Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Terlalu Nyaman


__ADS_3

Kembalinya Renata bersama dengan Jefra Tjong langsung membuat seisi kediaman keluarga Tan menghela napas lega, terkecuali Santy.


Renata pun langsung mendapatkan pertanyaan menyelidik dari Zayn dan Rendra.


Ya, Rendra juga merasa begitu khawatir dengan hilangnya Renata, padahal selama ini dia tidak pernah menganggap putrinya itu. Mungkin hatinya sudah mulai melunak namun egonya masih lebih tinggi.


"Sudah bikin heboh, eh ternyata habis berduaan dengan seorang pria," celetuk Santy.


"Kami hanya kebetulan bertemu," tukas Tuan J.


Oh, Santy jadi mati kutu karena mendapatkan tatapan tajam dari Jefra Tjong. Dia tidak mungkin berani jika berurusan dengan putra tertua keluarga Tjong itu.


"Aku hanya berjalan-jalan di taman, kok. Dan Tuan J menolongku saat terjatuh tadi," timpal Renata.


"Pantas saja kamu tidak terlihat di CCTV yang terpasang di dalam rumah," ucap Zayn yang paling terlihat khawatir. Zayn memang sampai memeriksa CCTV rumah, terakhir Renata terlihat saat keluar kamar.


Kenyataannya, Renata memang sudah tahu jika kediaman keluarga Tan terpasang CCTV, karena itu dia mencari titik buta CCTV ketika menyelinap ke ruang kerja Zayn.


"Maaf, Kak. Sudah membuat Kakak khawatir."


"Tidak apa. Yang terpenting kamu sudah kembali," Lalu tatapan Zayn teralih pada Tuan J, dan berubah sinis, "Untuk apa kamu datang ke sini, J? Kan sudah aku bilang jangan dekat-dekat dengan Renata sebelum kalian menikah."


"Aku datang karena mendengar kabar kalau calon istriku menghilang," jawab Tuan J jujur.


"Jadi kamu benar-benar khawatir padaku?"


Renata menyikut lengan tuan J yang sedang duduk di sebelahnya.


Tuan J melirik Renata dengan ekor matanya, mengisyaratkannya agar gadis itu diam. Bisa-bisanya Renata menggodanya di saat seperti ini.


"Hmm," Rendra berdeham untuk mulai angkat bicara, "Sudahlah, Zayn. Biarkan saja J datang ke sini. Dia juga sudah menolong Renata yang terjatuh. Masalah ini tidak usah diperpanjang lagi."


Zayn mendengus, tapi tetap menuruti apa yang dikatakan Ayahnya.


"Tapi, Renata. Apa kamu yakin tidak apa-apa? Kamu habis terjatuh sampai keseleo seperti itu. Kakak khawatir jika kandungan kamu mengalami masalah, atau sebaiknya ke rumah sakit saja?" ujar Zayn kemudian.


Renata dan Tuan J langsung saling menatap.

__ADS_1


"Aku sungguh tidak apa-apa, Kak Zayn. Bayiku juga tidak apa-apa," kilah Renata dengan kikuk.


**


Setelahnya, Renata kembali ke kamar untuk melakukan relaksasi kulit sekaligus menerima pijatan pada pergelangan kakinya yang keseleo. Beruntung hanya keseleo biasa.


Sedangkan Tuan J...


"Bisa-bisanya dia tidur di ranjang milikku."


Renata tidak habis pikir dengan si calon suami yang sudah tidur lelap. Mungkin karena pria itu lelah, dan tanpa sadar ketiduran tatkala menunggu jas miliknya yang sedang dicuci karena kotor akibat terjatuh di rerumputan.


Sedangkan Renata sendiri sedang melakukan relaksasi kulit di sofa bed yang berukuran cukup besar di dalam kamarnya.


"Kulit Nona halus sekali, apa sering melakukan perawatan kulit?" tanya seorang wanita yang sedang memijat punggung Renata.


"Sepertinya," jawab Renata sekenanya.


Sebenarnya dia juga tidak tahu kalau Angel sering melakukan perawatan atau tidak sebelumnya. Tapi selama dia menempati tubuh Angel tidak sekalipun melakukan perawatan kulit. Renata tidak sempat melakukan itu karena banyak masalah yang selalu datang padanya. Karena itu dia cukup menikmati relaksasi kulit ini.


Melupakan keberadaan Jefra Tjong yang tidur di ranjangnya, Renata tertidur karena merasa begitu nyaman.


Kurang lebih satu jam kemudian.


Jefra Tjong terbangun dan langsung bangkit terduduk. Kamar bernuansa peace lah yang pertama kali dilihatnya. Kemudian bola mata hitam itu beralih pada Renata yang masih dipijat oleh seorang wanita. Bisa-bisanya dirinya ketiduran di kamar Renata, terlebih di ranjang dan membiarkan pemiliknya tidur di sofa.


Setelah menghubungi Arvin agar tidak menunggunya, tiba-tiba kantuk menyerang Tuan J karena terlalu nyaman dengan wangi ranjang milik Renata, aroma sensual musk, aroma feminim dan lembut, tidak tajam seperti citrus namun tidak terlalu powdery seperti floral.


Anehnya, pria itu tidak mengalami mimpi buruk saat tidur.


"Baru kali ini aku tidur tidak bermimpi buruk," lirih Tuan J.


Rasanya ingin tidur lagi, tapi jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, dia harus segera pulang.


"Tuan, saya sudah selesai melakukan relaksasi kulit pada Nona," suara seorang wanita menginterupsi.


Tuan J mengangguk, "Kamu boleh pergi."

__ADS_1


Setelahnya, tinggal Tuan J dan Renata yang berada di kamar. Kemudian pria itu bergerak turun dari ranjang untuk menghampiri Renata yang tidur di sofa. Melihat wajah cantik si gadis yang damai dan napas yang teratur.


"Ternyata hanya dalam keadaan tidur dia bisa tenang dan tidak berisik."


Lalu digendongnya tubuh Renata yang memakai kimono tidur berbahan katun untuk dipindahkan ke atas ranjang. Setelahnya, menyelimuti gadis itu sampai ke pertengahan leher.


Entah sadar atau tidak tangannya terulur untuk mengusap pipi Renata lembut, yang mengakibatkan Renata tersenyum dalam tidurnya.


"Jefra..."


Langsung ditariknya tangannya saat mendengar Renata memanggil namanya. Ternyata gadis itu hanya mengigau, Tuan J kira Renata terbangun.


"...Jefra," Renata mengigau lagi.


"Kamu sedang memimpikan aku?" tanya Tuan J dengan suara pelan, "Apa itu mimpi buruk?"


Namun, Renata tidak menjawab, tentu saja karena gadis itu masih tidur. Tuan J merasa begitu bodoh karena telah mengajak bicara orang tidur.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini."


Bisa-bisa Zayn akan memukulinya lagi jika terus berlama-lama di kamar Renata, bukan karena takut tapi dia hanya tidak ingin menimbulkan keributan.


Sebelumnya, Zayn mengizinkan Tuan J berada di kamar Renata karena ada seorang wanita yang melakukan relaksasi kulit pada Renata. Tapi sudah berbeda dengan sekarang yang hanya berdua, apalagi keadaan Renata yang bisa diserang kapan saja. Meskipun Tuan J terlihat kaku tapi dia juga seorang pria normal.


Kemudian Jefra Tjong melangkah menuju arah pintu, dia sudah tidak memperdulikan jasnya yang pastinya belum kering karena tidak mau menunggu lagi. Lagi pula hanya sebuah jas, dia memiliki banyak di lemari pakaiannya.


Namun, langkah Tuan J berhenti tatkala menendang sesuatu. Sebuah amplop berwarna cokelat. Lalu diambilnya amplop itu.


"Apa ini?"


Tuan J membuka amplop itu karena penasaran.


Sekejap wajahnya mengeras ketika melihat beberapa foto dari amplop itu. foto-foto Renata dengan seorang pria yang dikenalinya.


"Aslan?"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2