Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Ingin Menjadi Seorang Putri


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan. Matahari tepat di atas ubun-ubun kepala. Begitu terik hingga menembus jendela-jendela sebuah rumah klasik mewah di perkotaan.


"Sanaya, Sanaya, bukankah sudah Ibu bilang jangan macam-macam dengan Renata lagi. Saat ini dia memiliki Jefra Tjong di sisinya!"


Terlihat Santy yang sedang mengomeli Sanaya.


"Aku sangat kesal, Ibu. Aku tidak bisa menahan untuk berdiam diri di saat si jal*ng itu mengambil seluruh perhatian Alvaro dariku," ucap Sanaya dengan telapak tangan yang saling meremas di atas pangkuannya.


"Kamu hampir saja merusak tujuan kita yang sebenarnya, Sanaya! Padahal Nikolas sedang mengalami kesulitan karena Zayn lebih mewaspadainya sekarang!"


Sanaya mendengus seraya melengos ke samping, "Nikolas juga bodoh karena tidak becus dalam melakukan perannya."


"Sanaya!"


"Sudahlah, Sayang. Jangan marahi Sanaya lagi," lerai Nikolas sembari memeluk Santy dari belakang.


Santy yang tadinya murka, seketika terdiam saat kekasihnya mencoba menenangkannya.


Nikolas──pria simpanan Santy yang berumur dua puluh tahun lebih muda dibawahnya. Mereka sudah menjalin hubungan cukup lama karena Santy tidak mencintai Rendra, wanita itu hanya menginginkan harta keluarga Tan yang ingin dikuasainya.


Sanaya menatap tajam Nikolas, dia memang tidak menyukai kekasih Ibunya itu. Bagi Sanaya, Nikolas hanya seorang parasit yang selalu meminta ini itu pada Ibunya. Kenapa juga Ibunya harus percaya pada Nikolas?


Padahal Nikolas lebih tidak bisa diandalkan dan hanya suka menghamburkan uang yang Santy dapatkan dari Rendra. Sanaya benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibunya itu.


Dulu Santy kabur dari suaminya dengan membawa Sanaya karena hidup dalam kemiskinan. Berbagai cara dia lakukan untuk bisa merubah kehidupannya itu. Bahkan sampai membunuh seseorang demi bisa masuk ke dalam keluarga Tan. Siapa yang menyangka, jika kecelakaan truk yang dialami istri pertama Rendra sekaligus Ibu dari Zayn dan Angel adalah sesuatu yang sudah direncanakan Santy.


"Jadi apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Bukankah sekarang kehidupanmu sudah hancur, Sanaya?" tanya Nikolas pada Sanaya, yang justru lebih terkesan meledek.


"Bang sat!" umpat Sanaya pada Nikolas.


Plak


Santy mendaratkan sebuah tamparan pada pipi Sanaya. Padahal putrinya itu baru dua hari yang lalu mendapatkan dua tamparan. Dan sekarang, tamparan Santy menjadi yang ketiga.


"Bersikaplah sopan pada Nikolas! Dia itu kekasih Ibu!" bentak Santy, sepertinya wanita paruh baya itu sudah tergila-gila dengan Nikolas.


Sanaya mengeraskan rahang, menatap geram Ibunya dan Nikolas bergantian dengan mata yang memerah. Terlihat jika Nikolas tengah tersenyum tipis.


"Ibu menamparku demi membela pria parasit itu!" sentak Sanaya murka.


"Cukup, Sanaya! Atau Ibu akan menamparmu lagi!" hardik Santy tidak kalah murkanya dengan Sanaya.


Sanaya menggigit bibir dengan begitu kuat untuk menahan diri.


"Apa yang dikatakan Nikolas memang benar adanya, sekarang hidupmu itu sudah hancur! Ibu mendidik kamu bukan untuk menjadi seorang wanita yang bodoh! Bisa-bisanya kamu dijebak hingga bisa tidur dengan pria paruh baya, sungguh memalukan! Bahkan, untuk mempertahankan hubungan dengan suamimu saja tidak bisa!" cerca Santy.


Sanaya mengigit bibi dengan semakin kuat, hingga menimbulkan luka dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Memang seharusnya Ibu meninggalkan kamu dengan Ayahmu yang miskin itu! Kamu hanya bisa mengacaukan rencana Ibu, Sanaya!"


Santy meluapkan semua amarahnya, dia bahkan tidak memperdulikan perasaan Sanaya yang mungkin akan terluka dibuatnya.


"Stt, tenanglah, Sayang," Nikolas mencoba menangkan Santy lagi. Namun siapa yang tahu, jika pria itu sangat senang melihat Sanaya dimarahi Santy, pada dasarnya keduanya memang tidak akur.


Karena sudah tidak tahan mendengar kemarahan Ibunya, Sanaya bangkit dan berlari keluar rumah.


"Mau ke mana kamu, Sanaya!"


Teriakan Santy tidak dipedulikan.


Sanaya berlari dengan bulir-bulir air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Jika bisa memilih, Sanaya juga ingin memilih ikut bersama Ayahnya, sebenarnya dia tidak terlalu perduli dengan harta yang selalu Ibunya idam-idamkan itu. Sanaya hanya ingin hidup bahagia.


Ketika umur dua tahun Ibunya sudah memisahkan Sanaya dengan sang Ayah. Untuk sekedar mengingat wajah Ayahnya saja tidak. Ibunya yang selalu sibuk dengan dunia sendiri, begitu egois, dan serakah, itulah yang membuat Sanaya merasa jika dirinya begitu malang. Sejak kecil tidak ada seorangpun yang perduli padanya, bahkan dirinya pernah diejek sebagai anak dari seorang janda yang suka merayu om-om kaya raya.


Saat kecil Sanaya begitu suka membaca sebuah buku dongeng yang menceritakan seorang gadis yang memiliki nasib malang, lalu menjadi seorang putri setelah melakukan berbagai hal dan bertemu dengan pangeran. Sebenarnya, mana ada seorang gadis yang tidak ingin menjadi seorang putri.


Hal Itulah yang membuat Sanaya menganggap dirinya sebagai tokoh utama yang harus memiliki takdir bahagia karena dia adalah gadis yang malang. Sampai-sampai rela melakukan apapun untuk mendapatkan kebahagiaannya itu, meski harus menyingkirkan seseorang yang dianggap menghalanginya.


Menyingkirkan Angel.


Pertemuan pertamanya dengan Angel adalah saat berumur enam belas tahun, sedangkan Angel umur tujuh belas tahun. Sosok yang terlihat sangat cantik dan seperti seorang putri sungguhan, memiliki sikap yang begitu baik pada adik tirinya sendiri.


Kenapa ada seorang gadis yang sudah menjadi seorang putri sejak lahir? Terlebih Angel memiliki seorang kekasih yang sangat tampan dan perhatian. Seorang putri yang sudah mendapat pangeran tanpa melakukan usaha.


Namun, apa sekarang? Hidupnya telah hancur. Pangeran yang telah direbutnya juga akan meninggalkannya.


"Kenapa aku tidak bisa menjadi seorang putri?" gumam Sanaya dengan masih terus berlari.


Hingga.


Tin! Tin!


Brakk


**


Dertt... Dertt...


Alvaro yang sedang berkutat dengan layar komputer mengalihkan atensinya karena getaran dari ponsel miliknya.


"Nomor tidak dikenal?"


Lalu Alvaro memencet tombol hijau untuk menerima panggilan itu, tanpa mengindahkan perasaan herannya.


"Halo."

__ADS_1


[ Selamat siang, apa benar ini suami dari Nona Sanaya? ]


"Ya, benar," Alvaro mengeryit bingung,


[ Istri anda sedang dilarikan ke rumah sakit karena tertabrak mobil. ]


"A-apa?"


Ada apa lagi sekarang?


Alvaro begitu terkejut mendengarnya.


Dengan gerakan cepat, Alvaro langsung menyambar jas miliknya yang tadi disampirkan pada sandaran kursi kerja dan memakai. Kemudian berjalan keluar dari ruangannya.


"Salvina, handle semua pekerjaanku hari ini," titah Alvaro pada Asistennya yang hendak bertanya ke mana sang Kepala Manager akan pergi, terlebih terlihat terburu-buru.


"Baik, Tuan Alvaro," patuh Salvina.


Setelahnya, Alvaro berlalu dengan langkah yang begitu cepat.


Memakan waktu lima belas menit untuk ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, sudah ada Santy dan seorang pria yang tidak Alvaro kenali sedang menunggu Sanaya yang sedang di rawat. Alvaro langsung menghampiri keduanya.


"Alvaro, kamu datang?" Santy menatap Alvaro dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.


"Ya, Ibu. Pihak rumah sakit yang menghubungiku," jawab Alvaro, lalu tatapannya teralih pada Nikolas yang tersenyum sembari mengangguk padanya.


Alvaro membalas mengangguk namun tidak tersenyum. Dia tidak terlalu memusingkan siapa pria itu. Lagi pula itu bukan urusannya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Alvaro pada Santy.


"Ibu tidak tahu," Santy menggeleng dengan masih terisak, memilih untuk tidak menceritakan jika hal ini terjadi karena Sanaya yang habis dimarahinya habis-habisan.


Cklek


Suara pintu terbuka mengalihkan ketiganya.


"Bagaimana keadaan istriku, Dok?" tanya Alvaro pada seorang pria yang baru saja keluar dari ruang rawat Sanaya.


"Beruntung karena dia cepat dilarikan ke rumah sakit sehingga tidak kehilangan banyak darah. Dia mengalami cedera di bagian belakang kepala dan di kedua kaki, tapi cedera itu tidak terlalu parah," jawab Dokter menjelaskan kondisi Sanaya.


Alvaro dan Santy bernapas lega dibuatnya.


"Lalu bagaimana dengan kandungannya, Dok?" tanya Alvaro sekali lagi.


Raut wajah sang Dokter terlihat bingung, "Kandungannya? Dia tidak sedang mengandung."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2