
Hari sudah menjelang sore, mungkin satu jam lagi matahari akan terbenam.
Hadiah apa yang harus aku berikan pada Jefra?
Renata sedang memikirkan hadiah apa yang ingin dia berikan pada suami tercinta. Kaki jenjangnya melangkah menelusuri mall.
Ingin membelikan barang mewah, tapi Jefra pasti sudah terbiasa dengan barang-barang mewah, dia ingin memiliki sesuatu yang tidak bisa untuk suaminya itu. Dan tentunya yang belum pernah dia belikan sebelumnya.
Saat Renata berpikir, muncul sebuah ide di kepalanya.
Diambilnya ponsel yang berada di tas jinjingnya. Lalu jemari Renata menekan tombol layar ponsel. Membuka website mesin pencarian nomor satu, dan mengetik sebuah kalimat 'hadiah terbaik untuk suami'.
Deret panjang jawaban terlihat memenuhi layar, semua mengandung kata 'hadiah' dan 'suami'.
Sebenarnya Renata yakin jika Jefra akan senang dengan apapun hadiah darinya, tapi dia tidak ingin asal-asalan dalam memberi hadiah.
"Duh, lapar," gumam Renata saat perutnya tiba-tiba terasa keroncong.
Kemudian Renata memutuskan untuk memasuki salah satu restauran, pencarian hadiah untuk sang suami terpaksa ditunda terlebih dahulu. Terlebih ada bayi mungil di dalam perutnya. Bayinya pasti juga merasa lapar.
Langkah Renata berhenti tatkala melihat sosok wanita yang terasa familiar. Wanita itu terlihat kebingungan sambil melihat banner menu makanan. Lalu Renata memutuskan untuk menghampirinya.
"Kamu..." perkataan Renata menggantung saat wanita itu menoleh, matanya mengerjap lebar.
"Hei, Kakak Cantik. Bagaimana cara memesan makanan di sini? Aku tidak tahu caranya," ucap si wanita dengan tatapan polos.
"Kamu... Elmeyra?"
Ya, wanita itu sangat mirip dengan Elmeyra. Yang membedakan hanya lebih terlihat dewasa pada kontur wajah, serta rambutnya yang bergelombang.
Si wanita menggeleng, "Bukan, namaku Daisy Liana."
Renata menutup mulutnya dengan salah satu tangan, terkejut mendengar nama wanita itu.
"Ah, sepertinya aku tidak jadi makan di sini. Aku pergi dulu!"
Wanita itu langsung berbalik pergi dengan berlari kecil. Entah kenapa, dia terlihat terburu-buru saat melihat ke arah belakang Renata.
"E-eh, Tunggu!" Renata mencoba memanggil, tapi wanita itu sudah hilang di kerumunan orang.
Renata terdiam di tempat, masih menatap ke arah di mana wanita yang bernama Daisy menghilang.
"Daisy Liana? Jangan bilang dia..."
**
Malam harinya. Di sebuah Club malam.
Dentuman musik mengiringi orang-orang yang berjoget meliuk-liukkan badan.
Terlihat Alvaro yang sedang terduduk dengan tatapan menerawang. Bibirnya menghembuskan asap dari rokok yang baru saja dia hisap, berharap nikotin yang dihisapnya menenangkan pikirannya yang kacau.
"Tuan Alvaro? Tidak disangka kita bertemu di sini."
Seorang wanita tiba-tiba datang dan bergelayut manja. Sepasang tangan lentik mengusap pundak Alvaro dari belakang, menjalar hingga kebagian dada.
Wanita itu adalah Salvina, yang sedang berusaha memeluk Alvaro dari belakang.
__ADS_1
Alvaro sedikit tersentak, saat dia mendengar nada manja Salvina tepat di samping telinganya.
"Minggir," ujar Alvaro menyentak tangan Salvina.
Salvina beralih untuk duduk di sebelah Alvaro. Sepertinya wanita itu benar-benar sudah gila. Lebih tepatnya sudah tergila-gila pada Alvaro.
Dia terpesona dengan tatapan penuh hipnotis, dari netra berwarna hijau itu. Garis wajahnya yang sempurna, benar-benar mampu memikat setiap wanita yang melihatnya. Tidak heran jika Sanaya rela melakukan berbagai cara untuk bisa bersama dengan Alvaro. Begitu pula yang sedang dilakukan Salvina sekarang.
Bukan hanya sebuah kebetulan Salvina bisa bertemu dengan Alvaro di sini, dia memang sengaja mengikuti bos-nya itu. Ada sebuah rencana yang sudah disusunnya untuk menjerat pria itu.
Seorang bartender datang membawakan sebuah minuman, dia sempat mengangguk pada Salvina.
Ya, Salvina ingin menjebak Alvaro supaya menghabiskan malam dengannya. Meskipun dia mengakui jika caranya itu mirip dengan Sanaya, tapi dia tidak perduli. Dia yakin, Alvaro pasti akan pertanggung jawaban seperti pria itu bertanggung jawab pada Sanaya.
"Aku tidak memesannya," ujar Alvaro pada bartender yang meletakkan segala Margarita di depannya.
"Itu dariku."
"Ck," Alvaro berdecak jengah karena tatapan nakal Salvina. Kalau tidak mengingat betapa bagusnya kinerja sang Sekretaris, sudah sejak lama dia memecatnya.
"Ayo kita bersulang!" Salvina mengangkat gelas minumannya.
Alvaro melirik tajam, "Kamu mengajakku untuk merayakan kegagalanku?"
Salvina terkekeh, "Aku hanya tidak ingin Tuan Alvaro kehilangan semangat, bukankah masih ada banyak cara untuk melawan Tuan J?"
Alvaro mendengus dalam diam. Masih banyak cara? Mudah sekali Slavina berkata seperti itu.
"Ayolah, kita bersulang," bujuk Salvina dengan manja.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu olehmu."
Asap rokok menderai di udara saat Alvaro berbicara.
Tidak habis akal, Salvina masih mencoba supaya Alvaro meminum minuman itu, "Baiklah, aku akan pergi jika Tuan Alvaro bersulang denganku satu kali saja."
Karena tidak ingin mendengar kecerewetan dari wanita itu, Alvaro mengangkat gelasnya dan mulai bersulang dengan Salvina.
Salvina menyeringai samar karena berhasil mengelabuhi Alvaro. Sudah dipastikan, pria itu akan menjadi miliknya malam ini.
Setelah bersulang, lalu Alvaro meneguknya hingga tidak tersisa. Dia menggeram, merasakan sensasi yang berbeda dari minuman yang dia teguk.
Dan benar saja, tiba-tiba Alvaro merasa tubuhnya terasa aneh dan panas. Seketika ekspresinya berubah, nampak marah ketika menatap Salvina.
Sial! Wanita itu telah menjebaknya!
Mendapat tatapan tajam dan sengit, bukannya merasa takut tapi Salvina mengulum senyum, "Kamar 206, adalah kamar VIP, Tuan Alvaro. Aku sudah booking untuk kita malam ini."
Salvina bergerak untuk duduk di atas pangkuan Alvaro, membiarkan pahanya terekspos sempurna. Mencoba membangkitkan gairah dari pria bermata hijau itu.
"Aku akan melakukan apapun untuk menyenangkan, Tuan," Salvina berbisik sensual, sebagai tanda jika dia sangat menyukai Alvaro.
Kini, Alvaro pasti tidak akan menolaknya karena efek obat perang sang yang sudah bekerja. Bahkan, tangannya sudah meraba-raba dada Alvaro.
Namun.
"Menjauh dariku!"
__ADS_1
Brak
Alvaro berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran. Dia mendorong Salvina dengan kasar, hingga membuat wanita itu terjerembab ke lantai.
Dengan tergesa, Alvaro bangkit untuk pergi meninggalkan Salvina.
"Tuan Alvaro!"
Alvaro tidak memperdulikan teriakan Salvina yang memanggil-manggil namanya, langkah cepatnya menuju pintu keluar Club. Dia tidak ingin terjebak yang kedua kalinya.
Di sisi lain.
Terlihat seorang wanita yang berlari karena dikejar oleh beberapa pria berpakaian serba hitam.
"Nona Daisy, berhenti!"
Tanpa memperdulikan panggilan dari orang yang mengejarnya, wanita yang bernama Daisy itu terus berlari, sebisa mungkin tidak ingin tertangkap.
Namun, sial. Daisy justru menabrak dada bidang seseorang.
Bruk
"Akh!" teriak Daisy saat dirinya oleng dan ingin terjatuh ke belakang.
Grep
Sebuah tangan menahan lengannya, Daisy terkejut saat tahu jika orang yang ditabraknya adalah pria bermata hijau, yang cukup tampan.
Wanita berambut gelombang itu tertegun melihat Alvaro yang tengah menatapnya. Tapi kegiatan saling tatap itu tidak berlangsung lama, karena Alvaro langsung melepas lengan Daisy, membuatnya terjatuh.
"Aduh!" pekik Daisy saat bokongnya mencium aspal.
Tanpa berkata apapun Alvaro langsung pergi. Menuju mobilnya yang terparkir.
"Nona Daisy!"
Ingin berteriak marah pada Alvaro yang membuatnya terjatuh. Namun, teriakan dari orang yang masih mengejarnya mendahului, membuat Daisy panik.
Tanpa pikir panjang, Daisy mengejar Alvaro dan ikut masuk ke dalam mobil pria itu.
Alvaro terkejut saat mendapati Daisy yang seenaknya masuk ke dalam mobilnya.
"Siapa kamu? Keluar!" sentak Alvaro marah.
Ayolah, saat ini dia sedang menahan hasrat mati-matian. Bagaimana bisa ada wanita asing yang justru duduk di sampingnya?
"Namaku Daisy. Bawa aku pergi. Aku akan memberimu uang berapapun!"
Daisy menatap Alvaro dengan mata hitam cemerlang yang penuh permohonan.
Mata Alvaro memicing tajam. Apa wanita itu berpikir jika dia adalah pria bayaran yang mau menurut begitu saja?
"Tidak! Keluar kubi──" perkataan Alvaro terhenti, ketika melihat sosok Salvina yang sedang menghampiri mobilnya.
Dengan menarik napas kasar, Alvaro menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas untuk meninggalkan area parkir Club malam. Persetan dengan wanita asing yang sedang duduk di sebelahnya.
_To Be Continued_
__ADS_1