
Tadi pagi hingga siang hari akad nikah dan resepsi telah usai digelar. Lalu sorenya, Renata serta sang suami langsung berangkat menuju bandara dengan mobil Limosin yang sudah dihias cantik seperti mobil pengantin pada umumnya. Setelahnya, terbang ke negara B dengan menggunakan jet pribadi milik Kakek Ashton.
Rencananya, mereka akan menghabiskan waktu lima hari honeymoon.
Sekarang Renata sedang berada di apron bandara. Dia masih tampil dengan gaun pengantin, begitu pula dengan Tuan J yang sedang berdiri di sebelahnya sembari menelepon seseorang.
Terkesan grasak-grusuk memang, bahkan mereka tidak sempat ganti baju, sedangkan barang-barang mereka entah sejak kapan sudah disiapkan di dalam koper-koper besar.
Jari kaki Renata terasa perih sekali, telapak kakinya juga terasa panas. Mungkin ini karena ia terlalu lama berdiri menggunakan sepatu hak tinggi. Renata ingin melepaskannya namun tidak mungkin ia berdiri tanpa alas kaki. Dia pun memijat betisnya yang pegal.
Dan pada saat Renata memijat betis, Tuan J yang sudah menyimpan ponsel di dalam saku celana bertanya, "Kamu ngapain?"
Renata sedikit senang ditanya sang suami, walaupun itu terdengar sangat dingin. Mau bagaimana lagi, itu memang gaya bicara suaminya.
"Kakiku sakit," jawab Renata lebih terdengar merengek.
Renata berharap jika suaminya itu menggendongnya seperti ala-ala princess. Namun, perkataan yang keluar dari mulut Tuan J selanjutnya langsung mematahkan harapan itu.
"Jangan manja."
Sungguh terlalu. Renata mengerucutkan bibir.
Sett
Renata tertegun tatkala Tuan J berjongkok di depannya, melepas sepatu hak tinggi yang membuatnya tidak nyaman itu.
Lalu Renata bernapas lega seraya melihat kakinya yang sudah tidak terbungkus sepatu. Dan hal tidak terduga yang dilakukan Tuan J selanjutnya adalah melepaskan sepatu pantofel yang ia kenakan dan memakaikannya pada kedua kaki Renata.
Kedua mata Renata berkedip-kedip setelah sang Suami berdiri dari posisi jongkoknya.
__ADS_1
"Pegang ini," ujar Tuan J menyerahkan sepasang sepatu hak tinggi milik Renata.
Renata menerimanya, tatapnya beralih ke bawah, menatap sepasang kaki Tuan J yang tidak memakai apapun──tanpa alas kaki, "Kamu tidak apa seperti itu?" tanyanya.
"Tidak apa," Tuan J menjawab seolah-olah hal itu tidak membuatnya malu atau tidak membuat telapak kakinya sakit karena langsung bergesekan dengan aspal.
Renata mengigit pipi bagian dalam, merasa gemas dengan perlakukan manis dari suaminya. Bagaimana bisa dia tidak semakin jatuh hati pada pria itu?
Baru saja Renata hendak mengucapkan terima kasih, seorang Bodyguard mendekat dan mengatakan pesawat mereka telah siap.
"Ayo, pesawat telah siap," ujar Tuan J segera berjalan di depan, meninggalkan Renata beberapa langkah di belakang.
Pesawat jet pribadi milik Kakek Ashton memang luar biasa mewah. Renata sampai takjub dibuatnya. Memang ini bukan pertama kali baginya menaiki jet pribadi, tapi tetap saja Renata dibuat kagum dengan kemewahan yang terpampang di setiap jengkal pesawat.
Lantai marmer dan karpet berbahan terbaik, perpaduan cantik dengan aneka kristal di sekeliling. Mulai lampu, vas bunga, serta peralatan minum seperti botol wine dan gelasnya. Pesawat ini terdapat berbagai fasilitas mewah di dalamnya seperti, kamar tidur dengan kasur empuk yang nyaman, kamar mandi dengan shower besar, ruang makan, bahkan home theater untuk bersantai.
"Bahkan ini lebih mewah daripada hotel bintang lima," decak kagum Renata seraya berjalan keliling kabin pesawat.
Renata tersenyum diikuti dengan tawa kecil. Dia tidak perduli cibiran suaminya itu. Kini ia terlalu senang.
"Apa ini?" tanya Renata setelah menerima paper bag pemberian Tuan J. Lalu segera melihat isinya, sebuah dress dan sepatu slip on yang masih terbungkus rapi.
"Sesuatu yang lebih nyaman untuk dipakai daripada gaun pengantin. Setelah itu istirahatlah karena perjalanan akan memakan sekitar satu setengah jam," ujar Tuan J.
Wajah Renata menengadah, menatap sang suami yang sedang menatapnya datar dengan wajah yang teramat tampan. Renata sudah tidak tahan dengan perlakukan manis yang terus-menerus diterimanya.
Renata menarik kerah baju yang dikenakan Tuan J hingga suaminya itu menunduk, dan memberikan kecupan di pipi.
"Terima kasih."
__ADS_1
Kemudian Renata langsung berbalik untuk menuju kamar mandi, meninggalkan Tuan J yang kaku di tempat.
Tuan J memegang pipinya, masih dapat ia rasakan kelembutan dari bibir Renata yang membekas di sana. Kemudian dia memegang dada kirinya. Karena detik kemudian, ia merasa bahwa jantungnya berdebar-debar. Ini selalu hadir ketika dia bersama dengan Renata.
**
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Renata menidurkan dirinya di ranjang. Akhirnya dia bisa istirahat setelah kesibukan pesta pernikahan, terlebih beristirahat sembari menikmati suasana di atas awan.
Melupakan sejenak berbagai masalah di hidupnya, Renata menutup mata dan tidur dengan napas yang teratur.
Tepat ketika Renata menutup mata, Tuan J yang juga sudah berganti pakaian dengan kemeja baby blue datang, kaki yang dibalut celana berwarna krem melangkah pelan mendekat dan berakhir duduk di tepi ranjang. Ditatapnya wajah tidur sang istri yang terlihat begitu damai.
Jemari-jemari pria tampan itu perlahan menyentuh wajah tidur Renata. Dari mata, turun ke hidung mungil namun mancung, lalu turun ke bibir buah persik yang terasa seperti jelly. Renata nampak lelah dan pulas sampai tidak terusik sentuhannya.
Cukup lama Pria itu menatap wajah tidur Renata. Mengulas pertemuan pertama mereka sampai ke tahap ini. Semua yang bernilai dari keuntungan dan kepentingan masing-masing lalu berarti menjadi sebuah ikatan yang sakral.
Jefra Tjong yang tidak percaya cinta karena kenangan masa lalu yang buruk entah kenapa tidak bisa mengontrol perasaannya. Dia takut jika perasaannya akan tumbuh subur dan kelak akan menikamnya lebih parah. Akan ada rasa sakit yang ia rasakan jika gadis itu pergi darinya kelak. Ia tidak mau berakhir menjadi seperti Ibunya.
"Tidak, sadarlah. Kamu tidak boleh jatuh cinta padanya, Jefra Tjong," lirih Tuan J seolah-olah sedang berbicara pada dirinya sendiri, tangannya menyugar rambut hitam miliknya dengan kasar.
Detik berikutnya kepalanya terasa pusing dan hati terdalamnya sesak. Tanpa pria itu sadari, ingatan terdahulu yang belum diingatnya menentang apa yang ia katakan tadi.
"Apa aku terserang penyakit otak?" Tuan J benar-benar tidak mengerti kenapa kepalanya sering kali mendadak pusing seperti ini.
"Hah? Siapa yang terserang penyakit otak?" tanya Renata dengan sedikit memekik, gadis itu akhirnya terbangun. Mungkin karena terusik mendengar rintihan Tuan J yang kesakitan.
Renata terkejut tatkala melihat sang suami yang memukul-mukul kepalanya sendiri. Dengan gerakan cepat Renata turun dari ranjang dan langsung berjongkok di hadapan Tuan J yang masih dalam posisi duduk di tepi ranjang.
"Hentikan. Jangan pukul kepalamu, Sayang."
__ADS_1
Renata berkata lembut seraya memegang kedua tangan Tuan J.
_To Be Continued_