TRAUMA

TRAUMA
Chapteer 39 - Kapan Cerai?


__ADS_3

"Kapan kamu mau ceraikan Nara mas?" tanya Anna.


Degg


Regan memang belum siap untuk kehilangan Nara, namun ia juga tidak mau jika Anna harus meninggalkannya. Memang lelaki tidak pernah cukup dengan satu wanita.


Disana terlihat Regan tengah memikirkan suatu hal. Tiba-tiba saja, ia mengingat kejadian tiga tahun silam yang dirinya tengah di jebak bersama Nara dahulu. Dan pada akhirnya keputusan Regan mantap untuk menyelidiki kasus tersebut.


"Nanti ya, mas butuh waktu." ucap Regan, lembut.


"Mas kamu ini selalu aja gitu jawabnya, kapan mas??" tanya Anna yang suaranya kini naik satu oktaf.


"Sayang, mas akan selidiki kasus tiga tahun silam." ucap Regan.


"Kasus? Kasus apa mas?" tanya Anna.


".......... " Regan pun menceritakan kasus yang pernah ia alami dulu.


"Mas yakin kalo itu di jebak?" tanya Anna.


"Mas yakin, yakin banget 100% sayang." ucap Regan.


"Terus kalo semuanya udah terungkap gimana?" tanya Anna.


"Mas bisa aja kembali menjadi CEO sayang, nanti mas bisa tinggalin Nara dan memulai kehidupan baru sama kamu." ucap Regan.


"Yeeeayy! yaudah ayo mas!" ajak Anna dengan mata berbinar saat Regan bisa menjabat menjadi CEO.


"Iya sayang ayo!" ajak Regan kemudian.


Regan pun langsung melangkahkan kaki menuju garasi mobil, tentu saja di ikuti oleh Anna di belakangnya. Tak lama mobil itu melaju dengan kecepatan sedang mengarah ke satu hotel mewah dan terkenal yang ada di Kota X.


Beberapa menit berlalu tanpa ada keramaian di dalam mobil itu. Regan hanya fokus menyetir tanpa memikirkan Anna yang sedang bergelayut manja di bahu sebelah kirinya.


Akhirnya kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu sampai ke tempat tujuan. Tampak disana Regan mengamati setiap arsitektur bangunan yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, kini di Calvin's Hotel itu tersedia beberapa wahana untuk bermain anak-anak.


Kemudian, Regan pun segera menghampiri gerbang hotel itu. Sontak ia melihat security yang sudah tidak asing di matanya. Dia adalah Pak Bobon, lelaki yang sudah bekerja beberapa tahun lamanya itu masih saja menjabat sebagai security di hotel mewah itu.


"Hah Pak R-Regaann?" ucap Pak Bobon sambil terus mengucek matanya karena ia tak percaya jika Regan masih hidup bahkan organ tubuhnya pun masih lengkap.


"Halo Pak." ucap Regan.


"Eh ini beneran Pak Regan?" tanya Pak Bobon.


"Iya, bener Pak." ucap Regan.


"Yauda ayo masuk, Pak." ajak Pak Bobon.


"Eh iya. Ayo sayang." ajak Regan pada Anna.


"Walah ini teh siapa? cal-"


"Saya Anna, istrinya mas Regan." ucap Anna dengan nada angkuhnya, kemudian di balas anggukan serta senyuman dari Pak Bobon.


"Oooh iyaiya. Mari masuk." ucap Pak Bobon.


Mereka berdua pun masuk ke halaman hotel itu. Namun, Pak Bobon tampak bingung saat Regan berhenti di depan pintu ruangan security itu.

__ADS_1


"Ee Pak maaf gak masuk ke dalam hotel?" tanya Pak Bobon.


"Enggak Pak, saya kesini mau ketemu sama Pak Bobon." ucap Regan.


"Ketemu saya? Ee emang kenapa pak?" tanya Pak Bobon yang tengah kebingungan.


"Jadi gini saya kesini mau liat rekaman CCTV tiga tahun yang lalu." ucap Regan.


'ini ada apa kok den Sony sama Pak Regan kesini cuma mau liat rekaman CCTV' batin Pak Bobon.


"Pak?" tanya Regan yang melihat lelaki di hadapannya itu seperti tengah kebingungan.


"Eh iya Pak, ayo." ajak Pak Bobon, kemudian ia pun langsung membuka rekaman itu.


"Kok langsung ada ya?" tanya Regan.


"Maksudnya Pak?" tanya Pak Bobon.


"Iya ini, biasanya harus scroll dulu." tukas Regan.


"Sebenernya gi-" ucap Pak Bobon terpotong.


"Udalah mas, banyak tanya. Tinggal liat doang juga!" ketus Anna.


"Ee i-iya sayang." ucap Regan.


Kemudian, Regan pun meneliti setiap detik rekaman CCTV itu. Hingga terungkaplah sebuah kebenaran.


deggg


'bener dugaan gue.' batin Regan.


Nampak di sana Regan tengah menahan amarah pada sosok wanita yang berbaju hitam itu. Ia benar-benar penasaran siapa dalang dari sebuah drama ini.


"Mas gimana?" tanya Anna.


"Ya sesuai dengan feeling mas." jawab Regan.


"Jadi kapan kamu cerai mas?" tanya Anna, Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar dari mulut Anna.


"Sabar ya mas akan urus semua ini." ucap Regan.


"hem." singkat Anna.


Kemudian mereka pun beranjak pergi dari hotel mewah itu.


***


Sementara itu, Nara kini tengah merenungi nasibnya. Pikirannya sangat rumit bahkan seringkali bayangan suaminya saat di peluk wanita lain itu terus saja berlalu lalang di putaran otaknya. Tentu saja hal itu membuat Nara merasakan kegundahan yang hebat serta sukses membuatnya melampung jauh ke dasar kesendirian.


Tak heran, Nara tampak menjadi wanita yang kekurangan berat badan saat ini. Bahkan, Mahesa pun lebih sering di titipkan di rumah Bu Uti dibandingkan bersama dengannya.


Meski begitu, Fino, Robi dan Sony tidak pernah jauh darinya. Mereka bertiga dengan ikhlas menemani Nara serta berusaha menghibur Nara. Namun, Nara yang tengah bersedih ini tidak mampu merespon mereka dengan senyumnya yang manis itu.


"Ra.." ucap Fino.


"Raa.. " ucap Fino yang tidak mendapat jawaban dari Nara.

__ADS_1


"Naraaa." ucap Fino dengan tingkatan nada yang sedikit tinggi. Tentu saja membuat Nara tersentak kaget.


"E-eh iya kenapa Fin, Rob, Son?" tanya Nara.


"Yang manggil lo tuh si kulkas!" tukas Robi.


"Heheh ada apa Fin?" ulang Nara.


"Lo dari tadi ngelamun terus , kenapa sih?" tanya Nara.


"Eemm--"


"Ra lo tu harusnya seneng kalo kasus jebakan itu terungkap." seru Sony.


"Bener apa yang di bilang Sony. Bukannya malah murung kek gini ra." ucap Robi.


"G-guee.. " ucap Nara


"Ra, gue tau lo takut pisah sama cowok itu kan?" tanya Fino.


degg


Memang betul apa yang Fino katakan. Nara sangat takut jika harus berpisah dengan suaminya itu apalagi pasca mendengar perkataan Regan tempo hari.


"Tuh kan lo ngelamun lagii." ucap Sony.


"Lo sebenernya bahagia gak sih nikah sama bang Regan? Curiga gue." ucap Sony kemudian.


"Kenapa curiga?" tanya Fino.


"Ya gue takut aja sikap bokap gue nurun ke tu bocah." ucap Sony.


"Keknya yang pantes di sebut bocah lo deh." ucap Robi.


"A-"


"Berisik! Dan lo jelasin sikap bokap lo yang mana yang lo curigain?" tanya Fino ketus.


"O-oke.. " ucap Robi.


"Jadi gini guys."


"............"


Sony pun mulai menceritakan kisah masa lalu ayahnya. Dia memang tidak melihat langsung kejadian itu. Tapi, Sony tahu karena mamanya pernah menceritakan kisah itu secara gamblang. Mamanya juga selalu mewanti-wanti Sony agar tidak mengikuti jejak papanya.


Di sana Robi terlihat sangat khidmat mendengar story telling dari sahabatnya itu. Di tambah dengan secangkir coffee late yang menambah kesan tersendiri saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


Sedangkan Fino, ia tampak serius mendengar ucapannya itu bahkan secangkir machiato ia diamkan begitu saja. Tak hanya itu, sorot mata tajam Fino mulai terlihat saat mendengar bahwa papa Regan menghamili seorang wanita tanpa ada pertanggung jawaban. Di sisi lain, ia takut jika kejadian itu akan menimpa Nara.


Berbeda dengan Nara yang sudah mengetahui alur cerita tersebut bahkan langsung dari mulut suaminya itu membuat Nara acuh dan enggan mendengarnya lagi.


Tapi tiba-tiba saja ia mengingat ucapan Regan pada malam itu.


Namun, Nara berusaha berpikir positif bahwa ucapan Regan kala itu hanyalah sandiwara belaka. Akan tetapi seberapa pun ia berpikir positif hasilnya tetap nihil.


'****! Rasa sesak itu selalu muncul tanpa permisi.'

__ADS_1


batin Nara.


__ADS_2