Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Kucing Liar


__ADS_3

Supir yang menjemput telah siap dengan beberapa Bodyguard.


Tuan J dan Renata langsung pergi ke resort untuk menginap. Resort pilihan Kakek Ashton memang tempat paling bagus selain pelayanannya, tempat strategis untuk menikmati negara B yang indah adalah daya tarik dari resort romantis ini.


Keduanya pun sampai tepat pada pukul delapan malam.


Kelopak bunga mawar merah bertaburan dan sepasang handuk berbentuk angsa tergeletak di tengah-tengah ranjang.


"Wah, lucunya!" pekik Renata seraya meraih salah satu handuk berbentuk angsa itu dan memeluknya.


Tuan J menggeleng kecil melihat tingkah Renata. Sepertinya dia harus membiasakan diri dengan istrinya yang berisik. Lalu pria tampan itu melangkah untuk mendudukkan dirinya di sofa, memperhatikan para Bodyguard yang sedang menyusun koper-koper mereka.


"Indah sekali!" Renata memekik lagi tatkala membuka pintu yang menuju balkon.


Renata dapat merasakan udara yang sejuk dengan semilir angin yang membuatnya betah berlama-lama. Dapat terlihat dengan jelas indahnya pantai hingga suara deburan ombak yang masih terdengar jelas, letak kamar mereka benar-benar strategis.


Negara B terkenal dengan keindahan gugusan pulau, laut, serta cantiknya terumbu karang yang menarik dan kehidupan bawah lautannya yang dibalut latar belakang air jernih yang memukau. Jangan lupakan juga pantai yang bebas dari suara motor lalu-lalang dengan suasana kepulauan yang tenang.


Memang tempat yang sangat cocok untuk melakukan bulan madu romantis.


Tidak membutuhkan waktu yang lama para Bodyguard menyelesaikan tugas mereka.


"Kalian boleh pergi," titah Tuan J kemudian.


"Baik, Tuan."


Setelahnya, hanya Tuan J dan Renata yang berada di kamar.


Kenapa aku jadi deg-degan?


Pikir Tuan J karena detak jantungan yang mulai tidak stabil. Dia bukan pria bodoh yang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pasangan pengantin baru pada malam pertama. Itulah yang membuat dirinya canggung dan bingung harus melakukan apa.


Kenapa jadi dia yang berdebar seperti ini? Bukankah seharusnya perasaan ini dirasakan oleh pihak perempuan?


"Dia kan tidak mencintaiku, tentu saja dia pasti merasa biasa saja," gumam Tuan J berspekulasi sendiri.


Tuan J mengigit ibu jari, membayangkan kejadian ketika di pesawat. Kemudian telinga memerah. Saat itu ia terlalu terbawa suasana. Tuan J juga yakin jika Renata pun juga sama dengan dirinya. Mereka hanya terbawa suasana.


Apa sebaiknya dia membicarakan hal ini dengan istrinya?


Renata memang bersedia memanggilnya 'sayang', tapi belum tentu bersedia ia sentuh pada malam pertama ini. Mereka berdua memang sudah menikah, tapi bukan karena cinta.


Suara Renata yang entah mengatakan apa mengalihkan pikiran Tuan J sejenak.


"Terserah kamu ingin melakukan apa," jawab Tuan J yang sebenarnya tidak mendengar dengan jelas apa yang tadi dikatakan Renata.


Kemudian Tuan J kembali hanyut dalam pikirannya.

__ADS_1


Namun, kalau mereka tidak melakukan 'itu' sang istri tidak akan bisa mengandung pewaris keluarga Tjong. Ayolah, seorang bayi tidak mungkin datang dengan sendirinya atau didapatkan dari burung bangau dari cerobong asap!


Kembali lagi ke perjanjian yang telah disepakati.


Mau tidak mau Renata memang harus mengandung pewaris keluarga Tjong supaya kebohongan awal mereka tidak ketahuan.


Sedangkan di dalam kamar mandi, tempat Renata berada.


"Aduh, bagaimana ini? Aku lupa membawa pakaian tidur."


Terlihat Renata yang sedang panik.


Sebelumnya, dia memang sudah bilang pada sang suami untuk mandi duluan. Akan tetapi karena buru-buru tidak betah dengan keadaan tubuhnya yang lengket, ia lupa membawa pakaian yang masih di dalam koper.


"Renata, kamu benar-benar ceroboh," gerutu Renata merutuki diri sendiri.


Sepertinya dia harus meminta tolong pada Tuan J untuk mengambilkan pakaian. Tapi bagaimana dengan baju dalamnya?


Wajah Renata memerah seketika.


"OMG, itu sungguh memalukan!"


Apa dia meminta untuk kopernya di bawah ke kamar mandi? Tapi akan terasa aneh jika koper dibawa ke kamar mandi.


Apa dia keluar hanya dengan menggunakan handuk?


Tapi...


"Menggoda suami sendiri kan tidak apa-apa."


Kemudian seringai jahil terbit di bibir pualam gadis itu.


Dan benar saja, Renata memutuskan keluar hanya menggunakan handuk.


Cklek


Suara dari pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkan Tuan J yang termenung di sofa.


Pria itu menengok dan langsung terkejut bukan main tatkala melihat Renata yang keluar dari balik daun pintu, bahkan sampai menjatuhkan ponsel yang dipegangnya.


Ditelannya saliva dengan susah payah karena sang istri terlihat sangat menggoda iman.


Bagaiman bisa Renata keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk tipis yang menutupi batas dada hingga pertengahan paha?


"Kenapa kamu hanya memakai handuk?" Tuan J bertanya dengan napas yang tidak beraturan. Dia bahkan mencoba untuk tidak mimisan.


Renata justru nyengir tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, "Aku lupa bawa baju ke kamar mandi."

__ADS_1


Argh... Kucing liar ini! batin Tuan J berteriak gusar.


Pandangan Tuan J kini sudah berbeda, ingin rasanya dia menerjang istrinya itu. Namun, dia mencoba mempertahankan kewarasan.


Kemudian pria itu mengambil ponselnya yang terjatuh sampai-sampai bagian bawahnya mengalami keretakan. Kemudian bangkit dengan bola mata yang bergerak menatap ke arah lain, sebisa mungkin mengalihkan tatapan dari tubuh sintal sang istri.


"Kamu mau ke mana?" Renata bertanya seraya mendekat pada Tuan J yang menunjukkan pergerakan ingin pergi.


"Berhenti di tempatmu!" seru Tuan J dengan memberi isyarat tangan yang terulur ke depan.


Renata berhenti seketika. Wajah cantiknya berkerut bingung alias pura-pura bingung.


"Kenapa, sih?"


"Oh, Astaga! Masih saja kamu bertanya?"


Tuan J berkata dengan sedikit berseru keras, ada gusar dalam nada. Kepalanya melengos ke samping, masih mencoba menjaga pandangan.


"Apa kamu tidak memiliki rasa malu! Bisa-bisanya hanya memakai handuk di depan seorang pria!" sentak Tuan J.


"Tapi kan kamu suamiku," Renata menjawab dengan mengulum senyum. Menganggap jika sang suami terlalu kuno dalam urusan ini.


"Tapi tetap saja tidak boleh seperti itu!"'


"Oh, tidak boleh, ya?" Renata berucap dengan polos.


Di dalam hati Renata begitu senang karena telah berhasil menggoda sang suami yang jelas sekali terlihat kelabakan. Renata sungguh jail sekali.


"Tidak! Aku akan keluar, pakailah pakaianmu. Setelah itu kita harus bicara."


Setelah mengatakan itu, Tuan J berbalik keluar kamar.


Blam


Bersama dengan suara pintu kamar yang tertutup Renata speechless di tempat. Mulut Renata ketika itu hanya ternganga, namun selanjutnya hanya tawa kecil yang ramaikan ruangan.


"Kenapa dia keluar? Kan aku bisa berpakaian di kamar mandi."


Kemudian Renata mulai beranjak menuju koper-koper yang tergeletak di samping ranjang.


Memakan waktu cukup lama untuk Renata mencari baju tidurnya, karena bukan dia sendiri yang memasukan baju-bajunya ke dalam koper, sepertinya para pelayan yang melakukannya.


Kemudian seringai jahil terbit kembali di bibir pualam itu.


Entah apa yang direncanakan Renata kali ini.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2