
"Cari siapa ya?"
"Sore Tante, kita temennya Asha di kampus Tan."
"Oh gitu, ayo masuk."
Vini mempersilahkan tiga orang gadis masuk ke rumahnya, ia yang tidak biasa menerima tamu sedikit terkejut belum lagi ketiga orang tersebut mengatakan bahwa mereka temannya Asha. Vini tahu betul bahwa Asha sangat sulit bersosialisasi sejak kehilangan Willi tapi melihat perubahan yang terjadi membuat dirinya sedikit lega.
"Mbak, panggil Asha di kamar ya. Ada teman-temannya."
"Baik Bu."
Seorang perempuan yang bekerja di rumah tersebut segera bergerak ke lantai atas, ia sedikit bingung mengetahui Asha memiliki teman yang datang ke rumah namun dirinya tidak punya kapasitas apa pun untuk bertanya dan memilih untuk mengabaikan hal itu.
Aluna yang tengah berada di kamar langsung keluar ketika mendengar suara dari ruang tamu, ia menggosok matanya karena baru saja bangun dari tidurnya kemudian menghampiri Vini yang duduk menemani teman-teman Asha.
"Siapa Ma?"
"Teman-teman Kak Asha sayang."
Aluna tampak kegirangan hingga mengalahkan rasa kantuknya, ia bertepuk tangan kecil hingga membuat Hanifa, Ivanka dan Fania tertawa melihat tingkahnya yang lucu.
"Kak Asha sekarang punya banyak teman ya Ma, tadi Kakak ganteng juga yang anter Kak Asha pulang."
Vini memasang telunjuk di bibirnya agar putri kecilnya diam sebab hal itu adalah privasi kakaknya dan lucunya Aluna malah mengikuti gerakan ibunya itu.
"Eum, kaki Asha kan lagi sakit kalian ke kamarnya aja ya. Nanti Tante antar camilan."
Vini menuntun teman-teman Asha menuju lantai atas di mana pintu kamar Asha terbuka, wanita itu tampak canggung ketika hendak masuk ke dalam sana namun ia tidak ingin menunjukkan bahwa hubungannya dengan Asha tidak baik di hadapan orang lain.
Tok...Tok....Tok...
Vini mengetuk pintunya sebelum masuk ke dalam, langkah kakinya sedikit ragu namun akhirnya Vini masuk dan mendapati Mbak Sari sedang membantu Asha untuk bangun dari tempat tidur.
"Bu, Non Asha nya agak kesakitan jadi susah bangun." Mbak Sari menjelaskan hal itu sebelum Asha dan Vini kebingungan harus berbicara dari mana.
"Enggak apa Mbak, temen-temen Asha yang ke kamar aja. Mbak bikinin cemilan sama minum yah."
"Baik Bu." Mbak Sari membantu Asha merebahkan tubuhnya lagi setelah menambah bantal sandarannya agar lebih tinggi.
Ketiga teman Asha kemudian masuk setelah Mbak Sari dan Vini turun ke bawah, Hanifa menyapa Asha lebih dulu karena tampaknya gadis itu yang paling cerewet di antara yang lain.
"Gimana kaki kamu?" tanya Ivanka.
"Mendingan." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Hanifa kemudian duduk di bean bag yang di simpan di sudut yang entah kenapa jumlahnya bisa pas tiga buah. Gadis itu meminta ijin untuk menariknya ke tengah agar mereka bisa duduk.
"Rumah kamu gede ya." Ucap Hanifa yang pandangannya terus berkeliling ruangan hingga kepalanya ikut memutar.
Asha hanya tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab bagaimana lagi pula Asha tidak suka menyebut bahwa Ayahnya yang memiliki rumah ini.
"Tapi rumah kamu lebih besar daripada rumah keong kan?" Fania berkelakar.
"Ya iya atuh, Cuma masuk gang aja kaya ke rumah Ayu Ting Ting."
Semua orang tertawa mendengar lelucon receh yang dibicarakan teman-temannya di dalam kamar hingga Vini dapat mendengarnya di lantai bawah.
"Tapi Avu Ting Ting mah cakep atuh, duitnya juga banyak.” Celoteh Fania.
"Da aku juga nanti mah banyak duit kaya teh Ayu."
"Kenapa jadi ngomongin artis sih?" Ivanka menghentikan obrolan receh tersebut.
Mbak Sari kemudian masuk dan mengantarkan minuman berwarna kuning juga beberapa potong kue brownies yang tampak menggiurkan.
"Minumannya berwarna kaya idup yaa." Sekali lagi Hanifa berceloteh kali ini di depan Mbak Sari.
"Emang hidup ada warnanya Non?"
Suara tawa lagi-lagi terdengar hingga Vini menghentikan kegiatannya mengecek ponsel, wanita itu tersenyum karena untuk pertama kalinya ada suara tawa selain dari putri kecilnya.
Obrolan receh Hanifa belum berhenti bahkan hingga bean bagnya menjadi sasaran juga sedang yang lain tidak dapat menahan tawa termasuk Asha. Meski bagaimanapun ia mencoba diam seperti biasa namun pipinya pegal karena segala apa yang keluar dari mulut Hanifa adalah lelucon.
"Aku sama Fania satu SMA dulu Cuma beda kelas aja kalo Ivanka kita juga baru kenal pas ngampus."
"Temen kamu ada yang masuk kampus kita juga enggak?" tanya Ivanka.
Asha menggeleng, ia juga tidak tahu apa teman seangkatannya masuk kampus yang sama atau tidak. Ia tidak terlalu memperhatikan sekitar.
"Ekh minggu depan bukannya kita udah harus mulai pilih UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)?"
"Ada teater enggak?" tanya Hanifa.
"Ada, drama musikal."
"Ahh musikal, kaya bobodoran (lawak) gitu ada enggak?"
"Mana ada."
500
__ADS_1
"Kamu mau masuk apa Sha?"
"Bola Voli kayaknya."
"Ahh cari aman nih, coba kaya Fania tuh MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) biar bisa posting dari sekian ribu mdpl."
Asha tertawa lagi, ia ingat ketika teman sekolahnya dulu memposting tulisan semacam itu setelah pulang naik gunung.
"Aku belum pernah naik gunung."
Asha hanya berpikir kegiatan itu melelahkan, menghabiskan waktu berhari-hari dan berada di alam liar membuatnya takut atau mungkin Asha memang lebih suka diam di rumahnya tanpa mencoba sesuatu yang baru.
Obrolan selanjutnya tiba-tiba membahas Shania yang menjadi ketua Prodi berdasarkan suara terbanyak hanya karena gadis berkacamata itu tampak bertanggung jawab dan pintar tapi melihat sikapnya pada Asha beberapa orang berubah jadi jengkel.
"Kamu pulang di anter siapa Sha?"
"Oh." Asha tampak sedikit ragu ketika hendak menjawab, "Kak Nathan."
Semua orang tampak saling memandang, Asha mengerti karena Nathan adalah ketua BEM dan semua orang enggan dekat dengannya meski ia memiliki visual yang tampan.
"Dia enggak jahatin kamu Sha?"
"Aku denger dulu Kak Nathan ketua geng motor terkenal di Bandung."
Asha tidak lagi terkejut, ia pernah mendengarnya sekali dari Dio sehingga Asha bisa mengendalikan dirinya dari perasaan ketakutan sama yang saat itu tiba-tiba muncul.
"Jangan terlalu deket Sha."
Teman-teman Asha pulang setelah hari mulai gelap meninggalkan gadis itu yang kembali kesepian, Asha membuka YouTube sebentar menonton video random yang muncul di beranda depan. Sesekali merasa bosan kemudian seperti biasa mencari channel yang hanya memperdengarkan suara hujan dan petir selama hampir 10 jam. Asha selalu melakukannya setiap kali kesulitan tidur suara hujan membuatnya merasa tenang dan nyaman bergumul dengan selimutnya saja. Meski ia akan terbangun tengah malam karena mimpi buruk yang sama. Tapi semoga kali ini tidak.
Gadis itu meminta sopir untuk mengantarnya ke kampus pukul 9 pagi, cedera di kakinya cukup membuat Asha kesulitan namun tidak menghilangkan keinginannya untuk datang ke kampus dengan normal.
500
"Bisa Non?"
"Bisa kok Pak. Makasih ya."
Meskipun Asha menyeret kakinya yang cedera namun hari ini ia merasa lebih baik daripada saat kemarin hanya saja yang menjadi masalah adalah ruang kelasnya berada di lantai dua dan Asha harus melangkah ekstra karena bisa saja ia malah terjatuh lagi.
"Huuffftt... bisa Sha!" gadis itu menyemangati dirinya sendiri.
Namun kemudian tanpa Asha sadari Nathan sudah berdiri di belakangnya hingga membuat Asha terkejut karena pria itu mencoba menahan lengan Asha.
Nathan tampaknya mengabaikan lagi kerja otaknya dan membiarkan hatinya mengendalikan, Nathan tahu bahwa ia tidak seharusnya terus mendekat namun kakinya bergerak tanpa aba-aba mengarah ke tempat gadis itu berada.
__ADS_1