Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Aku Menyayangimu


__ADS_3

"Kemari dan lepas pakaianmu."


Renata menelan saliva dengan kasar. Detik kemudian dia melihat tangan Tuan J yang terulur ke arahnya.


"Cepatlah. Jangan seperti siput."


"Tapi bukannya aku hanya menemanimu mandi?" kilah Renata gelagapan.


Tuan J kembali membuka matanya dan menatap Renata yang masih tidak kunjung bergabung memasuki bathub, "Memangnya apa yang kamu harapkan? Berdiri di situ sebagai penonton untuk melihatku mandi?"


Kalimat itu membuat Renata mendelik, mata dengan netra cokelat itu membulat sempurna.


"Jadi maksudnya, kita akan mandi bersama?"


Tuan J menganggukkan kepala. Menunggu reaksi Renata selanjutnya. Menolak atau menurutinya.


Dan, seperti yang Tuan J harapkan. Renata menanggalkan sabrina crop top dan juga hot pants denim yang dipakainya. Meski terlihat malu-malu karena tatapan sang suami tidak sekalipun teralih padanya.


Kini, Renata hanya memakai kedua penutup terakhir yang berwarna pastel.


Sorot mata Tuan J seketika berbeda.


"Berbalik."


Mekipun tidak paham, Renata menurut untuk berbalik badan. Kemudian dia merasa tangan basah Tuan J melepas pengait atasan yang ia pakai.


Lalu Tuan J meraih tangan Renata dan menuntunnya untuk masuk ke dalam bathtub, bergabung dengan dirinya.


Jantung Renata sudah berdebar-debar tidak karuan. Terlebih sang suami yang mengarahkan untuk ia duduk di pangkuan.


Ini namanya bukan mandi!


Pikiran Renata menjerit ketar-ketir.


Renata merasakan kulit dingin Tuan J menyentuh seluruh tubuh bagian belakangnya. Tiba-tiba seluruh bulu roma Renata meremang tatkala adanya sentuhan di pundaknya. Bahkan ada sensasi geli dari tengkuk hingga pundaknya.


Beberapa kecupan mesra menyusuri tiap inci kulit leher Renata.


Tuan J menarik pipi Renata untuk menoleh padanya. Lalu menumpukkan keningnya pada kening Renata.


"Terima kasih. Sebelumnya, aku tidak pernah merasa begitu rileks saat mandi."


Renata mengerjap beberapa kali, sebuah kemajuan besar karena suaminya mengatakan 'terima kasih'.

__ADS_1


"Ya, sama-sama," jawab Renata tersenyum kecil.


Dia mengamati wajah tampan suaminya, mendetail dengan seksama. Tuang rahang yang tegas, alis tebal yang meliuk, dan bola mata seperti telaga hitam yang dapat menenggelamkan siapapun.


"Kadang aku suka mengisolasi diri dari lingkungan sosial, seperti mengunci diri di dalam kamar dan diam lama di kamar mandi. Aku bahkan pernah mengiris pergelangan tanganku dan memenuhi bathtub dengan darah."


Renata senang karena Tuan J kembali membuka diri kepada dirinya. Namun, tidak bisa dipungkiri hati Renata begitu nyeri mendengarnya. Ternyata Jefra-nya begitu tersiksa karena sakit yang ia rasa.


"Karena aku berpikir jika melukai diriku sendiri, maka tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Harusnya saat itu aku membiarkan Ayah memukulku sampai mati sehingga dia bisa mengunjungi Ibu yang sedang sakit. Dengan begitu Ibu tidak akan pergi."


Air mata Renata tidak dapat ditahan lagi. Dia menangis dengan bulir-bulir kristal bening yang begitu deras.


Kemudian Tuan J merengkuh kedua pipi Renata dan menghapus air mata sang istri dengan kedua ibu jari.


"Apa kamu takut setelah mengetahui kegilaanku itu?" tanya pria itu dengan bergumam pelan, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Renata karena jarak mereka berdua sangat dekat.


"Aku tidak takut, sayang," jawab Renata menatap dalam, mencoba menahan isak tangisnya.


Di saat seperti ini, tidak seharusnya Renata menangis.


Renata memberi kecupan pada ujung hidung Tuan J, "Aku akan selalu ada untukmu dan membantumu untuk melaluinya. Kamu adalah pria yang hebat."


"Terima kasih, karena kamu telah begitu baik padaku, Dear."


Aku menyayangimu, sambung Tuan J di dalam hati.


Renata mengangguk dan tersenyum manis menanggapinya.


Setelahnya, Tuan J menghela napas panjang. Lalu menyandarkan kepalanya di pinggir bathtub. Matanya terpejam dan tangannya melingkar di perut rata Renata. Kepalanya mendadak pusing.


Sedangkan Renata merasa serba salah. Kini, dia baru menyadari jika pusat hasrat sang suami tengah menyentuh tubuh bagian belakangnya. Lalu Renata mencoba mengatur posisi duduknya.


"Sa-sayang, itunya tidak apa-apa ketindihan aku?"


"Cerewet!" tukas Tuan J menutup mulut Renata dengan tangannya, "Diam, aku ingin tenang sesaat."


Pada akhirnya Renata mengangguk pasrah. Lalu Tuan J melepas tangannya.


Renata ikut bersandar, dengan menyandarkan punggungnya di dada Tuan J. Kepalanya juga di sandarkan pada pundak sang suami. Kening Renata persis berada di sebelah bibir Tuan J.


Lalu Renata meletakan jari-jari lentik miliknya di atas jemari kokoh milik Tuan J yang memeluk perutnya.


Mengabaikan sesuatu yang tengah didudukinya, Renata merasa nyaman dengan suasana ini.

__ADS_1


Keduanya terdiam, hanya helaan-helaan napas panjang yang terdengar.


Hingga lima menit berlalu.


Tiba-tiba Tuan J mengecup kening Renata cukup lama. Kemudian beralih mengecup pipi Renata berkali-kali, yang membuat si empunya tertawa.


Kemudian Tuan J menarik pipi Renata untuk menoleh padanya kembali. Tuan J langsung mencium bibir Renata dengan cepat. Dia mengulum, mengigit, dan menghisap berkali-kali. Bibir Renata terasa begitu lembut, hingga membuat candu.


Ciuman itu diakhiri dengan kecupan sekilas di bibir. Wajah Tuan J menjauh setelahnya.


Pandangan mereka bertemu, menatap satu sama lain. Tanpa diucapkan pun mereka seolah-olah paham, jika saling membutuhkan dan menginginkan.


Wajah Tuan J kembali mendekat, menumpukan keningnya pada kening Renata. Dan mencium bibir Renata lagi. Namun, tangannya mulai menjalar ke leher, pundak, dan titik sensitif istrinya itu.


Tepat si samping telinga Renata, Tuan J berbisik, "Dear, bolehkah?"


Renata yang sudah tidak fokus karena titik sensitifnya dipermainkan hanya bisa melenguh pelan. Kemudian mengangguk.


Tiba-tiba Renata merasakan gigi sang suami menancap di pundaknya. Memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.


Hal itu membuat Renata merasa panas, meski sedang berada di dalam air.


"Ayo kita mulai, Dear," bisik Tuan J dengan suara berat magnetiknya yang mengalun lembut.


Renata seakan terhipnotis dan tidak mampun untuk menolaknya.


Untuk kedua kalinya mereka berdua melakukannya. Jefra Tjong benar-benar memperlakukan Renata dengan lembut layaknya orang paling berharga baginya.


Setiap sentuhan yang diberikan Tuan J selalu berhasil membuat Renata melayang.


Suara de sah dan lenguhan saling sahut menyahut, begitu intens dan panas memenuhi seisi kamar mandi luas itu.


Air bathub sudah membasahi lantai kamar mandi, karena gelombang air akibat aktivitas pasangan pengantin baru itu.


Tuan J terus menghentakkan pinggulnya, kedua tangan terus merangsang titik-titik sensitif Renata hingga suara merdu dari bibir sang istri terdengar seperti nyanyian indah baginya.


Sesaat kemudian, keduanya merasakan euforia pelepasan.


Tubuh mendadak lemas. Keringat menyatu dengan air di bathtub yang keruh.


Tuan J menatap punggung seputih keju milik Renata yang masih duduk di pangkuannya, lalu memberikan kecupan mesra di sana.


"Bersiaplah, Dear. Kita makan di luar."

__ADS_1


_To Be Continued_


Nggak ada anak kecil kan di sini? 🏃


__ADS_2