Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Aku Akan Mengurusnya


__ADS_3

Di sebuah ruang yang tidak terlalu besar, dilengkapi dengan meja berdesain kontemporer tampak elegan dipadukan dengan karpet besar dan kursi kerja yang ergonomis. Tidak banyak perabotan di sini, tapi terkesan begitu mewah.


Ruang Direktur Utama Allansky Group.


Terlihat Aslan yang sedang berdiri sembari menatap kosong ke arah jendela besar yang menunjukan suasana kota pada siang hari ini. Dihisapnya sebuah rokok yang terselip di antara jadi telunjuk dan tengah, asap berwarna kelabu dihembuskan perlahan dari bibir tipisnya. Baginya, sensasi nikotin dari tembakau dapat sejenak mengalihkan pikiran.


Sejak kejadian satu tahun yang lalu, Aslan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang sudah dilakukannya pada Angel. Dia pergi ke luar negeri karena tidak sanggup menunjukan diri di hadapan gadis itu lagi. Namun, justru Aslan semakin dihantui rasa bersalah terhadap Angel. Pada akhirnya, Aslan memutuskan kembali untuk mendapat maaf dari Angel. Tetapi dia justru mendapatkan respon yang begitu menyakitkan, Angel berpura-pura tidak mengenalnya dan terlihat sangat ketakutan.


Aslan sangat kesal dengan itu, terlebih dia mendapatkan kabar jika gadis itu akan menikah dengan Jefra Tjong.


Tindakannya pergi ke luar negri ternyata salah. Harusnya Aslan tetap di sini dan mencoba mendekati Angel di saat putus dengan Alvaro.


"Aku memang pengecut bereng sek."


Sekarang yang bisa dilakukan Aslan adalah memaki dirinya sendiri.


Knock... Knock...


Cklek


Suara ketukan pintu dan terbukanya pintu tidak mengalihkan atensi Aslan.


"Tuan," ucap seorang pria dengan stelan jas formal berwarna hitam──Dannils, Sekretaris sekaligus tangan kanannya.


"Ya," jawab Aslan tanpa beralih.


"Ada yang ingin bertemu dengan Tuan," tukas Dannils agak ragu.


Barulah Aslan membalikkan badan, menatap Dannils dengan kening berkerut, "Siapa?"


"Jefra Tjong."


**


Di kediaman keluarga Tan, tepatnya di kamar Renata.


Renata terlihat sedang mencari sesuatu. Bahkan kondisi kamarnya telah kacau. Ranjang yang berantakan, bantal dan guling yang tergeletak di lantai, serta pintu lemari dan laci meja terbuka.


"Ke mana foto-foto itu? Apa hilang?"


Dengan perasaan yang begitu panik Renata mondar-mandir sembari menggigit jari.


Memang benar, kalau kotak hadiah yang diberikan Sanaya berisikan foto-foto dirinya dengan seorang pria yang pernah ditemui saat itu. Renata sudah mengambilnya, tapi justru foto-foto itu hilang.


Jika terjatuh pasti di halaman depan rumah, gazebo, ruang tamu, dan kamarnya. Renata sudah mencari di tempat itu semua. Namun, nihil. Lalu Renata memikirkan kemungkinan ditemukan oleh seseorang.


Siapa yang menemukannya? Pelayan, Zayn, Rendra, Santy, wanita yang semalam memijatnya, atau... Jefra Tjong?

__ADS_1


"Tidak mungkin Jefra, bukan? Itu adalah kemungkinan terburuk jika dia yang menemukannya, dia pasti akan salah paham padaku."


Renata meraih ponsel yang tergeletak di atas meja rias, berniat mengunjungi Tuan J untuk bertanya apakah menemukan amplop cokelat yang berisikan foto-foto itu.


Kemudian Renata mulai men-dial nomor Tuan J. Menjadi merasa ragu ketika mendengar nada tunggu dari panggilan telepon yang dilakukannya, tapi Renata tidak sempat mengurungkan niatnya saat Tuan J sudah menerimanya. Bahkan Renata melupakan fakta jika pria itu begitu cepat menerima panggilannya, tidak seperti biasanya yang harus ditelepon beberapa kali dulu.


[ Hmm. ]


Hanya terdengar gumaman dari ujung sana.


"Tuan J."


[ Apa? ]


Kini Renata justru diam, tidak mengatakan apapun. Dia benar-benar ragu menanyakan itu.


[ Ada apa? Aku tidak memiliki waktu meladeninya orang bisu. Bicaralah atau aku matikan. ]


"Jangan dimatikan," cegah Renata.


Sekarang Tuan J yang diam, tapi tidak mematikan panggilan.


Renata menghela napas berat sejenak, "Aku hanya ingin bertanya. Apa kemarin kamu menemukan sesuatu? Sesuatu seperti amplop cokelat."


Tuan J tidak langsung menjawab, diam sejenak, "Ya."


Awalnya, Renata sendiri juga begitu terkejut saat melihat foto-foto itu, Renata tidak menyangka jika tubuh yang sekarang ditempatinya telah bercumbu dengan seorang pria. Renata memang tidak tahu kenyataan pastinya, karena tidak mengingat kejadian satu tahun yang lalu. Namun, semua orang juga akan berpikir negatif jika dilihat dari foto-foto itu.


[ Tenang saja, aku akan mengurusnya. ]


Sura berat di ujung sana menyadarkan Renata.


"Mengurus bagaimana?"


Sekarang Renata tidak tahu harus beraksi apa.


[ Kamu tidak usah memikirkan foto-foto itu. Pikirkan saja persiapan pernikahan kita. ]


Renata terkesiap mendengarnya. Tidak menyangka jika Jefra Tjong masih ingin melanjutkan pernikahan mereka meski sudah melihat foto-foto itu.


[ Aku tahu kalau kamu hanya dijebak. Aku akan mengurusnya supaya tidak menganggu pernikahan kita. ]


Apa sekarang Tuan J sedang mencoba membantunya?


Mata Renata memanas, dia tidak mampu menahan lelehan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.


[ Kamu menangis? ]

__ADS_1


Padahal Renata sudah menahan agar isak tangisnya tidak terdengar oleh pria itu.


"Tidak. Aku hanya tiba-tiba terserang pilek."


[ Oh. ]


"Seharusnya kamu tidak usah melakukan itu. Aku bisa mengatasinya sendiri."


[ Kamu ingat kesepakatan kita, bukan? Di situ tertulis jangan permalukan keluarga Tjong. Aku melakukan ini karena tidak ingin keluargaku menanggung malu jika foto-fotomu diketahui banyak orang. Terlebih jika pernikahan kita sampai batal. Itu akan semakin membuat malu keluargaku karena undangan pernikahan kita sudah tersebar. ]


Oh my, ini adalah kali pertama Renata mendengar seorang Jefra Tjong berkata sepanjang itu. Ya, meski tidak bisa dipungkiri hatinya sedikit tercubit setelah mendengar alasan pria itu membantunya.


Hanya tidak ingin keluarga Tjong malu.


Renata jadi menyesal sempat terharu!


"Ya, aku tidak berniat membuat keluargamu malu."


[ Bagus. ]


Panggilan telepon pun berakhir karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


Renata menghela napas berat. Apakah dia harus menurut untuk diam dalam masalah ini? Tapi pikirannya tidak bisa tenang. Padahal Renata ingin menyelesaikan masalah ini sendiri. Di otaknya sudah tersusun banyak rencana.


Kemudian tatapan Renata beralih pada keadaan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Sepertinya, membereskan kamarnya akan mengalihkan pikirannya sejenak.


Selanjutnya, Renata mulai membereskan kamarnya. Mengganti seprai dan selimut dengan yang baru, sarung bantal dan guling juga tidak lupa dia ganti, serta membenahi semua kekacauan yang telah diperbuatnya.


Knock... Knock...


Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Renata dari aktivitasnya. Lalu tanpa berpikir panjang Renata langsung membuka pintu setelah memutar kunci.


Terlihat seorang Pelayan dari balik daun pintu. Lalu tatapan Renata teralih pada seorang wanita berpostur semampai yang mengenakan jas putih.


"Ada apa?" tanya Renata mengeryit heran.


"Ada Dokter yang dikirim Tuan J untuk memeriksa Nona," ucap si Pelayan.


"Selamat siang, Nona. Saya diperintahkan Tuan J untuk memeriksa Nona yang sedang pilek," ucap si Dokter dengan senyuman ramah.


Renata speechless sekejap.


Apa ini? Jefra Tjong langsung mengirim Dokter ketika mendengar jika dirinya sedang pilek.


Padahal kan aku tidak pilek betulan.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2