
Juno terkejut sekaligus senang mendengar Riri akhirnya mengucapkan perasaan nya, Juno tersenyum senang mendengarnya.
" Tapi aku tidak bisa bersamamu." Ujar Riri lagi. Dan hal itu berhasil membuat senyum di wajah Juno perlahan memudar.
" Kenapa? Bukankah kamu mencintaiku? Aku juga demikian.. kenapa kita tidak bisa bersama?" Ujar Juno langsung menggenggam tangan Riri.
" Aku bukan siapa siapa, Juno. Hari itu mungkin aku masih belum memikirkannya, tapi sekarang aku tahu. Kamu dan aku berbeda, kita bukan dari jajaran yang sama.." Ujar Riri.
Juno menggeleng kuat mendengarnya, bukan itu yang dia ingin dengar.
" Jangan katakan itu, Ri.. aku mohon." Ujar Juno langsung kembali memeluk Riri.
" Aku sangat mencintaimu, sangat.. Tolong jangan bicarakan kasta, jikapun dunia menentang aku akan tetap bersamamu. Aku mohon.." Ujar Juno.
" Jangan bodoh hanya demi cinta, Juno. Keluargamu lebih penting." Ujar Riri.
" Kamu juga penting bagiku.." Ujar Juno melepaskan pelukan nya dari Riri.
Juno langsung mencium Riri, mereka berciuman sambil menangis. Di balik kejadian yang mengharukan itu, Lea dan Richard saat ini sedang ikut bersedih melihat kedua teman nya itu.
Lea dan Richard.. Mereka memantau itu daei cctv. Sebelumnya Richard sudah lebih dulu menghajar preman yang membuat Juno dan Riri terluka.
Ya, itu semua adalah rencana Lea dan Dichard. Richard mengatakan pada Juno bahwa Riri di culik, begitu juga Lea yang mengatakan Juno di culik. Pada dasarnya mereka saling mencintai, hanya saja kesalahan Juno adalah mendorong Riri menjauh.
" Apakah mereka sungguh tidak bisa bersama?" Ujar Lea.
" Aku tidak tahu, sayang. Semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk mereka.'' Gumam Richard.
Kembali di sisi Riri dan Juno, Juno menempelkan keningnya di kening Riri lalu berkata..
" Tunggu aku, aku akan berjuang untuk kita." Ujar Juno, dan Riri mengangguk.
Akhirnya Lea dan Richard memutuskan untuk keluar dari persembunyian mereka, dan mereka masih menatap tidak tega pada dua sejoli yang saat ini saling memandang. Terlihat Riri menghapus darah di pelipis Juno dengan sapu tangan nya , dan Juno masih menatap Riri dengan penuh cinta.
'' Kenapa aku merasa aneh dengan kejadian ini, aku pikir yang duduk di gazebo itu adalah kamu yang di ikat. Tapi setelah aku tertangkap, kamu justru muncul dari luar.'' Ujar Riri.
'' Aku juga demikian, Richard mengatakan padaku bahwa kamu dan Lea di cullik.. jadi tanpa pikir panjang aku langsung menerobos kemari.'' Ucap Juno.
'' Sama.. Lea juga mendapatkan panggilan telepon yang mengatakan kamu dan Richard di culik, jadi aku datang kemari dengan Lea.'' Ujar Riri.
'' Lalu dimana Richard dan Lea sekarang?'' Tanya Riri yang merasa heran sendiri.
'' Entah, semoga mereka baik baik saja.. Tpi aku senang, dengan kejadian ini, aku jadi bisa melihat kamu mengkhawatirkan aku. Tolong jangan pergi lagi dariku Riri.. '' Ujar Juno.
'' Kau punya masa depan yang cerah, sedangkan aku tidak.. Jadi jangan bodoh dengan bertahan bersamaku yang bukan siapa siapa ini.'' Ujar Riri.
'' Aku akan buktikan bahwa aku mampu berdiri dengan kakiku sendiri, aku kan pastikan kamu menjadi pendampingku nantinya. '' Ujar Juno.
__ADS_1
Riri tersenyum, sungguh cita cita yang indah. Tapi siapa yang tahu hati manusia, apalagi Juno pasti akan bertemu dengan gadis gadis yang lebih menarik dari dirinya di universitas nantinya. Tapi Riri mengangguk, masa depan tidak ada yang tahu bukan.. Riri hanya ingin membuat Juno tersenyum sementara.
'' Lea bilang kamu sakit, sebenarnya kamu sakit apa? '' Tanya Riri.
'' Aku?? saki?? Aku tidak sakit apapun.'' Ujar Juno.
Akhirnya Riri sadar, dirinya sudah di tipu oleh Lea.. Riri tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
'' Apakah ini semua kerjaan Lea? Astaga, anak itu..'' Gumam Riri.
Dan yang di sebut namanya pun muncul dengan Richard dengan kotak obat di tangan mereka. Lea dan Richard melihat Juno dan Riri yang terluka, meski tidak parah tapi tetap saja itu di luar dugaan nya.
'' Jadi.. apakah akhirnya kalian sudah jujur dengan perasaan kalian masing masing? '' Ujar Lea yang pura pura tiddak tahu.
'' Astaga, Chard! jangan bilang kamu dan Lea sungguh menyiapka semua ini untuk aku dan Riri? '' Ujar Juno dengan tatapan tajam ke arah Richard.
'' Ini ideku, aku kesal melihat kalian dua orang yang saling mencintai tapi saling egois dan keras kepala, jadi aku menyiapkan ini untuk kalian berdua. Tapi maaf, sepertinya mereka sungguhan menyakiti kalian.'' Ujar Lea, dengan wajah menyesal.
'' Biar aku obati lukamu.'' Ujar Riri pada Juno.
Richard memberikan kotak obat yang dia bawa pada Riri, Riri pun mulai melakukan pertolongan nya pda Juno.
'' Tapi aku juga harus berterima kasih pada kalian, karena dengan kejadian ini.. aku bisa tahu bahwa Riri masih mencintaiku.'' Ujar Juno, sambil tersenyum.
'' Diam, atau aku patahkan lehermu sekalian.'' Ujar Riri.
" Juno Fabian, diam!" Ujar Riri dan Juno terkekeh.
" Dan aku bukan pacarmu, jangan panggil sayang." Ujar Riri.
" Kamu pacarku, mulai sekarang." Ujar Juno.
" Tidak mau!" Ujar Riri.
" Harus mau." Ujar Juno.
" Ish!!" Ujar Riri menekan luka Juno.
" Aduh! Aduh! Aduh! Sakit sayang.." Keluh Juno.
" Jangan panggil sayang." Ujar Riri.
" Ya sudah, cintaku.." Ujar Juno.
Riri hanya bisa menatap Juno malas, lalu melanjutkan aktifitasnya mengobati luka di pelipis Juno.
_____________________
__ADS_1
Waktu berlalu kini mereka berempat sudah berpisah dari galeri lukis itu. Lea dan Richard pergi dengan mobil, sementara Juno dengan Riri menggunakan motor Juno.
" Akhirnya bisa membuat mereka saling terbuka, semoga orang tua Juno bukan orang yang kolot tentang urusan percintaan anak anak nya." Ujar Lea.
" Amin.. " Sahur Richard sambil menggenggam tangan Lea.
Hingga akhirnya keduanya sampai di kediaman Lea. Richard langsung pamit karena Fitty menghubunginya dan membutuhkan bantuan Richard.
Lea berjalan masuk ke dalam, tapi dari jauh dia mendengar seperti suara batuk dan isakan kecil.
' Mama batuk?' Batin Lea.
Lea langsung mencari keberadaan Livy dan ia sangat terkejut ketika melihat Livy yang di bantu pelayan menadahi muntahan darah dsri mulut Livy.
" Mama!" Lea panik dan langsung menghampiri Livy.
" Mama kenapa?" Ujar Lea membantu mengelap darah dsri mulut Livy.
Livy sendiri terlihat sangat pucat, memang akhir akhir ini Lea merasa keanehan pada Livy, Livy seperti sedang sakit tapi tidak mengaku.
" Mama, tidak apa apa.." Ujsr Livy lemah.
" Nyonya, tolong jangan sembunyikan daei nona lagi, kasihan nona jika tidak tahu kondisi nyonya. Nyonya juga harus ke rumah sakit." Ujar pelayan yang selalu memberikan obat pada Livy.
" Apa yang terjadi sebenarnya?" Ucap Lea bingung.
Livy mencoba bangun dari duduknya, tapi kemudian justru dia hilang kesadaran. Pelayan langsung panik dan langsung menghubungi dokter.
Di bantu pelayan, Lea mengangkat Livy ke atas sofa di ruang tengah. Livy semakin kurus saja akhir akhir ini.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibuku?" Ujar Lea.
" Nona, nyonya sudah lama sakit. Untuk spesifikasinya saya juga kurang tahu, saya hanya selalu memberikan nya obat sesuai yang dokter resepkan." Ujar pelayan.
" Dokter?? Apakah sering datang dokter ke rumah?" Tanya Lea.
" Ya, nona.. Saat nona tidak ada, maka nyonya memanggil dokter seminggu sekali. Nona, kondisi nyonya menurun dari beberapa bulan lalu." Ujar pelayan berkaca kaca.
' Beberapa bulan yang lalu? Sejak kapan?? Kenapa mama tidak memberi tahuku, mama menyembunyikan sakitnya dariku.' Batin Lea.
Tak lama dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Livy. Wakah dokter juga semakin terlihat khawatir, bisa di pastikan kondisi Livy saat ini tidak baik baik saja.
" Dok, ibuku sakit apa?" Tanya Lea.
" Sepertinya saya juga sudah tidak bisa menyembunyikan nya lagi darimu, nona. Nyonya Livy terkena leukemia, dan saat ini dia sangat membutuhkan donor sum sum tulang belakang." Ujar Dokter.
DEG! DEG! DEG!
__ADS_1
TO BE CONTINUED..