Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Tiket Perjalanan Bulan Madu


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa detak jantungmu begitu keras?" tanya Renata yang diselimuti rasa penasaran.


Tuan J tidak menjawab namun ada semburat merah tipis di kedua pipinya. Sayangnya, Renata tidak melihatnya.


Bagi Tuan J, Renata begitu menggemaskan. Istrinya itu tidak berkutik bagaikan patung hanya karena dia merengkuh tubuh mungilnya. Tuan J bukannya berniat menggoda atau mencari kesempatan, tapi memang dansa waltz seperti ini. Terlebih ia juga bingung dengan detak jantungnya yang tidak terkontrol. Ayolah, bukan hanya kali ini dia berdansa dengan seorang wanita, tapi kenapa rasanya begitu berbeda.


"Berdansa dengan gaun dan sepatu hak tinggi sungguh merepotkan," Renata mengeluh tiba-tiba, "Kapan aku bisa pergi tidur, ya?"


"Setelah acara ini kamu boleh tidur, cerewet."


"Gaun ini benar-benar panjang."


"Robek saja."


"Tapi aku suka."


"Ck, terserah."


Seketika nada lagu berubah dan itulah saatnya semua orang mulai berganti pasangan. Tuan J melemparkan istinya itu ke Zayn.


Renata melihat wajah tampan Kakak laki-lakinya yang berdansa dengannya sekarang.


"Hei, Adikku yang cantik," Zayn menyapa Renata dengan tersenyum tipis.


Renata ikut tersenyum, "Hai juga, Kakakku yang tampan."


"Aku tadi melihat keributan di pelaminan, apa yang terjadi?" tanya Zayn yang melihat keributan tadi.


"Tidak ada apa-apa, hanya keributan kecil."


Ya, hanya sebuah keributan dengan seorang pria pecundang. Beruntung tadi Zayn tidak langsung datang untuk melerainya, bisa-bisa semakin panjang urusannya.


"Apa Kak Zayn sudah berdansa dengan gadis cantik?" Renata beralih menggoda Zayn.


Zayn mengangkat bahu seolah-olah tidak perduli. Renata tertawa dibuatnya.


Kemudian nada lagu berubah kembali. Zayn memutar tubuh Renata. Renata jatuh lagi ke pelukan seseorang.


Renata langsung terdiam saat melihat siapa yang memeluknya kini. Rendra.


Benar-benar canggung rasanya.


Yang sebenarnya, Renata adalah putri dari Panglima TNI, Ayahnya itu memiliki sifat dingin, tegas, berwibawa, dan sangat menyayangi keluarga, Renata sangat menghormati sang Ayah. Berbeda sekali dengan Rendra yang menurut Renata bodoh karena mudah dikelabui Santy, bahkan memperlakukan putrinya sendiri dengan buruk. Apakah Renata harus menghormati Rendra seperti Ayah aslinya?

__ADS_1


Terlihat Rendra yang ingin mengatakan sesuatu tetapi kembali menutup mulutnya.


"Apa Tuan Rendra keberatan berdansa denganku?"


Rendra terenyuh mendengar jika Renata masih tetap memanggilnya 'Tuan Renda', sudah tidak pernah lagi dia mendengar panggilan 'Ayah' dari putrinya itu. Kini mereka sudah seperti orang asing. Bahkan keduanya tidak pernah saling bicara sejak kejadian terungkapnya kejahatan Sanaya.


"Tidak," jawab Rendra terdengar gamang.


Selanjutnya, keduanya diam dalam dansa itu. Hingga nada lagu kembali berubah dan Rendra memutar Renata ke arah Kakek Ashton.


"Aku titipkan cucuku padamu, Nona," Ashton berkata dengan senyum yang terlihat berwibawa.


Renata terkekeh pelan. Bukankah ini mirip seperti yang dikatakan Aruna Tjong?


"Memangnya cucu Tuan anak kecil yang harus dititipkan?"


"Panggil aku Kakek."


"Ya, Kakek," patuh Renata meski agak kikuk.


Ashton mengangguk dengan senyum yang tidak luntur sejak tadi. Padahal sang Kakek suka tersenyum seperti ini, tapi kenapa Jefra Tjong begitu kaku? Apa itu keturunan dari sang Ayah?


"Kakek, aku tidak melihat Ayah mertua. Kenapa dia tidak hadir?" tanya Renata memenuhi kejanggalan yang ia rasa. Renata tidak melihat Ayah dari suaminya itu sejak lamaran hingga pernikahan.


"Ayah J sedang sakit, dia sedang menjalani perawatan khusus di rumah utama."


"Stroke iskemik."


Renata sedikit shock mendengar bahwa Ayah mertuanya mengalami stroke, "Maaf, Kakek. Aku tidak tahu soal itu."


"Tidak apa-apa, keadaan Ayah J memang sengaja tidak disebar luaskan," ujar Ashton.


"Kalau begitu setelah ini aku ingin mengunjungi Ayah mertua," ungkap Renata dengan inisiatif yang muncul secara impulsif.


"Soal itu kamu bicarakan saja dengan J."


Ya, sebagai menantu yang baik Renata memang harus mengunjungi sang Ayah mertua yang sedang sakit itu.


"Kakek sudah menyiapkan sebuah hadiah," ucap Ashton kemudian.


"Eh? Hadiah?" tanya Renata dengan menaikan alis.


"Hadiah tiket perjalanan untuk bulan madu kalian berdua. Kalian harus segera pergi bulan mandu setelah pesta pernikahan sebelum J tenggelam dalam pekerjaannya lagi."

__ADS_1


Bulan madu? Apa yang harus Renata lakukan nanti? Apa dia dan Jefra Tjong akan bermesraan seperti pasangan pengantin baru pada umumnya? Seketika wajah Renata merona.


Di sisi lain.


Terlihat Tuan J dan Sienna yang sedang berdansa.


"Apa kamu suka dengan hadiah yang Ibu berikan, J?" tanya Sienna tersenyum provokasi.


Tuan J menatap tajam Sienna. Kedatangan Aslan adalah hadiah yang Ibu tirinya maksud.


"Sebuah hadiah yang semakin memeriahkan pesta pernikahanmu, bukan?"


Benar-benar sialan. Tuan J sangat membenci Ibu tirinya itu.


"Apa hobi Ibu tiri adalah merusak kebahagiaan orang lain?" sarkas Tuan J.


Sienna tertawa pelan, tidak merasa jika tindakannya itu buruk.


"Mau bagaimana lagi, aku sangat membenci Ibumu dan kamu yang berstatus sebagai putranya. Sebisa mungkin aku akan merebut sesuatu yang kamu ambil dari Alvaro, seperti aku merebut Ayahmu dari Aruna."


Dilihat dari tatapan Tuan J yang tajam, rahang mengeras dan wajah tanpa ekspresi. Pria itu sangat marah setelah mendengar apa yang dikatakan sang Ibu tiri.


Hembusan napas Tuan J terdengar berat, dia mencoba menahan amarah, "Kenapa kamu sangat membenci Ibuku? Ada salah apa Ibuku padamu?" tanyanya.


Tawa sinis Sienna menyebar di udara, "Ibumu tidak melakukan kesalahan apapun padaku, J. Aku hanya membencinya saja."


Kenyataan, Sienna adalah wanita super kompetitif yang membutuhkan kompetensi. Berhubungan dengan suami orang meningkatkan rasa percaya dirinya. Semakin 'panas' saingannya, semakin dia merasa lebih superior dibanding sang istri. Itulah alasan Sienna merebut Theo dari Aruna. Terlebih dia adalah wanita yang serakah. Setelah berhasil merebut Theo, dia ingin menjadikan putranya seorang pewaris keluarga Tjong.


Sienna beranggapan jika apa yang telah dimiliki Tuan J seharusnya adalah milik Alvaro. Entah itu posisi pewaris atau wanita yang kini sudah menjadi istri anak tirinya itu.


Tuan J yang sempat terdiam beberapa saat, mulai membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang terdengar mengandung makna ancaman, "Kamu salah telah mengibarkan bendera perang secara terang-terangan seperti ini, Sienna Tjong. Aku bukan lagi anak kecil yang dulu mudah diperlakukan seenaknya. Urungkan niat buruk kamu itu. Jika tidak... Aku tidak akan segan-segan lagi padamu."


Napas Sienna berhenti beberapa detik. Diancam dan diintimidasi seperti ini oleh Anak tirinya ternyata sangat mengerikan.


Kemudian Tuan J menjauh untuk tidak melanjutkan dansa. Kemudian tatapannya beralih pada Renata yang sedang berdansa dengan Kakek Ashton. Walaupun hanya sekali diajari, istrinya itu sudah bisa berdansa meski masih sedikit kaku.


Cukup lama Tuan J memandangi Renata, hingga Renata sadar dan beralih menghampirinya seraya tersenyum manis.


"Aku mendapatkan hadiah sebuah tiket perjalanan honeymoon ke sebuah resort romantis dari Kakek," ucap Renata sesampainya di hadapan sang suami.


Tuan J diam seraya menatap lekat wajah cantik Renata yang sumringah dan merona merah. Hanya mendapatkan hadiah sebuah tiket bisa membuatnya sesenang itu.


Apa aku akan diam saja saat dia ingin direbut dariku?

__ADS_1


Meski pernikahan kami hanya Simbiosis Mutualisme, tapi mau bagaimanapun dia adalah istriku.Tentu saja aku tidak akan membiarkannya.


_To Be Continued_


__ADS_2