
Setelah sekian menit, Renata sudah menyelesaikan aktivitas beres-beresnya.
Setelah memasukan barang terakhir ke dalam koper sebelum menutupnya, Renata menoleh pada Tuan J yang sedang duduk di sofa, dengan tangan yang masih setia meremas bola karet.
Renata mengedipkan kelopak matanya tidak beraturan, menatap sang suami dengan seksama.
Heran saja, kenapa Tuan J terlihat begitu bersemangat dalam meremas bola karet? Bahkan sampai mengigit bibir dan tatapan yang aneh.
Kemudian Renata mendekat hingga berdiri di depan suaminya.
"Apa kamu sangat menyukai bola karet?" tanya Renata terheran-heran.
Renata benar-benar tidak tahu dengan isi pikiran Tuan J yang... ah, sudahlah.
Seketika pergerakan tangan Tuan J yang meremas bola karet terhenti. Lalu mendongak untuk menatap sang istri yang keheranan.
"Kamu sudah selesai?" bukannya menjawab pertanyaan dari Renata, Tuan J justru bertanya balik.
"Baru saja selesai," jawab Renata.
Duk... Duk... Duk...
Bersama dengan bunyi bola karet yang menggelinding, Tuan J menarik tangan Renata untuk mendekat. Lalu menuntun Renata untuk duduk di pangkuannya.
Renata tidak menolak, justru ia mengalungkan tangannya di leher Tuan J.
Kini, mereka persis seperti sepasang suami-istri yang saling mencintai. Ya, akan seperti itu jika si pria melepas perasaan ragu di hatinya.
"Ada apa, hmm?" tanya Renata.
Tuan J melingkarkan kedua tangan di pinggang Renata, menatap wajah cantik sang istri. Lalu menggesekkan hidungnya di dagu Renata seperti seekor kucing.
Renata tertawa dibuatnya. Apa Jefra-nya sedang bermanja-manja?
"Kita akan pulang ke kediaman keluarga Tjong. Kakek tidak mengizinkan kita untuk tinggal di apartemen," ucap Tuan J.
"Ya, tidak apa-apa," sahut Renata dengan membiarkan Tuan J memeluknya erat, bahkan sampai menyembunyikan wajah di lehernya.
Bagi Renata, tidak apa tinggal di manapun asal bersama dengan Jefra-nya, dan tentunya dengan anak mereka kelak.
Akan tetapi, dia sudah tahu jika sang suami tidak suka tinggal di kediaman keluarga Tjong, banyak kenangan buruk yang tersimpan di dalamnya. Itulah mengapa Tuan J lebih memilih tinggal di apartemen.
"Aku benci Theo," ucap Tuan J dengan geraman, kedua mata terpejam erat. Seolah menunjukan kebencian yang teramat dalam pada sang Ayah.
"Tapi Ibu melarang aku untuk membencinya," sambung Tuan J dengan napas berat yang dapat dirasakan Renata.
Seandainya Tuan J bisa memilih, dia tidak mau memiliki Ayah seorang Theo Tjong. Pria yang telah berselingkuh bertahun-tahun hingga memiliki anak dan bersikap tidak acuh pada istri sahnya.
Tiba-tiba, Tuan J merasa usapan lembut pada kepala bagian belakangnya. Lalu dia langsung mendorong tubuh Renata agar lebih merapat ke pelukannya.
__ADS_1
Sebuah keperdulian yang ditawarkan Renata, memang benar menjadi kunci emas untuk membuka hatinya.
Hati yang layu seolah hidup kembali.
"Aku memang tidak mengerti rasa apa yang kamu alami, tapi aku yakin rasanya sangat menyakitkan."
Tuan J terdiam, Renata memang satu-satunya wanita yang bisa membuatnya tenang, selain mendiang ibunya.
"Selama ini Ayah menganggapku anak pembawa sial dan seorang pembunuh. Aku selalu diperlakukan tidak adil, bahkan dia lebih menyayangi Sanaya. Tapi dengan sangat bodoh, aku masih mengejar-ngejar kasih sayangnya."
Renata tersenyum kecil meski tidak dapat dilihat Tuan J.
"Namun, kini aku sudah sadar. Jika Ayahku tidak kalah buruknya dengan Ayahmu. Aku juga membenci Ayahku."
Tuan J masih menyembunyikan wajah di perpotongan leher Renata. Aroma tubuh sang istri, benar-benar mampu menenangkannya. Bahkan selama tidur bersama dengan Renata, dia tidak lagi mengalami mimpi buruk. Dia merasa tidak bisa lepas dari istrinya.
Efek kehadiran wanita itu benar-benar begitu besar bagi Jefra Tjong.
"Ya, Ayahmu memang pantas dibenci. Dia juga telah menamparmu. Jika dia menyakitimu lagi, aku pastikan sebuah peluru akan melubangi kepalanya."
"Itu berlebihan," Renata tertawa pelan karena hanya menganggap sebuah candaan.
"Aku serius."
Nyatanya itu bukan candaan. Tuan J benar-benar akan melenyapkan orang yang berani menyakiti istrinya.
Dia tidak ingin kehilangan Renata, seperti dia kehilangan sang Ibu.
Seketika tawa itu berhenti. Lalu Renata mendorong pundak Tuan J supaya bisa menatap wajahnya.
Posisi mereka tetap sama, Renata yang duduk di pangkuan suaminya.
"Jangan!" dengan menggunakan jari telunjuk, Renata mengetuk ujung hidung Tuan J dengan lembut.
"Ya," jawab Tuan J.
Jadi, untuk sementara waktu dia 'Ya'kan saja. Dia akan mengikuti semua yang dikatakan Renata.
"Aku tidak ingin meremas bola karet," perkataan Tuan J membuyarkan suasana haru mereka.
Dan perkataan itu menimbulkan kebingungan di kepala Renata. Kelopak matanya berkedip-kedip lucu. Bukankah tadi Tuan J terlihat sangat menyukai bola karet?
Sedikit membingungkan.
"Kenapa? Kalau tidak ingin meremas bola karet, lantas kamu ingin meremas apa?"
Sialnya, Renata justru menanyakan sesuatu yang begitu ambigu, terlebih dengan ekspresi polos.
"Ingin ini."
__ADS_1
"Ap──eh!"
Renata tersentak tatkala kedua tangan Tuan J beralih ke tubuh bagian depannya, dan memberi gerakan meremas di sana.
Astaga! Apa yang Tuan J lakukan?
"Ja-jangan!" dia mencoba menghindar, tapi terhalang dengan salah satu tangan Tuan J yang kembali merengkuh pinggangnya dengan erat.
Dan beberapa saat kemudian, Tuan J meraup bibir Renata dalam satu ciuman yang begitu intens.
Namun, di tengah tautan bibir mereka, tiba-tiba Renata menghentikannya. Hingga menimbulkan kebingungan bagi Tuan J.
"Ada apa?" tanya Tuan J dengan pandangan sayu dan suara yang serak.
"Kita akan pulang malam ini. Jangan macam-macam."
"Siapa yang macam-macam?" tanya Tuan J dengan masih aktif meremas di tengah sana.
Sudah jelas jika dia yang sedang macam-macam!
"S-stop!" Renata berseru dengan susah payah, mencoba menahan untuk tidak terbuai.
Renata harus menghentikan ini sebelum berlanjut ke tahap yang lebih gila lagi. Dia tidak mau kelelahan karena malam ini mereka akan pulang.
"Tenang saja. Aku hanya ingin meremas bola karet," ucap Tuan J.
Renata mendelik seketika.
Bagaimana bisa dia bisa tenang?
Dasar mesum! Aku menyesal memberinya bola karet! pekik Renata di dalam hati.
"Janji hanya itu?" Renata mencoba memastikan dalam keadaannya yang mulai gelisah.
Ayolah, tangan Tuan J semakin gencar bergerak, bahkan sudah menyusup ke dalam bajunya.
"Hmm."
Hanya sebuah gumaman yang didapatkan Renata.
Pada akhirnya Renata memasrahkan diri. Namun, dia masih tetap berusaha untuk tidak terbawa arus permainan tangan nakal suaminya.
Masalahnya, mau sampai kapan?
Terlebih tidak lama kemudian, sentuhan Tuan J meluas. Sesungguhnya, dia tidak benar-benar menjanjikan apapun.
Renata telah tertipu!
_To Be Continued_
__ADS_1