
Hari Senin yang cukup cerah, Renata memulai aktivitas kuliahnya seperti biasa. Sebenarnya, Jefra sudah melarang Renata untuk kuliah karena sedang hamil. Namun, Renata tidak mau. Karena menurutnya, kehamilannya masih terlalu muda jika untuk cuti kuliah.
Mobil mewah itu telah sampai di kampus Renata. Jefra memang selalu menyempatkan diri untuk mengantar sang istri.
"Hati-hati, Sayang. Kalau kamu pusing atau perut sakit langsung menghubungiku, mengerti?" ujar Jefra mengusap pucuk kepala Renata sayang
Renata mengangguk sambil melepas sabuk pengaman. Setiap mengantarnya, Jefra memang selalu mengingatkan itu. Bosan. Tapi, dia tahu jika sang suami hanya sedang mengkhawatirkannya.
"Nanti aku akan menjemputmu," ujar Jefra ketika Renata hendak membuka pintu mobil.
"Bukankah kamu harus bekerja?"
"Aku ingin ke rumah sakit."
Renata terdiam mendengarnya.
Hembusan napas panjang terdengar, tatapan Jefra menerawang ke depan, "Aku sudah memikirkannya. Memang sebaiknya aku berdamai dengan masa lalu."
Renata meraih rahang Jefra, memberikan usapan penuh kasih sayang.
"Apa yang telah kamu putusnya adalah yang terbaik."
**
Maka, di sinilah mereka berada sore ini. Di rumah sakit tempat Theo Tjong di rawat.
"Selamat sore, Tuan dan Nyonya Tjong," sapa seorang pria berkacamata, dengan pakaian Dokternya.
Jefra hanya menggerakkan kepalanya sedikit, dan Renata tersenyum kecil. Lalu menghampiri Dokter itu, yang sudah selesai membungkuk.
"Tuan Theo sedang berada di taman bersama dengan Suster Rebecca," ucap Dokter seraya menunjukkan jalan ke arah halaman belakang.
Jefra mengangguk dan menggandeng tangan Renata dan mengikuti langkah sang Dokter.
"Jadi kamu akan memaafkan Tuan Theo?" bisik Renata.
Jefra tidak menjawab, hanya terus berjalan dan menggenggam jemari Renata lebih erat lagi. Semua rasa gugup sedang berkumpul di dalam dadanya.
Dan Renata mengetahui itu. Diusapnya punggung tangan Jefra dengan ibu jari, mencoba memberi ketenangan.
Sampaikan mereka di sebuah taman yang cukup asri. Ada seorang pria paruh baya yang terduduk kaku di kursi roda dengan ditemani Suster.
Suster Rebecca menoleh, melihat kedatangan Jefra dan Renata. Dia pun beranjak.
"Selamat siang, Ayah Mertua," sapa Renata menundukkan kepala, memberi hormat.
Sedangkan Jefra, memandang wajah Theo dengan ekspresi yang tidak berarti apapun. Sosok kejam, bengis, dan kasar dari sang Ayah sudah luntur begitu saja.
Benar, pria yang dulu menyakiti dirinya dan Ibunya sudah tidak berdaya.
Ketakutan akan sesuatu adalah akar dari kebencian terhadap orang lain. Namun saat ini, Theo hanyalah pria paruh baya pesakitan yang tidak membuat Jefra merasa takut sama sekali.
Jadi untuk apa dia masih menyimpan dendam? Bukankah Theo sudah mendapat balasan yang setimpal? Terlebih dia juga harus menuruti kata-kata sang Ibu supaya tidak membenci Ayahnya.
"Tuan Theo dua hari kemarin sakit. Badannya demam. Hari ini sudah tidak lagi. Sepertinya hanya flu biasa," lapor sang Dokter pada Jefra.
Jefra mengangguk, "Kalian pergilah."
__ADS_1
Dokter dan Suster segera pergi.
Tatapan Theo terlihat kosong. Dia sama sekali tidak merespon sapaan Renata. Hanya terus menatap halaman di belakang rumah sakit.
"A──" Jefra kembali menutup mulut, perkataannya seolah tertahan di tenggorokan. Lidahnya kelu mendadak. Begitu sulit untuk menyapa Theo.
Merasakan usapan dari jari lentik pada bahu, membuat Jefra menolah ke samping. Menatap Renata yang mengangguk dan tersenyum.
Kemudian Jefra menelan saliva dengan susah payah, dan hembusan napasnya terdengar berat.
"Ayah, ini aku──J."
Dapat terlihat jika pupil mata Theo sedikit membesar. Namun, tatapannya masih terlihat kosong.
Jefra kembali diam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia yang tidak memiliki hubungan baik dengan sang Ayah, tidak mungkin melontarkan kata-kata rindu dan semacamnya.
"Ayah Mertua, aku adalah istri putramu yang bernama Jefra Tjong. Maaf, karena kami baru mengunjungimu," ucap Renata memecah keheningan, "Aku sedang hamil anak pertama. Sebentar lagi Ayah memiliki Cucu..."
Renata memberi isyarat pada Jefra dengan kedipan mata, supaya suaminya berbicara lagi.
"...Ya, kemungkinan besar Cucu Ayah adalah laki-laki," ucap Jefra menimpali perkataan Renata.
"Ayah, pekerjaan Tuan J sangat baik di kantor. Dia telah menjadi pemimpin perusahaan yang disukai para karyawan," lapor Renata membanggakan sang suami. Lalu mengikut pinggang Jefra, "Benarkah, Suamiku?"
"Ya, benar," jawab Jefra mengiyakan saja.
"Saat ini hubungan J dan Alvaro sedang tidak baik-baik saja. Tapi, Ayah tidak perlu khawatir, itu hanya sebuah pertengkaran antara Kakak dan Adik. Jadi jangan memarahi suamiku jika Alvaro datang mengadu pada Ayah," celoteh Renata.
"Ayah..."
Renata terus bercerita dan Jefra juga turut menimpalinya. Walau Theo hanya diam saja, entah bisa mendengar atau tidak.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Aku dan J akan sering-sering berkunjung," ucap Renata saat menyadari waktu sudah menunjukan jam empat sore, lagi pula tidak baik jika Theo terlalu lama terkena angin sore.
"Hmm, aku akan sering-sering mengunjungimu," Jefra membenarkan ucapan istrinya, "Jadi berusahalah untuk sembuh supaya aku bisa membawamu pulang."
Renata tersenyum tatkala mendengar perkataan Jefra, yang menunjukan jika sang suami sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu.
Bibir Theo mulai bergerak-gerak, tetapi suara yang keluar tidak terdengar dengan jelas.
"Apa Ayah ingin mengatakan sesuatu?" tanya Renata yang menyadarinya.
"Aku akan memanggil Dokter," ujar Jefra.
"Tidak, tunggu," cegah Renata saat Jefra ingin pergi.
Theo dengan perlahan menoleh, lelehan air mata keluar dari sudut matanya. Lalu mengucapkan sesuatu yang membuat kaget.
"J..."
"A-apa?" kedua mata Jefra terbelalak, begitu pula dengan Renata.
Setelah sekian bertahun-tahun tanpa suara, tiba-tiba...
"J?" Theo kembali burucap dengan susah payah, "Ma, ma... maaf."
Kini, runtuh hati Jefra.
__ADS_1
"Astaga..." gemetar suara Renata, dia segera beranjak untuk memanggil Dokter.
Tidak lama kemudian Dokter datang dan bergegas memeriksa keadaan Theo. Membawa pria paruh baya itu kembali ke kamar rawat.
Jefra menarik tubuh Renata mundur dan memeluk erat.
"Kita pulang," bisik Jefra lirih.
"Ta-tapi Ayah?"
"Dokter akan menanganinya, besok saja kita datang lagi," jelas Jefra melepas pelukannya, kemudian menggandeng tangan Renata pergi.
**
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Renata begitu mereka berada di dalam mobil Limousine Jefra.
"Hmm," jawab Jefra singkat. Terlihat dari deru napasnya, tidak baik-baik saja.
"Asisten Arvin! Kaca!" seru Renata pada Arvin yang berada di kursi pengemudi, meminta supaya kaca jendela penghubung ditutup.
Setelah kaca itu naik sepenuhnya, Renata meletakan kakinya di atas pangkuan Jefra. Spontan, tangan suaminya itu langsung merengkuh pinggangnya. Mereka berhadapan.
Wajah Jefra ditangkup jemari lentik. Bibir dikecup perlahan, "Tenanglah, aku ada di sini. Di sampingmu."
Kedua kening bersentuhan. Renata memeluk Jefra. Membelai punggungnya. Menangkan hatinya yang dilanda rasa kalut.
"Ayah bersuara, setelah enam tahun hanya diam. Dan bersuara dan... dan... berkata maaf padaku," gagap Jefra. Terengah, kebingungan dengan perasaannya sendiri.
"Bukankah itu hal yang baik? Ayah sudah dapat berbicara meski hanya beberapa kata saja. Dia akan segera sembuh, bukan?"
"Aku tahu. Hanya saja kenapa dia dapat berbicara ketika aku menemuinya? Kenapa tidak berbicara ketika dia bersama Sienna, Alvaro, atau Kakek?"
Jefra memukuli kaca jendela untuk meluapkan perasaan tidak menentunya.
"Sialan! Kenapa aku menjadi merasa bersalah padanya? Padahal dia yang menyakiti Ibu dan berselingkuh dengan wanita yang justru memperlakukannya dengan buruk!"
"Jef! Sudah! Hentikan!" Renata meraih tangan Jefra yang masih saja memukuli jendela mobil. Dia kecup tangan yang memerah karena menghantam kaca dan mengembalikannya ke pinggang.
Dia peluk Jefra lebih erat. Membiarkan sang suami membenamkan kepalanya di dadanya. Dia rengkuh kepala Jefra dan berkali-kali mengecupnya.
"Tenang, Sayang. Tenangkan dirimu. Semua ada di masa lalu. Hanya masa lalu. Kamu bersamaku sekarang. Tidak ada yang menyakitimu," bisik Renata membelai rambut hitam Jefra, tidak membiarkan Jefra mengingat kenangan masa kecilnya yang buruk.
Tidak ada jawaban dari Jefra. Hanya lirih tangis yang terdengar. Jefra berusaha menahan, tetapi gagal. Dalam pelukan Renata dia mulai menangis.
Namun, kebencian yang begitu dalam pada sang Ayah koyak bersama air mata itu.
Ya, mulai sekarang Jefra ingin berusaha memaafkan Theo.
**
Di tempat lain.
Terlihat kedua pria yang sedang duduk berhadapan.
"Kau Alvaro Tjong?" tanya pria bermata biru dengan tatapan tajam.
Alvaro menyeringai samar.
__ADS_1
"Aku ingin menikahi Adikmu. Setelah itu berkerjasama lah denganku, Alex Rudiart."
_To Be Continued_