
Detik berikutnya Renata merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Jefra Tjong menciumnya. Terlebih disaksikan para tamu yang kini bersorak karena melihat momen bersejarah itu.
Ckrek!
Oh, bolehkah Renata pingsan saat ini juga?
Tidak terkira lagi bagaimana mata Renata terbelalak kala itu. Di saat di mana dia mendapati Tuan J tanpa peringatan sama sekali sudah mencium bibirnya. Meski si Fotografer telah selesai memfoto tapi Tuan J tidak kunjung menjauhkan wajahnya. Renata berusaha melepaskan diri karena sorak para tamu semakin ramai, tapi sulit.
Hingga Renata mengambil opsi lain, yaitu setidaknya dia harus menyadarkan Tuan J tentang situasi yang tidak seharusnya berciuman sampai-sampai disertai lu matan mesra.
Ayolah, saat ini mereka sedang ditonton banyak orang!
Maka dari itu, Renata mencoba menyebut nama Tuan J, mencoba menggerakkan lidahnya. Namun yang terjadi, lidahnya yang bergerak untuk bertujuan berbicara tapi justru bergerak melingkar-lingkar panas saat Tuan J melu matnya di dalam sana.
Sekarang yang bisa Renata lakukan hanya menutup matanya rapat-rapat. Tepat ketika merasakan tengkuknya ditarik Tuan J. Dan bibirnya bergerak dalam pangut an yang lebih kuat. Membuat Renata semakin merasa gelisah.
Seolah melupakan di mana mereka berada saat ini, Tuan J mendekap bibir Renata dengan bibirnya, melu mat lidahnya, dan melakukan semuanya yang membuat Renata terdiam tidak berdaya.
Pada akhirnya Tuan J menjauhkan wajahnya. Tubuh Renata lemas, jika saja Tuan J tidak memegang pinggangnya mungkin ia sudah jatuh.
"Kamu harus ingat jika kali ini akulah yang menciummu. Jangan pernah menganggap aku sebagai orang lain lagi."
Tuan J berkata dengan nada memerintah, diusapnya bibir Renata yang mengkilap karena ulahnya dengan ibu jari.
Hal yang mendasari Tuan J mencium Renata hingga menjadi tontonan para tamu undangan, yakni karena keinginannya membuat kenangan yang tidak mungkin terlupakan oleh gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Bermaksud supaya kejadian malam itu tidak terulang lagi, malam di mana Renata menganggapnya Alvaro saat mereka berciuman. Yang pastinya, Tuan J tidak mau kalah dengan Alvaro.
"Y-ya," jawab Renata seraya mengangguk tanpa tahu apa maksud Tuan J.
Sejatinya Renata bingung dengan perkataan Tuan J yang seolah-olah mereka pernah berciuman seintens dan intim ini sebelumnya. Namun, pikirannya seolah linglung karena ciuman yang diterimanya tadi.
"Hmm."
Sebuah dehaman yang terdengar dibuat-buat mengalihkan keduanya, membuat Renata mendorong tubuh Tuan J agar menjauh darinya, sehingga suaminya itu berdecak tidak suka.
"Apa kamu tidak bisa menahan dirimu sendiri? Setidaknya tunggulah para tamu pulang dulu," ucap Kakek Ashton si pemilik dehaman. Lalu tertawa seraya menepuk punggung Jefra Tjong, seolah-olah merasa bangga dengan cucunya yang awalnya ia kira penyuka sesama jenis ternyata memiliki sisi liar yang menggebu-gebu.
Oh, semakin terbakar lah wajah cantik Renata. Ingin sekali Renata menggali lubang untuk mengubur dirinya di sana. Dia benar-benar malu saat ini.
"Jangan sampai aku memenggal kepalamu itu, Jefra Tjong. Dasar serigala berbulu kanebo kering," desis Zayn yang terbakar api kemarahan, sepertinya Kakak laki-laki Renata itu belum bisa menghilangkan perilaku over protective-nya.
__ADS_1
Tuan J hanya tersenyum sinis untuk menanggapi Zayn, yang membuat Zayn semakin berang.
"Serigala berbulu kanebo kering? Memangnya ada?" tanya Renata dengan polosnya.
"Ya! Suamimu ini, Renata!" jawab Zayn jadi geregetan sendiri karena pertanyaan polos Renata. Apa perlu dia perjelas?
"Sudah, Zayn. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri, biarkan saja," Rendra melerai Zayn.
"Ck!" Zayn berdecak sebal. Lalu kembali menatap Renata, "Bukankah kamu harus mengganti gaun? Setelah ini akan berlanjut ke acara resepsi," ujarnya.
"Ah, aku lupa!" Renata berseru dengan memukul dahinya.
Sett
"Eh?"
Renata terkejutnya tatkala Tuan J meraih tangannya.
"Jangan menyakiti kepalamu sendiri," ujar Tuan J seraya menatap dalam bola mata cokelat milik Renata.
Renata refleks menarik tangannya dan memeluknya di depan dada, bersama itu pula jantungnya kembali tidak tenang.
"Aku tidak menyakiti kepalaku sendiri kok," cicit Renata.
"Ayo, Renata. Biar Kak Zayn mengantarmu!"
Zayn langsung merengkuh pundak Renata untuk membimbing Adiknya itu pergi ke ruang ganti.
Sepeninggal Renata dan Zayn, Kakek Ashton tertawa, "Bukankah mereka kakak beradik yang menggemaskan? Berbeda sekali dengan kedua cucuku yang tidak akur."
Tuan J memutar bola mata, tentu saja dia tahu jika sang Kakek sedang menyindirnya.
"Zayn memang sangat menyayangi Renata. Tidak heran jika dia sangat over protective pada Adiknya itu," ucap Rendra menanggapi Kakek Ashton.
Tuan J tersenyum sinis. Lalu melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Rendra terdiam seketika.
"Tuan Rendra sendiri apa menyayangi istriku?"
Heh, Tuan J. Seharusnya kamu juga bertanya pada dirimu sendiri. Apa kamu menyayangi istrimu itu? Apa kamu sadar jika telah menaruh perhatian lebih pada Renata? Terlebih memiliki perasaan cemburu ketika Renata bersama pria lain.
__ADS_1
Lihat saja. Bahkan, Tuan J menatap tajam tangan Zayn yang melingkar pada pundak Renata, dia juga tidak menyukai tatapan-tatapan kaum Adam yang terpesona dengan Renata yang begitu cantik dengan gaun pengantinnya.
Namun, Jefra Tjong maupun Rendra memilih untuk membohongi perasaannya sendiri.
**
"Ngomong-ngomong di mana Sekertaris Kak Zayn?" tanya Renata saat melangkahkan kaki menuju ruang ganti bersama Zayn.
"Maksudmu Nikolas?" tanya Zayn memastikan.
"Memangnya siapa lagi."
Zayn terkekeh karena Renata mengerucutkan bibir lucu, "Entahlah, aku juga tidak tahu, terakhir dia terlihat sedang mengobrol dengan Tante Santy."
Nikolas dengan Santy? Bisa-bisanya mereka menyempatkan diri berselingkuh di pesta pernikahanku, batin Renata jadi kesal sendiri.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan Nikolas? Kamu butuh sesuatu darinya?" tanya Zayn.
Renata menggeleng. Kemudian langkahnya berhenti di depan pintu sebuah ruangan, di mana ia akan mengganti gaun. Nampaknya di dalam sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu Renata. Bukannya masuk ke dalam, Renata justru berbalik untuk menatap Zayn.
"Kak Zayn, apa kamu percaya padaku?"
Zayn terlihat agak terkejut dengan pertanyaan Adiknya itu, "Kenapa tiba-tiba?" tanyanya balik.
Renata kembali menggeleng, "Jawab dulu."
"Tidak."
Renata muram seketika. Dia kira Zayn mempercayainya. Memang sebuah kepercayaan adalah sesuatu yang mahal dan tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Termasuk dirinya, meski berstatus sebagai Adik kandung Zayn.
Tunggu.
Apa Zayn telah mencurigai dia yang bukan Angel sesungguhnya? Sifatnya memang sangat berbanding terbalik dengan Angel.
Renata menatap Zayn dengan ragu-ragu.
"Pftt!" Zayn justru terlihat menahan tawa.
"Apa yang lucu?" Renata jadi merasa bingung sendiri.
__ADS_1
_To Be Continued_