Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Seseorang Yang Spesial


__ADS_3

Pasangan pengantin baru itu terlihat sedang sarapan bersama dengan baruch berisi begal hangat yang baru dipanggang, salad segar dengan bacon renyah, telur mata sapi, dan secangkir kopi hitam. Mereka duduk berdampingan di atas ranjang.


Sebelum pergi ke pantai mereka menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu.


Makan dengan suami tercinta dengan gaya sarapan di hotel adalah sesuatu yang sangat Renata sukai.


"Aku ingat," ucap Tuan J tiba-tiba.


Sontak Renata menengok ke samping. Mata terbuka lebar dan jantung berdetak kencang.


Apa Jefra sudah mengingat masa lalu mereka? Oh, Renata senang sekali!


"Ingat apa?" tanya Renata dengan harap.


Tuan J menatap raut wajah antusias Renata yang menunggu kelanjutan perkataannya, "Aku ingat kalau masih memiliki hutang mengajakmu berkuda di pinggir pantai."


Raut wajah antusias Renata sontak mengendur. Timbul rasa kecewa dalam hatinya.


"Kenapa? Kamu tidak ingin berkuda?" tanya Tuan J yang melihat perubahan itu.


Renata menggeleng, lalu tersenyum namun alisnya sedikit melengkung ke atas, "Aku belum pernah berkuda di pinggir pantai sebelumnya. Aku ingin sekali mencobanya."


Harapanku terlalu cepat. Membuka ingatan Jefra yang terkunci memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seharusnya aku lebih sabar, batin Renata mencoba menghilangkan rasa kecewanya.


Namun, Tuan J tidak mudah untuk Renata bohongi, "Tapi kenapa wajahmu terlihat kecewa?"


Renata menunduk untuk menatap kopi hitam miliknya, "Itu karena kopinya pahit."


"Dasar bodoh, kopi hitam tentu saja pahit. Jika tidak ingin merasakan pahit harusnya kamu memesan susu," cibir Tuan J dengan dingin.


"Ya, lain kali aku akan memesan susu," Renata berkata dengan masih tersenyum hambar.


**


Setelah sarapan, mereka segera pergi ke pantai.


Sesampainya di tepi laut. Suasana pantai cukup ramai. Angin segar yang berembus membawa aroma garam yang begitu khas dan suara burung pelikan memang sesuatu yang menenangkan.


Renata telah mengganti bikini seksinya dengan sabrina crop top berwarna merah muda, sedikit menerawang, terlihat perut rampingnya terpampang nyata. Tidak terkecuali paha mulusnya yang dibalut hot pants denim. Kakinya yang indah juga terlihat lebih jenjang. Sementara rambutnya dibiarkan tersibak angin membuat pesonanya kian bertambah.

__ADS_1


Sedangkan Tuan J memakai kemeja warna gradasi dengan kancing yang terbuka seluruhnya, dipadukan celana pendek dan sandal jepit yang tentunya berharga fantastis. Renata telah menempel plester kedap air pada lukanya. Wanita itu tidak mau jika luka pada pergelangan tangan sang suami semakin infeksi karena terkena air laut.


Renata memang sangat memperhatikan hal-hal detail dari Jefra-nya.


Sambil berjalan, Tuan J tidak berhenti untuk memegang dan menuntun seakan takut jika Renata hilang. Renata tersenyum melihat betapa posesifnya sang suami. Rasa kecewanya sudah tergantikan dengan rasa senang.


Renata tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk menunggang kuda yang ditawarkan oleh Tuan J. Sekalian mereka bisa menikmati pemandangan pantai dari atas hewan bersurai tersebut. Walaupun ada rasa takut pada dirinya.


"Aku tidak tahu caranya menunggang kuda."


Ditatapnya kuda berwarna hitam yang memiliki surai yang lebat di bagian leher dan ekor. Ini adalah pengalaman pertama Renata menunggang kuda, ada rasa takut ketinggian ketika berada di atas sebuah kuda. Hal lain yang dikhawatirkan Renata adalah jika kuda itu tidak mau ditungganginya, dia bisa jatuh nanti.


"Jadi kamu mau naik bersamaku?"


"Bolehkah?"


Tatapan Renata terlihat sangat tertarik dengan apa yang ditawarkan sang suami.


"Hmm," Tuan J hanya bergumam.


Dengan perlahan Renata mendekati kuda berwarna hitam itu. Lalu menyambut tangan sang suami yang sudah bersiap membantunya naik ke atas kuda. Setelah usaha yang cukup keras, pada akhirnya Renata bisa naik.


Dari belakang, Tuan J membisikan sesuatu yang membuat wajah Renata merona.


"Itunya sakit tidak?" bisik Tuan J di telinga sang istri. Sesungguhnya, dia khawatir dengan keadaan Renata.


Tuk... Tik... Tak...


Suara langkah kaki kuda seakan mengikuti irama jantung Renata yang mendadak berdebar kencang, "Tidak," jawabnya cepat.


Aduh, sungguh memalukan! Renata memekik di dalam hati.


Namun tidak bisa dipungkiri, berkuda bersama Jefra yang memeluknya dari belakang dengan salah satu tangan yang tidak memegang tali dan menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, merupakan pengalaman baru dan begitu seru bagi Renata.


Renata tersenyum sumringah, "Ini pengalaman yang sangat menyenangkan, Sayang. Untuk pertama kali dalam hidupku aku naik kuda dengan seseorang yang spesial. Aku tidak akan melupakan hari ini."


Tuan J tertegun dibuatnya, "Kamu menganggapku orang spesial?"


"Ya, kamu kan suamiku tentu saja spesial."

__ADS_1


"Oh, begitu."


Memang apa yang aku harapkan? pikir Tuan J.


Setelah acara berkuda, keduanya beralih menaiki kapal untuk mengelilingi pantai. Suara air yang saling menyatu memasuki gendang telinga pasangan pengantin baru yang saat ini sedang duduk di dalam kapal.


Renata terlihat sangat fokus terhadap keindahan pantai negara B yang saat ini terpampang jelas di matanya──yang mirip seperti pantai Maldives.


Tuan J yang melirik Renata yang sangat fokus sempat tersenyum tipis.


Kemudian Renata berdiri diujung kapal sembari menutup matanya dan menarik napa dalam. Menikmati keindahan yang terpampang nyata.


Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggang Renata, dan Tuan J menumpu dagunya di atas kepala Renata.


"Cantik, ya?" Tuan J mengeratkan pelukan tangannya di pinggang mungil istrinya, ia bahkan menyempatkan untuk mengelus perut ramping Renata yang terekspos. Lalu menciumi pucuk kepala Renata.


Sejatinya dia tidak menyukai apa yang dikenakan istrinya saat ini, pakainya masih terlalu terbuka. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sedang berada di pantai.


Renata mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak menyadari jika cantik yang dimaksud Tuan J bukanlah pantai namun dirinya.


Tuan J semakin mengeratkan pelukannya, bersembunyi di tengkuk Renata yang harum, menghirup aroma feminim dan lembut dari badan sang istri yang disukainya.


"Ini di kapal, jangan seperti ini," Renata yang merasa hembusan napas sang suami di tengkuknya mulai menggeliat.


Tuan J justru semakin menelungkupkan wajah di tengkuk Renata.


"Kamu tidak ingin menciumku?"


Renata tertawa pelan karena pertanyaan sang suami yang seperti memiliki maksud meminta cium.


"Aku akan menciummu kalau kamu menurut dengan apa yang aku katakan," Renata memberi sebuah syarat.


"Memang kamu pikir kamu siapa bisa memberi sebuah syarat padaku?" Tuan J tersenyum sinis.


"Aku adalah istri Jefra Tjong!"


Setelah menjawab dengan bangga, Renata meraih rahang tegas Tuan J dan mencium bibir tipis suaminya itu.


Renata benar-benar mempergunakan status istri dari Jefra Tjong dengan baik.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2