Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Obat Bagi Tuan J


__ADS_3

Di perjalanan, terlihat Sienna yang sedang meluapkan segala kemarahannya. Bahkan dia tidak acuh dengan keberadaan Theo yang duduk di sampingnya.


"Kurang ajar! Bisa-bisanya J mengusir kita!"


Alvaro yang sedang menyetir mobil hanya diam, seraya menahan rasa perih pada wajahnya yang babak belur.


"Dasar anak sialan! Brengsek!" maki Sienna.


Kemudian tatapannya beralih pada Theo yang masih saja berekspresi kaku.


"Lihatlah anakmu itu! Bisa-bisanya dia mengusirku yang sudah merawat kamu, bahkan kamu juga diusirnya, sekarang aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, Theo!"


Theo hanya diam.


"Argh!" teriak Sienna histeris.


"Sudahlah, Ibu. Ini juga salah Ibu yang telah menganggu pernikahan J dan Renata."


Pada akhirnya, Alvaro sadar jika Ibunya lah yang salah. Sang Ibu yang telah menyulut api dengan bensin duluan.


"Kenapa kamu justru menyalahkan Ibu, Alvaro! Ibu melakukan ini demi kamu. Ibu hanya ingin merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu!" sentak Sienna.


Alvaro menarik napas dalam satu tarikan panjang, lalu membuangnya dengan berat, "Aku tidak meminta Ibu untuk melakukan itu. Sudah kubilang, aku sudah menyerah akan perasaanku pada Renata."


"Jangan menjadi pengecut seperti itu! Ibu tidak mau jika J selalu mengambil apapun yang seharusnya kamu miliki!" bentak Sienna, terlihat sangat marah dengan keputusan hati Alvaro, "Hanya ingin menjadi lebih bahagia, tidak salah jika kamu bersikap serakah!


"Kembali pada realita. Mau itu menjadi pewaris keluarga Tjong atau memiliki Renata, aku sudah tidak mempunyai kesempatan. Lebih baik aku menyerah, sebelum terpuruk karena mendapatkan rasa kecewa."


Sebenarnya, apa yang dikatakannya Alvaro adalah sesuatu yang benar. Namun, Sienna justru mengganggap jika putranya sangat tidak bisa diandalkan.


Sienna menunduk, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut, hari ini dia terlalu emosi dan banyak marah-marah. Sepertinya tekanan darahnya naik.


Sienna bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Ingin membalas dendam pada Jefra Tjong, tapi dia tidak berani. Dia takut ditembak mati.


Namun, Sienna juga tidak mau jika harus hidup pas-pasan. Gaji Alvaro sebagai Kepala Manager, pasti tidak cukup untuk memenuhi kehidupan sosialitanya.


Kemudian Sienna melirik Theo dari ekor matanya.


Kenapa juga aku harus membawa pria stroke tidak berguna ini? Menyusahkan saja. Aku tidak sudi merawatnya lagi, karena sudah tidak ada untungnya bagiku, batin Sienna.


"Sial! Kenapa hidupku jadi berakhir seperti ini, sih?" teriak Sienna histeris.


**

__ADS_1


Tuan J menyusupkan wajahnya di perpotongan leher Renata, menghirup nuansa lembut dan feminim yang membelai penciumannya. Perasaan yang awalnya kacau kini seketika tenang, dia merasa kenyamanan menghujam hatinya.


Renata benar-benar obat bagi Tuan J.


"Dear, kamu wangi sekali," Tuan J menggosokkan batang hidungnya pada helaian anak rambut.


Namu, telinga Tuan J mendapati isak lirih Renata. Segeralah dia beringsut menjauh dan mendapatkan wajah cantik Renata, yang dipenuhi air mata.


"Kenapa menangis?" tanya Tuan J dengan tatapan teduh. Sungguh dia tidak suka melihat air mata menetes dari sana.


Renata mengerucutkan bibir, diusapnya air mata di wajahnya dengan kasar dan mendengus, "Aku menangis karena kamu!"


"Karena aku?" beo Tuan J bingung.


Apa Renata takut karena tadi dia hampir menembak Alvaro? Apa istrinya itu marah, sampai-sampai berakhir menangis?


Karena pemikirannya sendiri, hati Tuan J mendadak meradang. Tatapan teduhnya berubah menjadi dingin.


Kemudian Tuan J beringsut untuk duduk di sisi sofa, mencipta jarak di antara dirinya dengan Renata.


Kini, keduanya sedang berada di ruang tamu. Tadi mereka habis mengobrol sejenak dengan Kakek Ashton, yang sudah kembali ke kamar lima menit yang lalu.


"Kok menjauh?" Renata makin cemberut dibuatnya.


"Menyebalkan, istinya sedang menangis malah cuek seperti itu!"


"Aku tidak perduli."


"Padahal aku menangis karena kamu jadi begini!" Renata meraih wajah Tuan J supaya menengok padanya, "Lukamu banyak sekali! Ya ampun, Sayang! Ini pasti sakit banget, kita ke rumah sakit, ya. Kalau di kompres saja pasti tidak mempan."


Ya, itulah alasan sebenarnya Renata menangis, karena wajah tampan sang suami babak belur. Dia bahkan tidak memikirkan Alvaro sama sekali.


Perasaan Tuan J terenyuh. Ditatapnya lekat mata dengan manik cokelat indah itu. Ternyata pemikirannya salah, sang istri justru khawatir padanya.


Saat ini, Tuan J mencoba menahan untuk tidak tersenyum senang. Lalu dia menggeleng, "Aku tidak apa-apa, dua atau tiga hari bengkaknya juga akan hilang."


"Tidak apa-apa, apanya? Wajahmu sampai berwarna biru dan ungu seperti ini. Dan bengkak sana sini!"


"Cerewet! Kenapa tidak kamu saja yang obati?"


Renata menarik napa berat, padahal akan lebih efektif jika ke rumah sakit. Tapi sang suami justru meminta dirinya yang mengobati.


"Yasudah, ayo!"

__ADS_1


Kemudian Renata menarik tangan Tuan J, membawa sang suami menuju kamar mereka.


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di dalam kamar. Renata mendorong tubuh tegap Tuan J untuk duduk di tepi ranjang.


"Tunggu."


"Hmm."


Setelah mendapat gumaman favorit yang sering diucapkan sang suami, Renata langsung berlalu.


Memakan waktu sepuluh menit bagi Renata untuk kembali. Dia membawa mangkuk stainless dan handuk kecil berwarna putih, serta kotak obat di tangan satunya.


Tuan J segera meletakan ponselnya di meja, lalu duduk bersila di atas ranjang.


Renata ikut bergabung duduk di tepi ranjang, "Sini mukanya."


Tangan Renata mulai memasukan beberapa es batu ke dalam handuk, lalu menarik dagu Tuan J. Menekan-nekan pelan handuk basah itu, di sudut mata sang suami yang bengkak dan memar.


Tuan J tidak meringis ataupun merintih. Sudah diduga, pria itu memang sudah mati rasa.


Dia justru menikmati wajah cantik Renata yang sedang merawat luka-lukanya. Fokusnya benar-benar teralihkan dengan wajah menawan istrinya itu. Tangannya mendadak terasa gatal, karena ingin membelai wajah mulus seputih keju itu.


Di mata Taun J, Renata semakin cantik dengan mengenakan kemeja berwarna putih dan rok midi yang panjangnya di atas selutut.


Kesederhanaan yang terlihat mempesona.


"Cantik," puji Tuan J tanpa sadar.


Renata menghentikan gerakan tangannya, "Eh? Kamu memujiku cantik?"


"Hmm," Tuan J berdeham sesaat, "Ya," akunya.


Pipi Renata tidak kuasa menahan semburat merah yang menjalar hingga telinga. Bibirnya mengembang membentuk senyum malu-malu.


Astaga! Padahal itu hanya sebuah pujian yang sangat klise. Pujian yang sering kali dipakai lelaki hidung belang di luar sana untuk menggoda para wanita. Tapi reaksi tubuh Renata sungguh berlebihan.


"Dear, kamu tambah cantik kalau pipimu merah begini," bisik Tuan J yang mulai melancarkan aksinya.


"Ternyata kamu pandai menggombal juga, ya," ucap Renata mencoba mengalihkan gemuruh jantungnya yang menggila.


Tangan Tuan J bergerak untuk menyelipkan helaian rambut di belakang telinga Renata.


"Badanku juga perlu kamu kompres."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2