Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Memata-matai Calon Istri


__ADS_3

Di sebuah cafe pada sore hari, yang cukup ramai dengan pengunjung.


"Tuan, kenapa bersembunyi?" tanya Arvin yang heran dengan Tuan-nya yang justru bersembunyi di sisi meja lain, dengan menutupi diri dengan buku menu yang cukup lebar. Bahkan Arvin disuruh ikut bersembunyi juga.


Oh, ayolah. Padahal Tuan J akan mengadakan pertemuan penting dengan klien, tapi kenapa justru memata-matai sang calon istri?


Arvin benar-benar tidak habis pikir! Ingin protes tapi takut gajinya dipotong lagi.


"Diam," sengit Tuan J dengan suara pelan.


"Kenapa tidak ikut bergabung saja, Tuan?" Arvin mencoba memberi saran.


"Ck, tidak sudi."


Hais, sungguh gengsi sekali Jefra Tjong ini.


Mata elang milik Tuan J memperhatikan Renata dan Alvaro yang duduk berhadap-hadapan, jarak meja keduanya hanya dibatasi empat meja dari tempat Tuan J dan Arvin berada. Alvaro duduk memunggunginya dan Renata ke arah sebaliknya. Padahal orang yang dia suruh untuk selalu mengawasi Renata mengatakan jika gadis itu pergi ke rumah sakit, tapi kenapa berujung pergi berdua dengan Alvaro?


Tuan J memang menyuruh orang untuk selalu mengawasi calon istinya itu.


"Apa Alvaro tidak ada kerjaan hari ini? Kenapa dia keluyuran pada jam kerja? Apa aku harus memberikannya sanksi?"


Tuan J menatap punggung Alvaro tajam. Sedangkan yang ditatap mengusap tengkuk lehernya seakan menyadari ada hawa yang tidak mengenakan di sekitarnya.


"Aku tidak tahu, Tuan. Bukan tugasku untuk mengetahui semua kegiatan Kepala Manager," jawab Arvin meyakini jika Tuan J sedang bertanya padanya.


Namun.


"Ck, aku tidak bertanya padamu."


Arvin tertawa kikuk. Hari ini Tuan-nya itu benar-benar sensitif.


"Maaf, Tuan-tuan. Apa kalian sudah menetapkan ingin memesan apa?" tanya seorang Pelayan yang menginterupsi.


Tuan J memberi isyarat pada Arvin untuk mengurus Pelayan itu. Sedangkan dia masih memantau meja di depan sana.


Di sisi lain.


"Setelah ini aku harap kamu berhenti menganggu aku," ujar Renata datar.

__ADS_1


Itulah alasan Renata menyanggupi permintaan Alvaro yang mengajaknya ke cafe. Pria itu berjanji untuk tidak mengganggunya lagi.


Alvaro tersenyum getir, jarak di antara dirinya dan Renata benar-benar sudah terbentang jauh. Alvaro sudah tidak bisa melihat binar cinta dari mata cokelat milik Renata.


"Ya, aku berjanji," ucap Alvaro dengan perasaan tidak rela.


Renata mengaduk-aduk Mango Smoothie miliknya. Menunggu apa yang ingin dibicarakan pria mata hijau itu.


"Aku sungguh tidak menyangka jika Sanaya adalah wanita yang begitu jahat. Jika saja aku tidak mempercayai Sanaya saat itu. Mungkin akan ada akhir berbeda di antara kita," ungkap Alvaro.


Akhir berbeda?


"Entahlah," ucap Renata.


Ya, Renata tidak yakin tentang hal itu.


Jika Renata tidak memasuki tubuh Angel mungkin memang akan ada akhir berbeda. Namun, jika Alvaro tidak percaya kata-kata Sanaya, Novel 'Suara Hati Sanaya' tidak mungkin pernah tercipta. Pada dasarnya, Alvaro juga sudah dipastikan akan hidup bahagia bersama Sanaya jika Renata tidak merubah alur novel. Akan tetapi, kejahatan Sanaya tidak akan pernah terbongkar dan Angel akan menjadi pihak yang jahat selama-lamanya.


Tindakan Renata untuk merubah alur novel sudah benar, bukan? Dia sudah berhasil memperbaiki citra Angel dan sudah membuat Sanaya menerima balasan apa yang telah diperbuatnya.


"Apa kamu tahu?" Alvaro menarik napas dalam-dalam, "Sedetikpun aku tidak bisa untuk tidak memikirkan kamu. Semakin aku tahu kebenaranya, semakin aku merasa menyesal. Aku merasa menjadi pria paling bodoh sedunia."


Ingin sekali Renata mengatakan hal yang sebenarnya pada Alvaro. Bahkan tanpa sadar matanya memanas, yang pasti hati terdalam milik Angel tidak tega melihat Alvaro yang tertunduk dengan segudang penyesalan itu.


Dengan gerakan ragu Alvaro memberanikan diri untuk menggenggam tangan Renata yang berasa di atas meja, menggenggamnya.


"Jangan menangis."


"Eh?"


Renata langsung menarik tangannya dan menghapus air mata yang tanpa disadari sudah menetes. Renata sungguh tidak menyukai perasaan Angel yang masih dapat dia rasakan ini.


"Jangan menangis, Renata," ucap Alvaro sekali lagi, "Aku yang salah di sini. Aku akan menyerah dengan perasaanku dan melepaskan kamu untuk menikah dengan J."


Terkadang, hal terbaik yang bisa dilakukan untuk seseorang yang dicintai adalah melepaskannya. Bebaskan dia. Doakan kebahagiaan untuknya. Alvaro akan berusaha melakukan itu.


Renata terhenyak dengan apa yang dikatakan Alvaro. Dapat dilihat bola mata hijau milik Alvaro memancarkan keseriusan. Bersama itu pula, tatapan Renata tertuju pada seseorang yang berada di belakang Alvaro.


Jefra?

__ADS_1


Seketika dahi Renata berkerut. Ya, itu Jefra Tjong. Meskipun pria itu mencoba bersembunyi di balik buku menu tetap saja Renata dapat mengenalinya, apalagi ada Arvin juga.


Apa calon suaminya itu sedang berusaha memata-matai dirinya?


Renata menggigit pipi bagian dalam, merasa gemas dengan yang dilakukan Tuan J.


Tunggu, bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang. Renata hampir saja melupakan Alvaro.


Lalu tatapan Renata kembali fokus pada Alvaro. Perkataan pria itu terdengar benar-benar serius. Sejatinya Alvaro memiliki perasaan cinta yang begitu tulus dan murni. Itu terbukti dari ketersediaannya menerima Sanaya meski tahu jika tidak bisa memilik anak, tidak heran karena dia adalah si tokoh utama pria.


"Terima kasih, Alvaro," ucap Renata dengan tulus. Setidaknya dia harus menghargai perasaan Alvaro.


Alvaro tersenyum meski terlihat hambar, "Tapi kamu belum mengatakan jika sudah memaafkan aku," ucapnya kemudian.


"Ya, aku memaafkan kamu. Tapi bukan karena aku terlalu baik tapi karena hati tidak seharusnya diisi dengan kebencian. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan benci dan dendam yang tidak pernah berujung," Renata berkata dengan senyum manis yang terukir di wajah cantiknya.


Renata tidak tahu jika hal itu dapat membuat jantung Alvaro berdetak tidak menentu.


"Lagi pula dua orang tidak bisa berteman jika mereka tidak bisa saling memaafkan satu sama lain," sambung Renata.


"Teman?" Alvaro bertanya seakan itu adalah kemustahilan, "Aku tidak yakin bisa berteman denganmu. Karena akan semakin sulit bagiku untuk melupakanmu jika kita berdua berteman."


"Aku tidak memaksamu, kok," Renata tertawa pelan.


Alvaro menghela napas berat, "Sepertinya aku harus pergi. Perasaanku akan bertambah besar jika terus bersamamu di sini."


Renata mengangguk, "Baiklah."


Kemudian Alvaro bangkit dan berlalu menuju pintu keluar cafe. Meninggalkan Renata yang masih terdiam di tempat sembari menyeruput Mango Smoothie miliknya.


Sett


Renata menatap seseorang yang tanpa permisi duduk di kursi tempat Alvaro duduk tadi.


"Sudah selesai selingkuhnya?" tanya Tuan J dengan datar.


"Uhuk!" seketika Renata tersedak minumannya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2