Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Menggali Lubang Sendiri


__ADS_3

"Karena aku sudah tidak memiliki banyak waktu lagi, maka aku yang akan membuktikan keaslian dari rekaman itu."


Sanaya dan Santy langsung pucat pasi.


Renata tertegun dalam diam. Tidak menyangka jika Tuan J akan turun tangan membantunya.


Tapi bagaimana pria itu membuktikannya?


"Bawa masuk dia!" Tuan J berseru cukup kencang, entah memerintah siapa.


Tap


Tap


Seorang wanita dengan rambut blonde tergerai memasuki ruang tamu yang bersuasana menegangkan. Raut wajah terlihat ketakutan, sepertinya karena keberadaan dua Bodyguard yang mengawalnya agar tidak bisa pergi ke mana-mana.


Wanita itu adalah Anya.


Deg


Jantung Sanaya seakan berhenti berdetak, kedatangan Anya sungguh membuat kepanikannya menjadi-jadi.


"Anya? Kenapa kamu ke sini?" tanya Renata yang mewakili semuanya.


Bukannya menjawab, Anya langsung berlutut di hadapan Renata.


"Renata, maafkan aku. Kumohon mintalah Tuan J untuk tidak menghukum aku," Anya memohon dengan memegang salah satu kaki Renata.


Renata yang merasa bingung segera menghindar, "Apa maksudmu, Anya? Kenapa kamu datang-datang berlutut padaku?"


Anya menangis, terlihat sangat menyesalkan sesuatu.


"Tentang dirimu yang dijebak di Club malam, sabotase mobilmu, membayar pria untuk berpura-pura memaksa Sanaya, dan membayar pelayan untuk membuat reaksi alergi kamu kambuh. Itu bukan sepenuhnya perbuatanku, aku hanya disuruh Sanaya. Jadi kumohon maafkan aku."


Pernyataan Anya mampu membuat semua tercekat tidak percaya, membuat perasaan membuncah keluar tidak terhentikan dari masing-masing orang.


"Oh my, God!" Sienna menutup mulut dengan telapak tangan.


Menyingkirkan rasa paniknya, Sanaya langsung menarik Anya agar berdiri dari posisi berlutut.


"Apa yang kamu bilang, hah? Aku tidak pernah menyuruhmu!" seru Sanaya.


Lagi. Sanaya mencoba berkelit meski itu percuma. Padahal sudah sangat jelas jika kebusukan telah terbongkar. Sanaya sudah tidak bisa mengelak lagi, karena Anya telah bersaksi dengan membocorkan kejahatannya selama ini.

__ADS_1


Anya menyentak tangan Sanaya yang memegang lengannya. Lalu menatap Sanaya dengan mata yang memerah dan berair, "Jika memang aku harus dihukum, setidaknya kamu juga harus dihukum. Kamulah yang menawariku kerjasama untuk membuat Renata dibenci semua orang, karena kamu tahu jika aku sangat membenci Renata. Kamu jugalah yang merencanakan semua kejahatan itu."


Sanaya mendelik mendengar Anya yang justru menikamnya.


"Anya!"


"Sanaya!"


Sanaya dan Rendra berteriak bersama-sama, akan tetapi teriakan Rendra lebih mendominasi karena sangat mengelar hingga ke seluruh bagian rumah.


"A-Ayah..." dengan gerakan kaku Sanaya menengok ke arah Rendra.


"Su-suamiku, ini pasti tidak benar, wanita itu pasti berkomplot dengan Renata," Santy masih mencoba membela Sanaya.


Namun, tidak diacuhkan Rendra.


Plak


Rendra menampar Sanaya hingga gadis itu terjerembab ke lantai. Pria paruh baya itu sudah kalap lantaran sangat terguncang dengan kenyataan yang baru diketahuinya. Sang putri tiri yang selama ini sangat disayangi ternyata begitu jahat.


Suara tamparan yang membuat suasana menjadi hening.


Sanaya memegang pipinya yang terasa sangat sakit. Lalu tatapannya berserobok dengan mata cokelat Renata. Wajahnya mengeras tatkala melihat kilat kemenangan di sana.


Sanaya hanya bisa memaki dalam hati. Niat awal ingin mempermalukan Renata, tapi justru menggali lubang sendiri.


"Bawa putrimu pergi, Santy!" perintah Rendra dengan nada yang tidak kalah kencang dengan tadi.


Santy langsung bergerak cepat untuk membawa Sanaya pergi dari ruang tamu.


Sanaya pergi menuju arah di mana kamarnya berada dengan dipapah Santy. Dia sempat melirik Alvaro yang bergeming, tidak ada niat sama sekali untuk membantunya. Bahkan Alvaro melengos begitu saja saat Sanaya lewat di sampingnya.


Anya pun segera ditarik keluar oleh kedua Bodyguard Tuan J, wanita itu meronta karena masih ingin berusaha mendapatkan maaf dari Renata.


Sepeninggal Sanaya dan Anya, suasana tegang di ruang tamu tidak kunjung sirna.


"Hmm," Renata berdeham untuk mencuri atensi, "Jadi... Apa kalian sudah percaya kalau aku bukan wanita murahan?"


"Sejak awal Kak Zayn percaya padamu," Zayn tersenyum dengan mengacak rambut Renata.


Renata merengut karena rambutnya menjadi berantakan karena ulah sang Kakak.


Rendra menatap interaksi kedua Anaknya dengan nanar, merasa sangat malu dan bersalah. Benar kata Zayn, dia memang terlalu bodoh karena telah percaya pada orang yang salah. Menaruh kepercayaan pada Santy dan Sanaya ternyata seperti meletakkan tangan di mulut singa.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana kalau kita lanjutkan acara lamaran ini?" ujar Tuan J agar kembali ke topik utama.


"J, kamu masih ingin melanjutkan acara lamaran ini?" tanya Sienna.


Sejak awal wanita paruh baya itu memang tidak ingin Jefra Tjong menikah dengan Renata.


"Hmm," Tuan J hanya bergumam.


"Sebaiknya kita lanjutkan saja," tutur Ashton.


Sienna tidak dapat berkata apa-apa lagi jika Kakek Ashton sependapat dengan putra tirinya.


"Nona Angelica, apa kamu menerima lamaran ini?"


Renata berhenti bernapas sejenak karena tanpa aba-aba Jefra Tjong bertanya langsung padanya. Ditatapnya wajah Tuan J. Terbesit rasa kesal tatkala pria itu masih menampakkan ekspresi datar meski sedang menanti jawaban dari gadis yang tengah dilamarnya.


Namun, jika ditanya ketersedian dirinya untuk menikah dengan pria itu, tentu saja Renata bersedia. Mau bagaimanapun, Tuan J adalah suaminya yang juga masuk ke dalam dunia novel ini. Renata sangat mencintai Jefra sepenuh hati. Renata akan selalu mencintai Jefra meski pria itu tidak mengingatnya.


Renata teringat dengan surat-surat pengakuan Jefra yang berisikan rasa penyesalan karena telah membohonginya. Bukankah Jefra begitu kurang ajar? Namun terlepas dari itu, Jefra senantiasa memberikan cinta yang berlimpah padanya.


Terlebih saat ini Jefra telah membantunya membongkar kejahatan Sanaya. Terlepas dari keinginan Renata bertanya bagaimana bisa pria itu membawa Anya ke sini, dia juga harus mengucapkan terima kasih.


Sungguh. Renata tidak bisa berhenti mencintai Jefra.


Renata menghembuskan napas sejenak, "Aku menerima lamaran ini," jawabnya.


"Kamu serius dengan jawabanmu itu, Renata?" tanya Zayn memastikan lagi.


"Ya, Kak Zayn. Aku ingin menikah dengan Jefra," jawab Renata tegas.


Terdapat raut ketidak percayaan dari wajah Tuan J. Padahal dirinya sudah bersiap untuk menerima penolakan. Siapa sangka, jika gadis itu menerima lamarannya.


Di sisi lain.


Alvaro yang juga mendengar jawaban Renata, merasa hatinya ditusuk ribuan benda tajam, begitu menyakitkan dan menyesakkan. Wajahnya pias ketika melihat Renata yang merona tipis tatkala bertatapan dengan Jefra Tjong.


Kenapa kesalahan pahaman di antara dirinya dan Renata baru terungkap di saat gadis itu akan menikah dengan Kakaknya? Ingin rasanya menentang pernikahan ini, tapi apa haknya? Bukankah dia sudah menikah dengan Sanaya? Bahkan dia sudah menghina gadis yang tidak seharusnya dihinanya itu.


Alvaro sadar jika dia sudah terlalu banyak menoreh luka pada mantan kekasihnya, yang ternyata masih dicintainya itu.


Jika bisa, Alvaro ingin Renata kembali ke padanya.


Kemudian pria bermata hijau itu berbalik untuk meninggalkan tempat yang hanya menambah rasa sakitnya. Sayup-sayup dia mendengar rencana pernikahan Renata dan Kakaknya yang akan dilaksanakan tidak lama lagi.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2