jika bukan karena gadis itu, mungkin aku tidak akan terbangun dari ko──"


Jefra langsung mencium bibir Renata untuk menghentikan perkataan istrinya itu. Tidak, Jefra tidak mau Renata melanjutkan perkataan yang membuatnya takut, meski hanya dibayangkan.


Lalu Jefra menjauhkan bibirnya setelah beberapa detik.


"Jangan berkata sesuatu yang mengerikan," larang Jefra.


Renata mengangguk patuh.


"Teruskan!" titah Jefra supaya Renata melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Elmeyra menulis sequel dari novel itu. Dia merubah akhir sad ending kita menjadi happy ending."


"Itu bagus!" sergah Jefra.


"Oleh karena itu, untuk mencapai happy ending yang sudah ditulis Elmeyra, kita harus mengikuti alur novelnya, tidak boleh merubahnya. Jika tidak, akhirat itu bisa saja berubah. Seperti yang sebelumnya aku lakukan, merubah takdir Angel dan berakhir merubah keseluruhan isi dari novel tersebut."


Jefra diam, masih menunggu kelanjutan perkataan sang istri.


"Sudah dituliskan jika Alvaro adalah toko antagonis yang menjadi kunci akhir happy ending kita. Kamu tidak boleh membunuhnya, sebelum dia melakukan perannya."


"Jadi aku harus membiarkannya bertindak sesuka hati?" tanya Jefra.


"Bukan membiarkannya bertindak sesuka hati, tentu saja kita juga harus melawannya. Tapi dengan cara yang sudah tertulis di dalam novel," jelas Renata.


"Tapi aku tidak tahu isi novel yang kamu maksud," ucap Jefra menjadi bingung sendiri.


"Nanti akan aku beritahu, aku tahu semuanya," tukas Renata.


"Baiklah, Sayangku. Aku akan mendengarkan kamu," tukas Jefra menganggukkan kepala, "Kalau begitu ceritakan."


"Sebelum itu, sebaiknya kita makan terlebih dahulu," ujar Renata.


"Katanya tidak ingin makan omelet gosong."


Renata memberi sebuah kecupan di pipi Jefra, "Tidak kok, aku sangat ingin makan masakan Jefra tercintaku."


"Ehmm, hmm," Jefra berdeham dua kali untuk menutupi rasa senang yang meluap-luap. Kedua telinganya merona.


Tawa lembut Renata menderai di udara, ketika melihat sang suami salah tingkah, benar-benar manis.


"Aku ingin digendong sampai ke ruang makan!" pinta Renata dengan manja, lalu melingkarkan tangannya di leher Jefra.


"As your wish, My Queen."


Jefra langsung menggendong Renata, dengan berhati-hati supaya perut sang istri tidak tergencet.


"Bagaimana keadaan Radion? Apa bocah itu baik-baik saja?" tanya Jefra saat melangkah keluar kamar.


"Putra kita sudah tidak bocah lagi. Apa kamu tahu? Dia akan menikahi seorang gadis, Elmeyra adalah kekasih Radion," jawab Renata sambil membayangkan wajah tampan putranya.


"Heh?" Jefra terkejut dibuatnya.


Renata terkekeh melihat reaksi suaminya, "Kenapa kamu terkejut?"


"Tidak menyangka saja."


"Ya, awalannya aku juga tidak menyangka. Tapi aku sedih karena tidak bisa melihat pernikahan mereka."


"Hmm, kamu bisa melihatnya nanti."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2