
Rantai yang membelenggu tangan serta kakinya, membuat luka semakin buruk. Napas terdengar berat dan tidak nyaman.
Namun, wanita yang terlihat kesakitan itu tidak memiliki pilihan lain. Dia sudah lelah menunduk untuk hal yang memang seharusnya disesali. Keadaan menyiksa ini membuat mentalnya menjadi sangat terluka.
Kenapa aku tidak langsung dibunuh saja? Kenapa harus merasakan penyiksaan ini? batin Sanaya, wanita yang terlihat lemah itu.
Mengapa dia berakhir seperti ini?
Mengapa semua hal yang dilakukannya selama ini sia-sia?
Hingga dia berakhir dikurung dengan dikelilingi binatang-binatang buas. Kematian tragis Ibunya yang menjadi santapan buaya, juga selalu terbayang hingga membuatnya gila.
"Aku ingin mati," lirih Sanaya begitu tidak berdaya.
"Jadi kamu ingin mati begitu saja?"
Sontak Sanaya mendongak, menatap si pemilik suara yang tiba-tiba terdengar. Matanya terbelalak dan bibir kebiruan bergetar. Orang itu...
"I-Ibu."
"Apa kabar mantan menantu."
Sienna Tjong.
Sudah lama Sienna menunggu saat-saat Tuan J pergi jauh. Karena bersama itu pula, penjagaan tempat di mana Sanaya dikurung mengendur.
Bagi Sienna, jika dia tidak diperbolehkan mengganggu Jefra Tjong dengan tangannya sendiri, maka dia tinggal menyuruh orang untuk menggantikannya.
Dan orang itu adalah mantan menantunya.
Selama ini, Sienna memang tidak pernah lepas dari mengawasi Jefra Tjong. Secara diam-diam, dirinya telah menyuap salah satu Bodyguard yang selalu menjaga putra tirinya itu.
Itulah mengapa, Sienna tahu jika selama ini Tuan J mengurung Sanaya di sini.
"Tidak ada gunanya jika mati sendiri. Jika kamu ingin mati, maka matilah bersama dengan musuhmu. Kamu tidak ingin musuhmu bahagia setelah kematianmu, bukan?" desis Sienna seperti seekor ular derik.
Mendengar itu, Sanaya menggertakkan gigi gerahamnya.
**
Tuan J telah kembali ke hotel setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya.
Sudah lewat dua hari saat dirinya di luar kota. Dan benar saja, dia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat demi segera pulang.
Malam ini, Tuan J akan pulang dengan pesawat pribadi miliknya. Ini akan menjadi sebuah kejutan untuk sang istri.
Dia juga sudah menyempatkan membelikan oleh-oleh. Stiker dinding berbentuk bintang yang bisa ditempel di langit-langit kamar, dan dapat menyala ketika gelap. Bukan tanpa alasan, karena Tuan J tahu jika Renata suka memandang bintang-bintang di balkon.
Ya, istrinya itu sangat menyukai langit bertabur bintang. Jadi tidak ada salahnya jika kamar mereka dihiasi dengan stiker berbentuk bintang.
"Dengan ini, dia tidak perlu berlama-lama di balkon hanya untuk melihat bintang," gumam Tuan J, teringat kebiasaan Renata yang suka merenung di balkon hingga kedinginan.
Itulah Jefra Tjong, dia bahkan mengingat detail-detail kecil tentang Renata.
__ADS_1
Knock... Knock...
Suara ketukan pintu mengintrupsi kegiatan Tuan J, yang sedang memandangi bungkusan oleh-oleh untuk Renata.
Cklek
Muncul Arvin dari balik pintu, dengan wajah panik.
"Aku mendapatkan kabar jika Sanaya kabur, kandang tempat dia dikurung telah kosong. Dia hilang, Tuan!"
"Brengsek! Sanaya terluka parah, tidak dikasih makan juga! Dia sudah sekarat, tinggal menunggu ajal saja! Kenapa dia bisa keluar! Siapa yang menyelamatkannya?" teriak Tuan J murka.
"Tuan, di CCTV terlihat jika Sanaya dibebaskan oleh seseorang berpakaian serba hitam, dari posturnya seperti wanita," lapor Arvin.
"Seorang wanita? Sebar para Bodyguard! Cari sampai ketemu!"
"Baik, Tuan."
"Dan segera siapkan pesawat! Jangan membuang-buang waktu lagi untuk kembali!"
"Baik, Tuan."
Kini, perasaan Tuan J menjadi tidak enak. Untunglah Renata sedang berada di kediaman keluarga Tjong, yang memiliki keamanan ketat.
Istrinya pasti baik-baik saja, bukan?
**
Saat ini, mendekati pukul sebelas malam. Terlihat Renata sedang duduk di atas ranjang, tatapannya fokus ke sebuah buku psikologi yang sedang dia baca.
Renata berpikir, jika suaminya sedang sibuk.
Entah karena terlalu lama membaca buku, Renata mulai merasa mengantuk. Matanya menjadi berat.
Diletakkannya buku di meja, lalu mengambil gelas yang sudah berisi susu dan meminumnya hingga kandas.
"Sehat-sehat, Jagoan Mama. Karena sudah minum susu, ayo kita tidur,"
Renata bergumam dengan sesekali mengelus perut, seolah-olah sedang berbicara dengan bayi yang berada di dalam sana.
"Ayah sedang sibuk, kita tidak bisa bertelepon atau video call malam ini. Bukankah hal ini sudah biasa? Dulu Ayahmu juga sering berpergian jauh."
Renata menghela napas pelan sesaat. Benar. Seorang wanita hamil memang menjadi sangat sensitif.
Kemudian Renata mulai mematikan lampu, hanya menyisahkan lampu kecil di sebelah ranjang. Setelah itu, mulai merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menghangatkan diri.
Tidak lama kemudian, sang Nyonya Besar memasuki alam mimpi.
Sementara itu, di lorong gelap kediaman keluarga Tjong yang sudah gelap gulita. Sosok wanita sedang terseok-seok, menyiram setiap sudut ruangan dengan bensin.
Dia adalah Sanaya. Setelah dibebaskan oleh Sienna Tjong. Kini, dia berniat membakar habis kediaman keluarga Tjong.
Api dendam memang sudah menyelimuti Sanaya, hingga begitu mudah diperalat Sienna.
__ADS_1
Jika ditanyakan bagaimana Sanaya bisa menerobos keamanan kediaman keluarga Tjong, tentu saja karena bantuan Sienna.
Wanita yang sebelumnya mengeklaim sendiri sebagai Nyonya Besar itu, tentu saja mengetahui akses aman untuk menghindari penjagaan ketat kediaman keluarga Tjong.
Dengan masih membawa sebotol bensin, langkahnya berhenti tepat di pintu kamar di mana Renata berada.
Cklek
Seringai tipis terbit, karena pintu tidak terkunci. Dibukanya daun pintu secara perlahan dan masuk ke dalam. Lalu kembali menutup pintu, dengan menguncinya dari dalam.
Sanaya menatap tajam Renata yang sedang tidur di atas ranjang, "Aku tidak bisa biarkan kamu hidup enak dan bahagia, Renata. Jika aku mati maka kamu juga harus mati."
Byurr
Sanaya menyiram setiap sudut kamar dengan bensin.
Renata yang sedang tidur mulai terusik, karena mencium bau bensin yang sangat menyengat.
Bau bensin?
Renata langsung bangkit dari posisi tidurnya.
"Akhirnya kamu bangun juga."
Bola mata Renata terbelalak detik itu juga, "Sanaya, kamu..."
**
Pesawat pribadi milik Tuan J sudah mendarat.
Langkah lebar pria bermata kelam itu mendekati mobil, ada Arvin yang mengikutinya di belakang.
"Apa sudah ditemukan?" Tuan J bertanya pada Arvin, tatapannya masih ke depan, dengan ekspresi wajah terlihat menegang.
"Belum, Tuan. Tapi tentang siapa yang telah menyelamatkan Sanaya, aku sudah mengetahuinya," jawab Arvin.
"Siapa?"
"Dia──"
Drett.. Drett...
Perkataan Arvin terhenti oleh dering ponsel milik Tuan J, ada nama Sir. Matthew di layar. Perasaan Tuan J yang sejak awal tidak enak, semakin menjadi tidak enak.
Tuan J segera mengangkat panggilan telepon itu.
[ Tuan! Tuan! ]
Suara Sir. Matthew terdengar panik.
"Ada apa?"
[ Kediaman keluarga Tjong kebakaran, Tuan! ]
__ADS_1
"Apa!"
_To Be Continued_