Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Gagal Total


__ADS_3

Jefra mendapatkan kabar dari bawahannya yang ditugaskan untuk menjaga Renata, jika sang istri telah diganggu Alex Rudiart. Dia bergegas keluar dari restauran di mana tempat pertemuannya dengan klien.


"Semua perhitungan sudah selesai, bukan?" tanya Jefra pada Arvin yang mengikuti langkah lebarnya dari belakang.


"Sudah, Tuan J. Aku akan segera membuat laporannya. Return Of Investment bisa terjadi dalam kurun waktu enam tahun," jawab Arvin.


"Meskipun visibility-nya bagus, kita harus tetap hati-hati," Jefra mewanti-wanti.


"Baik, Tuan."


"Jika mereka menipuku, biar aku yang mengantar mereka ke neraka," desis Jefra dengan senyum dingin.


Arvin hanya mengangguk. Bisnis dalam bentuk kerjasama ini sangat membutuhkan kewaspadaan, banyak kecurangan dan pengkhianatan yang membuat kerugian besar. Bersikap kejam memang perlu untuk mengatasinya.


"Kalau begitu ayo segera pulang ke kediaman keluarga Tjong," titah Jefra, tepat ketika kakinya mencapai pintu keluar.


Bruk


"Aduh!"


Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menabrak Jefra. Dia hanya bergeming namun si wanita terjatuh hingga terduduk di lantai.


Alis tebal Jefra mengeryit tatkala merasa familiar dengan wanita yang menabraknya. Dia adalah Salvina, sekretaris Alvaro yang telah dipecat.


"Tu-Tuan J?" kedua mata Salvina terbelalak, seakan tidak menyangka jika menabrak Jefra Tjong. Lalu bangkit dengan susah payah, kedua lututnya terlihat lecet dan mengeluarkan darah.


"Nona, kamu tidak apa-apa?" tanya Arvin seraya membantu Salvina berdiri, mewakili Jefra.


"Ah, terima kasih, Asisten Arvin. Aku tidak apa-apa," jawab Salvina. Wajahnya masam, menyayangkan bukan Jefra Tjong yang membantunya.


Sejak Salvina berniat merebut Jefra dari Renata, sudah banyak cara yang dilakukannya untuk bisa bertemu dengan pria itu dan menggodanya. Akan tetapi, bertemu dengan seorang Jefra Tjong bukanlah hal yang mudah.


Awalnya Salvina hanya ingin makan bersama temannya di restauran ini. Tapi siapa yang menyangka, jika dia justru melihat Tuan J yang sedang bertemu dengan klien. Dia merasa sangat beruntung.


Yang pastinya, Salvina tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dia begitu percaya diri jika Tuan J akan meliriknya, karena sudah merasa jika dandannya sangat cantik. Bahkan, sengaja mengatur insiden menabrak pria itu.


Salvina melirik Jefra malu-malu, tapi pria itu tidak menatapnya sama sekali.


Jefra justru kembali melangkah. Membiarkan Arvin yang mengurus Salvina. Yang dia pikirkan saat ini memang ingin cepat pulang, ingin melihat keadaan sang istri secara langsung.

__ADS_1


"Akh!"


Salvina menjatuhkan dirinya dengan sengaja, tepat ke arah Jefra yang melintas di sampingnya. Dia memegang lengan Jefra.


"Lepas!"


Jefra langsung menepis kasar tangan Salvina. Wajahnya merah karena marah.


"Ma-maaf," Salvina menunduk takut.


Tanpa memperdulikan kata maaf dari wanita itu, Jefra kembali melanjutkan langkahnya.


"Ada baiknya Nona Salvina tidak sembarang menyentuh Tuan J, dia alergi terhadap wanita kecuali istrinya," saran Arvin tersenyum penuh arti.


Kedua tangan Salvina mengepal, dia merasa jika Arvin sedang memperingatinya untuk tidak mencoba mendekati Jefra Tjong secara halus.


Tentu saja Slavina tidak akan menyerah begitu saja. Jika Tuan J tidak suka disentuh, maka dia akan membuat pria itu menyentuhnya.


Salvina benar-benar yakin bisa membuat Jefra Tjong berpaling kepadanya.


Tiba-tiba seorang pria setengah tua menghampiri Arvin. Dia adalah klien Tuan J yang datang dari luar negri.


"Apa Tuan J sudah pergi?"


"Aku hanya ingin mengingatkan Tuan J untuk tidak lupa dengan pesta besok malam. Dia harus datang bersama istrinya untuk merayakan kerjasama ini," ucap lelaki itu.


"Ya, Tuan Lesham. Aku akan sampaikan pada Tuan J."


Kemudian Tuan Lesham dan dua orang yang mengikutinya dari belakang berlalu.


Arvin kembali menatap Slavina, wanita itu masih saja berada di situ.


"Nona Salvina sudah baik-baik saja, bukan? Kalau begitu aku permisi dulu."


Salvina menatap sebal Arvin yang menjauh. Rencananya kali ini gagal total. Ternyata mendekati Jefra Tjong lebih sulit daripada Alvaro.


"Jefra Tjong dan si jal*ng itu akan datang ke pesta?" gumam Salvina tiba-tiba.


Bagaimanapun caranya, dia harus bisa hadir di pesta itu.

__ADS_1


**


Renata mendengar langkah kaki dari depan pintu, dengan senyum bahagia dia menyambut kepulangan Jefra.


"Sayang!" sapa Renata dengan riang.


Jefra meletakkan telapak tangannya di pipi Renata dan mengusapnya dengan lembut. Berbeda dengan sang istri, ekspresi Jefra terlihat khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jefra setelah membuang napas berat.


"Aku baik-baik saja, kok."


"Harusnya aku memang tidak mengizinkanmu datang ke acara reuni sialan itu," sesal Jefra.


"Ini bukan salahmu. Aku yang memaksa datang. Lagi pula aku cukup senang karena bisa bertemu teman-teman sekolah Angel. Ternyata aku tidak dibenci mereka."


"Tapi Alex──"


"Aku sungguh baik-baik saja."


Renata menghentikan perkataan Jefra karena tidak ingin mengungkit Alex. Pria gila itu memang tidak penting untuk dibicarakan.


"Lain kali kamu tidak boleh pergi jika tidak bersamaku," ujar Jefra dengan penuh keposesifan. Dia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri tercinta.


"Apa sekarang aku menjadi tawanan Tuan J?" seloroh Renata, matanya mengedip manja.


"Ya, apa kamu keberatan?"


"Tentu saja tidak," jawab Renata tersenyum. Tahu jika sikap proses sang suami adalah bentuk dari kekhawatiran.


Bibir Jefra dan Renata bersentuhan. Perlahan, lembut, intim sekali. Tidak ada nafsu, tetapi dengan kasih sayang dan cinta. Tidak ingin saling kehilangan.


Renata beralih mencium pipi Jefra.


"Jef, selamat datang."


Jefra menumpukan keningnya pada kening Renata, menatap penuh damba manik cokelat bening.


"Aku pulang," jawab Jefra dengan perlahan.

__ADS_1


Bagi Renata, itu adalah kalimat terindah yang dia dengar. Jefra-nya telah pulang dengan selamat.


_To Be Continued_


__ADS_2