
"Argh!" teriak Sanaya seraya meremas rambut frustasi, "Gara-gara jal*ng sialan itu hubunganku dan Alvaro pasti akan semakin sulit."
Ingin sekali Sanaya cepat-cepat menghabisi Renata yang selalu menghalangi kehidupan bahagianya. Bertanya-tanya, ke mana perginya kebodohan Renata? Kenapa si jal*ng itu bisa memiliki rekaman itu?
"Bukan hanya itu, kamu sudah mengacaukan rencana kita, Sanaya. Di mana otakmu? Bisa-bisanya kamu dijebak Renata!" omel Santy yang semakin membuat amarah Sanya melonjak.
"Bang sat!"
Prangg
Sanaya melempar ponsel miliknya ke kaca meja rias. Hingga membuat Santy terkaget-kaget.
"Hentikan, Sanaya!" Santy mencoba menghentikan putrinya yang sedang memporak-porandakan seisi kamar, "Percuma kamu mengamuk, itu hanya akan membuat sifat buruk kamu semakin terlihat."
"Sekarang bagaimana, Ibu? Semuanya sudah tahu, aku pasti akan segera diusir Zayn dari rumah ini, Tua Bangka itu pasti sudah tidak menyayangiku lagi, Alvaro juga mungkin akan berniat menceraikan aku. Aku tidak mau jika itu semua terjadi," ucap Sanaya dengan gusar.
Santy mendekat pada Sanaya untuk memberikan usapan pada pundak, "Tenanglah dirimu, Sanaya. Kamu harus bisa mendinginkan otakmu."
Kemudian keduanya duduk di bibir ranjang.
"Kamu tenang saja. Tua Bangka itu sangat mencintai Ibu. Ibu akan mencoba membujuknya. Tuan Bangka itu pasti tidak akan membiarkan Zayn mengusir kamu. Soal Alvaro juga tidak mungkin menceraikan kamu yang sedang mengandung," ujar Santy.
"Tapi... Aku tidak benar-benar mengandung."
Kenyataannya Sanaya memang tidak mengandung, dia hanya menggunakan kandungan palsunya agar Alvaro berjanji tidak dekat-dekat dengan Renata.
"Yang Alvaro tahu kamu itu sedang mengandung. Teruslah berpura-pura jika kamu tidak ingin kehilangan pria yang kamu cintai itu."
Sanaya menggigit bibir kuat-kuat. Lalu mengangguk.
"Renata sudah memiliki Jefra Tjong di sisinya sekarang. Kamu tidak mungkin bisa berbuat macam-macam padanya lagi. Hilangkan kebencian kamu sejenak, saat ini fokuslah pada tujuan utama kita," sambung Santy.
"Tapi aku tidak bisa melihat Renata bahagia melebih aku, Ibu. Sejak pertama kali melihatnya aku sudah membencinya dan ingin mengambil semua miliknya," tukas Sanaya.
"Sabarlah, setelah tujuan kita tercapai kamu bisa memiliki semua yang dimiliki Renata."
Setelah kejadian yang mereka alami hari ini, ternyata itu belum cukup membuat Sanaya dan Santy sadar diri. Bahkan Santy percaya jika Rendra akan bisa diperalat olehnya lagi.
__ADS_1
Knock... Knock...
Suara ketukan pintu menginterupsi keduanya.
"Siapa?" tanya Santy.
Sedangkan Sanaya langsung memperbaiki penampilannya yang acak-acakan karena mengamuk tadi. Diambilnya tisu basah anti alkohol untuk membersihkan darah yang berada di sudut bibirnya, sambil terus mengutuk Rendra yang memberikan tamparan yang sungguh menyakitkan.
"Alvaro."
Pergerakan Sanaya langsung berhenti.
Santy memutuskan untuk membuka pintu setelah mendapatkan persetujuan Sanaya. Kemudian meninggalkan pasangan suami istri itu.
Hal pertama yang dilihat Alvaro saat masuk adalah keadaan kamar yang berantakan, dia meyakini jika itu ulah istrinya. Suasana kamar mendadak menjadi begitu canggung dan terasa tidak mengenakan bagi Sanaya. Terlebih tatapan Alvaro yang begitu tajam seolah-olah menguliti tubuhnya.
"Alvaro..." cicit Sanaya sembari memainkan jari-jarinya yang disatukan.
"Aku tidak menyangka jika kamu adalah wanita yang begitu jahat, Sanaya," ucap Alvaro terdengar gamang.
Sanaya menatap Alvaro dengan bola mata yang berkaca-kaca, "Rasa cintaku padamu lah yang membuatku melakukan itu semua. Aku ingin hidup bahagia bersamamu tanpa adanya Renata yang menganggu. Apa itu salah?"
"Perbuatanmu sungguh keterlaluan. Kamu telah merusak hubunganku dengan Renata hanya untuk sebuah obsesi yang berkedok cinta," desis Alvaro.
"Tidak, jangan berkata seperti itu. Aku benar-benar sangat mencintaimu melebihi siapapun. Seharusnya kamu merasa senang karena perasaanku ini, terlebih aku sedang mengandung."
Sanaya memeluk Alvaro yang tidak bereaksi apapun.
"Lupakanlah yang sudah terjadi. Aku janji akan berubah. Tolong maafkan aku, ya," sambung Sanaya.
"Kesalahanmu tidak bisa dimaafkan dengan begitu mudahnya," ucap Alvaro dingin.
Sanaya semakin memeluk erat Alvaro, "Kamu harus memaafkan aku... Demi anak kita."
**
Seminggu setelah acara lamaran.
__ADS_1
Pada akhirnya Rendra termakan rayuan Santy untuk tidak berlarut-larut marah terhadap Sanaya. Dengan begitu mudahnya Rendra memaafkan Sanaya yang sudah berniat membunuh putri kandungnya sendiri. Dan itu semua dilakukannya karena rasa cintanya pada Santy. Wanita itulah yang sudah menghilangkan keterpurukannya saat kematian sang istri pertama. Rendra tidak bisa mengabaikan Santy yang terus-menerus memohon untuk Sanaya.
Bahkan Rendra menghalangi Zayn yang ingin menjebloskan Sanaya ke penjara. Namun, Rendra tetap tidak bisa membujuk Zayn untuk tidak mengusir Sanaya.
Ya, Sanaya dan Alvaro sudah tidak tinggal di kediaman keluarga Tan. Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari perusahaan TJ Corp. Alvaro masih tidak ingin kembali tinggal di kediaman keluarga Tjong, terlebih ada perasaan malu karena keluarganya mengetahui kejahatan apa yang telah istrinya lakukan.
Sedangkan Renata sedang disibukan dengan persiapan pernikahan yang akan diadakan bulan depan. Dia juga sudah tidak bekerja sebagai Asisten CEO lagi lantaran Zayn melarangnya dekat-dekat dengan Jefra Tjong sebelum hari pernikahan.
Ternyata Zayn adalah seorang Kakak yang sangat protektif.
Padahal Renata ingin sekali bertemu dengan Tuan J untuk bertanya perihal Anya dan mengucapkan terima kasih. Setelah acara lamaran hingga sekarang, dia belum sempat berbicara empat mata dengan pria itu, mencoba menghubungi via telepon dan pesan pun sulit. Jefra Tjong benar-benar si manusia super sibuk.
Terlihat Renata yang sedang berdiri di tengah-tengah kamar dengan posisi tegak lurus dan tangan yang terlentang sejajar ke samping. Di sebelah kanan depannya ada seorang wanita yang sedang mengukur tubuhnya dengan pita ukur. Renata memutar tubuhnya menurut arahan dari wanita itu. Kemudian si wanita mencatat hasil ukuran itu di sebuah buku.
"Lingkar badan, lingkar pinggang, lingkar panggul, tengah muka, tengah belakang... Oke," gumam wanita yang bernama Maria itu.
"Apakah aku sudah boleh duduk?"
Oh, Renata merasa begitu pegal karena cukup lama dalam posisinya itu. Maria adalah seorang Desainer yang dikirim oleh keluarga Tjong untuk membuat gaun pernikahan Renata.
"Silakan, Nona," jawab Maria tersenyum sopan, dia memang ditugaskan untuk memperlakukan Renata dengan sebaik mungkin.
"Ini adalah referensi beberapa desain gaun yang bisa Nona pilih," ujar Maria seraya menyerahkan sebuah buku dengan sampul mengkilat.
Renata menerimanya. Lalu mulai membuka buku itu untuk melihat desain-desain gaun yang begitu cantik dan mewah.
Dertt Dertt
Namun, ponsel miliknya tiba-tiba saja bergetar, menunjukan adanya sebuah panggilan masuk. Renata mengeryit saat layar ponsel memperlihatkan nomor asing.
Renata mengangkat panggilan itu tanpa mengatakan apapun, menunggu orang di ujung sana yang berbicara duluan.
[ Halo, Angel. Apa kabarmu? ]
Deg
Loh? Kenapa Renata merasa ketakutan seperti ini? Bahkan tanpa sadar menjatuhkan ponselnya.
__ADS_1
_To Be Continued_