
Hari ini Alvaro tidak ke kantor, dia pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraiannya dengan Sanaya. Alvaro menyerahkan map yang berisikan berkas tentang dirinya bersama Sanya, termasuk buku pernikahan mereka kepada salah satu petinggi di pengadilan.
Pernikahannya memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Alvaro sudah sangat kecewa dengan Sanaya, dia merasa telah ditipu oleh istrinya selama ini. Ia berharap proses perceraiannya berjalan dengan lancar.
Drett... Drett...
Ponselnya bergetar ketika Alvaro keluar dari gedung pengadilan. Itu pesan dari Ibunya.
[ */* 10.07] Ibu : Apa kamu sudah mengurus perceraian kamu dengan Sanaya? Ibu ingin bicara denganmu. Kamu bisa pulang ke rumah?
Alvaro menghela napas berat setelah membaca apa yang dituliskan Ibunya. Padahal dia belum bercerita tentang perceraiannya ini, tapi kenapa Ibunya tahu?
Sepertinya kali ini Alvaro tidak bisa menolak untuk pulang.
Kemudian Alvaro berlalu menggunakan mobil miliknya untuk menuju kediaman keluarga Tjong.
Hingga tiga puluh menit berlalu, dan mobil Alvaro telah memasuki gerbang kediaman keluarga Tjong. Alvaro langsung turun setelah memarkirkan mobilnya.
"Mobil Kakak tidak ada, untungnya dia tidak ada di rumah," Alvaro bernapas lega.
Kemudian Alvaro melangkah memasuki rumah.
Sir. Matthew──Kepala Pelayan menyambut dengan kepala tertunduk, "Tuan Alvaro, Nyonya sudah menunggu di kamar rawat Tuan Besar."
"Ya."
Alvaro langsung menuju ke sebuah kamar yang dimaksud Sir. Matthew. Kamar yang digunakan Theo Tjong untuk perawatannya selama ini.
Theo mengalami stroke iskemik, ada penyumbatan di bagian otak kiri, tapi menurut Dokter sudah terjadi penyebaran, sampai sekarang kesadaran Theo belum kembali normal, kesulitan bernafas tapi sudah lepas ventilator, susah menelan, dan sekarang sedang menjalani perawatan di rumah secara khusus.
Saat Alvaro memasuki kamar terlihat seorang pria paruh baya yang sedang terduduk di kursi roda dengan tatapan kosong ke luar jendela, dan seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di belakangnya.
"Ibu."
Sienna langsung menoleh tatkala mendengar suara Alvaro yang memanggilnya.
"Oh, Sayang. Akhirnya kamu pulang juga, Ibu sangat merindukanmu."
Alvaro menerima pelukan dari Ibunya, dan langsung membalasnya.
"Berilah salam pada Ayahmu," ujar Sienna setelah melerai pelukannya.
__ADS_1
Alvaro menurut dan mendekat pada Ayahnya.
"Aku pulang, Ayah."
Theo terdiam, masih menatap kosong ke depan. Alvaro mencoba mengulang perkataannya lagi, tapi sang Ayah masih bergeming.
Lalu perhatian Alvaro kembali pada Sienna, "Ayah belum ada perkembangan?"
Sienna menggeleng dengan lemah, "Belum."
"Apa J masih tidak datang untuk mengunjungi Ayah?" tanya Alvaro teringat Kakak tirinya yang tidak pernah mengunjungi sang Ayah.
"Sampai detik ini dia belum juga mengunjungi Ayahmu, sekalipun tidak," jawab Sienna.
"Bukankah J keterlaluan? Bagaimana bisa dia masih bersikap tidak perduli pada Ayah? Padahal saat ini kesembuhan Ayah tergantung bagaimana keluarga memberikan perhatian," geram Alvaro.
"Itulah mengapa Ibu sangat tidak setuju jika J menjadi pewaris keluarga Tjong. Kenapa bukan kamu saja?"
Sienna mulai mengungkit siapa yang berhak menjadi CEO TJ Crop, dia memang sangat berambisi membuat Alvaro berada di puncak.
Alvaro menyugar rambut pirang miliknya kebelakang, "Mau seperti apapun aku berusaha, aku tidak mungkin bisa melampauinya, Ibu. Apalagi Kakek selalu ada di pihaknya."
"Tapi, Alvaro──"
"Sudahlah, Ibu. Aku datang ke sini bukan untuk membahas itu. Aku akan pergi jika Ibu masih ingin membahasnya," tukas Alvaro memotong protes yang ingin dilontarkan sang Ibu.
"Jangan pergi," Sienna menahan lengan putranya yang ingin berbalik pergi, "Ayo kita makan siang bersama. Apa kamu tidak merindukan Ibu?"
Pada akhirnya Alvaro mengangguk. Lagi pula ia juga tidak tega mendengar rengekan Ibunya yang ingin makan siang bersamanya.
**
Saat di meja makan, Alvaro bertanya kenapa Ibunya bisa mengetahui perceraiannya dengan Sanaya. Sienna mengatakan jika dia memang menyuruh orang untuk mengawasi Alvaro dan Tuan J. Namun, dalam artian berbeda. Jika Alvaro, Sienna sangat khawatir dengan keadaan putranya. Sedangkan Tuan J, Sienna hanya ingin mengetahui kelemahan dari putra tirinya itu.
"Sejak dulu Ibu memang tidak suka jika kamu menikah dengan Sanaya, dia hanyalah putri tiri keluarga Tan, dia hanya akan membebani kamu saja. Padahal Ibu sangat menyukai Angel. Angel adalah putri sah keluarga Tan, dia pasti dapat membantumu dalam segala hal. Tapi sekarang gadis itu justru menikah dengan J."
"Ibu, ini bukan masalah putri tiri atau putri sah. Ini adalah masalah perasaan. Aku memang salah karena termakan kebohongan yang diciptakan Sanaya," ucap Alvaro penuh sesal.
Tangan milik Sienna yang berada di atas meja terkepal kuat, "Dasar wanita rubah! Berani-beraninya dia mempermainkan putraku. Ibu harus memberinya pelajaran!"
"Tidak usah, Ibu. Sanaya sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Sidang perceraian kami juga akan dilakukan minggu depan."
__ADS_1
"Minggu depan? Apa itu sehari sebelum pernikahan J?" tanya Sienna.
Alvaro mengangguk dan ekspresinya seketika berubah muram. Hal itu tidak luput dari pandangan Sienna.
"Kamu masih mencintai Angel?" tanya Sienna agak ragu.
Alvaro tidak menjawab. Namun, Sienna tahu jika putranya memang masih mencintai gadis yang akan menikah seminggu lagi dengan Jefra Tjong.
"Alvaro, apa kamu ingin bersama dengan Angel lagi? Ibu akan membantumu."
"Tidak. Aku dan dia tidak mungkin bisa bersama lagi. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anak J."
Yang mereka berdua tahu, Renata memang benar-benar sedang mengandung anak Tuan J. Itulah yang membuat Alvaro mundur dan lebih memilih melepaskan Renata untuk menikah dengan Kakak tirinya.
"Apa kamu akan terus membiarkan J mendapatkan sesuatu yang seharusnya kamu miliki, Alvaro?"
Sienna berkata seolah-olah ingin memprovokasi Alvaro.
"Kalau Ibu jadi kamu, Ibu tidak akan membiarkan itu," sambung Sienna.
Sejatinya Alvaro sangat membenci Kakak tirinya itu. Dirinya kerap kali bersaing dengan Jefra untuk mendapatkan posisi pewaris keluarga Tjong. Pada akhirnya sang Kakak tiri lah yang mendapatkan semua perhatian. Dia selalu menjadi yang kedua.
Dan kini, apa Alvaro akan membiarkan Jefra memiliki orang yang dicintainya?
Namun, bukankah Alvaro sudah berjanji untuk tidak menganggu Renata lagi? Bahkan gadis itu sudah bersikap baik dengan memberi maaf.
Alvaro mulai bimbang.
**
Waktu berlalu begitu cepat. Hari demi hari telah berlalu, dengan atau tanpa senyuman. Seminggu telah berlalu.
And finally.
Di hamparan hijau yang dihiasi dengan bunga-bunga. Mulai dari dekorasi pelaminan, tempat duduk tamu undangan, meja makan, hingga lokasinya pun berada di taman bunga, yang menjadi saksi bisu pernikahan Angelica Renata Tan dan Jefra Tjong.
Terlihat flower girl yang memakai flower crown sedang menabur bunga tatkala Renata yang memakai gaun panjang berwarna putih dan bertabur payet melangkah dengan anggun.
_To Be Continued_
Yoklah besok kondangan🏃
__ADS_1