
Esoknya.
Pagi hari yang berawan, langit tertutup sepenuhnya dengan awan kelabu, rintik berjatuhan dengan deras.
Mendung dan kelabu. Seperti suasana hati Renata saat ini.
Kedatangan hujan yang tidak terduga telah menggagalkan rencana jalan-jalan Renata dengan suami tercinta. Padahal dia ingin sekali berkeliling ke tempat indah lainnya bersama Tuan J.
Terlihat Renata yang sedang berdiri di sisi jendela seraya menatap hujan yang semakin deras. Di tangan kanannya ada secangkir coklat panas yang masih mengepul, dan di tangan kirinya sedang memegang ponsel yang sedang ditempelkan di telinga.
"Maaf, karena aku baru menghubungi Kak Zayn," ucap Renata pada seseorang di ujung sana.
[ Adikku memang jahat sekali. Kamu lupa dengan Kakakmu karena sudah memiliki suami. ]
Renata tertawa pelan mendengar suara Zayn yang bernada merajuk.
[ Malah tertawa. ]
Suara Zayn terdengar datar kembali.
"Tidak, kok. Aku tidak tertawa."
Renata mencoba menahan tawanya.
Sebenarnya, dia tidak benar-benar tidak menghubungi Zayn. Padahal Renata sudah bertukar pesan dengan Zayn semenjak ia berada di negara B. Tapi memang baru sekarang dirinya menelepon sang Kakak.
"Hmm," Renata berdeham sesaat, "Aku ingin menanyakan sesuatu, Kak."
[ Menanyakan apa? ]
"Apa Kakak sudah mengganti Nikolas?"
[ Aku sudah memecatnya tapi belum mendapat penggantinya. ]
Renata senang mendengarnya, ternyata Zayn benar-benar percaya padanya. Jika tahu begitu, sejak awal saja Renata bilang pada Zayn tentang Nikolas.
"Ah, bagus kalau begitu. Aku sarankan Kakak untuk mencari seorang Sekertaris wanita yang cantik, yang tentunya masih singel."
Renata tertawa renyah setelah mengatakan itu.
[ Kamu ini. Aku ini bukan suamimu yang tertarik pada Sekertaris nya sendiri. ]
Bisa-bisanya Zayn menyindir.
"Ya, ya, ya, Kakakku memang berbeda."
[ Hmm, yasudah, Kakak matikan dulu. Kamu bersenang-senanglah. ]
"Ya, Kak."
Setelah panggilan berakhir, Renata menghela napas berat, tatapannya masih ke luar jendela.
"Bersenang-senang apanya? Karena hujan aku tidak bisa keluar jalan-jalan," gumam Renata merengut.
Kemudian Renata berbalik dan melangkah mendekati ranjang, diletakkannya cokelat panas yang tinggal setengah di atas meja. Lalu naik ke atas ranjang, rebahan di sebelah Tuan J yang sedang sibuk dengan ponsel.
"Aku ingin keluar," rengek Renata seraya menatap sang suami dengan puppy eyes.
__ADS_1
"Hujan," ucap Tuan J singkat, tatapannya masih fokus ke layar ponsel.
"Tapi aku bosan," bibir Renata mengerucut, lalu mencolek-colek tulang pipi suaminya dengan jari telunjuk.
Sungguh. Hanya Renata saja yang berani melakukan itu pada seorang Jefra Tjong.
"Apa ini kebiasaan kamu jika bosan?" Tuan J melirik wajah Renata sekilas. Lalu tatapannya kembali pada ponsel.
"Kebiasaan apa?" tanya Renata dengan masih menggoda pipi suaminya.
Tuan J menghela napas panjang, "Menggangguku."
Renata tertawa kecil, "Apa kamu keberatan?"
Bukannya menjawab, Tuan J justru meletakan ponselnya di atas meja, lalu meraih tangan Renata yang menggoda pipinya.
Kemudian Renata merasakan jika pergelangan tangannya digigit oleh Tuan J.
"E-eh! Kenapa menggigitku?"
Tidak hanya itu, Tuan J menghisap dan mengecap pergelangan tangan Renata.
Renata mengigit bibir bawahnya, mencoba menahan getaran yang tiba-tiba muncul. Terlebih sang suami beralih menjilati jarinya, memasukan ke dalam mulut dan menghisapnya.
Dengan memandangi wajah sang suami. Wajah Renata merona kian memanas. Jefra-nya benar-benar nakal.
Selang beberapa menit, Tuan J melepaskan tangan Renata. Tubuh dimiringkan supaya bisa menatap Renata lebih intens. Tangannya merengkuh pinggang sang istri sehingga lebih mendekat padanya.
Tuan J menatap lekat pada beningnya manik cokelat milik Renata. Yang juga menatapnya.
Dari jarak sedekat ini, Renata bisa melihat dengan jelas wajah tampan suaminya. Aroma lembut dan mewah dari tubuh Tuan J, mampu membuat Renata merasa nyaman.
Renata mengerjap tersadar karena terhipnotis oleh bola mata hitam sang suami, "Y-ya," jawabnya gugup.
"Jangan lupa jika aku akan memberimu hukuman."
Detik kemudian, Renata terbelalak. Dia kira sang suami tidak jadi menghukumnya. Padahal semalam Tuan J tidak lagi membahas hukuman itu. Malahan, Renata langsung disuruh tidur.
"Hu-hukum seperti apa?" tanya Renata takut-takut.
Jari panjang Tuan J membelai setiap inci kulit wajah Renata yang lembut. Lalu berjalan menuju bibir buah persik yang akhir-akhir ini selalu membuatnya candu.
"Aku akan mengurung kamu di kamar hingga besok pagi."
Setelah mengatakan itu, Tuan J mendekatkan wajahnya ke arah Renata, lalu mencium bibir sang istri dengan lembut. Mulai melu mat, mengigit, kemudian melesak ke dalam untuk memainkan lidahnya.
Ciuman mereka terlihat sangat intens, terlebih saat Renata mulai membalasnya dengan baik.
Setelah merasa cukup, Tuan J menghentikan ciumannya. Lalu menatap wajah cantik Renata dengan lekat.
"Jadi kamu dilarang merengek untuk bisa keluar kamar."
"Tapi aku bos──"
Tuan J segera memotong perkataan Renata.
"Kamu tidak mungkin bosan. Karena aku akan..."
__ADS_1
Lalu bibirnya mendekat pada telinga Renata, dan berbisik dengan suara berat yang begitu pelan.
Mendengar bisikan sang suami, mulut Renata langsung membetuk huruf O besar. Renata melongo dengan wajah yang memerah sempurna.
Karena Tuan J berkata jika mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah sepanjang hari.
Itulah hukuman yang harus Renata terima.
"Aku tidak mau dihukum seperti itu! Dasar super mesum!" Renata berseru keras.
"Kamu tidak bisa menolak, Dear. Salahmu sendiri karena sudah berbohong pada suamimu."
Jemari panjang Tuan J langsung masuk kedalam blouse yang dikenakan Renata. Mencari kaitan di belakang punggung dan melepasnya.
"Angkat tanganmu," bisik Tuan J mengecup pipi Renata.
Renata menelan saliva kasar. Jika sudah seperti ini, sang suami tidak bisa dibantah. Apalagi Renata sudah melihat kilat berbeda dari bola mata hitam itu.
Pada akhirnya Renata menurut. Dia mengangkat tangan dan membiarkan pakaiannya lolos.
"Aku akan menghangatkanmu, Dear."
Kemudian Tuan J menjatuhkan diri perlahan di atas tubuh sintal Renata. Menindih dan memeluk. Menciumi leher sang istri.
Renata menikmati mulut lihai Tuan J yang mengecup setiap jengkal tubuhnya, setiap napas membuat bulu halus meremang.
Nuansa erotika mulai menggelora.
Dalam sekian menit ke depan, keduanya telah menyatu. Hanya ada rasa kasih membara, menaikan temperatur ruangan dengan teriakan pelan keduanya.
Dingin akibat hujan sudah tidak dirasa lagi karena gelombang panas sudah menyebar.
Keduanya saling tatap dalam irama gerak tanpa jeda. Lengan kekar Tuan J memeluk tubuh Renata, mengekang seolah takut kehilangan.
Panas menerpa seluruh butiran darah. Mereka langsung melepaskan semua rasa kenikmatan yang dirasa. Seolah-olah meledak bersama.
Tuan J menyeka peluh yang hadir di kening Renata dengan telapak tangan. Dikecupnya kepala sang istri.
"Kenapa melarangku jatuh cinta padamu? Kenapa aku harus berhati-hati?" tiba-tiba Renata bertanya dengan suara yang terdengar lemah.
Namun, Tuan J diam. Tidak menjawab. Dia justru memberikan kecupan yang begitu mesra di bibir Renata.
**
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, awan kelabu yang sebelumnya berkumpul dan memuntahkan air hujan kini sudah tidak ada lagi.
Dua insan yang masih berada di bawah selimut, saling berpelukan membagi kehangatan.
Tuan J memandangi wajah cantik sang istri ketika tidur. Kulit wajah putih seputih keju, hidung kecil namun mancung, alis melengkung, dan bulu mata yang lentik. Namun, terlihat gurat lelah karena aktivitas mereka sebelumnya. Dia memang benar-benar menghukum sang istri hingga kelelahan.
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada Renata.
Teringat pertanyaan Renata yang tidak bisa dijawabnya tadi.
Kenapa dia melarang Renata jatuh cinta padanya? Kenapa Renata harus berhati-hati?
Tuan J menumpukan keningnya dengan kening Renata. Menatap dalam wajah damai itu.
__ADS_1
"Ya, kamu memang harus berhati-hati. Karena jika sampai kamu jatuh cinta padaku, aku tidak akan pernah melepasmu. Dan perjanjian sialan itu akan aku musnahkan," ucap Tuan J dengan lirih.
_To Be Continued_