
"Kalau begitu aku akan memanggilmu suamiku!"
Tuan J tercengang sendiri. Sekejap telinganya memerah.
Suamiku?
Terdengar tidak buruk.
"Tidak mau, ya?" Renata bertanya dengan memiringkan kepala.
"Tidak!" jawab Tuan J dengan mengangguk.
"Loh? Bilang tidak kok mengangguk?" Renata semakin bingung.
"Ck, dasar telmi! Sudahlah terserah kamu mau memanggilku apa. Aku sudah tidak perduli lagi!" Tuan J geregetan sendiri dan jengkel.
Renata ternganga karena sang suami yang justru marah-marah, terlebih mengatainya telmi. Kemudian Renata menutup mulut dan mulai berpikir keras.
Sebenarnya apa yang Tuan J inginkan?
Sepertinya Renata tahu.
"Sayang."
Seketika kerutan pada wajah Tuan J mengendur saat Renata memanggilnya. Lalu dia menatap wajah cantik istrinya yang tersenyum manis.
"Jadi kamu ingin dipanggil 'sayang'?"
Tuan J tidak mengiyakan maupun membantah, dia melengos karena melihat senyuman manis Renata berubah menjadi senyuman menggoda. Sepertinya pria itu salah tingkah.
"Aduh, aku baru tahu kalau seorang Jefra Tjong bisa salah tingkah juga."
Oh, Renata tidak akan melewatkan sesuatu yang langka ini, saat ia bisa menggoda Tuan J yang salah tingkah.
"Kalau ingin dipanggil 'sayang' bilang dong dari tadi, kenapa harus malu-malu segala?"
"Berisik!"
Bukannya takut, Renata justru tertawa.
Jefra-nya sangat imut sekali. Sayangnya, Renata tidak membawa karung. Tidak, dia tidak perlu karung karena sekarang Jefra Tjong adalah suaminya. Dia bisa membawa pria itu ke rumah tanpa harus mengarungi.
Renata terkekeh dengan pemikirannya.
"Ngomong-ngomong, setelah ini kita akan tinggal di mana? Apartemenmu? Rumahku? Atau..."
Selanjutnya, Renata mulai berceloteh riang dan Tuan J hanya membalas dengan seadaanya. Namun siapa yang tahu, jika pria itu menyukai momen ini.
__ADS_1
"Buka mulutmu, Sayang. Aaa..."
Renata juga menyuapi Tuan J yang awalnya menolak makan. Jangan panggil 'Renata' jika tidak bisa memaksa suaminya yang kaku itu.
Keduanya tidak menyadari jika sedang menjadi tontonan menarik semua orang yang berada di restauran. Mereka berpikir jika keduanya adalah pasangan yang begitu manis dan serasi. Benar-benar membuat semua orang iri. Termasuk seorang wanita yang berjalan mendekat pada meja di mana Renata dan Tuan J berada.
"Wah, siapa ini? Sebuah keberuntungan bagiku bisa bertemu dengan Tuan J," sapa si wanita pada Tuan J. Lalu tatapannya beralih pada Renata, dapat terlihat kilat kebencian di sana.
Keduanya langsung menatap wanita yang tiba-tiba mengganggu itu.
Renata terkejut. Dia ingat wanita itu. Wanita yang sempat ingin dijodohkan dengan sang suami.
Elsa Arca.
Kenapa wanita itu ada di sini?
Mata Renata memicing tajam karena sadar dengan tatapan kebencian dari Elsa. Jangan dikira Renata takut. Yang tentunya, Renata tahu kenapa Elsa terlihat membencinya. Elsa pasti benci padanya yang telah merusak acara perjodohan kala itu.
"Siapa?" tanya Tuan J yang tidak mengingat Elsa.
Hal itu membuat Renata menahan tawa.
Lihat saja, wajah Elsa terlihat merah karena malu dan kesal. Bisa-bisanya Jefra Tjong tidak mengingat dirinya.
"Aku Elsa Arca, yang dulu dijodohkan denganmu," Elsa mencoba tersenyum meski hatinya geram.
Elsa mencoba mempertahankan senyum dan bertanya dengan nada yang dibuat selembut mungkin, "Sedang apa Tuan J di sini?"
Alis Renata berkedut dibuatnya. Apa sekarang wanita itu sedang menganggapnya tidak ada?
"Kamu tidak lihat? Kami sedang makan bersama," Renata lah yang menjawab pertanyaan Elsa.
Sialan, aku tidak bertanya padamu, batin Elsa menatap sinis Renata.
Renata membalas dengan tersenyum sinis.
"Maksudku kenapa kalian berada di negara B?" tanya Elsa lagi.
"Kami sedang bulan madu," jawab Renata dengan senyum kemenangan.
Kedua tangan Elsa terkepal kuat, hatinya benar-benar panas. Harusnya dialah yang menjadi istri Jefra Tjong, Renata telah merebut posisinya. Jika Renata tidak datang mengacau, pasti dirinya yang sekarang berbulan madu dengan Tuan J.
"Selamat bulan madu kalau begitu, aku berharap perjalanan kalian menyenangkan dan bulan madu kalian bahagia. Harapan yang terbaik untuk kalian berdua."
Elsa berkata dengan senyum yang berbalut kebohongan. Mudah bagi Renata untuk mendeteksi senyuman tidak tulus itu. Itu terlihat dari mata Elsa yang tidak menyipit dan membentuk 'kaki gagak' di ujungnya. Mata memang jendela hati.
"Terima kasih, Nona Elsa," jawab Renata.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena tidak datang ke acara pernikahan kalian berdua," ucap Elsa kemudian, tatapannya masih terarah pada Tuan J yang fokus pada ponsel. Dia berharap jika pria itu menatapnya.
Wanita itu tampil dengan gaun merah dengan belahan terbuka, dia sangat percaya diri karena beberapa orang menyebutnya tampak mempesona. Elsa mengangkat dagu, dan semakin menurunkan dress pada bagian dadanya, supaya semakin terekspos dan Tuan J melihatnya.
Ayolah, Jefra Tjong harus tahu betapa berkelasnya dia jika dibandingkan dengan Renata yang hanya mengenakan dress berwarna baby blue sederhana.
Namun, Elsa tidak tahu jika dress itu adalah Jefra Tjong sendiri yang membelikannya. Itulah mengapa Renata dan Tuan J memakai pakaian dengan warna sama. Dan juga, pria itu tidak menyukai seorang wanita yang berpakaian kekurangan bahan.
"Tidak masalah," jawab Tuan J atas permintaan maaf Elsa, tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel.
"Jangan bermain ponsel, Sayang. Kamu harus makan," Renata berkata seolah-olah kehadiran Elsa semu. Lalu mulai menyuapi Tuan J kembali.
Tuan J menurut, segera diletakkannya ponsel dan membuka mulut untuk menerima suapan dari sang istri.
Benar-benar seperti anak penurut yang manis. Apa serigala berbulu kanebo kering sudah mulai jinak?
Entahlah.
Atau mungkin memang mood pria itu sedang baik karena dipanggil 'sayang'.
Elsa semakin panas. Terlebih ketika matanya bertemu dengan keberadaan tanda merah pada leher Renata ketika menyibakkan rambut kebelakang.
Sepertinya Renata memang sengaja melakukan itu. Biar Elsa tahu siapa pemilik Jefra Tjong.
Sialan, dasar tidak tahu malu! batin Elsa memaki dengan kesal.
Kemudian Renata memberikan Elsa senyum provokasi.
"Apa aku mengganggu?" tanya Elsa dengan ketus.
"Ya, pergilah."
Bukan Renata yang menjawab, tapi Tuan J lah yang menjawab dengan nada yang begitu dingin.
Elsa terguncang dalam diam.
Sedangkan Renata tercengang karena sang suami mengusir Elsa tanpa ada basa-basi.
"Ba-baiklah, aku permisi. Kalian bersenang-senanglah," cicit Elsa terdengar gamang.
Kemudian wanita itu berbalik pergi. Wajah yang sejak tadi dipaksakan untuk tersenyum berubah menjadi merah padam, kentara sekali jika Elsa begitu marah.
Elsa mengambil ponsel yang berada di dalam tas jinjing berwarna merah miliknya. Lalu mencoba menghubungi seseorang.
"Halo, Nyonya Sienna. Aku sudah bertemu dengan Jefra Tjong. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan wanita sund*l itu menikmati posisi yang direbutnya dariku."
_To Be Continued_
__ADS_1