Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Sebuah Konspirasi


__ADS_3

Brak


Tuan J menutup pintu mobil dengan cukup kencang. Hingga membuat Arvin terlonjak kaget.


"Ada apa, Tuan? Kenapa marah-marah?" tanya Arvin sembari melihat Tuan J lewat spion tengah.


Tuan J tidak menjawab pertanyaan Arvin, tapi melemparkan sebuah amplop cokelat pada Asistennya itu.


"Selidiki itu."


Arvin membuka amplop yang berhasil ditangkapnya itu, terdiam ketika melihat isinya. Namun, tidak lama kemudian teringat tentang sesuatu.


"Waktu itu ada yang melaporkan jika Nona Angel diikuti oleh Aslan di gedung parkir Karyawan."


"Kenapa kamu baru mengatakan itu?" tanya Tuan J dengan nada membentak.


"Soal itu karena Nona Angel sudah memukul Aslan hingga tidak berdaya. Lagi pula, bukankah Tuan tidak perduli pada Nona Angel?"


Sebenarnya Arvin ingin melapor, tapi ragu karena Tuan J yang selalu menyangkal dan terlihat tidak perduli pada Renata.


Tuan J menghela napas kasar, "Mulai sekarang laporkan apapun tentang gadis itu padaku, dan suruh orang untuk selalu mengawasinya."


"Baik, Tuan," patuh Arvin.


Kemudian Arvin kembali melihat foto-foto yang menunjukan Renata dan Aslan yang sedang memasuki kamar hotel, Aslan yang sedang mengungkung Renata di ranjang, Aslan yang mencoba melepas pakaian Renata, dan Aslan yang memberikan ciuman.


Aslan Allansky, jika ditanya kenapa Jefra Tjong mengenal Aslan karena pria itu adalah putra dari keluarga Allansky, pemilik saham paling besar di Allansky Group──perusahan terbesar setelah Tj Corp. Bisa dibilang saingan bisnis Jefra Tjong sendiri. Kedua perusahaan itu memang selalu berlomba-lomba untuk mendudukinya posisi pertama.


"Kudengar Aslan baru pulang dari luar negeri, kini dia sudah menjabat sebagai Direktur Utama Allansky Group. Sebelumnya tidak pernah terdengar kabar jika dia berhubungan dengan seorang wanita terlebih dengan Nona Angel. Tapi dia memang memiliki hubungan buruk dengan Alvaro."


Jangan ditanya dari mana Arvin mengetahui itu semua. Dia adalah Asisten CEO dari perusahaan nomor satu, tentu saja memiliki segudang informasi.


"Rival Alvaro?"


"Ya, Tuan. Bisa jadi Nona Angel hanya korban dari perselisihan keduanya. Bukankah Nona Angel kekasih Tuan Alvaro?"


Tuan J menatap tajam Arvin.


"Ah, maksudku mantan kekasih," ralat Arvin.


"Lantas foto-foto itu?"


"Aku akan menyelidiki foto-foto ini."


**


Satu tahun sebelumnya.


Untuk pertama kalinya Angel menginjak lantai Club malam, sebuah tempat yang akan membawa pengalaman yang mengejutkan baginya.

__ADS_1


Tiba di Club, Anya sudah menantinya dengan dua orang pria asing. Dia dan Anya memang sudah membuat janji tapi dia tidak tahu jika Anya akan membawa seorang teman, terlebih dua orang pria. Sebenarnya, Angel menuruti Anya untuk bersenang-senang di Club lantaran tengah tidak enak hati karena Alvaro sudah tidur dengan Adik tirinya.


Malam itu dengan diterangi lampu disko warna-warni dan dentuman lagu yang dimainkan seorang DJ, Angel berbincang dengan Anya dan kedua pria asing itu. Selama tiga puluh menit mereka berbincang, suasana akrab terjalin hingga Angel ditawari minum oleh salah satu pria asing itu──Aslan.


"Tapi aku tidak minum Alkohol," tolak Angel tersenyum canggung.


"Tidak apa, Sweety. Minuman ini tidak mengandung Alkohol, ini hanya es teh," dusta Aslan mencoba membujuk Angel.


Kenyataan itu adalah Es teh Long Island, jenis koktail yang memiliki kandungan alkohol terbanyak, memang minuman itu memiliki rona warna kuning yang sama seperti es teh.


"Tapi──"


"Minum saja, Angel. Tidak akan terjadi apa-apa. Lagi pula kan ada aku," desak Anya memotong penolakan Angel.


"Baiklah," pada akhirnya Angel menurut.


"Ayo kita ke lantai dansa," Anya mengajak pria asing satunya.


Kemudian keduanya meninggalkan Angel bersama dengan Aslan.


"Kenapa aneh rasanya?" Angel mengeryit ketika merasakan pahit dari minuman yang baru saja diminumnya.


"Itu karena kamu belum terbiasa saja, Sweety. Setelah terbiasa pasti akan terasa manis. Coba habiskan," ujar Aslan tersenyum meyakinkan.


"Berhenti memanggilku Sweety!" ketus Angel.


Aslan terkekeh, "Habisnya kamu manis sekali."


"Ya, ya, ya, aku tahu itu," Aslan memutar bola mata.


Kemudian bola mata abu-abu milik Aslan melirik Angel yang sedang menghabiskan minumannya, seringai samar terbit di bibir tipisnya.


Setelahnya, Angel merasa pusing tiba-tiba menyerangnya dan pandangannya kabur.


"Kepalaku pusing."


Angel limbung dari kursi yang didudukinya, hampir terjatuh jika Aslan tidak memeluk pundaknya. Bersama itu juga Alvaro datang bersama dengan Sanaya.


Angel masih mencoba mempertahankan kesadarannya, "Aslan, tolong panggilkan Anya, aku ingin pulang."


"Biar aku yang mengantarmu, Sweety," bisik Aslan tepat di depan telinga Angel.


Alvaro yang melihat Aslan memapah Angel langsung naik pitam, tangannya terkepal ingin sekali meninju pria yang sudah dianggap rivalnya itu.


Ketika Alvaro ingin menghampiri Aslan dan Angel pergerakannya terhenti karena Sanaya menahan lengannya, "Apa kamu sudah percaya kalau Kak Angel selingkuh di belakangmu?"


"Tidak, pasti pria itulah yang menggoda Angel duluan. Angel tidak mungkin selingkuh di belakangku," bantah Alvaro.


"Bagaimana kalau kita ikuti mereka? Kita lihat ke mana Kak Angel dan pria itu akan pergi."

__ADS_1


Dan akhirnya Alvaro mengikuti apa yang dikatakan Sanaya.


Beberapa saat kemudian.


Aslan dengan memapah Angel memasuki kamar hotel, bahkan pria itu memeluk erat pinggang Angel, sedangkan Angel terlihat pasrah dan tidak melawan. Hal itu cukup membuat Alvaro mempercayai jika Angel benar-benar selingkuh di belakangnya, kepercayaan Alvaro pada Angel seketika koyak saat itu juga.


Alvaro segera meninggalkan hotel tanpa tahu jika Angel telah dijebak, ada sebuah konspirasi di antara Sanaya, Anya, dan Aslan.


Sedangkan di dalam kamar hotel. Aslan segera menjatuhkan Angel di atas ranjang. Lalu langsung melepas kemeja yang dikenakannya dan menyisakan celana jeans hitam.


"Aslan, kenapa kamu membawaku ke sini?"


Ternyata Angel masih mempunyai sedikit kesadaran.


Aslan menindih Angel dengan menggunakan tangan kanan sebagai tumpuan, dan tangan kirinya digunakan untuk mengelus pipi Angel.


"Jangan takut, Sweety. Aku tidak akan menyakitimu. Setelah ini aku pasti akan bertanggung jawab. Aku akan benar-benar merebut kamu dari Alvaro karena kamu akan menjadi milikku seutuhnya."


Angel menggeleng takut, ingin lari tapi tubuhnya lemas tidak bertenaga, kesadarannya pun berangsur-angsur mulai menghilang sepenuhnya.


Aslan menciumi wajah Angel dengan begitu lembut, tapi tidak membuat gadis itu merasa senang, justru merasa dilecehkan. Ciumannya turun ke leher dan memberikan jilatan di sana. Tangan Aslan juga tidak tinggal diam karena mulai membuka kancing blouse yang dikenakan Angel.


Satu persatu kancing dibuka Aslan.


"Ja-jangan... Hiks..."


Namun, suara tangisan Angel menghentikannya.


"Hiks..."


Aslan langsung menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah Angel. Hatinya mencelos tatkala melihat wajah cantik si gadis yang sudah dibanjiri air mata.


Dari lubuk hati yang paling dalam pria itu begitu mencintai Angel. Gadis yang hanya bisa dikagumi diam-diam.


Padahal Aslan yang melihat Angel duluan daripada Alvaro, mengagumi duluan, dan mencintai duluan. Karena merasa takut ditolak dia tidak kunjung mengungkapkan perasaannya, sampai-sampai keduluan dengan rivalnya.


Dia tidak bisa menerima jika Angel menjalin hubungan dengan Alvaro lebih jauh lagi, apalagi sempat mendengar kabar jika keduanya akan menikah. Oleh karena itu, Aslan sengaja menerima kerjasama yang ditawarkan Sanaya agar dapat memiliki gadis yang dicintainya itu.


Namun, sepertinya tindakannya salah. Dia tidak bisa melihat Angel terluka seperti ini.


"Angel, maafkan aku."


Kemudian Aslan mengancingkan kembali kancing blouse yang sempat dibukanya tadi.


Pada akhirnya Aslan tidak bisa melakukan itu.


Akan tetapi, Aslan sendiri tidak tahu jika aksi awalnya sudah difoto Sanaya yang mengintip dari cela pintu kamar hotel yang memang tidak terkunci.


"Setidaknya aku sudah mendapat bukti jika kamu benar-benar jal*ng, Angel."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2