Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Pernikahan Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

"Kamu tidak perlu tahu. Yang terpenting sekarang, ayo kita bahas kehidupan macam apa yang akan kita jalani setelah menikah."


"Memangnya kehidupan apa yang ingin kamu jalani?" tanya Tuan J.


"Aku butuh kertas dan bolpoin," bukannya menjawab Renata justru meminta sesuatu yang membuat Tuan J bingung.


"Kembalikan dulu ponselku," Tuan J meminta ponselnya sebelum menuruti permintaan Renata.


Renata mendengus, "Dasar orang zaman milenial yang tidak bisa hidup tanpa ponsel," ejeknya sembari menyerahkan apa yang diminta pria itu.


Ya, setidaknya Renata sudah berhasil membuat Jefra Tjong tidak mengabaikannya.


Tuan J langsung menyambar ponsel miliknya, "Berisik."


Lalu Tuan J beranjak untuk mengambil kertas dan bolpoin, sedangkan Renata mengerucutkan bibir karena kesal dibilang berisik.


Enam detik kemudian Tuan J kembali dengan membawa kertas dan bolpoin, menyerahkannya pada Renata setelah mendudukkan dirinya di sofa.


"Terima kasih," ucap Renata.


"Hmm."


Renata langsung mencoret-coret selembar kertas yang didapatkannya di meja depan sofa. Sedangkan Tuan J memperhatikan dengan kening yang berkerut.


Perjanjian pernikahan simbiosis mutualisme.


Itulah baris pertama yang ditulis Renata. Kemudian Renata juga menulis beberapa baris yang semakin membuat kening Tuan J berkerut.


"Baca ini," ujar Renata setelah menyelesaikan aksi coret-coretnya.


Tuan J membaca dalam diam.


Aku Angelica Renata Tan membuat perjanjian ini dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Dalam pernikahan simbiosis mutualisme ini aku berharap Jefra Tjong menuruti apa yang aku tuliskan di sini.


1. Jangan pernah mengabaikan aku.


2. Bersikaplah sebagai suami yang baik.


3. Jangan pernah memukulku.


4. Jangan pernah selingkuh.


5. Panggil aku Renata.


6. Tidak boleh bersikap seenaknya.


7. Jangka waktu atau lamanya pernikahan adalah selama-lamanya.


8. Hak dan kewajiban kedua belah pihak, dan hal-hal lain yang dianggap perlu harus sesuai dengan No. 2.

__ADS_1


Jefra Tjong mengusap wajah kasar. Dari sini dia menyadari jika gadis itu ingin menjalani kehidupan pernikahan normal pada umumnya. Mengharapkan dirinya menjadi suami yang baik dan setia. Dikiranya Renata akan menulis semacam kontrak pernikahan yang akan berakhir dalam jangka waktu tentunya, tapi nyatanya gadis itu ingin pernikahan mereka berlangsung selama-lamanya.


"Kamu serius dengan apa yang kamu tulis ini, Nona Angelica?"


"Tentu saja serius. Aku bahkan sudah membawa materai! Dan panggil aku Renata!"


Renata memang sudah mempersiapkan ini sejak jauh-jauh hari. Dia tidak mau jika Tuan J bertindak semaunya dalam pernikahan mereka, itu akan tidak adil baginya yang mencintai pria itu.


Tuan J mengurut pelipisnya karena mendadak pening. Sebenarnya memang wajar bagi seorang wanita mengharapkan kehidupan pernikahan yang semestinya. Terlebih dia sendiri pun tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan seperti Ayahnya dulu. Dia tidak mau menyakiti seorang wanita karena Ibunya pun seorang wanita.


"Baiklah aku akan menyetujui perjanjian itu, tapi tidak dengan nomor tujuh," pungkas Tuan J kemudian.


Mata Renata terbelalak lebar, "Tidak! Nomor tujuh adalah poin terpenting, kamu tidak bisa menolaknya!"


Tuan J menghela napas kasar, "Kamu tahu sendiri, bukan? Aku memiliki penyakit. Apa kamu ingin hidup selama-lamanya dengan laki-laki gila sepertiku?"


"Kamu tidak gila!" jawab Renata cepat, "Penyakit kamu bisa sembuh."


"Tidak semudah itu."


Renata menggeleng, "Aku akan membantumu."


"Memangnya kamu bisa apa?" Tuan J memicing tajam.


"Aku bisa menyembuhkan kamu."


"Sebaiknya kamu sembuhkan hatimu saja. Bukankah kamu belum bisa melupakan Alvaro? Jangan paksakan dirimu untuk terikat denganku selama-lamanya," ujar Tuan J seolah-olah menganggap jawaban Renata adalah lelucon.


"Sudahlah, sebaiknya coret ini."


Sett


Tuan J benar-benar mencoret poin nomor tujuh. Lalu sebagai gantinya menuliskan sesuatu di atas coretan itu.


7. Jangka waktu atau lamanya pernikahan bisa berakhir jika salah satu pihak merasa tidak bahagia.


"Lebih baik jika seperti ini," ujar pria itu setelahnya.


Apa menurutnya aku akan tidak bahagia jika menikah dengannya?


Sungguh, Renata tidak mengerti jalan pikiran Jefra Tjong. Dihembuskannya napas sejenak, jika maunya seperti itu apa boleh buat.


"Oke."


"Hmm."


"Kamu bisa menambah poin-poin lainnya," ujar Renata.


Sesuai dengan yang tadi Renata bilang 'simbiosis mutualisme', sebisa mungkin dia tidak mau Tuan J merasa dirugikan, mereka harus sama-sama merasa diuntungkan.

__ADS_1


Tuan J tidak mengatakan apapun. Namun, tangannya bergerak menulis sesuatu.


Renata melihat apa yang sedang ditulis Jefra Tjong, tidak merasa terkejut saat tahu kalau tulisan tangan pria itu sangat rapi. Bahkan Renata sampai insecure dengan tulisannya sendiri.


Aku Jefra Tjong membuat perjanjian ini dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Dalam pernikahan simbiosis mutualisme ini aku berharap Angelica Renata Tan menuruti apa yang aku tuliskan di sini.


1. Bersikap menjadi istri yang baik.


2. Jangan membuat malu keluarga Tjong.


3. Jangan selingkuh, jika memiliki laki-laki yang dicintai lebih baik berterus terang dan segera bercerai.


4. Harus bersedia mengandung pewaris keluarga Tjong.


5. Jangan membawa perasaan dalam pernikahan karena akan merepotkan.


Renata menatap tidak percaya poin-poin yang ditulis Tuan J. Lebih parahnya lagi pria itu langsung tanda tangan tanpa menunggu jawaban setuju atau tidak.


"Giliran kamu yang tanda tangan," ujar Tuan J seraya menggeser kertas itu pada Renata.


"Kamu tidak bertanya aku setuju atau tidak?" Renata masih menatap tidak percaya.


"Bukankah ini setimpal dengan poin yang kamu tuliskan?"


Tentu saja bagi Renata ini tidak setimpal karena Tuan J melarangnya untuk membawa perasaan. Apa dia harus selalu menyembunyikan perasaannya?


"Oke," dengan setengah hati Renata setuju.


Kemudian Renata mengambil materai yang benar-benar sudah disiapkannya.


"Kamu melupakan ini, seharusnya kamu tanda tangan di atas materai," ujar Renata.


"Tidak perlu," tolak Tuan J.


"Menyebalkan. Sia-sia dong aku membawa materai," protes Renata seraya mengerucutkan bibir.


"Tidak ada yang menyuruhmu membawa itu," kilah Tuan J dengan santainya.


"Hais, kalau begitu biar aku saja."


Pada akhirnya hanya Renata yang tanda tangan di atas materai karena tidak mau mensia-siakan apa yang sudah dibawanya.


"Aku akan fotocopy ini," pungkas Renata setelah membubuhkan tanda tangan pada surat perjanjian itu.


"Hmm, kamu simpan saja yang asli dan berikan aku salinannya."


Kesepakatan dari sebuah pernikahan simbiosis mutualisme telah keduanya setuju satu sama lain. Namun, tidak ada yang tahu jika kesepakatan mereka akan berjalan selalu saling menguntungkan atau berakhir menjadi bumerang untuk keduanya.


"Ngomong-ngomong di mana kita akan menikah?" tanya Renata memulai obrolan kembali.

__ADS_1


"Di hutan."


_To Be Continued_


__ADS_2