
Renata membulatkan mata ketika melihat Jefra Tjong, datang dengan napas ngos-ngosan dan wajah yang terlihat panik.
"Kamu... sudah pulang?"
Renata langsung meloncat dari posisi duduknya di atas ranjang. Wajah yang tadinya cemberut langsung berubah senang, ketika melihat sang suami yang pulang lebih awal.
"Kamu sakit?" tanya Tuan J memastikan keadaan sang istri.
Yang terjadi sebenarnya, Tuan J langsung secepat kilat pulang karena mendapatkan pesan dari istinya. Dia sangat khawatir dengan Renata yang mengatakan mual, pusing, dan lemas.
Renata berkedip beberapa kali, lalu mengangguk.
"Ayo kita ke rumah sakit," Tuan J berkata dengan hati yang terasa tidak tenang.
Mendengar ucapan sang suami yang terdengar khawatir, Renata berkedip beberapa kali lagi. Merasa tidak percaya jika Tuan J kembali memberikan perhatian padanya. Padahal tadi pagi, pria itu bersikap tidak bersahabat.
"Aku sudah baik-baik saja," jawab Renata, setelah meyakinkan jika orang yang di hadapannya itu benar-benar Jefra Tjong.
Tuan J terdiam di tempat, memperhatikan wajah Renata yang terlihat pucat. Namun, detik kemudian dia tiba-tiba mendekat.
Renata bingung, apalagi langkah sang suami terlihat begitu lebar untuk mendekatinya.
"Eh!"
Pekikan panik lolos dari bibir pualam Renata, karena Tuan J menarik pinggulnya dengan tiba-tiba dan menarik tubuh Renata ke dalam pelukannya.
"Setelah kamu membuatku gila, sekarang kamu membuatku khawatir, begitu?" tanya Tuan J, yang kini mendekap Renata dalam pelukannya.
Renata terdiam di tempat, membeku layaknya sebuah patung. Wajahnya menghadap dada Tuan J, bahkan kini bisa mendengar detak jantung suaminya yang berdegup dengan cepat.
"A-apa?" cicit Renata tidak paham dengan yang dikatakan Tuan J, bahkan dia sampai kesulitan untuk bicara.
"Jangan menyiksaku terus, Dear. Itu tidak baik untuk kesehatan jiwaku."
Mendengar itu, Renata langsung menarik keluar wajahnya dari dekapan Tuan J, lalu pandangan mereka bertemu. Menatap satu sama lain.
Seharian ini, Renata sudah memikirkan banyak cara untuk menyenangkan sang suami yang sedang ngambek. Mengingat jika emosi Tuan J memang tidak baik karena masalah psikologis, dia tidak boleh terlalu memprovokasi.
Namun, dia tidak menyangka, jika dirinya yang telah membuat sang suami tersiksa.
Memang Renata melakukan apa hingga menyiksa Tuan J? Renata benar-benar tidak tahu.
Sejujurnya, Tuan J masih merupakan teka-teki bagi Renata. Dia tidak pernah mengerti bagaimana sebenarnya jalan pikiran suaminya itu.
"Tidak semua orang berani mengungkapkan isi hatinya!" ucap Tuan J, berharap Renata mengerti.
Namun, bagi Renata itu adalah kalimat ambigu.
__ADS_1
Ketika Renata ingin membuka mulutnya untuk memperjelas apa yang di maksud Tuan J, tiba-tiba bibirnya tersumpal sesuatu yang empuk. Dan ketika dia menyadari apa yang terjadi, wanita itu terdiam.
Karena sekarang, Tuan J menutup bibir Renata menggunakan bibirnya sendiri. Tidak hanya menempelkan bibirnya tapi dia mengecap bibir bagian bawah Renata dengan lembut.
Renata sendiri tidak menolak, dia justru memejamkan mata dengan ke dua pipi yang merona.
Tangan Tuan J menarik pinggul Renata agar tubuh mereka semakin merapat. Dengan lembut ditelusurinya garis bibir Renata dengan lidahnya, lalu mendesak lebih dalam, menjelajahi dan merasakan. Semakin memperdalam ciuman itu hingga ke duanya hanyut.
Tuan J ingin menyalurkan segenap perasaannya lewat keintiman ini.
Keduanya mulai memiringkan kepala. Debaran yang sungguh menyenangkan telah menerpa mereka.
Tuan J melepas ciumannya, dan langsung memandang bola mata indah milik istrinya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Renata yang agak bengkak.
"Dengarkan aku," ucap Tuan J kemudian.
Seakan terhipnotis Renata hanya bisa mengangguk.
"Berpura-pura lah untukku, Renata."
"Boleh-boleh saja," ucap Renata agak ragu, "Kamu ingin aku bagaimana?"
Sejenak tidak ada jawaban. Kemudian, dengan nada yang sangat aneh, Tuan J berkata, "Berpura-pura lah bahwa kamu mencintaiku."
Renata terkejut dengan bola mata yang terbelalak lebar. Badannya langsung menegang.
Melihat reaksi Renata, Tuan J dengan kasar melepaskan pelukannya. Dia langsung berjalan ke arah kamar mandi.
Brak
Renata terlonjak ketika Tuan J menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Mendadak pulang dengan wajah yang panik, terlihat khawatir, memeluknya, menciumnya, berkata aneh, dan lebih parahnya menyuruhnya untuk berpura-pura mencintai suaminya itu.
Apa ini sebuah teka-teki silang?
Renata menarik napas kasar. Mencoba tabah, tapi dia menjadi geregetan sendiri. Dan inilah puncaknya, dia tidak bisa sabar lagi.
Dok... Dok...
"Kamu bajingan sialan, angkuh, sombong, menyebalkan!"
Renata memuntahkan unek-uneknya. Tanpa dapat menahan diri lagi, diketuknya pintu kamar mandi yang di dalamnya ada Tuan J dengan kencang. Entah sedang apa suaminya itu, Renata tidak perduli.
Dia sedang kesal sekarang! Ingin memarahi Tuan J dengan segala tingkah absurd miliknya hari ini!
"Sebenarnya kamu ini kenapa, sih? Bilang saja terus terang... Jangan membuatku bingung dengan menduga-duga sendiri!"
__ADS_1
Tangis Renata meledak. Dia menjatuhkan diri ke lantai, di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup, menangis tersedu-sedu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Entah kenapa Renata menjadi sangat sensitif. Atau dia memang benar sedang hamil? Dulu ketika dia hamil, juga menjadi mudah menangis seperti ini.
Cklek
Pada akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Tuan J yang hanya memakai selembar handuk yang melilit di pinggulnya.
Dia yang baru saja melepas pakaian karena ingin mandi. Karena berharap dengan membasahi seluruh tubuh, dia bisa membangkitkan keberanian dalam mengungkapkan perasaannya.
Namun, dia justru dikejutkan dengan teriakan kemarahan Renata, dan suara tangisan istrinya itu.
"Maaf," suara berat Tuan J terdengar dari ambang pintu.
"Kamu menyebalkan!"
"Kelihatannya aku selalu saja membuatmu kesal..."
"Jadi, kenapa kamu melakukannya?" Renata terisak keras.
"Kamu tahu sebabnya."
"Tidak, aku tidak tahu."
"Karena kita selalu melukai orang yang kita cintai," jawab Tuan J dengan getir.
Renata tersentak. Dia bangkit duduk dan dengan mata sembap menatap Tuan J.
"Kamu ini bicara apa?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Entah kenapa aku selalu teringat olehmu, sejak aku pertama kali bertemu denganmu," Tuan J tersenyum aneh, "Coba kamu pikir, bagaimana perasaan seorang pria yang bertemu dengan orang yang memakinya karena tidak sengaja menginjak ponsel, dan langsung menyadari bahwa dia menginginkan wanita itu?"
"A-apa?"
"Oh, aku mencoba melawan perasaan itu karena mengetahui jika wanita itu adalah seorang pelakor. Dan aku berhasil... selama kurang lebih beberapa hari. Kemudian aku mencium kamu, tidak maksudku memberikan napas buatan."
Rona merah menjalari pipi Renata yang pucat, ketika dia teringat ciuman pertama dengan Jefra Tjong ketika dia mengalami reaksi alergi. Lebih parahnya dia sampai pingsan karena saking terkejutnya.
"Aku begitu khawatir saat kamu tidak berdaya di rumah sakit. Itu kali kedua aku sangat mengkhawatirkan seseorang setelah Ibuku sakit."
Penderitaan yang terbayang di wajah Tuan J sungguh sulit digambarkan. Dia pasti sedih ketika mengingat Ibunya.
"Aku terus menyangkal perasanku, dan berusaha meyakinkan diri jika aku membencimu. Tapi, kamu justru datang menawarkan perjanjian pernikahan yang justru membuatku kesulitan."
"Yang membuatku kecewa dan bersikap menyebalkan, karena aku sudah mengerti bahwa daya tarik fisik di antara kita yang begitu menghanyutkan, kebersamaan kita selama menjadi sepasang suami istri yang begitu mesra, meskipun sangat membahagiakan. Namun, ternyata tidak ada hubungannya dengan cinta. Setidaknya, tidak dari pihakmu."
Renata terpana. Diam-diam dicubitnya tangannya, khawatir semua ini hanya mimpi.
__ADS_1
_To Be Continued_