Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Aku Mencintaimu!


__ADS_3

"Yang membuatku kecewa dan bersikap menyebalkan, karena aku sudah mengerti bahwa daya tarik fisik di antara kita yang begitu menghanyutkan, kebersamaan kita selama menjadi sepasang suami istri yang begitu mesra, meskipun sangat membahagiakan. Namun, ternyata tidak ada hubungannya dengan cinta. Setidaknya, tidak dari pihakmu."


Renata terpana. Diam-diam dicubitnya tangannya, khawatir semua ini hanya mimpi.


"Aku tidak bisa membiarkan kamu mencintai pria lain. Itulah sebabnya aku... cemburu. Karena aku tahu ketika kamu pergi dari sisiku, aku pasti akan merasa hancur dan sangat kecewa."


Dengan sigap jemari Renata digenggam oleh Tuan J, dan ditariknya tubuh mungil itu ke arahnya. Berhadapan dengannya. Dia dekap tangan Renata di dada.


"Jantungku selalu berdebar ketika bersamamu. Saat ini pun berdebar kencang. Kamu bisa merasakannya, bukan?" Tuan J berucap lirih. Menarik perlahan tubuh Renata hingga masuk dalam pelukannya.


Oh, astaga! Renata yakin sekarang, ini bukanlah mimpi!


Renata menarik napas dengan pelan, lalu kedua tangannya bergerak ingin memeluk pinggul Tuan J. Namun, pergerakannya digagalkan saat bahunya didorong dengan paksa.


Ada apalagi ini?


"Sialan! Mengapa kamu membuat perjanjian pernikahan simbiosis mutualisme itu? Memang apa yang ingin kamu dapatkan dariku? Uang? Kekuasaan? Kekuatan untuk melindungimu? Hatiku? Selamat! Kamu sudah mendapatkan semuanya! Kamu boleh mendapatkannya. Dan setelah itu, aku akan menjadikanmu milikku selama-lamanya."


Renata terdiam. Hebat! Jadi dia sudah mendapatkan semuanya?


Melihat Tuan J sepertinya akan berhenti berkata, Renata segera berkata, "Teruskan."


Tuan J tertawa sumbang, "Kenapa tidak? Seperti kukatakan tadi, mungkin kamu pantas mengetahui hal yang sebenarnya. Sampai di mana aku tadi?"


"Aku boleh mendapatkannya..." kata-kata yang begitu didambakan Renata itu ternyata sangat sulit diucapkan, "Akan menjadikan aku milikmu selama-lamanya."


"Ya!" hati Renata yang sudah melambung mendadak terbanting kembali ketika Tuan J menambahkan, "Tentu saja, aku tidak mungkin mendekatimu karena kamu terkenal sebagai pelakor. Aku sangat membenci pelakor. Tapi ternyata aku semakin jatuh padamu ketika tahu jika semua itu salah. Kamu hanyalah gadis yang berpura-pura kuat saja."


Bagus! Jadi selama ini Tuan J menganggapnya hanya berpura-pura kuat? Ayolah, padahal Renata sudah sangat berjuang dalam melawan takdir dunia novel ini.


"Aku sudah merencanakan untuk menjadikan kamu target balas dendam, tapi nasib rupanya menentukan lain," suara Tuan J melemah, seolah-olah dia menyesali diri.


"Pada akhirnya kita menikah. Mulailah aku sadar bahwa selama itu aku telah menipu diri sendiri. Aku benar-benar ingin memilikimu. Rasanya ingin aku bakar saja perjanjian sialan yang menghalangiku untuk bisa bebas memilikimu."


"Ketika kamu memperhatikan dan memperdulikan aku, rasanya sangat bahagia, seolah-olah aku telah menemukan surga. Tapi kulihat reaksimu malah sebaliknya. Kamu seperti ingin diam-diam akan menyelinap pergi, ingin meninggalkanku setelah mengambil semua hatiku bahkan jiwaku."


Mata Renata mengerjap beberapa kali. Apakah semua ini bukan mimpi yang menjadi kenyataan, tapi realitas yang selama ini tidak disadarinya? Jadi selama ini mereka memilih perasaan yang sama?


"Jefra," kata Renata lembut.


"Apa?" tanya Tuan J sewot.


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


Tubuh Tuan J meng ejang, tatapannya menembus ke lubuk hati Renata.


Tidak seperti Tuan J, Renata langsung berkata dengan to the point, tidak berbelit-belit.


Entahlah, Renata juga tidak mengerti kenapa untuk mengatakan 'aku mencintaimu' saja, Tuan J harus berputar-putar dulu. Tapi, itu justru terlihat menggemaskan.


Apalagi dengan ekspresi bermacam-macam pria itu, seperti marah, kecewa, benci, mendamba, malu, dan masih banyak. Renata ingin sekali mengabadikan ekspresi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya itu.


Kerut-kerut di dahi Tuan J semakin dalam, sehingga alisnya yang tebal nyaris bersatu dengan rambutnya yang berwarna hitam, matanya menyipit, "Bisakah kamu ulangi apa yang kupikir kamu katakan barusan?"


Renata tersenyum, kebahagiaannya meluap-luap. "Aku mencintaimu."


Bibir Tuan J perlahan-lahan merekah membentuk senyum lebar, yang baru dilihat Renata dua kali ini.


"Oh, Dear. Sayangku Renata."


Mereka berdua bergerak bersamaan, dan dalam sekejap, sudah berpelukan, berciuman, berkata-kata dalam kalimat-kalimat yang tidak selesai, semuanya dimulai dengan darling dan sweetheart.


Mereka berangkulan erat dan bertatapan lama, seakan-akan tidak ingin melepaskan diri lagi untuk selama-lamanya.


"Tapi dalam satu hal aku ternyata keliru, sangat sangat keliru. Tadinya kupikir kita bisa bahagia, meskipun kamu tidak mencintaiku, tapi nyatanya aku sangat tersiksa," ungkap Renata.


Secepat kilat Tuan J menutup bibir Renata dengan bibirnya. Pria itu memberikan kecupan sekilas, lalu melepas dengan cepat, "Jangan mengakan hal seperti itu! Aku tidak mau mendengar apapun dari bibirmu. kecuali, ucapan cinta!"


Renata terdiam. Kemudian terkekeh. Kenapa sekarang Tuan J justru memaksanya untuk mencintai dia?


Tubuh mereka merapat lagi, hingga jarak benar-benar mengikis, bahkan selembar kertas tidak mampu terselip di tengah-tengah mereka.


"Jawab, Renata!" kata Tuan J, yang terkesan memaksa, "Katakan dua kali lagi, tidak, berkali-kali lagi. Aku ingin terus mendengarnya!"


Jujur, Renata ingin tergelak mendengar ucapan Tuan J. Hanya saja, dia tidak ingin merusak momen indah ini.


Renata menghela napas untuk mereda keinginannya itu. Di saat itu juga, tatapan Tuan J tidak lepas darinya.


Dan detik kemudian, Tuan J mengangkat Tubuh Renata, hingga tubuh mungil itu berada digendongnya.


"Hei!" Renata menjerit tertahan, karena dia terkejut dengan gerakan suaminya itu. Dan beberapa saat setelahnya, Renata kaget ketika Tuan J meraup bibirnya tiba-tiba.


Namun, Renata berusaha menyesuaikan diri. Dilingkarkan tangannya di leher Tuan J. Dan kedua kakinya di pinggul suaminya itu.


Tautan bibir mereka masih tetap berlanjut, hingga terdengar suara yang membuat bulu kuduk merinding.


Tuan J melangkahkan kakinya ke ranjang tidur mereka. Melepas ciuman, lalu merebahkan tubuh Renata dengan lembut. Kepalanya setengah menunduk, untuk menatap wajah cantik sang istri penuh makna.

__ADS_1


"Aku ingin dengar lagi," pinta Tuan J sembari membelai pipi Renata dengan lembut.


"Dengar apa?" tanya Renata, menatap wajah tampan Tuan J.


Dia tidak menyangka, jika dia bisa memiliki hati Jefra-nya sekali lagi, bahkan sebelum ingatan masa lalu suaminya itu kembali.


"Jangan pura-pura lupa, Dear," tukas Tuan J tersenyum tipis, sambil mengusap permukaan bibir buah persik yang sudah menjadi candu baginya, "Kamu mencintaiku?"


Hanya itu yang Tuan J sangat sangat ingin dengar terus saat ini. Karena ketika dia mendengarnya, hidupnya kembali berwana.


Benar kata Arvin, berwarna merah muda!


Ini terkesan berlebihan, tapi itulah kenyataannya yang dihadapinya saat ini.


Saat tahu, jika sang istri memiliki perasaan yang sama sepertinya. Hal itu membuat Tuan J bahagia. Jika bisa dia ingin meloncat setinggi-tingginya, tapi ia teringat jika saat ini hanya memakai selembar handuk.


Akan lucu jika dia meloncat.


"Ya, aku mencintaimu, Jefra-ku Sayang."


Oh, sial! Tuan J tidak tahan untuk untuk menerbitkan senyum bahagia di bibirnya.


Tuan J ikut merebahkan tubuhnya di samping Renta, lalu menindih sang istri dengan menahan setengah berat tubuhnya.


"Lagi!"


"Aku mencintaimu."


"Sial! Jantungku hampir meledak karena senang," gumam Tuan J.


Detik kemudian, Tuan J langsung menyerang bibir Renata dengan ganas.


Renata yang kaget hanya bisa terbelalak. Namun, tidak menunggu lama, dia mulai mengimbangi semua hal yang dilakukan suaminya itu.


Gerakan bibir Tuan J kian meluas, dari menggigit hingga mengulum, bahkan sesekali dia menarik dengan lembut.


Ciuman itu menjalar menuju pipi, lalu beralih di leher jenjang Ranata.


Suara lenguhan lolos begitu saja dari bibir Renata. Yang menjadi bara api dari sang serigala yang ingin memulai aksinya.


Tuan J memberikan kecupan dengan tanda merah yang terputus-putus di leher Renata. Dia berhenti sebentar, untuk menghirup dengan dalam aroma lembut dari sana.


Tak lama lagi mereka akan bercinta, dan kali ini, sudah dipastikan tidak ada yang perlu ditahan-tahan atau ditutupi-tutupi. Kebahagiaan yang terbentang di depan mereka, membuat mereka nyaris tidak berani memikirkannya. Dan mereka sama-sama tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku cinta padamu," bisik mereka, pada saat yang bersamaan.


_To Be Continued_


__ADS_2