
"Bagaimana caranya?" tanya Renata.
"Sebagai penulis novel Suara Hati Sanaya, aku akan membuat sequel dari novel tersebut, semacam cerita baru dari novel yang sudah tamat."
Elmeyra mengacungkan jari telunjuknya. Lalu membuat huruf V dengan dua jari, senyum lebar merekah hingga kedua pipinya memunculkan lesung pipi yang begitu dalam. Dia merasa jika dirinya sangat brilian.
"Apa itu bisa dilakukan?" tanya Renata ragu.
"Bisa!" jawab Elmeyra dengan cepat dan bersemangat, "Lagi pula ending ini terkesan menggantung. Angel dalam keadaan koma, bukan berarti tidak bisa bangun lagi."
"Apa benar... aku bisa kembali dengan cara seperti itu?"
"Kita buktikan saja."
Setelah mengucapkan itu, Elmeyra langsung beranjak ke meja belajarnya. Menarik kursi untuk duduk dan meraih laptop miliknya.
"Tapi, aku membutuhkan waktu untuk membuat sequel ini," ucap Elmeyra, sambil menekan tombol power untuk menyalakan laptop.
"Berapa lama?"
"Tergantung kecepatan otakku berpikir."
"Bisakah sesegera mungkin?" pinta Renata penuh harap.
"Hmm, aku tidak bisa janji, mungkin aku bisa bergadang untuk menyelesaikannya," jawab Elmeyra.
Pada dasarnya, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah novel bisa bervariasi sangat luas.
"Bisakah kamu membuat kisah happy ending dalam sequel itu?" pinta Renata.
Elmeyra mengangguk, "Tapi aku akan memasukan tokoh antagonis untuk sedikit bumbu percintaan kalian, sebuah novel tidak akan berwarna jika tidak adanya konflik. Tapi, tenang saja, aku tidak akan membuat Dokter lupa ingatan setelah terbangun dari koma."
"Ya, aku juga tidak ingin melupakan Jefra," Renata setuju dengan apa yang dikatakan Elmeyra.
Click... Click... Click...
Suara tuts tombol keyboard laptop terdengar begitu cepat. Jari Elmeyra dengan lincah berlayar. Kini, wanita itu mendadak sibuk.
**
Wanita cantik yang akrab disapa Elmeyra sedang duduk disudut cafe favoritnya, dengan ditemani secangkir kopi hangat. Dia sudah dua jam bergelut dengan laptop di depannya. Seperti dikejar deadline, dia ingin sekali segera menyelesaikan sekuel novel 'Suara Hati Sanaya'. Yang kini sudah dirubah menjadi berjudul 'Transmigrasi Psikiater Cantik'.
Memang sengaja dirubah, karena kedua pemeran utama sudah berubah secara tidak logis.
Tadi malam saja, Elmeyra rela begadang hingga pukul tiga pagi hanya untuk menyelesaikan setengah dari tulisannya.
"Apa kamu tidak lelah?" tanya Renata yang duduk di hadapan Elmeyra, semua pengunjung di cafe tidak bisa melihatnya.
"Tidak, aku sudah terbiasa," jawab Elmeyra, tanpa menghentikan jari-jarinya yang sedang menari di keyboard laptop.
"Ngomong-ngomong kapan pernikahan kalian?" tanya Renata, yang tiba-tiba penasaran dengan kapan Elmeyra dan Radion menikah.
"Tujuh bulan lagi," jawab Elmeyra.
"Eh? Tujuh bulan lagi? Katamu, sebentar lagi," ucap Renata seketika kecewa, padahal dia berharap bisa melihat putranya menikah. Jika tujuh bulan lagi, kemungkinan Renata sudah kembali ke dunia novel.
"Tujuh bulan itu sebentar, waktu berjalan dengan cepat. Terlebih kami berdua sangatlah sibuk, harus bisa mencuri waktu untuk mempersiapkan segalanya," beber Elmeyra, menatap sekilas Renata, lalu kembali ke layar laptop.
__ADS_1
"Apa itu berarti aku telah menambah kesibukanmu?" Renata sungguh tidak enak hati. Sebagai Ibu dari mempelai pria, dia justru mempersulit calon menantunya.
Elmeyra menggeleng dan tersenyum manis, "Tidak apa, Dokter Renata. Ini juga akan segera selesai, lagi pula pekerjaanku adalah seorang penulis."
"Kamu baik sekali. Selera putraku benar-benar luar biasa," salut Renata.
Wajah Elmeyra merona, kemudian tertawa kikuk, "Do-Dokter bisa saja."
"Panggil aku Ibu," ujar Renata.
"Ya, I-Ibu."
Kemudian Elmeyra meraih cangkir kopi miliknya, tapi dia tidak menyadari jika isinya telah kandas.
"Ah, aku harus memesannya lagi."
Namun, sebelum Elmeyra melakukannya, seseorang tiba-tiba meletakkan secangkir kopi di hadapannya.
"Secangkir capuccino panas untukmu, Nona Cantik," ucap Radion, dikecupnya pipi Elmeyra dengan mesra.
"Ra-Radion?" Elmeyra terkesiap karena kedatangan sang kekasih yang tiba-tiba. Apalagi dengan acara kecup pipi. Ayolah, saat ini ada calon mertuanya.
Renata sendiri hanya tersenyum maklum, "Tidak perlu malu-malu."
Mendengar itu, wajah Elmeyra manjadi semakin merona. Lalu dipukulnya pundak Radion, "Jangan mencium sembarangan, kita sedang di tempat umum," omelnya dengan alasan yang logis, meski bukan itu yang membuatnya malu.
Sayangnya, Radion tidak acuh dengan omelan Elmeyra, bahkan pukulan dari tangan kecil itu tidak terasa sama sekali. Kemudian pria itu duduk di kursi sebelah kekasihnya.
"Kamu serius sekali? Sedang menulis novel baru?" tanya Radion sambil melihat layar leptop.
"Ya," jawab Elmeyra lugas.
"Yaps, nama Ibu dan Ayahmu. Aku begitu kagum dengan kisah cinta kedua orang tuamu yang pernah kamu ceritakan. Tidak apa-apa, kan? Kalau aku menjadikan mereka sebagai inspirasi novel baruku?" ucap Elmeyra memotong perkataan Radion.
Radion diam sejenak, dia memang pernah menceritakan kisah cinta kedua orangtuanya pada sang kekasih. Kemudian kepalanya mengangguk, "Hmm, tidak apa-apa."
"Lihatlah, ada namamu juga," ucap Elmeyra, sambil menunjuk tulisan yang berada di layar.
"Heh? Radion Tjong? Bukankah itu terdengar tidak cocok?" protes Radion.
Elmeyra terkekeh, "Cocok-cocok saja."
"Ya, itu sangat cocok!" seru Renata meski tidak dapat didengar Radion.
"Ya, ya, ya," tukas Radion hanya bisa pasrah, "Kamu juga harus memasukan namamu," lalu memberi saran tiba-tiba.
"Apakah harus?" gumam Elmeyra tidak yakin.
"Tentu harus, bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi bagian keluarga kami?" jawab Radion yang masih bisa mendengar gumaman Elmeyra.
Elmeyra melirik Renata.
"Itu akan lebih bagus," ucap Renata menyetujui saran Radion.
Pada akhirnya, Elmeyra menerima saran dari kekasihnya, "Oke. Sepertinya, aku akan memakai namaku untuk figuran tidak penting."
"Kenapa figuran?" proses Radion dengan menaikkan salah satu alisnya.
__ADS_1
"Karena pemeran pentingnya sudah terisi semua," jawab Elmeyra sekenanya.
Renata tersenyum lembut, tatkala melihat interaksi sepasang kekasih di hadapannya. Sejujurnya, dia ingin sekali berbicara dengan Radion. Namun, putranya itu tidak bisa melihatnya.
"Tidak apa. Hanya melihat Radion tumbuh dengan baik-baik saja, itu sudah cukup membuatku bahagia."
Elmeyra yang mendengar perkataan Renata, teralihkan sejenak. Lalu kembali menatap Radion.
"Kurasa, Ibumu bangga karena kamu telah tumbuh menjadi pria yang begitu tampan," ucap Elmeyra sambil mengacak rambut hitam Radion.
Kedua telinga Radion memerah dibuatnya, "Ke-kenapa tiba-tiba..."
**
Setengah bulan kemudian.
Akhirnya datang juga, hari di mana sequel dengan judul 'Transmigrasi Psikiater Cantik' selesai dibuat.
"Aku hanya mencetaknya menjadi dua buku saja, yang satu menjadi milikku dan yang satunya akan aku berikan pada Radion."
Elmeyra meletakkan dua novel itu di tengah-tengah dirinya dan Renata.
"Kenapa hanya dua?" tanya Renata.
"Aku merasa sayang untuk mempublikasikan," jawab Elmeyra.
Ya, Elmeyra memang benar-benar menyayangkannya. Terlebih dengan bagaimana dia berjuang menyelesaikan novel itu dalam kurun waktu setengah bulan. Tenaga dan pikirannya sampai terkuras habis. Hampir saja dia menjadi mayat hidup.
"Oke, mari kita mulai," Elmeyra mengambil salah satu dari novel itu, lalu memberikannya pada Ranata, "Pegang novelnya."
"Tolong, jaga Radion untukku," ucap Renata sambil memeluk novel pemberian Elmeyra, "Aku harap kalian selalu hidup bahagia."
"Ya, Ibu. Aku akan melakukan itu dengan baik," jawab Elmeyra bersungguh-sungguh.
"Oh, ya. Tolong titip salam pada sepupuku──Jelita," tiba-tiba saja Renata teringat sepupunya.
"Ya..."
Patss
Tiba-tiba cahaya putih terpancar dari novel yang berada di pelukan Renata.
"Ibu..."
Pancaran cahaya putih semakin lama semakin menyebar, dan menyilaukan mata.
"Berbahagialah selalu di dunia itu."
Elmeyra memejamkan mata karena semakin silau.
Bruk
Suara novel yang terjatuh membuat Elmeyra membuka mata kembali.
Cahaya putih yang menyilaukan sudah hilang, bersama dengan Renata yang masuk ke dalam novel.
_To Be Continued_
__ADS_1
Hei guys, Author mau ingatkan lagi, kalau ini adalah spin-off Bodyguard Tuan Muda (Jefra dan Renata) jika kalian penasaran dengan kisah mereka sebelumnya jangan lupa mampir ke sana, ya. Supaya tidak bertele-tele, tentang flashback kisah mereka tidak Author jelaskan detail di sini.