Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Benar-benar Rakus


__ADS_3

"Siram dia!"


Beberapa Bodyguard di belakang Tuan J berjalan pergi mengambil air, lalu menyiram ke wajah yang terikat rantai besi yang terpasang pada sebuah tiang, hingga membuat tubuhnya tersentak hebat.


Pria itu adalah anjing pengkhianatan yang membantu Sienna mengawasi Tuan J selama ini. Salah satu Bodyguard yang selalu mengikuti Jefra Tjong ke mana-mana. Namun, pria bermata kelam itu sudah menaruh curiga dengan pria bernama Kris tersebut.


Dan benar saja, Kris bekerja dengan Sienna selama ini. Bahkan, meski wanita itu sudah didepak dari keluarga Tjong, Kris tetap memihak pada Sienna untuk mengawasi setiap gerakan Jefra Tjong.


Kris kaget dengan keberadaan sosok Tuan J yang berdiri angkuh di hadapannya, menatap dengan kilat membunuh.


"Kenapa kau kaget, hmm?"


Akal sehat Kris menjerit meminta untuk kabur, tapi tidak bisa. Pria itu memasang wajah panik saat Tuan J mendekatinya.


"Kenapa? Apa kau takut?"


"Ma-maafkan aku, Tuan. Ampuni aku," Kris memohon ampun dengan tubuh yang gemetar hebat.


"Aku tidak akan pernah memaafkan seorang pengkhianat, apalagi mengampuninya," Tuan J menanggapi dengan tersenyum kejam.


Kris menggeleng dengan wajah yang memucat, "Tuan, kasihanilah aku. Alasan aku melakukan ini, karena Nyonya Sienna berjanji akan menanggung pengobatan istriku."


Tuan J menatap datar. Bagaimana bisa Kris memakai istrinya sebagi alasan untuk membelot? Sedangkan gara-gara tindakannya membantu Sienna melepaskan Sanaya, Renata terbaring di rumah sakit.


"Pergilah ke neraka sekarang," ucap Tuan J dengan santai namun berbahaya.


Suara pekikan Kris bergema cukup kencang, membuat setiap yang mendengarnya bergidik ngeri karenanya.


**


Esoknya.


[ Menurut informasi yang kami dapatkan sudah ada belasan korban luka ringan, empat orang luka berat, dan empat orang tewas. Diketahui jika kebakaran ini disengaja. ]


Televisi yang menampilkan berita pagi dimatikan oleh Sienna, senyum culas terukir di wajah. Lalu dia melempar remote ke atas sofa.


"Kamu lihat, Suamiku? Aku telah memberi pengajaran pada putramu yang angkuh itu" ucap Sienna pada Theo yang duduk di atas kursi roda.


Theo hanya bergeming.


"Apa kamu sedih?" tanya Sienna mencengkram rahang Theo.


Theo diam seribu bahasa, tatapan matanya kosong, raut wajahnya tidak memiliki ekspresi, mulut terbuka sedikit, air liur menetes celah-celah mulutnya.


"Menjijikan, berhentilah meneteskan air liur seperti itu!" Sienna melepaskan tangannya dengan kasar, lalu mengelap dengan tisu yang diambil dari meja, "Cuih! Dasar suami tidak berguna! Menjawab pertanyaanku saja tidak bisa!"


Sienna terlihat benar-benar kesal.


"Jika bukan karena Alvaro yang masih berusaha mempertahankan kamu, aku sudah membuangmu! Aku sudah lelah mengurusmu!"


Tetesan air mata keluar dari sudut mata Theo.

__ADS_1


Sienna mengamati ekspresi Theo yang sudah tidak mati lagi, terlihat ada kesedihan di sana. Lalu dia terbahak, menganggap tangisan suaminya lucu.


"Kamu menyesal karena lebih memilihku daripada istrimu yang sudah menjadi tanah itu? Harusnya aku yang menyesal karena berakhir dengan pria stroke sepertimu! Kamu bahkan tidak memberikan warisan pada Alvaro!" beber Sienna jengkel pada Theo yang justru menyusahkan dirinya.


Brak


Sienna menendang keras kursi roda Theo, hingga membuat pria itu terjatuh dari kursi rodanya.


"Mampus!"


"Ibu! Apa yang Ibu lakukan pada Ayah?" Alvaro datang dari arah kamarnya, karena mendengar bunyi nyaring dari kursi roda yang jatuh dari arah ruang tamu.


Sienna melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Alvaro yang membantu Theo untuk kembali duduk di kursi roda.


"Ibu tidak melakukan apa-apa, Ayahmu yang jatuh sendiri," dusta Sienna.


"Bagaimana bisa jatuh sendiri? Ayah saja tidak bisa bergerak," tukas Alvaro heran.


"Ck, jadi kamu menyalahkan Ibu?"


Alvaro menghela napas berat, "Aku hanya menyalahkan sikap Ibu yang menjadi kasar pada Ayah."


Kenyataannya, sikap Sienna bukannya berubah tapi Alvaro yang baru melihat sikap asli Ibunya itu. Wanita itu memang selalu kasar pada Theo.


Sienna tersenyum sinis, karena dia benar-benar tidak perduli dengan Theo. Baginya, Theo adalah rongsokan yang seharusnya dibuang saja.


"Kamu ingin ke mana pagi-pagi begini?" tanya Sienna tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Heran saja, saat ini masih pukul setengah tujuh pagi, terlalu awal untuk Alvaro berangkat ke kantor.


"Siapa yang sakit?" selidik Sienna.


"Renata. Dia salah satu korban yang mengalami luka berat akibat kediaman keluarga Tjong terbakar. Ibu sudah melihat berita pagi ini, bukan?"


Sienna diam sejenak. Kemudian tertawa, seolah-olah yang dikatakan putranya sangatlah konyol, "Astaga! Kamu masih saja perduli pada jal*ng kecil itu, bukankah kamu berkata ingin melupakannya? Lalu apa yang kamu ingin lakukan hari ini? Menjenguknya? Di mana harga dirimu, Alvaro?"


"Renata bukan jal*ng!" Alvaro tidak terima, meski dulu dia juga sering menghina wanita itu dengan sebutan jal*ng, tapi dia cukup menyesal, "Memang apa salahnya menjenguknya?"


"Hahaha!" Sienna semakin tertawa kencang, meledek putranya yang masih saja belum melupakan istri dari Jefra Tjong, "Untuk apa menjenguknya? Harusnya kamu merasa senang karena rumah tangannya tidak berjalan dengan mulus. Salahnya yang memilih menikah dengan J."


"Apa maksud Ibu?"


"Dengar-dengar kebakaran itu disengaja," ucap Sienna tersenyum menyeringai kecil.


Kedua mata Alvaro melebar, "Ibu jangan bilang, kamu..."


"Apa kamu berpikir jika Ibu yang membakar kediaman keluarga Tjong?" Sienna bertanya dengan tersenyum santai.


"Itu tidak benar, kan?" Alvaro menuntut kepastian, sambil menggelengkan kepala.


Sienna kembali tertawa, "Ibu hanya berbuat baik, melepaskan mantan istrimu yang selama ini dikurung J. Sanaya yang telah menyiram kediaman keluarga Tjong dengan bensin, dia berniat mati bersama dengan Renata."


Alvaro menatap tidak percaya Ibunya, "Apa Ibu yang menyuruh Sanaya?"

__ADS_1


"Ya," jujur Sienna, "Bahkan, Ibu yang menyulut apinya."


"Kenapa... kenapa Ibu melakukan itu?" lirih Alvaro dengan dada kembang kempis.


"Tentu saja balas dendam pada Jefra Tjong yang telah mengusir Ibu dengan seenaknya! Dan supaya kamu berkuasa, Alvaro! Oleh karena itu, Ibu ingin menghabisi semua orang terdekat J, dengan begitu dia akan terpuruk dan mungkin berakhir membunuh dirinya sendiri!"


Alvaro menggosok pelan wajahnya dengan kedua tangannya, masih mendengarkan apa yang dikatakan Ibunya.


"Jika J mati, perusahaan Tj Corp otomatis menjadi milikmu! Tahta yang selama ini dipegangnya menjadi milikmu! Kita bisa menguasai kekayaan keluarga Tjong!" desis Sienna dengan culas.


"Ibu ini... benar-benar rakus!"


"Hei! Apa maksudmu! Ibu sedang mengusahakan yang terbaik untukmu, Alvaro! Kenapa kamu berkata seperti itu pada Ibu?" sentak Sienna tampak marah. Bukannya mendukung apa yang dilakukannya, putranya itu justru mengatainya.


"Apa Ibu sadar, yang Ibu lakukan adalah tindakan kriminal! Aku tidak menyangka jika Ibu benar-benar jahat!"


"Alvaro... dengarkan Ibu, hanya ini satu-satunya cara supaya kamu mengalahkan J," Sienna mencoba membujuk Alvaro supaya menikahnya.


"Tidak perlu!" tolak Alvaro.


Sienna mendelik dibuatnya.


"Sudah cukup dengan kejahatan yang Ibu lakukan! Aku tidak memerlukan kekuasaan yang selalu Ibu damba-dambakan itu! Jika Ibu masih saja berbuat jahat, aku tidak akan mengakui Ibu sebagai orang tuaku lagi, aku akan menyeret Ibu ke penjara supaya bertobat!"


"Alvaro, ka-kamu..."


Alvaro segera berlalu keluar rumah, tidak ingin mendengarkan ocehan sang Ibu yang menurutnya gila.


Kali ini, Alvaro sudah sangat kecewa dengan Ibunya yang ternyata luar biasa jahat.


Apa bedanya Ibunya dengan Santy dan Sanaya? Apa di dunia ini kekayaan begitu penting? Sampai menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya.


"Alvaro!" teriak Sienna memanggil Alvaro supaya kembali.


Namun, tidak diacuhkan.


"Brengsek! Kenapa Ayah dan anak sama-sama tidak berguna!" raung Sienna murka.


Dia kira hanya Theo saja yang tidak berguna. Ternyata Alvaro juga tidak berguna karena tidak memiliki ambisi, mau itu tentang seorang wanita ataupun kekuasaan.


Di tengah-tengah kemarahan Sienna, tiba-tiba pintu kembali terbuka dengan kasar.


Brakk


"Apa dia berubah pikiran?" Sienna berpikir jika itu adalah Alvaro yang kembali ke rumah.


Namun.


Seseorang itu bukanlah Alvaro, melainkan Jefra Tjong dan antek-anteknya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2