Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Karma Sudah Mendekat


__ADS_3

Esoknya.


Sanaya terbangun dengan keadaan tanpa pakaian dan sendirian di kamar hotel.


Kemudian Sanaya segera memunguti pakaiannya yang berserakan di bawah ranjang dan langsung memakainya.


Setelahnya, Sanaya buru-buru meninggalkan tempat itu untuk pulang dengan menaiki taksi.


Kini, perasaan Sanaya campur aduk. Jijik pada dirinya sendiri, panik, bingung, marah, dan takut.


Bagaimana bisa dia melakukan itu dengan seorang pria paruh baya terlebih gendut seperti babi. Pengalaman yang begitu menjijikkan baginya.


Sanaya bertanya-tanya siapa yang telah menculik dan menjebaknya. Dia hanya bisa menangisi apa yang telah terjadi. Hidupnya akan hancur seandainya ada yang tahu apa yang telah dilakukannya semalam.


Bukankah ini seperti saat kamu menjebak Angel tidur dengan seorang pria, Sanaya?


Namun, Sanaya belum menyadari jika karma sudah mendekat padanya.


Tidak lama kemudian Sanaya sampai di gedung apartemen tempatnya dan Alvaro tinggal. Lalu dengan langkah cepat masuki lobi apartemen dan menaiki lift.


Selama di dalam lift Sanaya memutar otak untuk mencari alasan jika Alvaro bertanya kenapa dia tidak pulang semalam. Mungkin dia bisa berkata menginap di rumah teman kuliahnya.


Ting!


Pintu lift terbuka. Sanaya pun keluar dari lift dengan kembali melangkah cepat. Namun, tiba-tiba langkahnya melambat tatkala melihat keramaian di depan pintu apartemennya, serta Alvaro yang sedang berbicara dengan tiga orang Polisi.


Jantung Sanaya seketika terpompa tidak tenang. Apa yang terjadi? Apa yang sudah dilewatkannya?


Alvaro yang sadar dengan kehadiran Sanaya langsung menghampiri dan memegang kedua pundak istrinya itu, "Kamu tidak apa-apa?"


Sanaya bingung seketika, kenapa Alvaro terlihat khawatir padanya?


"Aku tidak apa-apa, Alvaro."


"Oh, syukurlah. Aku khawatir sekali. Syukurlah kalau kamu dan bayi kita baik-baik saja."


Raut wajah khawatir Alvaro berubah menjadi kelegaan.


"Memangnya ada apa Alvaro? Semalam aku menginap di rumah temanku," tanya Sanaya seraya mengutarakan kebohongan yang sudah dipersiapkannya tadi.


"Apartemen kita kemalingan."


"A-apa?"


Kemudian Sanaya mendengar apa yang diceritakan Alvaro. Semalam suaminya itu juga tidak pulang ke apartemen lantaran lebih memilih tidur di kantor karena lembur. Ketika Alvaro pulang pintu apartemen sudah dibobol dan keadaan tempat tinggal mereka yang sudah berantakan seperti kapal pecah.


Alvaro begitu khawatir karena tidak melihat Sanaya, menghubungi lewat ponsel pun tidak tersambung, dia kira istrinya itu diculik. Setelah itu Alvaro beralih melapor pada pihak keamanan gedung apartemen dan menelepon Polisi.

__ADS_1


Saat pemeriksaan CCTV terlihat si pelaku ada empat orang dengan berpakaian serba hitam dengan penutup kepala.


Deg


Jantung Sanaya seketika berpacu dengan cepat, ingatannya kembali pada empat orang pria yang menghadang mobilnya.


Apa mereka orang yang sama?


"Padahal kamu bilang keamanan apartemen ini begitu terjamin. Lantas bagaimana bisa ada maling?" tanya Sanaya tidak percaya.


Alvaro menggeleng menandakan dia juga tidak tahu tentang keamanan apartemen yang mudah sekali ditembus, padahal ini adalah apartemen mewah yang memiliki keamanan yang begitu ketat.


"Entahlah, Sanaya. Lagi pula aku ragu kalau mereka adalah maling, karena tidak ada barang-barang berharga kita yang hilang."


Semakin kalut lah Sanaya.


Kemudian Sanaya mencoba masuk ke dalam apartemen yang benar-benar sudah acak-acakan, barang-barang yang berantakan di lantai bahkan ada yang pecah. Seketika raut wajah Sanaya menjadi panik tatkala melihat lemari pakaiannya telah diacak-acak. Segera dihampirinya lemari pakaian itu, mencari-cari sesuatu yang dia sembunyikan di tumpukan baju paling bawah. Namun, nihil.


Sesuatu itu adalah, memori yang berisikan data foto-foto Renata dengan Aslan.


Wajah Sanaya seketika mengeras, "Renata... Jadi dia yang melakukan ini?"


**


Kabar jika apartemen Sanaya dan Alvaro sudah sampai ke keluarga Tan.


"Suamiku, bisakah Sanaya dan suaminya tinggal di rumah ini lagi? Kasian mereka, pasti mereka kebingungan akan tinggal dimana lagi sekarang."


Sanaya mencoba membujuk Rendra akan mengizinkan Sanaya tinggal di kediaman keluarga Tan lagi.


"Tidak bisa," Zayn lah yang menjawab.


"Zayn, kenapa kamu jahat sekali? Padahal Sanaya sedang tertimpa musibah. Setidaknya biarkan dia tinggal di sini beberapa hari sampai mendapatkan tempat tinggal baru," Santy berkata seolah-olah menanyakan di mana hati nurani Zayn.


"Benar, Zayn. Biarkan Sanaya tinggal di sini untuk sementara," tentu saja Rendra membantu Santy untuk membujuk Zayn.


"Kenapa tidak tinggal di kediaman keluarga Tjong saja?" yang pastinya Zayn tidak mudah luluh begitu saja.


"Alvaro dan Kakeknya memiliki hubungan yang tidak baik," ungkap Santy.


"Bukankah Sanaya juga memiliki hubungan yang tidak baik dengan Renata dan juga denganku? Jika Alvaro tidak nyaman jika tinggal di kediaman keluarga Tjong, lantas kenapa Sanaya begitu nyaman tinggal di rumah ini? Apa dia tidak memiliki rasa bersalah dan tidak enak sedikitpun karena perbuatannya pada Renata?"


Seketika Santy dan Rendra bungkam. Tidak ada yang bisa mereka katakan untuk membela Sanaya.


"Kak Zayn, biarkan Sanaya tinggal di sini," ujar Renata yang baru datang dari arah tangga.


"Renata, apa kamu telah memikirkan apa yang barusan kamu katakan?" Zayn bertanya dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


"Aku sudah memikirkannya, Kak Zayn," jawab Renata disertai anggukan.


Renata bukanlah gadis naif yang begitu saja memaafkan Sanaya. Namun, ada alasan untuknya menerima Sanaya untuk tinggal di kediaman keluarga Tan lagi.


Yakni, sebuah kejutan yang dijanjikan Jefra Tjong pada Renata semalam.


**


Siang harinya. Sanaya dan Alvaro datang.


Alvaro sudah izin tidak masuk kerja lantaran harus mengurusi masalah apartemennya yang kemalingan. Sedangkan Sanaya juga sudah izin tidak masuk kuliah.


Kedatangan mereka berdua disambut oleh Santy yang langsung memeluk Sanaya.


"Oh, Sanaya. Kamu baik-baik saja?"


Sanaya membalas pelukan Santy, "Aku baik-baik saja, Ibu. Semalam aku tidak berada di apartemen karena menginap di rumah temanku."


"Untunglah, Ibu begitu khawatir ketika kamu menelepon."


Setelah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Santy, pasangan suami-istri itu beranjak ke kamar yang pernah ditempati mereka sebelumnya.


Sesampainya di kamar.


"Sudah aku bilang, bukan? Kak Zayn pasti akan membiarkan kita kembali tinggal di sini," kata Sanaya pada Alvaro yang duduk di pinggir ranjang.


Raut wajah Alvaro terlihat kusut. Diusapnya dengan kasar wajahnya.


"Secepatnya aku akan mencari tempat tinggal baru."


"Kenapa tidak tinggal di sini saja?" sepertinya Sanaya ingin tinggal di kediaman keluarga Tan seterusnya.


"Aku tidak enak pada Renata."


Seketika raut wajah Sanaya berubah menjadi kesal, "Kenapa tidak enak padanya? Apa karena kamu masih mencintainya?"


Alvaro menghela napas berat. Lalu menatap tajam istrinya, "Aku tidak enak karena apa yang telah kamu lakukan padanya, Sanaya. Apa kamu tidak memiliki rasa bersalah pada Renata? Bisa-bisanya kamu bersikap santai dengan masih berharap bisa tinggal di rumah ini seterusnya."


"Tapi Alvar──"


"Sanaya!"


Sanaya tersentak tatkala mendengar namanya dipanggil dengan begitu keras, terlebih itu adalah Rendra.


"Sanaya! Cepat ke sini!"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2