
Di ruang kerja.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, J?" Sienna masih saja bertanya setelah apa yang telah diperbuatnya.
Benar-benar wanita yang tebal muka.
Tuan J yang awalnya menatap keluar jendela beralih menatap si Ibu tiri dengan dingin. Wajahnya begitu datar namun terlihat tegang. Dia menahan napas, seperti sedang menahan emosi di dalam dada.
Jemari Tuan J gatal ingin sekali mengambil pistol yang berada di balik ikat pinggangnya.
Sementara itu, Sienna hanya menatap Tuan J sambil tersenyum palsu.
"Sudah kubilang, jangan mengganggu rumah tanggaku," Tuan J berkata dengan penuh tekanan.
Tanpa sadar kaki Sienna mundur satu langkah, karena merasa aura berbahaya yang begitu pekat dari Tuan J.
"Apa maksudmu, J? Siapa yang mengganggu rumah tanggamu?" kelit Sienna pura-pura tidak tahu.
Tuan J makin memberikan tatapan tajam, "Kamu telah mengirim putri keluarga Arca untuk mengganggu bulan madu kami, bukan?" tanyanya sedikit membentak.
"Ya ampun, J... Tidak baik menuduh Ibumu seperti itu, Ibu tidak melakukan apa-apa, bahkan Ibu tidak tahu masalah itu," dusta Sienna.
"Kamu bukan Ibuku! Jangan mengaku-ngaku menjadi Ibuku, sialan!" sentak Tuan J, dia memang tidak sudi mengakui Sienna sebagai Ibunya, sampai matipun tidak akan pernah sudi.
Ibunya hanya satu, yaitu Aruna Tjong.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Tuan J mendekat pada Sienna. Tangannya langsung mencengkram leher Sienna.
"Akhh.... Akhh..." Sienna mulai kesulitan bernapas karena lehernya dicekik Tuan J.
Meski Tuan J hanya menggunakan satu tangan, tapi cekikan itu terasa begitu kencang dan tidak bisa dilepas.
"Jangan kira, aku bodoh dan percaya dengan tingkah pura-pura tidak tahu kamu itu!" desis Tuan J makin marah.
Kini, Sienna hanya menggelengkan kepala dengan lemah, hanya itu yang wanita paruh baya itu bisa lakukan. Air mata mulai menetes, dia memberikan tatapan memohon pada Tuhan J supaya melepaskannya.
"Kamu benar-benar ingin dilenyapkan, ya?" desis Tuan J.
Sienna kembali menggelengkan kepala, "To-tolong," ucapnya sampai tidak terdengar.
Melihat wajah wanita itu semakin pucat, Tuan J melepas cengkeramannya.
Sienna ambruk di lantai dengan napas susul-menyusul. Memegangi lehernya yang sakit, dan terbatuk terus-menerus akibat udara pada paru-paru yang hampir habis.
"Padahal aku sudah memberimu peringatan sebelumnya!" bentak Tuan J sampai urat lehernya terlihat kaku saking emosinya dengan Sienna.
Diambilnya pistol, lalu membidik kepala Sienna.
"J-J... Ka-kamu ingin membunuhku?"
Sienna sangat ketakutan melihat moncong pistol yang akan mengeluarkan peluru dan melubangi tengkorak kepalanya.
__ADS_1
"Menurutmu?" Tuan J semakin mendekatkan moncong pistol hingga menyentuh kulit dahi Sienna.
"A-ampun, J, jangan bunuh aku..." Sienna meminta ampunan dengan gemetaran.
Tuan J tersenyum sinis, "Bukankah sudah cukup bagimu bertingkah selama ini? Wanita busuk sepertimu, seharusnya mati sejak dulu."
Sienna memejamkan mata, tubuhnya sudah lemas, sepertinya dia akan pingsan karena sangat ketakutan.
"Ku... Kumohon ampuni aku, aku berjanji tidak akan berulah lagi. Bagaimana dengan Theo jika aku mati?"
Tuan J diam sekejap. Seketika itu juga perkataan sang Ibu agar tidak membenci sang Ayah teringat olehnya.
Kemudian Tuan J menurunkan pistolnya, yang membuat Sienna bernapas lega. Namun detik berikutnya, wajah wanita paruh baya itu kembali pucat.
"Baiklah aku tidak akan membunuhmu. Tapi aku akan mencabut semua fasilitasmu. Kamu tidak boleh tinggal di kediaman keluarga Tjong lagi, karena aku sudah muak melihat wajahmu."
Sienna langsung menggeleng kaku. Tidak, bahkan ini lebih buruk dari kematian.
"Tapi bagaimana dengan Ayahmu? Aku masih harus merawat dan menemaninya," lagi-lagi Sienna mencoba berlindung di balik nama Theo.
"Kamu bisa membawa pria itu bersamamu. Aku mau lihat, apa kamu masih mau merawat dan menjaga pria itu setelah fasilitasmu dicabut. Seberapa tulusnya kamu padanya?" Tuan J tersenyum sinis.
Merawat pria stroke dalam kemiskinan? Ini benar-benar kiamat bagi Sienna!
"Ka-kamu tidak bisa berbuat seperti ini padaku, J!" seru Sienna tidak terima.
"Kenapa tidak bisa?" Tuan J bertanya dengan santai.
"Nyonya Besar kamu bilang?"
Tawa sinis menyebar di udara, yang mampu menjatuhkan mental Sienna detik ini juga.
"Semua pelayan saja tahu, jika posisi Nyonya Besar tidak pantas untukmu! Kamu tidak bisa menggantikan posisi Ibuku di keluarga Tjong, meski Theo sangat mencintaimu. Kamu itu tidak lebih dari seorang gundik!"
Wajah Sienna langsung memerah, dia ingin marah dengan apa yang dikatakan Tuan J. Tapi masih ada kengerian pada dirinya, saat merasakan moncong pistol menyentuh dahi. Dia takut jika Tuan J akan menodongkan pistol lagi. Dan saat itu juga dia akan mati.
Tuan J melangkah menghampiri pintu.
"Segera berkemas dan pergilah. Ingat, aku akan mengawasimu, jangan mencoba untuk bertingkah lagi, atau kamu akan berakhir... tanpa nyawa!"
Setelah mengatakan itu, Tuan J menghilang di balik pintu.
"Aaaa!"
Sienna memekik histeris. Dia tidak menyangka jika Tuan J akan mengusirnya.
**
Terlihat Renata yang sedang duduk di ruang makan, ada Sir. Matthew yang berdiri di sampingnya.
"Nyonya Besar, ini steak yang baru saja saya ambilkan untuk anda. Saya tidak tahu, apakah anda mempunyai selera makan?"
__ADS_1
"Ah, aku hanya tidak bisa memakan stroberi. Selebihnya aku suka semua," ungkap Renata. Dia memang tidak memilih-milih makanan.
Seorang pelayan meletakkan piring yang berada di tangannya, di depan Renata.
"Steak ini baru saja dipanggang, dagingnya empuk dan lembut. Nyonya Besar bisa mencicipinya."
"Terima kasih," ucap Renata tersenyum. Lalu mengulurkan tangan untuk mengambil pisau dan garpu, "Aku akan mencicipinya."
Renata mulai memakan steak itu.
Semua orang menatap Renata seolah-olah dia adalah spesies yang langka.
Sudah lama sekali para pelayan mengharapkan kedatangan sang Nyonya Besar pengganti Aruna Tjong. Mereka senang karena berkat kehadiran Renata, Tuan J kembali tinggal di kediaman keluarga Tjong.
Mereka sudah menunggu saat-saat seperti ini. Saat di mana Sienna tidak bisa berlagak berkuasa lagi. Para pelayan yang sangat menghormati Aruna, tentunya tidak menyukai Sienna yang membuat sang Nyonya Besar terdahulu menderita.
Tuan J berjalan memasuki ruang makan. Seketika itu juga, para pelayan yang menemani Renata makan segera menyingkir, termasuk Sir. Matthew.
"Apakah kamu makan steak?" tanya Tuan J yang sudah terduduk di sebelah Renata.
"Ya."
Renata mengangguk. Matanya membulat besar tatkala melihat ketampanan sang suami yang memakai kaus putih polos serta kardigan cokelat. Terlihat lebih mudah daripada umur yang sebenarnya.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Renata mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Tidak, hari ini aku bekerja di rumah."
Renata membulatkan bibir membentuk huruf o kecil, lalu kembali mengiris daging. Sebelum memasukkan daging ke dalam mulut, seketika tangannya terhenti karena perkataan Tuan J.
"Kamu tidak ada niat, menyuapiku?"
"Hah?" Renata hanya bisa ternganga. Memandang wajah tampan Tuan J dengan seksama. Dan suaminya itu, dengan ekspresi datar yang masih mendominasi.
Apa sekarang Tuan J sedang mode manja? Bisanya harus dipaksa dulu baru mau disuapi.
"Ehm, hmm, " Tuan J berdeham sebanyak dua kali karena Renata menatapnya bengong. Terlihat jika telinganya memerah. Entahlah, dia juga tidak tahu kenapa mulutnya refleks mengatakan itu.
"Memang kamu belum makan?" tanya Renata setelah tersadar.
"Belum," dusta Tuan J.
Renata memilih untuk menyuapi sang suami dengan potongan daging yang tadi ingin dia makan. Detik kemudian, Tuan J segera membuka mulut tanpa disuruh.
Di tengah Tuan J sedang mengunyah, dia tersenyum tipis.
Dan sekarang, Renata harus rela membagi steak miliknya untuk dimakan berdua dengan sang suami.
Aku seperti memiliki anak yang sudah tua, batin Renata.
_To Be Continued_
__ADS_1
Halo, Guys. Makasih banget sudah komentar positif dan masukannya. Jangan lupa kasih bintang 5, ya. Dan juga tinggalkan like dan komen biar otor selalu semangat nulisnya, lop u kesayangan ❤️