Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Menjadi Wanita Pintar


__ADS_3

Pagi harinya, Tuan J bangun dari tidurnya. Pandangan pria itu langsung tertuju ke bagian samping. Namun, dia tidak mendapati keberadaan Renata di sana.


Tuan J bangkit dari tidurnya, lalu mengusap wajahnya untuk mengumpulkan nyawa. Diliriknya ponsel yang berada di atas meja, lalu diraihnya. Kening pria itu mengerut ketika melihat jam yang masih menunjukkan pukul enam pagi.


Kemudian bangkit untuk bergegas keluar kamar. Berniat mencari keberadaan sang istri.


Ke mana Renata pada pagi-pagi buta seperti ini? Padahal Tuan J masih ingin memeluk istrinya itu sebelum bersiap pergi ke kantor.


Tuan J berjalan menuju dapur, dengan wajah bantal yang sialnya masih saja tetap tampan.


Namun, sebelum sampai di dapur dia mendapati Renata yang sedang sibuk di ruang makan. Menyiapkan roti untuk sarapan pagi.


Renata memang sengaja bangun lebih pagi supaya bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya, dia tidak mau seperti kemarin yang bangun terlambat. Dia sungguh menyesal, karena membiarkan sang suami berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.


"Dear," panggil Tuan J, lalu menghampiri Renata yang kini sudah mendongak menatapnya.


"Selamat pagi, Sayang," ucap Renata tersenyum lembut.


"Hmm," Tuan J hanya merespon singkat.


"Aku membuatkan sarapan. Sandwich dan kopi hitam."


Renata meletakan sandwich dan segelas kopi hitam yang masih mengepul di atas meja makan. Lalu berbalik untuk kembali ke dapur.


Tuan J masih berdiri tegap, lalu diam-diam melukis senyum. Sudah sangat lama dia diperhatikan seperti ini. Sudah tujuh belas tahun silam, setelah sang Ibu tiada.


Kemudian Tuan J duduk di kursi. Dia meraih gelas kopi, menghirup aroma kopi yang wangi, dan menyesapnya dengan pelan.


Sudah tidak ada rasa curiga jika Renata telah memasukan sesuatu yang aneh-aneh ke dalamnya. Dan terbukti, jika kopi itu terasa begitu nikmat.


Wajah bantal itu langsung berubah dalam hitungan detik. Menjadi jauh lebih segar dan cerah. Bahkan, hanya melihat sang istri menyiapkan sarapan untuknya.


Lalu Tuan J meraih sandwich, lalu menggigitnya. Setidaknya, kali ini masakan Renata terasa enak daripada kemarin.


Renata kembali dengan meletakkan satu porsi sandwich dan segelas kopi hitam di sisi lain meja makan, untuk Kakek Ashton yang mungkin sebentar lagi akan turun sarapan.


"Apa kamu sudah menyiapkan gaun untuk acara anniversary Ayahmu besok?" tanya Tuan J menatap Renata.


"Aku akan memakai gaun lamaku."


"Kenapa tidak membeli yang baru? Dan juga, kenapa kartu yang kuberikan belum kamu pakai?" tanya Tuan J merasa heran. Dia pikir, seorang wanita akan suka berbelanja, apalagi membeli gaun pesta.


"Gaunku sudah terlalu banyak," Renata terkekeh pelan, "Nanti juga aku pakai."


"Hmm," Tuan J hanya bergumam setelahnya. Dia menatap ke bawah, hendak menyingkirkan piring dari hadapannya.

__ADS_1


Detik itu juga, Tuan J merasakan sebuah jari mengusap bibirnya dengan lembut. Seketika dia terpaku di tempat, dan mulutnya berhenti mengunyah. Segala tindakan Renata memang benar-benar menguji jantung.


"Ada sisa mayonaise yang menempel," ucap Renata tersenyum tanpa dosa.


Debaran pada jantung Tuan J langsung terasa menggila.


Setelah berhasil meyakinkan perasaannya, hatinya menjadi sangat sensitif jika menyangkut Renata. Bahkan debaran jantungnya semakin terasa. Dia jadi tampak panik sendiri.


Buru-buru Tuan J menyudahi sarapannya, dirinya harus mandi untuk menenangkan perasaannya. Dia tidak mau terlihat gugup dan kikuk di depan Renata.


"Ka──" perkataan Renata terhenti tatkala Tuan J berdiri dari kursinya.


"Aku selesai."


Setelah mengatakan itu, Tuan J langsung berlalu. Meninggalkan Renata yang kebingungan sambil menatap kopi yang masih penuh, dan sandwich yang baru digigit setengah.


"Apa masakanku tidak enak lagi?"


Kemudian Renata mengambil sisah sandwich itu, dan memakannya tanpa ada raja jijik meski bekas gigitan Tuan J.


"Enak, kok," gumam Renata merasa lega setelahnya.


Renata mengangkat bahu. Dia beranggapan, jika Tuan J sedang terburu-buru, karena mungkin ada meeting yang mengharuskan suaminya itu datang lebih pagi.


Selanjutnya, Renata menyiapkan bekal dengan penuh kasih sayang dan hati-hati. Setelah selesai, dia bergegas ke kamar.


"Sayang," panggil Renata pada sang suami.


Tuan J sudah rapi dengan kemeja berwarna biru dongker, yang sebelumnya sudah disiapkan Renata.


"Hmm," jawab Tuan J yang terlihat fokus memasang dasi di lehernya.


Mengetahui suaminya sedang kesulitannya memasang dasi, Renata bergegas melangkah menuju tempat di mana suaminya berdiri, dan mengambil alih dasi yang berada di tangan Tuan J. Lalu membantu memasangkan dasi tersebut.


"Sudah diputuskan. Aku akan membantumu memasang dasi setiap hari," ucap Renata sesuka hati.


"Terserah," tukas Tuan J, entah pasrah atau memang itu juga keinginannya.


"Aku sudah menyiapkan bekal. Kamu harus membawanya, ya," ujar Renata.


"Bekal? Memangnya aku anak TK?"


Meski berkata seperti itu, Tuan J tidak berarti menolak bekal buatan sang istri.


Renata hanya tertawa kecil merespon ucapan dingin yang bermakna lain itu. Dia memang sudah sedikit terbiasa dengan sifat Tuan J yang satu itu.

__ADS_1


"Dear," panggil Tuan J yang langsung mendapat respon dari Renata.


"Ya?" Renata sudah selesai memasangkan dasi.


"Aku sudah mendaftarkanmu kuliah di Universitas terbaik."


Renata terlalu terkejut, dia bahkan sampai tidak mampu berbicara. Tuan J mendaftarkan dirinya kuliah? Padahal Renata sudah bilang tidak ingin kuliah. Apa sang suami tahu apa isi hatinya yang sebenarnya?


"Apa kamu malu, karena mempunyai istri yang hanya lulusan sekolah menengah atas sepertiku?" tapi justru pertanyaan inilah yang keluar dari mulut Renata.


Tua J menggeleng, "Bukan karena itu. Aku hanya ingin kamu menggapai impianmu menjadi seorang Psikiater. Aku tidak mau jika pernikahan kita menghalangi impianmu."


Setelah mendengar itu, Renata terdiam. Dia merasa tersentuh.


"Lagi pula kamu harus menjadi wanita pintar untuk untuk mengajari anakmu kelak."


Tuan J mengecup kening Renata perlahan.


Jantung Renata seketika ingin melompat keluar.


Menjadi wanita pintar untuk mengajari anakmu kelak, dia bilang?


Seketika bayangan anak kecil berambut hitam dan berwajah tampan melintas. Radion──putra mereka.


Apa Radion akan hadir di tengah-tengah mereka lagi? Oh, Renata sangat merindukan putranya yang tampan itu.


"Eh? Tapi, kenapa 'anakmu'? Yang benar 'anak kita'," ralat Renata mengatur napas supaya tidak terlihat gugup.


Tuan J memainkan rambut Renata yang menjuntai di kening, lalu tersenyum tipis, "Ya, anak kita."


Bayangan bahagia mulai merasuk. Renata melihat dirinya dan Tuan J yang sedang menggandeng tangan mungil Radion. Detik itu juga dia tersenyum senang.


"Hei, malah melamun," tegur Tuan J menyentil dahi Renata. Hanya saja, tidak sampai menimbulkan rasa sakit, "Aku tidak bisa memahami jalan pikiranmu yang tiba-tiba melamun."


"Barusan..." bola mata Renata mengerjap melebar, "Kamu mengatakan, jika kamu tidak memahami jalan pikiranku."


Tuan J terdiam, menunggu kelanjutan perkataan Renata.


"Apakah itu artinya kamu berusaha memahami aku?" Renata tersipu malu, "Kamu ternyata memikirkan aku!"


Renata tertawa ketika melihat Tuan J yang memalingkan muka, dengan telinga yang memerah.


"Ternyata kamu diam-diam memikirkan aku!" Renata tertawa lebih keras lagi, semakin gencar menggoda sang suami.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2