
Hari demi hari terus berlalu. Dan caffe kami selalu ramai pengunjung. Bahkan, suamiku kini tengah berfikir untuk membuka cabang di kota X.
Aku pun menyetujui keinginan suami tericinta ku itu. Hingga kini kami berdua rela makan sesederhana mungkin agar keinginan segera tercapai.
Siang itu, aku sedang berada di caffe untuk memantau para karyawan yang sedang bekerja dengan khidmat nya.
Namun, tiba-tiba salah seorang customer memanggil salah satu karyawan dengan nada tinggi.
"Pelayan!"
"Pelayan , sini kauu!!" tukas ibu sosialita itu
"Mm iya, kenapa bu?" tanya Cici, karyawan baru
"Ibu? saya bukan ibu anda. Panggil saya nyonya!" ucap wanita itu
"Oh baik, ada apa nyonya?" tanya Cici
"Liat. Ini apa hahh??" tanya wanita itu
"Rambut nyonyaa." ucap Cici
"Tau makanan disini tidak higienis aku tidak mau makan disini." ketus wanita itu
Hingga prangggg piring itu ia lempar sekenanya.
Sontak, hal itu membuat aku tidak nyaman. Bahkan kini para pelanggan terlihat sangat kaget dengan perilaku wanita sosialita.
Aku yang sudah geram pun segera datang menuju ke wanita itu. Sebelumnya aku menarik nafas dalam-dalam agar tidak terjadi kericuhan. Terlihat disana Cici menunduk takut melihat wanita itu.
"Permisi, ada apa ya ribut-ribut?" ucap ku
"Makanan itu kotor, saya jijik." ucap wanita itu
"Maaf, kotor bagaimana ya?" tanya ku sopan
"Liat aja itu ada rambut."
"Hei untuk semuanya makanan disini tidak higienis! Mending makan di caffe sebelah makanannya enak-enak dan tidak kotor! Caffe ini juga pake penglariss" ucap wanita sosialita itu dengan nada tinggi.
Sontak hal itu membuat para pelanggan ku kabur tanpa membayar makanan yang di pesan.
"Maksud anda apa ya?" tanya ku
"Hahaha.. memang caffe ini penuh dengan najis!" ucap wanita itu dengan beranjak pergi keluar.
"Astaghfirullah.." ucapnya
"Bagaimana bu? Caffe kita sepii." tanya Cici
"Ci, kamu tenang yah." ucapku
"Iya, bu. Kalo gitu Cici permisi ya." pamitnya padaku.
Aku pun hanya mengangguk menjawab ucapan Cici. Di sisi lain, aku bingung harus bagaimana. Hari ini suamiku tidak ada di caffe ia sedang sibuk mengurus kebutuhan untuk cabang caffe yang akan kami bangun.
***
Roy terlihat mundar - mandir di halaman rumah itu. Ia bingung harus pergi kemana saat ini. Bahkan, kini mama nya sedang mengadakan tour ke kota X bersama para karyawan.
Sedangkan, Roy dan Rayhan ia tinggalkan di rumah untuk mengurus perusahaannya.
Roy yang merasa jenuh pun ia mencoba cari cara agar bisa pergi ke satu tempat. Berbeda dengan Rey, ia sangat santai mengerjakan tugas dari mama nya.
"Kak lo napa si?" tanya Rey
"Gabut gue njirr! " ucapnya
"Lah tugas dari mama udah semua lo?" tanya Rey
"Udah lah be*o!" ketus Roy
__ADS_1
"Biasa aja kali." tukas Rey
"Hm." ketus Roy
"Nanti kalo gue udah selesai ke danau yok." ajak Rey
"Hah Bagus-bgaus! cepetan!" ucap Roy
"Sabar lah be*o!!" tukas Rey
Rey pun mengerjakan tugas perusahaan dengan khidmat nya. Di sisi lain, Roy sedang menunggu Rey seraya melihat foto wanita-wanita cantik di sosial media.
***
Tak jauh berbeda dari sebelumnya kondisi Maria masih saja kritis pasca operasi itu. Nesha benar-benar kalut dalam kesedihan. Kini tubuhnya begitu kurus kering, bahkan tulang belulangnya mulai terlihat.
"Maa.. "
"Mama kapan sih sadarnya?"
"Nesha kangen tauuu."
"Nesha mau di elus-elus lagi kepalanya."
"Nesha mau di suapin lagi.".
"Nesha mau tidur sama mama lagii."
"Nesha kangen semua itu ma, kanget bangett.. hiksss...".
Nesha benar-benar tidak kuasa menahan tangisnya, bahkan Ami dan Tomi kini merasa khawatir dengan keadaan Nesha. Selama mamanya di rumah sakit, Nesha jarang makan. Bahkan ia hanya makan 3 sendok setiap harinya.
Adnan, yang melihat keponakannya terpuruk itu mencoba menghampirinya untuk memberikan sedikit rasa tenang. Adnan adalah anak dari Ami dan Tomi. Ia adalah keponakan Nesha.
"Nes.. " lirih Adnan
"Iya?" tanya Nesha
"Gue mau mama bangun.. hiksss.." ucap Nesha
"Sabar Nes, tante Maria pasti bangun kok." ucap Adnan
"Tapi kapannn, hikss..." ucap Nesha.
"Mending lo sekarang makan, yuk!" ajak Adnan
"Mama juga belum makan, nan." ucap Nesha
"Tapi kan tante Maria di infus nes." ucap Adnan
"Tapii nan." ucap Nesha
"Ayolah Nes, kalo kamu kayak gini terus yang ada nanti tante Maria gak mau bangun." ucap Adnan
"Hmm ." ucap Nesha
"Ya makan yaa? Lo mau makan dimana? Biar tante Maria di jagain bonyok gue." ucap Adnan tulus
"Terserah." ucap Nesha
"Yaudah yuk, ikut gue. " ajak Adnan
Nesha dan Adnan pun pergi ke sebuah restoran di dekat rumah sakit. Sebelumnya ia menitipkan mama nya ke Ami dan Tomi. Beruntungnya ia memiliki om dan tante yang sangat baik.
Bahkan, saat ia terpuruk pun mereka tidak meninggalkan Nesha sama sekali.
Kini mereka berdua telah sampai ke restoran itu. Adnan langsung memesankan makanan kesukaan Nesha saat itu.
***
Kedua sejoli ini kini telah bertambah satu personil yaitu Sony. Ia merupakan adik dari Regan.
__ADS_1
Mereka sangat akrab, bahkan kini mereka bertiga bisa di katakan mahasiswa populer di kampusnya.
Selain memiliki otak yang cerdas dan berasal dari keluarga kaya raya, mereka juga di kenal seperti kulkas 10 pintu.
Anita, ia masih saja semangat untuk mendapatkan cinta dari Fino. Fino yang jijik melihatnya pun sebisa mungkin ia mengindar dari wanita centil itu.
Kini mereka bertiga tinggal bersama di sebuah apartemen milik Fino. Hingga terjadilah adu nasib cinta antara mereka.
"Eh Fin, si Anita kek nya demen banget sama lo!" ucap Sony
"Iya fin, dia berjuang banget kek nya buat dapetin lo." seru Robi
"Cih, najis gue!" tukas Fino
" Lah napa?? dia cuantiiksss tenan kan? haha?" ucap Sony
"Dih ogah gue!" ucap Fino
"Whyy?" tanya Robi
"Lo tau jawabanya sebelum gue jawab, rob!" ketus Fino
"Hemm.." dehem Robi
"Btw nih ya.. Ngomong-ngomong soal cinta kalian pernah jatuh cinta gak sih?" tanya Sony
*uhuk
uhuk
uhuk*
Fino yang sedang meminum soda itu tersedak, karena kaget mendengar pertanyaan dari Sony.
Berbeda dengan Robi, ia nampak tenang mendengarnya.
"Gue pernah si." ucap Robi
"Lo fin?" tanya Sony
"Pernah." singkat Fino
Sony pun Mengangguk-nganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Btw apa si yang buat kalian kek nutup diri dari cewek-cewek kampus?" tanya Sony
"Gue lagi gak mood jalin hubungan." tukas Robi
"Why?" tanya Sony
"Luka yang kemaren aja belum sembuh gue." ucap Robi
"Luka? luka apa?" tanya Sony
"Gue jatuh cinta sama tu cewe dari kelas 1 SMA ehh lah dia gak peka amat anjirr. Dan tadi gue liat dia lagi makan di resto sama cowok. Nyesek bet dah ah!" ucap Robi
"Ooohh yaya.. kalo lo Fin?" tanya Sony
"First love gue mati bundir!" ucap Fino
"Hah anjir? Lo gak hamilin dia kan?" tanya Sony
"Anj*ng emang lo son! Baru aja gue mau mulai PDKT lah dia bundir!" ucap Fino
"Eh buset ngeri boskuu." ucap Sony
"Kalo lo sendiri kenapa?" tanya Robi
"Hm.. Gue korban perselingkuhan." ucap Sony
"Ternyata kita dingin-dingin sadboy ya." ucap Robi.
__ADS_1
Dan itulah salah satu alasan mereka tidak mau membuka hati untuk para wanita. Mereka memang di juluki lelaki es oleh mahasiswa dan mahasiswi di Universitas itu. Namun, di balik es mereka ternyata tersimpan luka batin yang membekas.