
"Sial!"
Jefra Tjong tidak berpikir panjang lagi, dia berlari menuju rumah yang terbakar. Arvin mengikutinya.
"Arvin kamu lewat sisi belakang! Cari Renata dan Kakek!" perintah Tuan J.
Kobaran api semakin menyala, menjilat, dan membakar segala sesuatu. Seketika napas Tuan J menjadi sesak, mata dirasa panas, tetapi masih mencari sosok Renata di dalam kobaran merah itu. Bunyi barang terbakar dan berjatuhan tidak diacuhkan.
Sialan! Bagaimana bisa sampai begini? Kamu di mana, Renata?
Hati Tuan J merasa takut. Takut melihat sosok wanita tercinta tidak bernyawa karena terbakar.
"Renata!"
Tuan J berteriak terus-menerus. Melangkah dengan cepat menembus kobaran hawa panas, api di mana-mana dia injak, seakan tidak ada halangan untuk kakinya melangkah. Api di sekitarnya semakin tinggi dan panas.
Tujuannya sekarang adalah lantai tiga, di mana kamarnya berada.
Namun.
Tiba-tiba kepala Tuan J pusing, seperti berputar-putar. Bayangan jika dia pernah berada di situasi yang sama, dengan dikelilingi kobaran api terlintas.
"Ugh!" rintih Tuan J memegangi kepalanya.
Kenapa di saat seperti ini sakit kepalanya kambuh?
"Tuan! Tuan Besar J! Tuan baik-baik saja?" teriakan Bodyguard menyadarkan Tuan J.
Mencoba mengabaikan rasa sakit di kepalanya, Tuan J menoleh. Dia bisa melihat ada tiga Bodyguard yang berada di dekat jendela ruang tamu samping. Salah satu dari mereka tengah menggendong Kakek Aston yang tidak sadarkan diri.
"Kakek!" teriak Tuan J dari tempatnya.
Dia ingin menghampiri, tetapi dua balok kayu ambruk dan menimbulkan bara api, hawa panas langsung menyengat. Tuan J tidak bisa mendekat untuk melihat keadaan Kakek Ashton, langkahnya terhalang oleh dua balok kayu itu.
"Tuan Besar Ashton hanya pingsan! Kami akan segera membawanya keluar!" seru Bodyguard yang menggendong Kakek Ashton.
Tuan J mengangguk, "Kalau begitu kalian cepatlah keluar dari sini!"
"Tapi bagaimana dengan Tuan?"
"Aku baik-baik saja! Bawa keluar Kakek, aku akan tinggal untuk mencari istriku!"
Mendengar itu ketiga Bodyguard langsung mengangguk. Mereka mencoba melangkah keluar dengan melindungi Kakek Ashton dari puing-puing bangunan yang berjatuhan.
Duarrr
Ledakan besar datang dari lantai dua. Sepertinya pipa gas baru saja meledak. Keadaan orang-orang yang masih berada di dalam rumah semakin terancam.
Suara sirene pemadam kebakaran dan polisi mulai berdatangan. Kakek Ashton yang sudah berhasil keluar langsung diperiksa oleh petugas dan diberi masker oksigen. Pria tua itu terlalu banyak menghirup asap hingga tidak sadarkan diri.
Kamar Kakek Aston sangat dekat dengan sumber api yang menyulut kebakaran. Itulah mengapa begitu sulit menyelamatkannya.
"Di mana Tuan Besar J dan Nyonya Besar?" tanya Sir. Matthew pada tiga Bodyguard yang membawa Kakek Ashton keluar.
__ADS_1
"Tuan masih mencoba menyelamatkan Nyonya," jawab salah satu Bodyguard.
Sesaat kemudian, terdengar pecahan kaca dari jendela lantai satu. Sebuah kursi terlempar dari sana. Dua orang Bodyguard melompat keluar dengan membawa seorang wanita.
"Kami tidak menemukan Nyonya di kamar, hanya wanita ini yang ditemukan," ucap salah satu Bodyguard yang baru keluar itu.
Para Bodyguard yang ingin mengeluarkan Renata dari dalam kamar justru hanya menemukan Sanaya, yang tergeletak dengan setengah tubuh terbakar.
Keadaan kamar juga hampir seluruhnya terbakar, entah di mana Renata berada. Yang pastinya masih berada di dalam rumah, keadaan rumah yang sangat luas membuat mereka kesusahan menemukan sang Nyonya.
"Bodoh! Kenapa kalian justru menyelamatkan penyusup ini!" teriak Sir. Matthew tidak habis pikir.
Tubuh tidak berdaya Sanaya ditaruh di tandu. Namun, wanita itu sudah tidak bernapas. Sanaya tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Arvin berhasil keluar dengan menyeret salah satu pelayan yang tewas. Dia juga tidak berhasil menemukan Renata.
Para petugas pemadam kebakaran terlihat kesulitan saat mencoba memadamkan api. Sir. Matthew meminta pada mereka untuk menolong Tuan J dan Renata yang masih terjebak di dalam sana.
Namun, api semakin menggila, melahap setiap sisi bangunan berlantai tiga itu. Masuk ke dalam seperti hendak menyapa malaikat maut.
**
Di tempat lain, tidak jauh dari kediaman keluarga Tjong yang kebakaran.
Terlihat Sienna yang menyeringai senang. Menatap kobaran api dengan asap hitam yang semakin lama semakin hebat, serta satu persatu bagian rumah runtuh.
"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan korek api."
Setelah mengatakan itu, Sienna berbalik pergi.
"Bukankah ini pembalasan yang setimpal dari keangkuhan seorang Jefra Tjong?" gumam Sienna masih tersenyum iblis.
**
Sementara itu, Tuan J belum juga menemukan Renata. Terlebih dengan akses menuju kamar juga terhalang api sepenuhnya.
Hawa panas dan asap yang sangat menyesakkan dia abaikan. Reruntuhan barang-barang membuat sekeliling menjadi bising.
Brak
Sebuah balok kayu jatuh persis di hadapan Tuan J. Api yang ditimbulkan langsung menyambar kakinya. Dia langsung menggunakan kaki sebelahnya untuk memadamkan api. Beruntung gerakannya selalu sigap dan terkontrol. Walaupun kepalanya masih terasa sakit.
Tiba-tiba rasa sakit semakin terasa memecahkan kepala. Itu membuat Tuan J terganggu.
Juan J memukul-mukul kepalanya berharap jika sakit itu hilang. Tapi, sakit di kepala justru semakin bertambah parah.
Potongan-potongan ingatan masa lalu tiba-tiba berdatangan.
"Letnan, sebaiknya kita segera pergi dari sini! Api mulai menyebar!"
"Ya, ayo kita pergi, istriku sedang menungguku di rumah."
Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
"Letnan Jefra!"
"Apa yang harus aku katakan pada istriku?"
"Letnan! Bertahanlah, bantuan akan segera datang!"
"Tolong sampaikan permintaan maaf padanya. Berikan dia tulip putih dan surat-surat yang aku tulis selama ini."
Pandangan Tuan J mulai kabur. Tetapi dia masih berusaha bertahan. Dia harus menyelamatkan Renata.
Ya, Renata...
"Re-Renata Carissa?" tubuh Tuan J gemetar detik itu juga, air matanya mengalir begitu saja.
"Renata..."
"Renata."
"Renata."
Tuan J mulai bergumam tidak menentu, seperti orang linglung.
**
Di sisi lain, Renata sudah merasakan sesak napas, wajah dan seluruh tubuhnya benar-benar panas.
Dia berlari menerobos api-api kecil di atas lantai. Sebuah balok kayu menghalangi langkahnya. Merasa tidak ada jalan lain Renata nekad untuk melompati balok kayu yang terbakar api itu.
Dengan menutup mata, Renata melompat. Napas lega dia hembuskan karena telah berhasil melompat.
Renata kembali melangkah mencari jalan keluar yang bisa dilewatinya. Dia sendiri sudah lelah. Namun, dia tidak boleh menyerah dengan keadaan, dirinya harus bisa melihat dunia luar kembali. Terutama demi anak yang berada di kandungannya dan Jefra. Tekad bertahan hidup sudah bulat.
Seketika itu juga, tiba-tiba mata Renata melihat sekelebat gerakan.
"Dia..."
Renata terkejut melihat jika Jefra Tjong tengah menahan sakit dengan memegangi kepala.
Kenapa suaminya di sini? Bukannya Tuan J masih berada di luar kota?
Namun, hal yang membuat Renata lebih terkejut adalah sebuah reruntuhan bangunan yang hendak jatuh menimpa sang suami.
Renata segera berlari, mendorong tubuh Tuan J.
"Jefra, awas!"
Bruk
Brak
Kedua mata Tuan J terbelalak lebar, saat melihat siapa orang yang menggantikannya tertimpa reruntuhan.
"Re-Renata...? Renata!"
__ADS_1
_To Be Continued_