Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Manipulasi Alvaro


__ADS_3

Alvaro menatap seorang gadis yang sedang terbaring di brankar rumah sakit, dengan wajah pucat dan selang infus yang tertancap di punggung tangan.


"Bisa-bisanya dia kabur dari rumah dan berakhir menyedihkan seperti ini," gumam Alvaro namun tidak menunjukan ekspresi apapun.


Wanita yang terlihat menyedihkan itu adalah Daisy Liana. Alvaro berhasil menemukan Adik kesayangan Alex itu setelah melakukan pencarian beberapa hari terakhir.


Selama pelariannya, Daisy hidup di jalanan tanpa makan dan minum. Itulah mengapa dia berada di rumah sakit saat ini. Sepertinya, dia tidak membawa uang sama sekali, hanya membawa cek kosong yang dia berikan pada Alvaro.


Wanita nekat, yang benar-benar bodoh.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu sedang mengandung. Usia kandungannya baru hitungan hari. Sudah dipastikan jika anak itu adalah milik Alvaro.


Bukankah ini keberuntungan bagi Alvaro?


Namun, tetap tidak menyangka saja jika Daisy benar-benar hamil. Padahal Alvaro hanya berniat menggunakan wanita itu saja.


Alvaro memang sudah banyak mencari tahu tentang Daisy, dari layar belakang hingga hal lainnya. Itu yang membuat Alvaro begitu lancar saat berbohong pada Alex.


Yang Alvaro ketahui, Daisy adalah wanita berumur dua puluh tiga tahun yang kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan. Adik kesayangan dari Alex Rudiart yang sangat dijaga seperti burung dengan kandang emas.


Kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik terbuka dengan perlahan, menampakan manik hitam cemerlang. Daisy baru bangun setelah tidak sadarkan diri sejak semalam.


Daisy berkedip beberapa kali, tatapannya terlihat bingung saat menatap ruang serba putih tempat dia berada saat ini. Lalu matanya bertemu dengan mata hijau milik Alvaro.


"P-paman?" lirih Daisy.


Detik itu juga, Daisy teringat jika pria itulah yang telah menolongnya semalam, ketika dia diganggu beberapa preman berpostur menyeramkan.


Kenyataannya, preman-preman itu adalah suruhan dari Alvaro.


"Kamu sudah sadar?" tanya Alvaro tersenyum kecil, mengusap pucuk kepala Daisy lembut.


Sebisa mungkin ingin meninggalkan kesan baik pada Daisy. Berharap bisa membuat wanita itu menyukainya. Dengan begitu, semua rencana Alvaro akan berjalan lancar.


Kedua pipi Daisy yang awalnya pucat berubah warna menjadi merah. Dia yang memang sudah menaruh perasaan pada Alvaro sejak awal pertemuan, tentu saja merasa senang karena sikap lembut yang dia terima.


Jika ditanya kenapa Daisy bisa menyukai pria itu, karena Alvaro begitu keren saat membentaknya kala itu. Padahal tidak ada yang berani membentak Daisy sebelumnya. Cinta pada pandangan pertama, bisa dibilang seperti itu.


Dan kini, Daisy menganggap Alvaro pahlawan karena telah menolongnya.


Namun malangnya, wanita polos itu tidak tahu jika itu hanya manipulasi Alvaro saja.


Daisy mencoba bangkit untuk duduk di atas brankar, dan Alvaro sigap membantunya.


"Aku di mana, Paman?" tanya Daisy seraya memegang kepalanya yang terasa sedikit berputar.


"Rumah sakit," jawab Alvaro lugas.


"Terima kasih, Paman. Karena sudah menolongku. Tapi, aku sedang tidak mempunyai uang untuk membayarnya," ucap Daisy dengan ekspresi sayu.

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkan uangmu."


"Eh?"


Alvaro menatap lekat Daisy, yang membuat wanita itu salah tingkah. Lalu tersenyum kecil.


"Dan juga ini, aku kembalikan cek kosongmu," ucap Alvaro sambil menyerahkan cek kosong yang pernah Daisy tinggalkan untuknya.


"Tapi kenapa?" Daisy menunduk untuk menatap cek kosong yang dikembalikan Alvaro. Merasa bingung. Setahunya, tidak ada orang yang akan menolak uang, apalagi uang yang sangat banyak.


Alvaro meraih pipi Daisy, dan ibu jarinya mengelus pipi seputih tahu itu lembut.


"Karena aku hanya menginginkan dirimu dan anak kita," bisik Alvaro.


Seketika itu juga, debaran jantung Daisy tidak menentu.


"A-anak kita?" gugup Daisy.


"Ya, sekarang kamu sedang mengandung."


"Oh, astaga!" pekik Daisy tertahan.


Apakah keinginannya sudah terkabul?


Sebenarnya, Daisy memang mengharapkan dirinya hamil setelah berhubungan dengan Alvaro. Dengan begitu, sang Kakak pasti tidak akan memaksa untuk menikah dan dia tidak perlu kabur lagi.


Daisy benar-benar tidak mengharapkan pertanggung jawaban dari Alvaro. Karena menurutnya, dialah yang memanfaatkan hubungan cinta semalam itu untuk membatalkan perjodohan. Namun, pria itu justru mengatakan menginginkan dirinya.


Terlebih perkataan Alvaro yang membuat Daisy tidak bisa berkata-kata lagi.


"Menikahlah denganku, Daisy."


**


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari namun Jefra belum juga tidur. Banyak hal yang membebani pikirannya.


Terutama tentang Alex...


Dan Alvaro.


Sudah dipastikan jika kedua pria itu sedang melakukan konspirasi untuk menyerangnya.


"Kok belum tidur?" tanya Renata yang berbaring menghadap suaminya. Dia yang terbangun karena desakan buang air kecil agak terkejut saat melihat Jefra yang masih membuka mata.


Jefra yang awalnya menatap langit-langit kamar, beralih pada wajah sayu Renata yang habis bangun tidur.


"Apa kamu ingin buang air kecil?" bukannya menjawab, Jefra justru melontarkan pertanyaan. Paham jika Renata menjadi sering buang air kecil semenjak hamil.


"Ya," jawab Renata dengan mata yang setengah tertutup. Terlihat sekali jika dia masih ngantuk.

__ADS_1


"Mau ditemani?" Jefra menawarkan jasa.


"Memangnya aku anak kecil," Renata merengut.


Meski sang istri menolak untuk ditemani, Jefra tetap saja mengekor di belakang Renata yang beranjak ke kamar mandi. Dan menunggu di luar pintu. Takut istri tercintanya kenapa-kenapa, padahal jarak kamar mandi cuman hitungan langkah saja.


Tidak lama kemudian Renata selesai dari ritual buang air kecilnya.


"Ayo tidur lagi," ujar Jefra seraya menarik lembut tangan Renata untuk kembali ke tempat tidur.


Namun sepertinya, rasa kantuk Renata sudah hilang. Dia tidak segera memejamkan mata ketika Jefra menyelimuti tubuhnya.


"Aku tidak ingin tidur lagi," ucap Renata pada Jefra yang terbaring di sebelahnya, dipeluknya suaminya itu.


"Tidurlah, ini masih malam," bisik Jefra mengusap kepala Renata dengan sayang.


"Ini sudah pagi."


"Belum pagi."


"Sudah."


Jefra menghela napas pelan, "Hmm, sudah pagi."


Renata tertawa menang, lalu semakin meringsek ke pelukan suaminya. Benar-benar hangat.


"Dear."


"Ya?"


"Tentang alur novel yang telah kamu baca, apa ada tokoh yang bernama Alex Rudiart?"


Renata terdiam sejenak. Kembali mengingat alur novel yang dibuat Elmeyra.


"Tidak," jawab Renata kemudian.


Ya, di novel tidak tertulis jika ada seseorang yang bernama Alex Rudiart. Tapi kenapa Alvaro bisa bersama dengan Alex?


Yang Renata ketahui, Alvaro akan menikah dengan seorang wanita yang bernama Daisy dan akan mendapatkan dukungan secara finansial untuk balas dendam.


"Tunggu," ucap Renata ketika mengingat sesuatu, "Jangan-jangan Alex adalah Kakak laki-laki Daisy."


"Kakak laki-laki Daisy?"


"Ya, Daisy memiliki seorang Kakak laki-laki. Tapi tidak tertulis dengan detail, namanya juga tidak disebutkan," jawab Renata.


"Kenapa seperti itu?"


"Karena saat itu aku meminta Elmeyra untuk cepat menyelesaikan novelnya, dia jadi tidak terlalu menjelaskan tokoh pendukung lainnya. Tapi, kamu tenang saja, Kakak laki-laki Daisy tidak akan berbuat sesuatu yang buruk," jelas Renata.

__ADS_1


"Apa benar seperti itu?" gumam Jefra.


_To Be Continued_


__ADS_2