
"Kalau begitu, ayo kita buat pewaris keluarga Tjong sekarang."
"E-eh?"
Renata berkedip-kedip, sedang mencerna apa yang dikatakan suaminya.
Buat pewaris keluarga Tjong katanya?
Sekarang?
"Kamu berkata seolah-olah menganggap aku hanya sebagai alat penghasil keturunan. Sungguh keterlaluan," cibir Renata dengan memicingkan mata tajam.
Tuan J seketika membeku. Apa dia telah salah bicara?
"Tidak, maksudku tidak seperti itu, Renata."
"Terus maksudmu apa?" tanya Renata terlihat kesal.
"Aku hanya mengingatkan kamu tentang perjanjian kita," jawab Tuan J dengan hati-hati karena takut jika sang istri semakin salah paham.
Sungguh, Tuan J tidak bermaksud seperti itu. Tidak mungkin baginya untuk menjadikan gadis yang sudah menjadi istrinya itu sebagai alat, terlebih alat penghasil keturunan. Ayolah, dia tidak sejahat itu.
"Tidak perlu diingatkan karena aku sudah mengingatnya. Itu adalah sebuah perjanjian tertulis, aku tidak mungkin lupa," ketus Renata.
Tuan J menatap Renata ragu, "Jadi... Ayo kita──"
"Aku sudah tidak mood," Renata memotong perkataan Tuan J, lalu membuang muka ke samping.
Sepertinya gadis itu memang benar-benar ngambek. Salahkan Tuan J yang tidak bisa bersikap romantis.
Kemudian Renata beringsut ke samping ranjang. Lalu tidur dan menyelimuti tubuhnya rapat-rapat, menyebabkan kelopak bunga mawar yang bertaburan di atas ranjang berjatuhan di lantai.
Tuan J menatap nanar kelopak bunga yang jatuh di lantai, harusnya itu menjadi saksi bisu malam pertamanya dengan sang istri.
Dia memang bodoh karena telah mengacau.
Tuan J mengacak rambut dengan kasar, kemudian beranjak ke kamar mandi.
Aku harus mendinginkan tubuh dan otakku.
Memakan waktu tiga puluh menit untuk Tuan J melakukan ritual di kamar mandi. Entah apa yang ia lakukan hingga begitu lama. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana jeans, menampilkan otot-otot pada tubuh bagian atasnya yang tidak memakai apapun.
Kemudian pria itu duduk di tepi ranjang, sisi di sebelah Renata yang masih bergelung di balik selimut. Mungkin dia sudah tidur.
__ADS_1
Dilepasnya perban yang membalut pergelangan tangan. Terlihatlah luka sayatan akibat goresan benda tajam di sana.
Kenyataannya, Tuan J masih melukai dirinya sendiri. Dia memang sudah kecanduan dan menganggap menyakiti diri sendiri sebagai semacam pertahanan diri.
Perkataan Sienna kala itu kembali teringat olehnya. Ingin sekali Tuan J menyingkirkan Ibu tirinya itu dari muka bumi. Tapi dia tidak bisa melakukannya, karena wanita itu telah mengurus Ayahnya dengan baik. Jika Sienna dilenyapkan, tidak ada lagi wanita bodoh yang bersedia merawat pria tua yang mengalami stroke.
Perkataan sang Ibu supaya tidak membenci Ayahnya tidak bisa tidak diindahkan begitu saja.
Meski Tuan J tidak pernah mengunjungi Theo, tapi bukan berarti dia tidak perduli. Tuan J bahkan secara berkala mengecek keadaan Theo melalu Dokter yang ditugaskan secara khusus untuk merawat Ayahnya itu. Dia tidak bisa lepas tangan begitu saja dari Ayahnya.
"Jika bukan karena wasiat Ibu aku tidak akan pernah perduli pada pria brengsek itu."
Wajah pria tampan itu mengeras.
Ya, jika bukan karena Aruna. Tuan J sudah lama mengusir Theo, Sienna, dan Alvaro. Bahkan dia bisa membuat hidup mereka menderita hingga lebih memilih mati.
Namun.
"Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melenyapkan wanita itu jika merusak pernikahanku, sudah cukup baginya merusak pernikahan Ibu."
Ancaman Tuan J pada Sienna memang bukan gertakan saja. Dia benar-benar tidak akan segan lagi pada ibu tirinya itu.
Kemudian tatap Tuan J teralih pada sebuah pisau buah yang tergeletak di meja. Segera diambil pisau itu dan mengarahkan pada pergelangan tangan, berniat menambah sayatan di sana. Dia butuh penyaluran atas perasaan yang ia rasa saat ini.
Tak
Tuan J yang merasa tubuhnya dipeluk dari belakang spontan menjatuhkan pisau buah yang dipegangnya. Lengan itu memeluknya erat sekali. Tidak perlu ditanya dua kali siapa yang memeluknya, hanya ada dia dan Renata di kamar ini.
Dia kira istrinya itu sudah tidur.
Dengan ritme jantung yang bertalu-talu, leher kaku, dan tubuh menegang sempurna, Tuan J mencoba melepaskan tangan Renata yang melingkar pada perutnya. Akan tetapi Renata tidak mau melepas pelukannya.
"Sudah kubilang, jangan sakiti dirimu."
Pergerakan tangan Tuan J yang ingin melepas pelukan Renata terhenti. Apa istrinya itu mendengar apa yang tadi dia katakan?
"Tidak perlu cemas, ada aku yang memelukmu. Aku ingin memahami apa yang kamu alami, Sayang."
Juan J menghela napas panjang. Lalu tubuhnya dimiringkan berhadapan dengan Renata, hingga kini mereka bertatapan. Tangannya bergerak untuk merengkuh pinggang sang istri.
"Kamu bisa bercerita tentang apa yang kamu rasa padaku, hmm," ucap Renata tersenyum lembut.
"Bercerita?" gumam Tuan J.
__ADS_1
"Ya, aku istrimu. Kamu bisa percaya padaku."
Renata menangkup rahang tegas Tuan J, mencari segala perhatian mata hitam memikat itu.
Tuan J membenamkan kepala di antara pindah dan leher Renata.
"Waktu masih umur sepulu tahun, seorang wanita simpanan Ayahku tiba-tiba datang bersama dengan anak laki-laki yang harus aku anggap adik. Wanita Itulah yang telah menghancurkan keluargaku yang awalnya baik-baik saja..."
Tuan J mulai bercerita, membuka diri dan berbagi kenangan buruk di masa kecil bersama Renata. Hatinya, entah kenapa merasa yakin kalau Renata bisa dipercaya.
Pria itu membiarkan Renata masuk ke dalam masa lalu dan juga hatinya sedikit demi sedikit. Berbagi beban dan sesaknya hidup yang sejak dulu dirasa. Berada dalam kedekatan bersama Renata seperti ini membuatnya nyaman sekali.
Sedangkan Renata mendengar cerita itu dengan baik. Sesekali tangannya bergerak untuk mengelus kepala yang ditumbuhi rambut hitam milik suaminya. Hatinya merasa sesak tatkala mengetahui kisah apa yang telah dilalui Jefra-nya selama ini.
Saat itu juga, Renata tahu penyebab mengapa ingatan Jefra terkunci. Kenangan masa kecil sang suami memang benar-benar buruk.
"Hidup kamu penuh lika-liku, aku tidak membayangkan kalau aku berada di posisimu. Aku bangga padamu karena sampai saat ini kamu masih mampu bertahan dari apa yang kamu alami. Kamu sangat keren."
Renata mencoba mengibur dan memberi kecupan di pelipis suaminya. Hal yang bisa lakukan saat ini yakni memberikan dukungan dan motivasi.
Tuan J tertegun. Lalu mengangkat kepalanya untuk menatap wajah teduh Renata. Perasaan hangat menjalar di hatinya saat menceritakan isi kehidupannya yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja pada istrinya itu. Hal ini membuatnya berdebar kencang, baru ini dia membuka diri pada seseorang.
"Aku keren?" Tuan J tersenyum bangga.
"Iya! Suamiku keren! Lebih keren lagi kalau tidak bertingkah menyebalkan!" sahut Renata seraya mencubit hidung mancung Tuan J.
Tuan J kembali tertegun. Suaranya tertahan di tenggorokan. Apa yang barusan dilakukan istrinya? Mencubit hidungnya dengan gemas? Apa-apaan ini? Berani sekali dia!
Matanya menatap lekat manik cokelat yang juga sedang menatapnya. Sentuhan di hidungnya barusan membuat Tuan J merasa bergetar.
"Berjanjilah untuk tidak menyakiti dirimu lagi."
Renata berkata dengan mengecup leher Tuan J. Berniat memberikan skinship untuk menenangkan. Namun, justru membuat darah Tuan J mendesir kencang.
"Renata," panggil Tuan J yang sudah tidak kuat lagi menahan debaran itu.
"Kok tidak panggil 'sayang', curang jika hanya aku yang memanggilmu 'sayang'," Renata masih sempat-sempatnya protes.
Tuan J mengelus pipi Renata yang memerah. Lalu ciuman demi ciuman didaratkan di seluruh wajah dan leher Renata.
"Kamu sudah membuatku gila, jadi izinkan aku untuk melakukannya, Sayang," desis Tuan J.
_To Be Continued_
__ADS_1